HomeNalar PolitikMungkinkah Erick Thohir Capres 2024?

Mungkinkah Erick Thohir Capres 2024?

Kecil Besar

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir diisukan akan maju menjadi calon presiden dalam Pilpres 2024 dengan munculnya posko bantuan pandemi virus Corona (Covid-19) di media sosial. Meski telah disangkal, mungkinkah Erick maju menjadi capres potensial di tahun 2024?


PinterPolitik.com

“Life will find a way” – Ian Malcolm, The Lost World (1997)

Pandemi global yang disebabkan oleh virus Corona (Covid-19) kini bisa jadi merupakan salah satu tantangan terberat dalam sejarah panjang umat manusia. Bagaimana tidak? Pandemi ini telah memaksa masyarakat di berbagai belahan dunia untuk membatasi sifat alami manusia sendiri, yakni sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial.

Bisa dibilang, pandemi kali ini sungguh menguji kohesi umat manusia sendiri. Tak jarang pertanyaan mengenai kapan pandemi ini berakhir turut terlontarkan di media-media sosial.

Mungkin, jawaban dari pertanyaan ini bisa dijawab oleh tokoh yang bernama Ian Malcolm di film The Lost World (1997) yang diperankan oleh Jeff Goldblum. “Kehidupan akan selalu menemukan jalannya,” begitu ucap Ian dalam film lawas tersebut.

Bisa jadi, apa yang dikatakan Ian ini benar. Pasalnya, meski tak semua orang mengalami dampak yang sama akibat pandemi ini, perasaan dan empati tampaknya tetap menjadi milik umat manusia bersama.

Berbagai individu dan kelompok akhirnya mulai menunjukkan sumbangsihnya kepada masyarakat. Alasan kemanusiaan lagi-lagi menjadi dasar akan keinginan mereka untuk saling membantu.

Keinginan saling membantu ini juga terlihat di Indonesia dengan munculnya posko-posko bantuan di penjuru negeri. Tak jarang kampanye bantuan dan kepedulian sosial mengisi lini masa media sosial kita.

Salah satunya terlihat dari sebuah video yang viral. Kabarnya, video tersebut menunjukkan sebuah posko bantuan dengan spanduk bergambar salah satu menteri di Kabinet Indonesia Maju, yakni Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir.

Di samping foto Erick, terpampang beberapa kata yang mengindikasikan dukungan terhadap Menteri BUMN tersebut untuk menjadi calon presiden (capres) pada Pilpres 2024 mendatang.

Sontak, Erick langsung menyangkal isi spanduk posko bantuan Covid-19 tersebut. Bos Mahaka Group tersebut mengatakan bahwa dirinya tak pernah terlibat dalam ide-ide pencalonannya itu.

Meski begitu, benak insan-insan politik masih mempertanyakan akan kemungkinan tersebut. Apakah mungkin Erick menjadi capres potensial dalam Pilpres 2024? Bila mungkin, apa modal politik yang dimiliki Menteri BUMN ini untuk menyongsong kontestasi besar tersebut?

Modal Politik

Guna melihat kemungkinan tersebut, beberapa modal politik Erick tentunya juga perlu diamati. Pasalnya, modal politik seseorang turut menentukan prospek dan kemungkinan dari seorang kandidat.

Kimberly L. Casey – seorang pengajar di Northwest Missouri State University, Amerika Serikat (AS) – dalam tulisannya yang berjudul Defining Political Capital menjelaskan bahwa modal politik (political capital) ini dapat berasal dari berbagai jenis modal yang dimiliki, seperti modal ekonomi, modal sosial, modal manusia, modal kultural, modal simbolis, dan jenis-jenis modal lainnya.

Baca juga :  Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dalam tulisan tersebut, Casey menggunakan pendekatan ala Pierre Bourdieu – seorang filsuf kelahiran Prancis – yang banyak berbicara mengenai modal sosial (social capital), modal kultural (cultural capital), dan modal simbolis (symbolic capital). Mungkin, dengan menggunakan tulisan dan pendekatan Bourdieuan ini, modal-modal politik Erick dapat ditelisik.

Salah satu jenis modal yang dapat menjadi modal Erick dalam Pilpres 2024 nanti adalah modal ekonomi. Layaknya modal dalam sebuah proses produksi, modal ekonomi ini dinilai dapat ditransformasikan sebagai modal politik.

Modal politik (political capital) dapat berasal dari berbagai jenis modal, seperti modal ekonomi, modal sosial, modal manusia, modal kultural, modal simbolis, dan jenis-jenis modal lainnya Share on X

Casey menjelaskan bahwa modal ekonomi ini dapat meliputi kekayaan personal seorang kandidat. Selain itu, modal ekonomi dapat berasal dari pendanaan yang ditujukan menjadi bagian dari upaya pencalonannya, seperti pendanaan kampanye.

Mungkin, untuk saat ini, pendanaan pencalonan untuk Erick belum ada. Meski begitu, kekayaan personal yang dimiliki Menteri BUMN ini bisa jadi tak bisa dianggap remeh.

