HomeHeadlineOperasi ‘Sudutkan’ Erick Thohir?

Operasi ‘Sudutkan’ Erick Thohir?

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Berbagai persoalan pelik melanda sejumlah badan usaha milik negara (BUMN). Sebagai menteri BUMN, Erick Thohir semakin tersudutkan di penghujung masa jabatannya.


PinterPolitik.com

“Anak-anak, doakan ayah ya! Semoga ayah berhasil” – Yamada, Benteng Takeshi (1986-1990)

Siapa yang tidak cemas dan panik ketika harus mengarungi labirin yang terdiri dari banyak pintu? Apa yang ada di balik pintupun tidak diketahui bila tidak membukanya.

Mungkin, itulah yang dirasakan oleh peserta ketika melalui tanyangan honeycomb maze (labirin sarang lebah) di Benteng Takeshi (1986-1990), sebuah acara televisi populer asal Jepang yang tayang di televisi Indonesia di tahun 1990-an hingga 2000-an.

Peserta harus memilih pintu mana yang akan dilaluinya untuk sampai di ujung labirin. Namun, di balik pintu, bisa saja terdapat monster yang menanti mereka. 

Selain itu, bila tidak hati-hati, pintu bisa saja malah mengarahkan peserta ke kolam air yang membuat mereka tercebur. Semua hambatan ini tidak bisa diketahui kecuali dengan membuka pintu-pintu misterius itu.

Hal yang sama juga berlaku dalam permainan lainnya yang penuh dengan tantangan, katakanlah permainan politik. Permainan penuh misteri ini tampaknya sedang dilalui oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir.

Bagaimana tidak? Setelah berbagai rangkaian Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 usai dilaksanakan, posisi Erick dinilai semakin terancam. 

Layaknya harus melalui labirin sarang lebah, Erick harus melangkah dengan hati-hati. Satu pintu yang dibukanya tampaknya kini membawa dirinya ke “monster-monster” baru.

Sejumlah BUMN farmasi, seperti Indofarma, misalnya, kini mengalami masalah keuangan dan tengah sakit. Tidak hanya di bidang farmasi, BUMN lain, yakni Krakatau Steel, kini juga tengah mengalami masalah.

Sejumlah pengamat bahkan meminta Erick memundurkan diri dari posisinya sebagai menteri BUMN. Direktur Gerakan Perubahan Muslim Arbi, misalnya, mengatakan bahwa Krakatau Steel yang terus merugi adalah wake-up call bagi Erick.

Menurut Muslim, Erick harus minta maaf kepada masyarakat dan mundur dari jabatannya sebagai menteri BUMN. Tidak hanya Muslim, hal yang serupapun diungkapkan oleh Direktur Political Economy and Policy Studies Anthony Budiawan.

Lantas, strategi apa yang harus disiapkan Erick dalam menghadapi “honeycomb maze” ini? Mungkinkah sedang terjadi operasi untuk menyudutkan Erick?

Operasi ‘Sudutkan’ Erick?

Tidak bisa dipungkiri bahwa Erick kini memegang jabatan yang memiliki pengaruh dan keuntungan politis yang signifikan. Posisi ini dinilai memiliki kewenangan yang dicari oleh banyak aktor politik lainnya.

Saat Indonesia masih di bawah pemerintahan Soeharto, banyak aktor politik – utamanya partai-partai politik – berada di bawah kontrol dan kendali pemerintah pusat. Demokrasi saat itu berjalan dengan sangat terpusat pada presiden di era Orde Baru.

Namun, setelah Orde Baru runtuh pada akhir tahun 1990-an, aktor-aktor politik yang sebelumnya di bawah kendali pemerintah kini turut menjadi aktor sentral. Merekapun akhirnya memiliki kepentingan untuk mendapatkan sumber, termasuk sumber ekonomi.

Salah satu sumber itu didapatkan dari BUMN yang menguasai banyak aset dan sumber ekonomi lainnya di berbagai daerah. Kerap kali, BUMN ini menjadi sapi perah bagi para partai politik.

Mengacu ke penjelasan Marcus Mietzner dalam bukunya yang berjudul Money, Power, and Ideology: Political Parties in Post-Authoritarian Indonesia, BUMN ini akhirnya digunakan untuk mendanai berbagai aktivitas politik yang mereka lakukan. Salah satunya adalah untuk kampanye dan membiayai kebutuhan operasional dan jalannya mesin partai.

Tidak hanya itu, sumber ekonomi yang didapatkan dari BUMN juga menjadi sumber untuk menjalankan sistem patronase. Partai-partai politik yang memiliki pengaruh dan posisi di BUMN juga akan menyalurkan dana atau sumber ekonomi lainnya kepada para pendukung dan pengikutnya guna menjaga kesetiaan mereka.

