HomeNalar PolitikMimpi Besar di Palapa Ring

Mimpi Besar di Palapa Ring

Kecil Besar

Proyek Palapa Ring sedang dalam proses pengerjaan dan diperkirakan akan selesai secara keseluruhan di tahun 2019. Persoalannya adalah apakah proyek ini akan menguntungkan rakyat banyak atau hanya segelintir orang saja?


PinterPolitik.com

“New technology is not good or evil in and of itself. It’s all about how people choose to use it.”

– David Wong, penulis –

[dropcap]B[/dropcap]utuh lebih dari hampir satu setengah abad lamanya bagi Indonesia untuk memiliki jalur komunikasi kabel yang menghubungkan semua wilayah di negeri ini pasca teknologi tersebut pertama kali digunakan pada tahun 1850-an.

Artinya, jika masih banyak yang berdebat, maka mungkin mereka hidup di zaman yang salah, dan perlu berargumen ketika Ratu Victoria di Inggris mengirimkan telegram pertama kali untuk Presiden James Buchanan di Amerika Serikat melalui kabel bawah laut trans-Atlantik pada tahun 1858.

Setidaknya cita-cita itu akan terwujud di Indonesia melalui proyek Palapa Ring. Harapannya, bukan hanya namanya saja yang bermakna menyatukan seluruh wilayah – diambil dari sumpah terkenal Mahapatih Gadjah Mada di zaman keemasan Kerajaan Majapahit – tetapi juga signifikansinya mengatasi ketimpangan teknologi dan informasi yang agak-agaknya memang masih sangat jauh dari ‘merata’.

Jika proyek ini selesai, tidak ada lagi ketimpangan informasi antara satu daerah dengan daerah yang lain dan dengan demikian juga berdampak pada pembangunan dan pemerataan ekonomi – setidaknya demikianlah yang dijelaskan berbusa-busa oleh para penyuluh dari pemerintah. Pemerintah memang menargetkan pembangunan proyek ini akan selesai sebelum tahun 2019.

Lalu apa sebenarnya Palapa Ring itu? Ide besar proyek ini adalah untuk menyatukan dan mempercepat komunikasi melalui pembangunan jaringan serat optik nasional yang akan menjangkau 34 provinsi dan 440 kota/kabupaten di seluruh Indonesia.

Artinya akan ada kabel komunikasi yang menghubungkan seluruh wilayah Indonesia. Jika ditotal, ada 35.280 km kabel laut dan 21.807 km kabel di daratan untuk meningkatkan interkonektivitas dan sebaran informasi ke seluruh wilayah Indonesia.

Selama ini, komunikasi satelit adalah salah satu cara utama masyarakat di berbagai daerah saling terhubung satu sama lain. Dengan adanya jaringan kabel, maka opsi komunikasi menjadi lebih banyak, dan tentu saja efisiensi dan efektivitas masing-masing produk akhir dari dua teknologi ini dapat ditingkatkan.

Namun, di samping hebatnya cita-cita pembangunan kabel bawah laut yang jika ditotal akan menghabiskan anggaran mencapai Rp 7 triliun ini, muncul kekhawatiran akankah fungsi jaringan kabel serat optik akan membawa manfaat yang besar  untuk masyarakat, atau jangan-jangan program tersebut hanya bermuara pada kepentingan sekelompok orang saja? Akankah jaringan internet nasional akan semakin lebih cepat?

Baca juga :  Jika Ahok jadi Ketua KPK

Palapa Ring, untuk Siapa?

Mengapa kabel? Apakah teknologi ini tidak ketinggalan?

Jangan salah, faktanya saat ini 100 persen transfer data trans-oseanik di seluruh dunia masih menggunakan jaringan kabel bawah laut. Walaupun konvensional, nyatanya kabel bawah laut masih dianggap sebagai jalur komunikasi yang lebih pasti dan – dalam konteks tertentu – aman.

Mimpi Besar di Palapa Ring

Dengan melihat kondisi wilayah Indonesia yang berbentuk kepulauan, pilihan untuk menggunakan kabel bawah laut boleh jadi memang sangat cocok. Di dunia yang makin lama makin wireless, nyatanya kabel masih menjadi pilihan transfer informasi yang lebih akurat.

Cikal bakal Palapa Ring adalah program ‘Nusantara 21’ yang merupakan proyek awal pemerintah pada tahun 1998. Namun, krisis ekonomi yang melanda Indonesia membuat proyek tersebut tidak berjalan.

