HomeHeadlinePemenang Perang Iran Adalah Tiongkok?

Pemenang Perang Iran Adalah Tiongkok?

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio dibuat menggunakan AI.

Di tengah krisis minyak global akibat blokade Selat Hormuz, Tiongkok mengirim kapal tanker berisi lebih dari 260.000 barel diesel ke Filipina dan 100.000 barel ke Vietnam. Filipina yang mengimpor 90% minyaknya dari Timur Tengah sudah menyatakan darurat energi nasional. Beijing hadir sebagai penyelamat saat tak ada yang bisa memasok. Nyatanya, jangan-jangan saat dunia sibuk menonton bom jatuh di Teheran, Beijing duduk tenang — menghitung keuntungan.


PinterPolitik.com

Pada musim panas 1915, sebuah kapal bernama SS Lusitania tenggelam oleh torpedo Jerman di perairan Irlandia. Eropa sudah setahun berperang. Jutaan tentara muda terkubur di parit-parit Prancis dan Belgia.

Tapi di seberang Atlantik, Amerika Serikat justru sedang mengalami booming ekonomi. Antara 1914 hingga 1916, ekspor AS ke Inggris dan Prancis melonjak dari 824 juta dolar menjadi 3,2 miliar dolar. Pabrik-pabrik di Detroit, Pittsburgh, dan Chicago bekerja tiga shift memproduksi senjata, mesiu, dan baja — bukan untuk perang mereka sendiri, melainkan untuk perang orang lain. Washington belum mengirim satu pun tentara, tapi dompetnya sudah penuh.

Sosiolog Georg Simmel punya nama untuk fenomena ini: tertius gaudens — pihak ketiga yang bersukacita. Ketika dua kekuatan saling menghancurkan, selalu ada pihak ketiga yang diam-diam menarik keuntungan dari kehancuran itu. Pola ini berulang dengan presisi yang mengerikan sepanjang sejarah modern — dan pada 2026, pola itu kembali hadir dengan wajah baru.

Namanya: Tiongkok.

Tanker Minyak Lebih Berbahaya dari Jet Tempur

Sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan Operasi Epic Fury pada 28 Februari 2026 — serangan udara yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei — Selat Hormuz berubah menjadi zona mati. Arteri minyak utama dunia yang mengalirkan 20 persen suplai minyak global itu ditutup total oleh Iran. Lalu lintas kapal tanker jatuh dari 153 kapal per hari menjadi nol. Harga minyak Brent melonjak melampaui 126 dolar per barel. Industri asuransi global mencabut premi risiko perang, menjadikan pelayaran komersial melalui selat itu mustahil secara ekonomi.

Tapi ada pengecualian yang nyaris tidak dibahas media. Data dari TankerTrackers.com, yang memantau pergerakan kapal melalui citra satelit, menunjukkan bahwa dari 15 kapal yang berhasil melintas Hormuz pada sepuluh hari pertama konflik, hampir seluruhnya adalah armada bayangan yang mengangkut minyak Iran — dan semuanya menuju Tiongkok. Iran menutup selat untuk musuh, bukan untuk mitra strategisnya.

Ini bukan kebetulan. Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif 25 tahun senilai 400 miliar dolar yang ditandatangani Beijing dan Teheran pada 2021 kini membuahkan hasil yang tak ternilai: akses minyak eksklusif di tengah blokade total. Tiongkok membeli minyak Iran dengan diskon 10 hingga 15 dolar per barel di bawah harga pasar, menghemat setidaknya 562 juta dolar hanya dalam bulan pertama perang. Sementara itu, cadangan minyak strategis Tiongkok sebesar 1,39 miliar barel — cukup untuk 120 hari tanpa impor — ikut melonjak nilainya puluhan miliar dolar seiring naiknya harga global.

Baca juga :  “Mixed Feelings” ala Megawati Berlanjut?

