HomeNalar PolitikPDIP: Good Bye Jokowi?

PDIP: Good Bye Jokowi?

Kecil Besar

Sumber dari internal PDIP menyebut partai ‘banteng moncong putih’ itu sedang mencari calon presiden (capres) untuk Pilpres 2019 dan pilihannya sedang terarah pada tokoh dari militer. Alamak, bukan Jokowi?


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]H[/dropcap]al yang mungkin paling diingat dari Yusril Izha Mahendra adalah ketika ia blusukan di pasar dengan menggunakan kaos Mickey Mouse pada tahun 2016 lalu. Namun, bukan tentang jumlah koleksi kaosnya yang akan kita bahas, melainkan kata-katanya tentang Presiden Joko Widodo (Jokowi) pasca disahkannya UU Pemilu beberapa waktu lalu.

“Saya khawatir Jokowi tidak paham dengan permainan partai-partai pendukung ini yang akhirnya akan membuat dirinya terjebak dalam deal-deal yang bisa saja hanya menguntungkan partai-partai pendukungnya, tapi tidak menguntungkan bagi bangsa dan negara,” demikian kata-kata politisi yang satu kampung dengan Ahok ini.

Kata-kata Yusril ini bukanlah isapan jempol semata. Faktanya, Jokowi memang sedang ‘disandera’ oleh kepentingan partai-partai pendukung – setidaknya demikianlah bocoran dari internal salah satu partai pendukung terbesarnya. Presidential threshold – atau ambang batas pencalonan presiden, mungkin lebih keren disingkat dengan Pres-T (bukan merek minuman) – sebesar 20 persen membuat Jokowi ‘tersandera’ dalam kepentingan partai pendukung.

Kok bisa? Tentu saja bisa. Jika Jokowi ingin mencalonkan diri lagi pada Pilpres 2019 – sepertinya si pakde memang mau maju lagi – ia harus didukung oleh minimal 20 persen kursi partai di DPR. Jika partai-partai yang saat ini mendukung si pakde di pemerintahan mencabut dukungannya, apalah artinya seorang Jokowi? Langkahnya tentu saja akan terhenti sebelum bertarung lagi. Walaupun beberapa partai sudah menyatakan dukungan pada Jokowi untuk Pilpres 2019, namun dalam sisa 2 tahun ini kemungkinan akan ada perubahan, apalagi jika Jokowi tidak mau menuruti keinginan partai-partai pendukung. Nah, mulai kelihatan kan ‘bau-baunya’?

Lihat saja Golkar, setelah Setya Novanto ditetapkan sebagai tersangka, isu pencabutan dukungan untuk Jokowi mulai muncul di internal partai. Padahal Golkar adalah partai pertama yang menyatakan dukungan untuk Jokowi di 2019. Partai pendukung lain? Nasdem, Hanura, PPP dan PKB pasti akan banyak maunya di sisa 2 tahun pemerintahan Jokowi. Lihat saja kebijakan Jokowi yang diributkan oleh partai pendukungnya, misalnya PKB yang mulai ribut di full day school.

Lalu, bagaimana dengan PDIP?

Presiden yang Mbalelo?

Sebagai ‘ketua kelas’ dalam koalisi pendukung Jokowi, PDIP sepertinya mulai gerah dengan sikap Jokowi. Gerahnya PDIP sebetulnya sudah terjadi sejak awal pemerintahan Jokowi – masih ingat sebutan ‘petugas partai’ yang dilontarkan oleh Megawati Soekarnoputri? Yakin, Jokowi pasti sulit tidur beberapa hari gara-gara ucapan itu. Hingga kini, persoalan antara Jokowi dan PDIP masih di soal ‘petugas partai’ itu.

Baca juga :  Driver Ojol Sang Marhaen Modern

Faktanya, Jokowi memang Presiden yang mbalelo – istilah dari Bahasa Jawa untuk orang yang sulit diatur. Mbalelo-nya Jokowi ini bukan sembarang mbalelo, tetapi mbalelo yang pakai nyali – melawan partai besar dengan oligarknya yang kuat.

Beberapa kasus yang memperlihatkan keras kepalanya Jokowi misalnya terkait menteri BUMN, Rini Soemarno yang sering berseberangan dengan Megawati dan PDIP. Suara-suara keras dari PDIP untuk menurunkan Rini diabaikan oleh Jokowi. Bahkan, Rini mungkin menjadi salah satu menteri favorit Jokowi. Boleh jadi, suara keras PDIP muncul karena sikap Rini yang menjauh dari partai tersebut dan lebih sering menunjuk komisaris dan direksi BUMN dari relawan Jokowi. So, alasannya karena PDIP ‘cemburu’?

