HomeHeadlineMisi Terselubung Ganjar di Gibran?

Misi Terselubung Ganjar di Gibran?

Kecil Besar

Bakal calon presiden (bacapres) PDIP, Ganjar Pranowo, makin ke sini makin sering sebut nama Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka di media sosial (medsos). Mungkinkah ada misi terselubung Ganjar untuk Gibran?


PinterPolitik.com

“Monday, Tuesday, Wednesday, Thursday, Friday. Seven days a week. Every hour, every minute, every second” – Jung Kook, “Seven” (2023)

Makin ke sini, makin terasa gelombang fear of missing out (FOMO). Bagaimana tidak? Konser musisi luar negeri sepertinya semakin ramai saja digelar di Indonesia.

Belum lagi, semakin banyak idol K-pop yang malah datang secara bergantian ke sini. Usai BLACKPINK pada Maret lalu, giliran Suga Agust D yang datang ke Jakarta pada Mei kemarin.

Tidak hanya BLACKPINK dan Agust D, setelah ini ada kabar konser lagi dari LE SSERAFIM yang bakal digelar pada Oktober 2023 nanti. Hmm, bagaimana nasib dompet kalau begini?

Belum usai gelombang konser para grup K-pop, bakal calon presiden (bacapres) PDIP, Ganjar Pranowo, kembali mengungkit kemungkinan adanya konser K-pop di Solo, Jawa Tengah (Jateng). “Mas Gibran tadi bilang pengen bikin konser K-pop di Solo,” tulis Ganjar di unggahan Instagram-nya.

Well, demam K-pop tampaknya memang sedang melanda banyak politisi di berbagai negara. Tidak hanya di Indonesia, seorang bacapres di Brasil, Marcelo Ebrard, juga sempat menjanjikan konser Bangtan Sonyeondan (BTS) di Actopan, Brasil.

Gibran pun tidak terlepas dari demam K-pop ini. Usai Kota Solo menggelar konser Deep Purple, Wali Kota Solo tersebut memang sempat mengungkapkan keinginannya agar konser musisi K-pop dapat digelar di Solo, sehingga tidak hanya di Jakarta.

Mungkin, Ganjar ingin menuruti apa yang diinginkan Gibran dengan mengunggah gagasan tersebut di akun media sosial (medsos) miliknya. Namun, pencatutan nama Gibran oleh Ganjar bukan hanya sekali ini saja terjadi.

Ajakan untuk berolahraga bersama, misalnya, dilontarkan Ganjar untuk Gibran. Mereka akan berolahraga bersama di Bogor, Jawa Barat (Jabar), pada akhir pekan ini.

Wadas Banjir Lagi Ganjar ke Mana

Tidak hanya K-pop dan olahraga bersama, Gibran juga disebut-sebut akan menjadi juru kampanye (jurkam) untuk Ganjar – meski akhirnya disangkal oleh Gibran. “Saya bukan jurkam, kan belum masuk masa kampanye,” jelas Gibran.

Hmm, bila benar Gibran sebenarnya tidak ingin dikaitkan dengan Ganjar, mengapa sang gubernur Jateng tampak berusaha keras untuk mendekati Gibran? Mungkinkah ada “misi” terselubung di balik upaya Ganjar?

Baca juga :  Jika Ahok jadi Ketua KPK

Ganjar “Pepet” Gibran?

Meski terbilang baru menjadi pejabat eksekutif, nama Gibran seolah-olah memiliki “postur” yang tinggi di tingkat perpolitikan nasional. Bukan tidak mungkin, atas alasan inilah, Ganjar akhirnya berusaha melibatkan Gibran dalam upaya pemenangannya.

Terdapat penjelasan menarik dari Magedah E. Shabo dalam bukunya yang berjudul Techniques of Propaganda and Persuasion. Setidaknya, ada beberapa teknik propaganda.

Nah, bukan tidak mungkin, ada upaya propaganda dan persuasi yang diinginkan Ganjar terhadap Gibran. Ini bisa saja dilakukan melalui sejumlah teknik propaganda dan persuasi.

Teknik pertama yang disebutkan oleh Shabo adalah penegasan (assertion). Teknik satu ini dilakukan dengan mengungkapkan sebuah gagasan yang sebenarnya bisa diperdebatkan layaknya sebuah fakta.