Yang lebih mengejutkan adalah apa yang dilakukan Beijing dengan kelebihan pasokannya. Kapal tanker Ding Heng 36 dan Auchentoshan mengirimkan lebih dari 260.000 barel diesel ke Filipina yang sudah menyatakan darurat energi nasional. Kapal Great Ocean mengirim sekitar 100.000 barel ke Vietnam.

Filipina, yang mengimpor 90 persen minyaknya dari Timur Tengah, tiba-tiba mendapati dirinya bergantung pada negara yang selama ini menjadi lawan sengketa terbesarnya di Laut China Selatan. Presiden Ferdinand Marcos Jr. bahkan secara terbuka menyatakan kesiapan untuk melanjutkan negosiasi eksplorasi minyak bersama dengan Tiongkok di Reed Bank — wilayah yang sebelumnya menjadi garis merah diplomatik Manila.

Ini adalah diplomasi minyak yang lebih efektif dari seribu pidato di forum internasional. Tiongkok tidak hanya untung secara pasif — Beijing aktif mengubah krisis menjadi instrumen rekonstruksi pengaruh di kawasan yang paling terdampak.

Kesabaran Sebagai Senjata: Dari Sun Tzu Hingga Simmel

Untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi, analisis ekonomi dan data tanker saja tidak cukup. Kita perlu lensa yang lebih dalam.

Georg Simmel, dalam karyanya Soziologie (1908), mendeskripsikan tertius gaudens bukan sekadar sebagai keberuntungan oportunistik, melainkan sebagai posisi struktural yang bisa dibangun secara sadar. Pihak ketiga tidak harus menunggu konflik terjadi — ia bisa mempersiapkan diri jauh sebelumnya agar, ketika konflik pecah, ia berada di posisi yang paling menguntungkan.

Inilah yang membedakan Tiongkok dari Swedia atau Swiss pada Perang Dunia II. Negara-negara netral Eropa itu beruntung karena geografi. Tiongkok beruntung karena arsitektur — hubungan diplomatik, perjanjian energi, cadangan strategis, dan diversifikasi sumber daya yang dibangun selama dua dekade.

Sun Tzu menulis dalam The Art of War: puncak keahlian tertinggi bukan memenangkan seratus pertempuran, melainkan menaklukkan tanpa pertarungan sama sekali. Beijing tidak mengirim satu pun tentara ke Iran. Tidak satu pun diplomat Tiongkok berpidato memanas di Dewan Keamanan PBB. Secara resmi, Tiongkok menyatakan diri sebagai negara netral. Tapi di balik netralitas itu, Beijing mempertahankan akses minyak eksklusif, membangun cadangan strategis ke tingkat tertinggi sepanjang sejarah, dan mendorong negara-negara tetangga yang selama ini bersengketa untuk datang bernegosiasi.

Baca juga :  Prabowo's Coffee Theory

Ada pula konsep Tiongkok yang lebih spesifik: taoguang yanghui (韬光养晦) — sembunyikan kemampuan, tunggu waktu yang tepat. Prinsip yang sering diatributkan ke Deng Xiaoping ini menjelaskan mengapa Tiongkok tidak pernah mengklaim kemenangan, tidak mendorong eskalasi, dan tidak memberikan ultimatum selama konflik berlangsung.

Setiap hari yang berlalu justru membuat negara-negara Asia Tenggara semakin bergantung pada Beijing, memperkuat argumen bahwa kemitraan dengan Tiongkok adalah jalur energi paling aman. Ini adalah geopolitik sebagai gravitasi — tidak perlu memaksa, cukup jadi satu-satunya pilihan yang tersisa.

Sementara itu, Alexis de Tocqueville dalam Democracy in America (1835) sudah memperingatkan bahwa demokrasi liberal cenderung kesulitan dalam kebijakan luar negeri jangka panjang karena tunduk pada tekanan opini publik dan siklus pemilu. Perang Iran membuktikan observasi ini dengan presisi yang menyakitkan.