Jokowi Capres Pipres 2019
Megawati dan Jokowi (Foto: tribunnews)

Sikap mbalelo Jokowi juga sudah dimulai sejak ‘pertikaiannya’ dengan Puan Maharani terjadi. Peristiwa yang pernah dimuat di The Jakarta Post itu terjadi sebelum Pilpres 2014 lalu dan hingga kini masih membekas. Pada saat itu, Jokowi disebut-sebut sempat diusir Puan dari rumah Megawati. Posisi Puan dalam kabinet Jokowi juga seolah tidak tersentuh – walaupun secara kinerja belum jelas apa hasilnya.

Sikap ‘diam’ Jokowi selama kasus yang menimpa Ahok beberapa waktu lalu juga dianggap tidak tegas oleh PDIP. Belum lagi kalau bicara soal kasus hukum. KPK seolah terus menekan PDIP dan Megawati lewat pengusutan kasus korupsi, misalnya terkait kasus BLBI dan KTP elektronik. Tidak heran jika PDIP menjadi partai paling ngotot dalam Hak Angket KPK. Bukan rahasia lagi jika KPK – walaupun sebagai lembaga independen – memiliki hubungan yang kuat dengan presiden, apalagi komisioner lembaga anti rasuah tersebut dipilih oleh presiden, sebelum diputuskan oleh DPR.

Jadi jelaslah hubungan Megawati dengan Jokowi selalu dipenuhi ‘angin ribut’. Jokowi boleh saja mencium tangan Megawati di acara-acara resmi – lambang seorang ‘petugas partai’. Tetapi, sebagai seorang politisi dengan rasionalitas, Jokowi bukanlah seseorang yang mudah diatur-atur. Beberapa pihak menyebutnya sebagai presiden dengan ‘perut yang kuat’ – mengacu pada sikapnya yang tidak gentar berhadapan dengan elit manapun, termasuk pendukungnya sendiri. Apalagi, jika berkaca dari Pilpres 2014, banyak relawan dan pendukung Jokowi yang sebetulnya bukan berasal dari partai politik.

Namun, sikap Jokowi yang mendukung Pres-T 20 persen – yang membuatnya disandera oleh partai-partai pendukungnya, membuat publik bertanya-tanya: is this the end of this man? Mungkin tidak berlebihan banyak yang menyebut Jokowi kena ‘jebakan batman’.

Baca juga :  Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Banteng Mencari Calon Lain?

Mbalelo-nya Jokowi ternyata membuat PDIP dan Megawati mencari orang lain untuk dijadikan calon presiden di 2019 nanti. Sumber dari internal PDIP menyebutkan bahwa partai tersebut sedang mencari capres baru, bahkan disebut capres tersebut berasal dari faksi militer.

Saat ini, tokoh militer yang paling kuat secara elektabilitas adalah Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo. Nah, PDIP disebut sedang melakukan pendekatan terhadap sang jenderal. Sebenarnya, opsi calon lain adalah Kapolri, Jenderal (Pol) Tito Karnavian. Namun, latar militer dirasa jauh lebih kuat secara politik ketimbang dari kepolisian.

Alamak, apakah itu berarti Jokowi tidak akan dicalonkan oleh PDIP? Sikap mbalelo yang ditunjukkan Jokowi sepertinya membuat PDIP gerah. Jika membaca peta politik partai-partai belakangan ini, terlihat jelas pragmatisme yang ditampilkan. Saat ini, Jokowi adalah tokoh politik yang paling kuat dan didukung oleh masyarakat luas. Partai-partai yang mendeklarasikan dukungan pada Jokowi punya tujuan untuk menarik simpati masyarakat – apalagi, ada gelaran Pilkada serentak di tahun 2018. Nama Jokowi adalah ‘iklan’ yang akan sangat menjual. Setelah Pilkada 2018, mungkin partai-partai tersebut akan kembali berhitung untuk mendukung Jokowi atau tidak.

Hal ini jelas membuat Jokowi berada pada situasi yang terombang-ambing. Jika PDIP mencalonkan Gatot, ambyar-lah mimpi Jokowi untuk jadi presiden lagi. Apalagi jika Golkar juga menarik dukungan, maka akan sulit bagi Jokowi untuk maju di 2019.

Pertanyaannya: senaif itukah Jokowi sehingga tidak memperhitungkan hal tersebut?

Mungkin masih menjadi misteri apa isi kepala si pakde. Tetapi, perlu dicatat: Jokowi adalah politisi yang cerdas. Bayangkan, presiden terlemah sepanjang sejarah Indonesia – Jeffrey Winters yang bilang – tetapi sejauh ini masih aman-aman saja kekuasaannya. So, he must be a good politician.

Dengan demikian, kata-kata Yusril bahwa Jokowi tidak paham permainan partai pendukungnya mungkin saja salah sepenuhnya. Justru Jokowi paham akan hal itu dan memilih cara tersendiri untuk menghadapinya. Pada akhirnya, presiden mbalelo ini akan tetap menjadi dirinya sendiri, tetap mbalelo mungkin sampai perutnya tidak kuat lagi. Eh? (S13)

 

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.