HomeNalar PolitikMoeldoko, Cawapres Peredam TNI AD

Moeldoko, Cawapres Peredam TNI AD

Kecil Besar

Kemunculan nama Moeldoko sebagai salah satu kandidat cawapres terkuat bagi Jokowi meninggalkan sejuta tanya. Sang mantan jenderal menjadi pertautan masih kuatnya pengaruh TNI AD dalam politik nasional, sekaligus bukti bahwa reformasi 1998 tidak serta merta mentransformasi fungsi politik militer yang diwariskan Soeharto.


PinterPolitik.com

“Peace is too important to be left in the hands of civilians.”

:: Admiral Thomas B. Hayward, mantan Kepala Staf Angkatan Laut Amerika Serikat ::

[dropcap]K[/dropcap]isah pertautan jenderal-jenderal militer dengan kekuasaan memang telah menjadi salah satu catatan tertua yang mewarnai peradaban manusia, mungkin sejak konsep tentang kekuasaan itu pertama kali didefinisikan.

Mulai dari kisah digdaya Jenderal Marcus Licinius Crassus di Romawi, hingga Jean-Baptiste Bernadotte alias Karl Johan di Swedia, semuanya menggambarkan betapa petinggi militer seringkali menjadi pilihan terbaik untuk pucuk kekuasaan yang stabil bagi sebuah negara.

Kini, kisah itu berpotensi terulang setelah nama Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal Purnawirawan Moeldoko menguat menjadi salah satu kandidat yang berpeluang menjadi calon wakil presiden (cawapres) mendampingi Joko Widodo (Jokowi). Karir militernya dianggap sebagai faktor utama penunjang sang jenderal untuk terpilih menjadi orang nomor dua di negeri ini.

Nama mantan Panglima TNI ini memang kembali ke permukaan sejak Januari 2018 ketika ia dilantik menjadi KSP menggantikan Teten Masduki. Hal ini membuat beberapa pengamat politik mengatakan bahwa sosok Moeldoko tidak bisa dianggap remeh sebagai calon potensial pendamping Jokowi.

Survei dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA beberapa waktu lalu juga menyebutkan nama pria kelahiran Kediri, Jawa Timur itu masuk dalam 5 besar cawapres teratas versi opinion leader atau para elit dan ahli. Moeldoko bersaing dengan Sri Mulyani, Airlangga Hartarto, Mahfud MD, dan Tito Karnavian.

Dengan latar militer – terutama dari TNI Angkatan Darat (AD) – sosok Moeldoko dianggap sebagai pasangan terbaik bagi Jokowi dalam konteks keseimbangan kekuasaan sipil-militer. Kubu terakhir memang belakangan sering menjadi “sandungan” dalam pemerintahan Jokowi – presiden yang oleh banyak pihak dianggap terlemah sepanjang sejarah Indonesia.

Oleh karena itu, pilihan cawapres dari kubu militer dianggap sebagai hal yang rasional dan akan diambil oleh Jokowi. Persoalannya akankah hal itu terjadi?

Militer, Faksi Politik “Diam-diam Mendayung”        

Dalam petikan wawancaranya di Majalah Tempo edisi Januari 2018, Moeldoko  mengakui bahwa salah satu alasan utama mengapa dirinya ditarik ke dalam kabinet adalah hubungan antara Jokowi dengan TNI AD – matra terkuat di militer – yang mulai tak akur.

Bukan rahasia lagi jika panasnya hubungan itu terlihat sejak polemik antara TNI dan Polri terkait 5.000 pucuk senjata ilegal setahun lalu, serta kampanye penolakan terhadap isu komunisme yang sangat keras dihembuskan oleh TNI AD. Isu terakhir cukup mengganggu Jokowi karena selama ini sang presiden justru diserang dengan isu hoax paham kiri tersebut.

Moeldoko, Cawapres Peredam TNI AD

Apalagi, saat itu, Panglima TNI yang menjabat, Gatot Nurmantyo yang berasal dari TNI AD, juga larut dalam aksi-aksi politik yang menguatkan spekulasi dirinya menjadi penantang Jokowi selanjutnya untuk Pilpres 2019.

Tempo juga menyebut tentang pertemuan Jokowi dengan sejumlah jenderal TNI AD di lantai 6 Hotel Aston, Serang, Banten sehari sebelum perayaan HUT TNI tahun 2017 lalu, di mana saat itu Jokowi “mengritik” militer yang masih menggembar-gemborkan isu kusam komunisme, ketimbang memikirkan tantangan baru keamanan nasional.

