HomeHeadlinePD III: Era “Iroh” SBY?

PD III: Era “Iroh” SBY?

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Cuitan SBY soal kiamat 5 miliar manusia gemparkan publik. Benarkah ini sinyal SBY bertransformasi jadi sosok ‘Uncle Iroh’ di dunia nyata?


PinterPolitik.com

“Destiny is not a straight path… You have to look within yourself to save yourself from your other self.” – Iroh dalam Avatar: The Last Airbender 

Matahari sore itu tidak terlalu terik, namun cukup membuat Cupin merasa gerah saat menatap layar ponselnya. Di sebuah kedai kopi sudut Jakarta, jempol Cupin terhenti lama pada sebuah Acuitan panjang dari akun Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono.

Cupin mengernyitkan dahi karena merasakan nuansa yang jauh berbeda dari gaya Pak SBY yang biasanya santun. Ada urgensi yang menyengat dan aroma mesiu yang seolah tercium dari balik rangkaian kata-kata digital tersebut.

Dalam cuitan yang diunggah pada Januari 2026 ini, SBY tidak sedang membicarakan dinamika Pilkada atau koalisi partai. Ia berbicara tentang nasib peradaban manusia dengan sebuah pengakuan jujur: “Saya cemas”.

Bagi Cupin, peringatan SBY ini terasa seperti sirine tanda bahaya yang meraung di tengah pesta pora politik domestik. SBY menarik garis sejarah mengerikan dengan menyamakan situasi saat ini seperti tahun 1914 dan 1939.

Cupin mencoba mencerna argumen sang mantan presiden tentang munculnya pemimpin haus perang dan polarisasi blok negara. SBY benar soal “ruang dan waktu yang semakin sempit” yang kini menghimpit stabilitas global.

Yang membuat bulu kuduk Cupin meremang adalah prediksi angka korban yang disodorkan SBY: 5 miliar manusia. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan sebuah skenario kiamat di mana tidak ada peradaban yang tersisa.

SBY lantas menawarkan solusi konkret dengan mendesak PBB untuk segera menggelar Sidang Umum Darurat (Emergency UN General Assembly). Ia seolah mengguncang bahu dunia yang sedang pura-pura buta, mengingatkan bahwa diam bukanlah sebuah pilihan.

Namun, Cupin tak bisa mengabaikan pertanyaan nakal yang terus muncul di benaknya: mengapa harus sekarang? Apakah ini sekadar ketakutan orang tua, atau ada dorongan psikologis yang lebih dalam yang menggerakkan para pemimpin senior ini?

Psikologi Kaum Tetua dan Dewan Resi Global

upin meletakkan ponselnya, membiarkan pikirannya melayang pada teori psikologi klasik dari Erik Erikson. Cupin teringat bahwa fase ketujuh perkembangan manusia disebut sebagai Generativity vs. Stagnation, yang dialami di usia senja.

Generativitas adalah sebuah dorongan biologis mendalam untuk membimbing generasi berikutnya agar tidak salah jalan. SBY tampaknya sedang berada di puncak fase ini, didorong naluri untuk mewariskan dunia yang lebih aman.

Ia tidak lagi mengejar jabatan atau kekayaan, yang ia cari hanyalah keselamatan bagi “anak-anaknya” di seluruh dunia. Jika SBY diam saja melihat tanda kehancuran, ia akan jatuh ke dalam stagnasi yang hampa dan merasa tidak berguna.

Cupin kemudian menyadari bahwa SBY tidak sendirian dalam misi “penyelamatan” ini. Ia teringat pada sosok Mahathir Mohamad di Malaysia yang juga masih sangat vokal di usianya yang hampir satu abad.

Mahathir, sama seperti SBY, didorong oleh generativity yang berapi-api untuk memperingatkan bahaya imperialisme baru. Selain itu, ada pula Paus Fransiskus yang kerap memperingatkan tentang “Perang Dunia III yang terjadi secara bertahap”.

Ketiga tokoh ini seolah membentuk “Dewan Resi Global” imajiner di dalam benak Cupin. Mereka memiliki benang merah yang sama: kepedulian tulus untuk mencegah generasi muda mengulangi kesalahan fatal masa lalu.