Gerakan “No Kings” — protes yang terorganisir di lebih dari 3.000 lokasi di seluruh AS — menyatukan penentang perang, kekhawatiran inflasi, dan ketidakpercayaan pada arah strategis negara menjadi satu gelombang yang mengguncang legitimasi Washington. Di saat yang sama, Kongres Rakyat Nasional Tiongkok justru menyelesaikan sidangnya dengan tenang, menyetujui Rencana Lima Tahun ke-15 yang menargetkan peningkatan riset sebesar tujuh persen dan mendorong ekonomi digital mencapai 12,5 persen PDB. Saat Washington bergulat dengan drama perang dan protes jalanan, Beijing merumuskan peta jalan untuk memenangkan abad ke-21.

Pemenangnya Bukan di Teheran, Bukan di Washington

Sejarah tertius gaudens selalu berakhir dengan hal yang sama: pihak yang bertempur kehilangan lebih dari yang mereka peroleh, sementara pihak yang menonton pulang dengan kantong penuh. AS menjadi kekuatan finansial dunia bukan karena memenangkan Perang Dunia I — melainkan karena tidak ikut berperang selama tiga tahun pertama dan menjual senjata ke semua pihak. Tiongkok pada 2026 menjalankan naskah yang sama, hanya dengan instrumen yang berbeda: bukan senjata, melainkan tanker minyak.

Tentu, kemenangan ini bukan tanpa risiko. Jika AS berhasil memaksakan rezim pro-Barat di Iran, seluruh arsitektur perjanjian minyak Tiongkok bisa runtuh. Krisis properti domestik dan pengangguran pemuda tetap menjadi luka terbuka yang tidak bisa diobati oleh keuntungan geopolitik. Tapi dalam dunia di mana tidak ada pemenang absolut, Tiongkok masuk dalam krisis ini dengan posisi paling siap, menjalaninya dengan strategi paling sabar, dan akan keluar dengan pengaruh paling besar.

Amerika Serikat memulai perang dengan jet tempur. Tiongkok mengakhirinya dengan tanker minyak. Yang pertama membuat berita utama. Yang kedua mengubah peta dunia. (S13)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

MBG dan Runtuhnya ‘Republik Tepung’

Prabowo melarang telur dadar di program MBG karena rawan dicampur tepung. Mungkinkah kebiasaan "tepung" ini mengancam masa depan bangsa? 

Bongkar Deep State Dapur MBG?

Kepala BGN yang baru, Nanik Sudaryati Deyang krianya mewarisi lebih dari sekadar jabatan, mulai dari ekosistem kepentingan yang telah mengakar hingga probabilitas deep state di balik dapur MBG. Mengapa demikian?

Jersey Oranje Pengubur Luka Sejarah?

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Ketika luka 350 tahun penjajahan berubah jadi dukungan totalitas untuk timnas Oranje — apa yang sebetulnya sedang...

More Stories

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.

Sultan Jogja: Simpul Kuasa Indonesia

Pertemuan Megawati dan Sultan Hamengku Buwono X beberapa hari lalu terlihat seperti silaturahmi biasa — kangen-kangenan setelah lama tak berjumpa. Namun di balik hangatnya obrolan itu, banyak pihak membaca makna lebih dalam: Sultan sekali lagi berdiri di persimpangan politik Indonesia, menjadi titik temu yang tak bisa diabaikan.

Prabowo’s Coffee Theory

Di Rapat Paripurna DPR/MPR, 20 Mei 2026, Prabowo spontan berkelakar mencari kopi saat berpidato – sebuah bahasa politik yang menarik bagi banyak pihak. Bagi seorang presiden, momen itu bukan sekadar kantuk. Itu adalah sinyal politik: bahwa kekuasaan pun butuh jeda, dan kenyamanan tak harus mewah. Kopi adalah simpul sejarah, politik dan kekuasaan Indonesia.