Sebagai pendiri Mahaka Group, Erick tak dapat dipungkiri memiliki modal ekonomi personal yang cukup besar. Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelanggaraan Negara (LHKPN) yang dipublikasikan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Januari lalu, Erick memiliki harta kekayaan senilai Rp 2,3 triliun.

Selain itu, dukungan modal ekonomi Erick bisa juga datang dari modal sosial yang dimilikinya, yakni ikatan personal. Seperti yang diketahui, Menteri BUMN ini merupakan saudara dari salah satu orang terkaya di Indonesia – yakni Garibaldi “Boy” Thohir – yang menurut majalah Forbes memiliki nilai kekayaan sekitar USD 1,6 miliar atau sekitar Rp 22,4 triliun (kurs Rp 14.000).

Modal sosial yang didasarkan pada relasi seperti ini juga bisa datang dari jaringan yang dimiliki oleh Erick di Eropa dan AS. Pasalnya, pendiri Mahaka Group ini sempat menjadi pemilik saham terbesar di klub sepak bola Inter Milan di Italia dan sempat membeli saham klub basket Philadelphia 76ers di AS.

Dengan modal-modal seperti ini, bukan tidak mungkin Erick memiliki kesempatan besar bila mencalonkan diri sebagai capres dalam Pilpres 2024. Pertanyaan selanjutnya adalah tantangan apa yang harus dihadapinya. Mungkinkah Erick menyelesaikan tantangan-tantangan itu?

Jokowi, Kunci Erick?

Meski Erick memiliki modal-modal yang menjanjikan, bukan berarti dirinya tak menghadapi tantangan dan hambatan dalam kemungkinan pencalonannya dalam Pilpres 2024. Pasalnya, kontestasi politik tersebut bisa dipastikan bakal memunculkan figur-figur yang tak kalah saing bila dibandingkan dengan Menteri BUMN.

Bila dibandingkan dengan figur-figur capres lainnya, Erick mungkin masih terpaut jauh. Berdasarkan survei capres yang dilakukan oleh Indo Barometer pada Januari lalu, Menteri BUMN ini berada pada peringkat sembilan.

Baca juga :  Iron Cage Menteri PU

Posisi-posisi teratas banyak diisi oleh nama-nama politisi yang telah terlebih dahulu berkecimpung di dunia politik, seperti Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto (22,5 persen), Anies Baswedan (14,3 persen), Sandiaga Uno (8,1 persen), dan sebagainya. Erick sendiri hanya mendapatkan porsi sebesar 2,5 persen dalam survei tersebut.

Boleh jadi, inilah tantangan yang akan dihadapi oleh Erick. Mengacu pada tulisan Casey, kandidat juga dapat memiliki modal sosial melalui name recognition (pengakuan) yang berbicara soal sejauh mana seorang kandidat dikenal.

Meski begitu, tantangan ini bisa saja teratasi pada tahun 2024. Casey menjelaskan bahwa pengakuan sebagai modal sosial ini berpengaruh berdasarkan popularitas kandidat ketika mengumumkan pencalonannya.

Dalam hal ini, bisa saja, Erick mendompleng pada popularitas yang dimiliki oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pasalnya, Menteri BUMN satu ini dikenal memiliki kedekatan tersendiri dengan mantan Wali Kota Solo tersebut sejak ditunjuk sebagai Ketua Panitia Pelaksana Asian Games 2018 (INASGOC).

Selain itu, pada tahun 2024 nanti, Jokowi secara otomatis tidak akan menjadi kandidat presiden kembali. Di sinilah, mantan Wali Kota Solo ini dapat memengaruhi kontestasi politik pada Pilpres 2024 dengan menggunakan pengaruh warisannya melalui dukungan politik (endorsement) terhadap Erick.

Jokowi sendiri disebut-sebut tengah membangun poros ketiga untuk menandingi poros-poros kekuatan politik yang ada. Bisa jadi, Erick adalah kunci dari kekuatan politik yang dibangun Jokowi berdasarkan relasi yang dimilikinya.

Meski begitu, Erick sendiri masih membutuhkan modal sosial lainnya bila ingin maju sebagai capres, yakni partai politik. Tak dapat dipungkiri modal sosial berdasarkan asosiasi kelompok berupa partai masih esensial dalam pencalonan presiden.

Pada intinya, setidaknya, Erick memiliki modal-modal politik yang telah dijabarkan tadi bila ingin mencalonkan diri pada Pilpres 2024. Bila tantangan dan hambatan yang melintang dapat diatasi, bukan tidak mungkin bos Mahaka Group iniakan menjadi presiden pertama yang bukan dari kelompok etnis Jawa.

Namun, kemungkinan tersebut tentunya masih belum dapat dipastikan akan terjadi. Bagaimana pun juga, dunia politik memiliki dinamika yang terkadang memunculkan outcome yang terduga.

Seperti pernyataan Ian dalam film The Lost World (1997) di awal tulisan, kehidupan akan selalu menemukan jalannya – termasuk jalan untuk menjadi presiden. Menarik untuk dinanti kelanjutannya. (A43)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

MBG dan Runtuhnya ‘Republik Tepung’

Prabowo melarang telur dadar di program MBG karena rawan dicampur tepung. Mungkinkah kebiasaan "tepung" ini mengancam masa depan bangsa?