Mereka memiliki crystallized intelligence, kecerdasan yang mengkristal dari pengalaman puluhan tahun melihat pola sejarah berulang. Sebagaimana dijelaskan psikolog Raymond Cattell, kecerdasan jenis ini justru semakin tajam seiring bertambahnya usia seseorang.

SBY sedang menggunakan “mata tua”-nya untuk melihat badai di ufuk, sementara kita yang muda masih asyik bermain. Lantas, jika SBY sedang berevolusi menjadi pelindung bijak, karakter populis apa yang paling tepat menggambarkannya?

Apakah mungkin SBY memiliki kesamaan arketipe dengan salah satu tokoh fiksi paling dicintai oleh Generasi Z?

Bangkitnya Sang ‘Uncle Iroh’ Cikeas

Imajinasi Cupin melompat ke dunia animasi Avatar: The Last Airbender, teringat pada sosok Jenderal Iroh yang ikonik. Kemiripan arketipe antara SBY dan “Uncle Iroh” begitu mencolok hingga membuat Cupin tersenyum sendiri.

Iroh adalah mantan jenderal besar berjuluk “Dragon of the West” yang bertransformasi menjadi penikmat teh yang bijak. Bukankah ini cerminan sempurna dari perjalanan hidup SBY dari seorang jenderal tempur menjadi negarawan sepuh?

SBY di masa pensiun dikenal mencintai lukisan dan ketenangan, persis seperti Iroh yang mencari damai setelah lelah berperang. Namun, persamaannya lebih dalam dari sekadar hobi: keduanya adalah mantan ksatria yang membenci perang.

Dalam kisah Avatar, Iroh sering kali menjadi satu-satunya suara nalar di tengah kegilaan pemimpin Negara Api yang agresif. Ia membimbing generasi muda yang penuh amarah agar tidak tersesat dalam ambisi yang merusak dunia.

SBY kini memainkan peran Iroh tersebut di panggung dunia, melihat para pemimpin agresif saat ini sebagai sosok “Zuko” atau “Azula”. Dengan kebijaksanaan ala White Lotus, ia turun gunung untuk memperingatkan bahwa perang hanya berujung pada kehancuran total.

Carl Jung menyebut arketipe ini sebagai The Wise Old Man, sosok yang muncul saat pahlawan berada dalam situasi putus asa. SBY sedang menjalankan fungsi arketipal ini demi menyelamatkan “keseimbangan dunia” dari jurang nuklir.

Ia tahu betul betapa mengerikannya perang karena pernah menjadi bagian dari mesin militer itu sendiri. Peringatan SBY adalah manifestasi keinginan Iroh agar dunia tidak mengambil jalan takdir yang salah.

Cupin menutup laptopnya dengan sebuah kesimpulan yang menenangkan batinnya di sore itu. Kita mungkin bisa berdebat panjang lebar tentang rekam jejak politik masa lalu SBY.

Namun, mengabaikan peringatan dari seorang negarawan yang memiliki akses informasi intelijen global adalah sebuah keangkuhan. Di era perlombaan menuju kehancuran, mungkin kita memang membutuhkan lebih banyak sosok “Paman Iroh” yang berani bersuara tentang harga mahal sebuah perdamaian. (A43)


Baca juga :  Driver Ojol Sang Marhaen Modern
spot_imgspot_img

#Trending Article

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

MBG dan Runtuhnya ‘Republik Tepung’

Prabowo melarang telur dadar di program MBG karena rawan dicampur tepung. Mungkinkah kebiasaan "tepung" ini mengancam masa depan bangsa? 

More Stories

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

MBG dan Runtuhnya ‘Republik Tepung’

Prabowo melarang telur dadar di program MBG karena rawan dicampur tepung. Mungkinkah kebiasaan "tepung" ini mengancam masa depan bangsa? 

Khofifah dan Jebakan “Bebek Songkem”?

Khofifah pimpin Jatim nyaris tanpa sorotan, beda jauh dari gubernur Jawa lain yang ramai. Sengaja merunduk atau memang melemah?