Baca juga :  Iron Cage Menteri PU

Hubungan yang agak kurang akur dengan TNI AD juga berpotensi cukup menggoncang setelah Jokowi menunjuk Hadi Tjahjanto dari Angkatan Udara sebagai pengganti Gatot. Maka, menjadi masuk akal jika dengan menarik Moeldoko ke dalam kabinet, Jokowi berharap dapat memiliki kekuatan untuk meredam pengaruh politik dari TNI AD.

Apalagi, meskipun telah pensiun, pengaruh Gatot di TNI masih sangat kuat – seiring menguatnya ambisi sang jenderal maju menjadi orang nomor satu di negeri ini. Moeldoko sendiri juga membenarkan bahwa dirinya masih sangat paham struktur TNI AD dan membenarkan bahwa Jokowi sempat khawatir TNI terlibat terlalu aktif dalam politik – hal yang sangat terlihat dalam aksi-aksi Gatot saat masih memimpin.

Dengan demikian, masuknya Moeldoko memang bertujuan untuk meredam pengaruh Gatot.

Era Berganti, Doktrin Berubah?

Faktanya, TNI AD memang sepanjang sejarah negara ini memiliki posisi yang sangat sentral dalam militer. Dua presiden negara ini yang berlatar militer, berasal dari matra tersebut. Sejak era demokrasi terpimpin ala Soekarno, TNI secara umum memang menerapkan doktrin jalan tengah (middle way doctrine) dengan tidak mencari dominasi dalam politik, namun tidak memisahkan diri sepenuhnya.

Doktrin ini bergeser setelah segitiga kekuasaan dengan Soekarno sebagai satu sisi utama menjadi tidak seimbang seiring menguatnya Partai Komunis Indonesia (PKI). Sebagai matra yang paling dominan, TNI AD tentu melihat PKI sebagai rival terberat yang akan mempengaruhi perjalanan negara selanjutnya.

Pasca tragedi 1965, kekuatan TNI AD itu memuncak di bawah kekuasaan Soeharto, jenderal bintang lima Angkatan Darat. Selama 32 tahun kekuasaan Soeharto, TNI AD khususnya, memainkan peran terkuat dalam militer dan politik secara keseluruhan lewat doktrin Dwi Fungsi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Maka, tonggak Reformasi 1998 dan demokrasi diharapkan membuat kekuasaan sipil menjadi lebih dominan dibanding militer.

Namun, nyatanya, TNI – khususnya TNI AD – masih memainkan posisi politik yang sentral. Benjamin H. Beets dalam tulisannya yang berjudul The Political Influence of the Military menyebut bahwa pasca lengsernya Soeharto dan direformasinya ABRI, posisi militer tetap punya signifikansi yang sangat kuat karena persepsi masyarakat yang masih positif terhadap institusi militer seiring juga lemahnya institusi-intitusi sipil – seperti DPR dan eksekutif – serta masih kuatnya posisi TNI dalam isu-isu keamanan domestik.

Bahkan, Beets juga menyebut TNI punya peran yang besar dalam “off-budget income generation” – termasuk katakanlah, kuatnya peran militer dalam perusahaan plat merah macam Pertamina, hingga off-budget income generation lewat doktrin Perang Teritorial (Territorial Warfare) ala Jenderal Abdul Haris Nasution yang ada di komando teritorial militer (Territorial Command Structure/TCS).

Hingga kini TCS yang tersebar di seluruh Indonesia masih berperan dalam off-budget income generation untuk TNI, termasuk TNI AD.

Artinya, selain secara politik, kekuatan TNI AD juga punya tangan di bidang ekonomi. Dengan demikian, menjadi pemimpin di negeri ini tanpa dukungan TNI AD secara khusus adalah hal yang cukup mustahil.

Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah menyebutkan bahwa dirinya mampu menjadi Presiden karena mendapat dukungan tersebut – sekalipun akhir kekuasaannya juga salah satunya karena faktor hilangnya dukungan militer.

Megawati Soekarnoputri juga mampu menjaga hubungan baik dengan militer dengan tidak “mengutik-utik” kepentingan militer. TNI AD juga kembali berkuasa lewat salah satu jenderal terbaiknya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selama dua periode, sekalipun di era ini kekuatan politik SBY juga bertumpu pada dukungan sipil yang besar. Fakta-fakta itu membenarkan bahwa kekuatan militer akan menjamin kekuasaan sipil.