Pada Januari 2005, di ajang Infrastructure Summit I, wacana pembangunan infrastruktur telekomunikasi berbasis kabel ini kembali mencuat ke permukaan, dan seiring berjalannya waktu program ini menemukan titik terangnya pada pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Adapun proyek Palapa Ring sendiri terdiri dari 3 paket. Yang pertama adalah Paket Barat, meliputi Riau dan Kepulauan Riau sampai Natuna dengan total panjang kabel 2.000 km. Proyek ini diperkirakan bernilai total Rp 1,28 triliun dan dikerjakan oleh konsorsium Moratel-Ketrosden Triasmita yang mayoritas dikuasai oleh PT Mora Telematika Indonesia (Moratelindo).

Yang kedua adalah Paket Tengah, meliputi Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku Utara sampai Kepulauan Sangihe-Talaud dengan total panjang kabel mencapai 2.700 km. Proyek ini bernilai Rp 1,4 triliun dan dikerjakan oleh konsorsium Pandawa yang terdiri atas PT LEN (51 persen), PT Teknologi Riset Global Investama (34 persen), PT Sufia Technologies (5 persen), PT Bina Nusantara Perkasa (5 persen), dan PT Multi Kontrol Nusantara (5 persen).

Sementara yang terakhir adalah Paket Timur, meliputi Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Barat, dan Papua, dengan total panjang kabel 6.300 km. Proyek bernilai total Rp 5,1 triliun dan dikerjakan oleh konsorsium yang terdiri dari Moratelindo, IBS, dan Smart Telecom. Konsorsium ini adalah proyek Grup Sinar Mas.

Menariknya, Moratelindo merupakan salah satu perusahaan yang punya jatah besar dalam proyek Palapa Ring ini karena ikut dalam dua paket, yakni di Timur dan di Barat. Adapun perusahaan ini didirikan oleh Galumbang Menak Simanjuntak. Galumbang telah malang melintang di dunia telekomunikasi dan mencuri perhatian ketika menang tender proyek Palapa Ring pada semester pertama tahun 2016.

Baca juga :  Iron Cage Menteri PU

Pria yang mengagumi Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) ini berhasil membesarkan Moratelindo dan menjadikannya perusahaan Indonesia pertama yang mampu memasang jaringan serat optik di Orchard Road, Singapura – kawasan yang monumental di Negeri Singa itu.

Konglomerasi lain yang ada dalam program ini adalah Grup Sinar Mas. Menariknya, Sinar Mas juga punya hubungan dengan Moratelindo, terutama ketika anak perusahaan itu Mora Quatro Multimedia (MQM) diakusisi oleh anak perusahaan Sinar Mas, Dian Swastika.

Apakah ini berarti Palapa Ring adalah proyek Sinar Mas Group? Masih sulit untuk menyimpulkan demikian. Yang jelas, bisnis ini melibatkan kepentingan konglomerasi besar dengan jumlah modal yang tidak sedikit pula.

Dengan pertautan kepentingan bisnis yang terasa dalam proyek ini, akankah Palapa Ring menjadi sekedar proyek gelar kabel di laut saja, atau memang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan sebaran informasi antar daerah di Indonesia? Mungkin hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Kepentingan Politik?

Lalu, apakah ada kepentingan politik di balik program ini, mengingat ‘informasi’ adalah salah satu komoditas yang sangat berharga?

Yang jelas, jika proyek-proyek ini selesai sebelum tahun 2019, maka tentu saja akan ada dampak yang cukup besar bagi dua tahun politik ini. Apalagi, Paket Barat diperkirakan akan berfungsi pada Februari 2018 dan akan melingkupi wilayah politik yang sangat luas secara elektoral – katakanlah jika ingin dikait-kaitkan dengan Pilkada di 2018 dan Pilpres 2019. Tetapi, apakah sesederhana itu analisisnya?

Sulit untuk menjawab secara pasti. Yang jelas, komunikasi melalui serat optik memang akan menjadi hal yang sangat penting. Apalagi di tengah kerentanan aksi penyadapan dan pembajakan lewat komunikasi di jalur satelit.

Jika jalur komunikasi lewat kabel yang cenderung ‘lebih tertutup’ ini dimanfaatkan dengan sebaik mungkin, maka potensi terganggunya kepentingan nasional di tahun politik bisa diminimalisir sekecil mungkin. Bukan rahasia lagi jika keamanan cyber sedang menjadi isu politik utama yang sangat mempengaruhi banyak negara, termasuk adidaya macam Amerika Serikat sendiri.

Tetapi, apakah senaif itu analisisnya? Kalau toh niat membajak, lewat jalur apa pun pasti akan tetap dibajak. Jika demikian, mungkin kata-kata David Wong di awal tulisan ini benar 100 persen, bahwa teknologi tidak ada yang baik atau buruk. Semua tergantung manusia yang menggunakannya. (S13)

 

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.