HomeNalar PolitikNaik Turun Elektabilitas Jokowi

Naik Turun Elektabilitas Jokowi

Kecil Besar

Walaupun menyebut bahwa elektabilitas Jokowi menurun, Adjie tetap mengakui Jokowi merupakan salah satu tokoh populer dalam konteks Pilpres 2019.


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]K[/dropcap]eputusan Partai Golkar mengusung Jokowi untuk bertarung dalam Pilres 2019 mendapatkan peringatan dari Lingkaran Survei Indonesia. Lingkaran Survei Indonesia mengingatkan Partai Golkar bahwa saat ini kecenderungan elektabilitas Joko Widodo tak meningkat bahkan mengalami penurunan.

“Elektabilitas Jokowi menurun,” kata peneliti LSI Adjie Alfaraby, dalam forum Rapimnas Partai Golkar di Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (22/5).

Namun Adjie masih belum bisa membeberkan lebih lengkap mengenai jumlah angka penurunan elektabilitas Jokowi tersebut. Ia menyatakan bahwa pengumuman secara rincinya akan segera disampaikan secara resmi dalam rilis hasil survei terbaru dalam waktu dekat.

Walaupun menyebut bahwa elektabilitas Jokowi menurun, Adjie tetap mengakui Jokowi merupakan salah satu tokoh populer dalam konteks Pilpres 2019. Survei April 2017 menunjukkan 41,6 persen responden menyatakan, jika pemilu dilakukan saat ini, akan memilih Jokowi. Proporsi tersebut naik sekitar 4 persen dari Oktober 2016.

Adapun Prabowo dipilih 22,1 persen responden, jumlah tersebut meningkat hingga 5 persen dibandingkan survei periode sebelumnya. Hingga kini, keduanya semakin populer di mata publik, dan kian jauh meninggalkan popularitas sosok-sosok lainnya.

Naik Turun Elektabilitas Jokowi

Menurut pengamat politik dari Universitas Parahiyangan Bandung, Prof. Asep Warlan Yusuf, salah satu alasan penyebab elektabilitas Jokowi menurun salah satunya karena kekalahan Ahok di Pilgub DKI. Ia mengatakan Jokowi saat ini dalam posisi terkena imbas kekalahan Ahok dalam Pilkada Jakarta. Baginya, suka tidak suka, stigma Jokowi mendukung petahana Pilgub DKI terbangun di masyarakat.

Padahal di awal memerintah, popularitas Jokowi terus melambung. Puncaknya terjadi Maret lalu, tepat 2,5 tahun Jokowi-JK memerintah, lembaga survei Indo Barometer merilis tingkat kepuasan masyarakat kepada Jokowi-JK mencapai angka 66,4 persen. Tapi angka-angka di atas terlihat melorot usai Pilkada DKI.

Baca juga :  Driver Ojol Sang Marhaen Modern

Empat Solusi Jokowi Amankan Elektabilitasnya

Menuju Pilpres 2019, Jokowi harus bisa menjaga elektabilitasnya di mata masyarakat. Menurut Peneliti Senior Network for South East Asian Studies, Muchtar Effendi Harahap, ada beberapa solusi bagi Jokowi untuk mengamankan elektabilitasnya agar tidak merosot pada saat Pilpres 2019. Beberapanya adalah,

Pertama, Jokowi harus bisa menunjukkan dan membuktikan mampu dan berhasil melaksanakan janji-janji kampanye dan program kerja selama ini. Karena indikator paling tepat adalah tingkat pertumbuhan ekonomi mencapai tujuh persen sesuai janji kampanye. Namun sudah hampir tiga tahun Jokowi menjabat sebagai Presiden dan pertumbuhan ekonomi masih sekitar lima persen.

Kedua, Jokowi harus bisa menghilangkan penilaian bahwa rezim kepemimpinan Jokowi adalah rezim yang anti-umat Islam politik dan jangan lakukan kriminalitas aktivis dan ulama Islam.

Ketiga, Jokowi harus bisa membangun jaringan dengan organisasi dan lembaga masyarakat madani dan bukan dominan dengan Parpol. Karena pada saat Pilpres 2019 nanti, Jokowi jangan berharap banyak kepada mesin parpol untuk memenangkan dirinya, karena para kader parpol akan fokus dengan Pileg. Jadi, membangun jaringan dan hubungan dengan masyarakat madani menjadi salah satu alternatif.

Keempat, Jokowi harus kurangi politik ekonomi terhadap Tiongkok dan kembali pada posisi sebelumnya, yakni lebih condong ke AS atau Barat. Karena Jika Jokowi terus memprioritaskan kerja sama ekonomi dengan Tiongkok, itu akan mendapatkan penolakan dan resistensi dari AS dan negara sekutunya.

Mempertahankan elektabilitas selama menuju Pilpres 2019 bukanlah hal yang mudah bagi Jokowi, terlebih di era kepemimpinan Jokowi yang selalu diisukan dengan berbagai macam isu miring tentangnya dan juga banyak terjadi aksi keributan di mana-mana yang bisa saja menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap Jokowi.

Baca juga :  Ipul Quiet Power, Imin Quite Stuck?

Mampukah Jokowi melakukannya? (A15)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Bukti Indonesia “Bhineka Tunggal Ika”

PinterPolitik.com mengucapkan Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia ke 72 Tahun, mari kita usung kerja bersama untuk memajukan bangsa ini  

Sejarah Mega Korupsi BLBI

KPK kembali membuka kasus BLBI yang merugikan negara sebanyak 640 Triliun Rupiah setelah lama tidak terdengar kabarnya. Lalu, bagaimana sebetulnya awal mula kasus BLBI...

Mempertanyakan Komnas HAM?

Komnas HAM akan berusia 24 tahun pada bulan Juli 2017. Namun, kinerja lembaga ini masih sangat jauh dari harapan. Bahkan desakan untuk membubarkan lembaga...