Dalam upaya Ganjar untuk mendekati Gibran, bisa jadi teknik assertion digunakan. Penugasan PDIP terhadap Gibran sebagai jurkam Ganjar, misalnya, bisa jadi penegasan atas keterlibatan Gibran di upaya pemenangan Ganjar di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Selain teknik assertion, Ganjar bisa juga ingin mewujudkan teknik transfer – atau nama lainnya adalah pengasosiasian (association). Apa tujuannya? Jawabannya adalah agar makna dari sebuah simbol bisa terpindahkan (tertransferkan) ke subjek atau objek yang diinginkan.

Oknum PDIP Tak Dukung Ganjar

Contohnya adalah ketika seseorang berfoto sambil memegang bendera Slank. Secara tidak langsung, orang yang melihat foto tersebut akan menganggap sosok dalam foto itu adalah penggemar Slank – meskipun belum tentu demikian faktanya.

Selain itu, ada juga contoh lain. Misal, ketika terdapat seorang individu berfoto bersama figur populer, bukan tidak mungkin individu tersebut bisa mengklaim bahwa dirinya kenal dengan figur populer yang ada dalam foto.

Nah, kehadiran Gibran di sejumlah kegiatan – mulai dari diskusi, makan bersama, hingga kampanye bersama – bisa saja menimbulkan pengasosiasian tertentu bahwa ada kedekatan antara Ganjar dan Gibran. 

Secara tidak langsung, muncul makna bahwa Ganjar dan Gibran sejalan. Bahkan, orang-orang akan melihat bahwa Gibran adalah bagian dari tim pemenangan Ganjar di Pilpres 2024.

Namun, makna dari sebuah “simbol” Gibran bukanlah hanya makna atas dirinya. Bukan tidak mungkin, ada makna lain yang ada pada sosok Gibran. Mungkinkah makna ini yang diinginkan oleh Ganjar? 

Baca juga :  Republik Sunyi

Ganjar Inginkan Gibran atau Jokowi?

Seperti yang disebutkan di atas, makna dari sosok Gibran bukanlah hanya sebagai pejabat atau politisi muda yang masuk dalam kategori usia generasi Milenial. Gibran juga merupakan seorang putra sulung dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Bukan tidak mungkin, makna dari sosok Gibran inilah yang ingin didapatkan oleh Ganjar. Apalagi, sosok Jokowi bisa dibilang memiliki pengaruh yang besar dalam kontestasi politik menuju Pilpres 2024.

Koalisi Ganjar Macet

Namun, pertanyaan lanjutannya adalah apa alasan Ganjar. Mengapa Ganjar bisa saja menginginkan makna sosok Jokowi di balik kehadiran Gibran?

Mengacu ke tulisan Alexander R. Arifianto dari S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) yang berjudul From an Underdog to a Frontrunner: Understanding Prabowo’s Polls Surge, Jokowi tetap memiliki tingkat kepercayaan publik (approval rating) yang tinggi di masyarakat – meski banyak lawan politik mengkritik sejumlah kebijakan dan kondisi Indonesia saat ini.

Bukan tidak mungkin, inilah yang menjadikan Jokowi punya modal untuk mempengaruhi perpolitikan nasional hingga tahun 2024 mendatang. Alhasil, ada semacam warisan tak berwujud (intangible legacy) dari sosok Jokowi yang membuat namanya tetap memiliki makna tertentu dalam hal dukungan politik (political endorsement).

Sementara, di sisi lain, Jokowi – meski merupakan kader PDIP – dianggap tidak memberikan restu dan dukungan itu kepada Ganjar, melainkan kepada Prabowo Subianto yang kini menjabat sebagai Menteri Pertahanan (Menhan).

Alhasil, Ganjar pun terancam kehilangan makna dari sosok Jokowi yang diharapkannya. Pada akhirnya, teknik-teknik persuasi/propaganda itulah yang diambil oleh Ganjar.

Hmm, layaknya seseorang yang tengah melalui pendekatan (PDKT) yang disukai, mungkin alasan inilah yang ada di balik keinginan Ganjar mendekati Gibran. Tentu, hanya Ganjar yang tahu isi hati sebenarnya mengapa ingin selalu dekat dengan Gibran.

Namun, upaya Ganjar untuk “me-pepet” Gibran tampaknya tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Seperti lirik lagu “Seven” (2023) dari Jung Kook di awal tulisan, upaya itu mungkin akan dilakukan terus secara intens – mulai dari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, hingga Minggu. (A43)


spot_imgspot_img

#Trending Article

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?