Maka dari itu, menjadi signifikan dan strategis bagi siapapun yang memiliki wewenang untuk menjalankan BUMN. Menteri BUMN sendiri bisa memilih untuk menempatkan siapa-siapa saja yang duduk di pucuk kepemimpinan dari berbagai BUMN.

Oleh sebab itu, siapapun yang duduk di kursi menteri BUMN saat ini pasti akan mendapatkan banyak “perlawanan” dari berbagai pihak, mengingat berbagai aktor politik memiliki kepentingan atas BUMN.

Menjadi masuk akal apabila Erick sedang dihadapkan pada “operasi-operasi” politik yang bisa menyudutkan dirinya. Bila benar demikian, strategi apa yang tengah disiapkan Erick, khususnya untuk menyongsong pemerintahan baru di bawah Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dalam beberapa bulan ke depan ini?

“Pintu Terakhir” Erick?

Mungkin, bila dianalogikan dengan honeycomb maze di Benteng Takeshi, Erick kini sudah dihadapkan dengan “monster-monster” yang dihadapinya di “pintu BUMN”. Kini, Erick harus mencari jalan lain untuk mencapai tujuan yang diinginkannya.

Seperti yang diketahui, Erick ini tidak hanya aktif sebagai menteri BUMN. Erick juga aktif sebagai ketua umum (ketum) PSSI.

Upaya besarnya di PSSI ini terlihat dari bagaimana Erick terjun langsung dalam membesarkan timnas Indonesia. Dalam beberapa kesempatan, Erick bahkan melakukan negosiasi langsung dengan berbagai klub luar negeri agar bisa memanggil pemain-pemain berkewarganegaraan Indonesia untuk tampil di timnas.

Belum lagi, ada juga persoalan kontrak pelatih timnas, yakni Shin Tae-yong (STY). Dalam beberapa kesempatan, Erick juga melakukan negosiasi dengan STY untuk perpanjangan kontrak.

Bukan tidak mungkin, kini Erick memilih “pintu PSSI” untuk melalui labirin sarang lebah setelah menemukan banyak “monster” di “pintu BUMN”. Apalagi, timnas dan sepak bola selalu mendapatkan eksposur besar di media dan publik Indonesia.

Seperti yang dituliskan oleh Meistra Budiasa dalam tulisannya yang berjudul “Politics, Media, and Sports in Indonesia,” olahraga, khususnya sepak bola, memiliki kaitan erat dengan budaya dan politik masyarakat Indonesia.

Sepak bola memiliki nilai kultural tersendiri. Didukung dengan digitisasi media, sepak bola menjadi penghantar yang mampu menciptakan publisitas bagi siapapun yang terlibat di dunia sepak bola.

Bukan tidak mungkin, Erick akhirnya harus mengandalkan “pintu PSSI” agar bisa menjaga kariernya di politik dan pemerintahan. Apalagi, sebagai salah satu pendukung Prabowo-Gibran, Erick harus bersaing dengan aktor-aktor politik lainnya yang turut mendukung pasangan calon tersebut.

Well, bukan tidak mungkin, “pintu PSSI” inilah harapan terakhir Erick untuk bisa mencapai tujuannya, yakni untuk tetap menjabat di pemerintahan Prabowo-Gibran. Pasalnya, bila gagal, bisa saja Erick akan ‘tersudutkan’ ke “pintu kolam air” yang membuatnya tercebur dan keluar dari permainan. (A43)


Baca juga :  Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz
spot_imgspot_img

#Trending Article

Jebakan Logika Bedah Kasus Nadiem?

Hakim sudah membaca putusannya. Tapi jauh sebelum itu, publik sudah selesai bersidang di kepala masing-masing.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz

Ketika hampir semua selat strategis dunia punya wacana bypass secara bersamaan, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kepanikan logistik — dan Indonesia perlu membacanya sebelum terlambat.

Lex Talionis Taufik Hidayat Biadab

Lex talionis bukan tentang balas dendam, melainkan batas peradaban atas kekerasan. Dalam kasus Taufik Hidayat, prinsip kuno itu menemukan relevansinya kembali, hukuman maksimal bukan ekspresi kebencian, tetapi pengakuan negara atas martabat korban. Saat keadilan diuji, korban tak boleh kalah dua kali.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.

More Stories

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

Di Balik Mekarnya Citra Habibie

Tanggal 25 Juni dikenang sebagai hari lahir Habibie. Citranya kian harum meski telah tiada. Apa rahasia di balik reputasi yang tak pernah layu itu?