Baca juga :  Strategi “Gajah” Kaesang masuk Pesantren ?

Hal serupa juga terjadi pada Jokowi. Jika ditelusuri secara mendalam, Jokowi pada awalnya “memanfaatkan” TNI AD, untuk mengokohkan kekuasaannya di awal-awal. Bukan rahasia lagi, sebagai presiden terlemah, Jokowi sangat terkungkung oleh posisi Megawati Soekarnoputri sebagai patron politik yang nyatanya punya kekuasaan yang cukup kuat di matra lain, yakni Polri.

Untuk menghadapi tekanan “petugas partai” dari Ketum PDIP itu, Jokowi “bermain cantik”. Ia menikmati kedekatan dengan Moeldoko di awal-awal masa jabatan, lalu mengangkat Panglima TNI pengganti Moeldoko dari Angkatan Darat – Gatot Nurmantyo.

Strategi Jokowi ini salah satunya diungkapkan oleh Profesor Vedi Hadiz dari Murdoch University, Australia. Menurutnya, Jokowi menggunakan TNI AD untuk memperkuat posisi politiknya di hadapan lawan-lawannya. Hal ini juga semakin terlihat lewat pelibatan militer dalam program-program pemerintah.

Namun, menarik militer kembali ke politik menyimpan bahaya. Letjen Purnawirawan Agus Widjojo sebagai salah satu pensiunan TNI AD yang membantu reformasi militer misalnya, menyebut pelibatan militer ke dalam politik berpotensi menggagalkan transisi demokrasi di Indonesia. Ia menyebut hal ini dapat menimbulkan riak politik – hal yang kemudian terbukti lewat aksi-aksi Gatot menjelang pensiun.

Artinya, dalam gambaran yang lebih besar, keberadaan Moeldoko sebagai mantan jenderal TNI AD dalam kabinet Jokowi mewakili isu yang juga lebih besar, utamanya hubungan sipil-militer, serta kepentingan politik – juga ekonomi – terutama TNI AD sebagai matra terkuat.

TNI memang kembali lagi ke doktrin jalan tengah seperti di era Soekarno. Namun, tanpa manajemen hubungan yang baik, Jokowi juga akan sulit menjalankan kekuasaan tanpa dukungan militer. Dengan demikian, memilih Moeldoko sebagai cawapres adalah jalan tengah merangkul dukungan militer untuk keseimbangan politik domestik yang lebih stabil.

Cawapres Militer, Mengapa Tidak?

Steve Corbet dan Michael J. Davidson dalam sebuah tulisannya menyebutkan bahwa pensiunan militer punya posisi politik yang masih kuat, termasuk mendukung keterpilihan tokoh tertentu dalam Pemilu. Hal ini bisa dilihat dalam banyak kasus di Amerika Serikat.

Dengan demikian, memilih cawapres dari kubu eks militer adalah pilihan yang sangat rasional bagi Jokowi. Moeldoko akan sangat mampu menjamin diredamnya gejolak politik domestik – yang oleh Jokowi sering diistilahkan sebagai “sibuk ramai debat” – sehingga mengefektifkan kerja-kerja pembangunannya.

Moeldoko juga akan mampu menjamin TNI AD tidak berpolemik dalam politik seperti di era Gatot. Sosok seperti Moeldoko yang sangat paham seluk beluk TNI AD akan menguntungkan Jokowi, apalagi sang jenderal juga disebut-sebut punya hubungan yang spesial dengan Jokowi – hal yang bisa dilihat dari sambutannya mewakili keluarga saat pernikahan puteri Jokowi, Kahiyang Ayu beberapa waktu lalu.

Selain itu, sosok Moeldoko juga punya kedekatan dengan beberapa pengusaha besar – tentu saja positif secara ekonomi bagi Jokowi – dan juga mampu mengelola isu-isu yang berbasis agama. Dengan demikian, menjatuhkan pilihan pada Moeldoko akan menguatkan posisi politik domestik Jokowi.

Pada akhirnya, melibatkan jenderal untuk meredam jenderal lain mungkin akan jadi strategi politik brilian dari Jokowi. Persoalannya tinggal, apakah Moeldoko hanya ingin kursi RI-2 saja, atau ia juga punya ambisi untuk jabatan RI-1 yang lebih tinggi? Menarik untuk ditunggu. (S13)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.