HomeHeadlineMiliter di Balik Facebook-Google?

Militer di Balik Facebook-Google?

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio dibuat menggunakan AI.

Dari ARPANET hingga Gemini Pentagon: ketika Kuda Troya digital masuk ke saku celana kita. Semua terlihat seperti hadiah peradaban: konektivitas, informasi, hiburan. Tapi siapa sebenarnya yang membangun “kuda” ini — dan apa yang tersembunyi di dalamnya?


PinterPolitik.com

Dalam mitologi Yunani, kemenangan terbesar pasukan Achaean atas kota Troya bukan datang dari pedang atau tombak — tapi dari sebuah hadiah. Kuda kayu raksasa yang terlihat seperti persembahan suci ternyata menyimpan prajurit di dalamnya.

Bangsa Troya membawanya masuk melewati gerbang kota dengan sukarela, bahkan merayakannya. Mereka tidak ditaklukkan oleh kekerasan. Mereka ditaklukkan oleh kepercayaan terhadap sesuatu yang terlihat indah.

Tiga ribu tahun kemudian, miliaran manusia membawa sesuatu ke mana-mana — ke kamar tidur, meja makan, bahkan kamar mandi. Bukan kuda kayu. Tapi smartphone yang berisi Google, Facebook, Instagram, dan Maps. Semua terlihat seperti hadiah peradaban: konektivitas, informasi, hiburan. Tapi siapa sebenarnya yang membangun “kuda” ini — dan apa yang tersembunyi di dalamnya?

Ini bukan teori konspirasi. Ini adalah sejarah yang terdokumentasi di website-website resmi pemerintah Amerika Serikat.

Internet yang kita gunakan hari ini lahir dari ARPANET — proyek yang dibangun DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency), lembaga riset Departemen Pertahanan AS, sebagai respons terhadap peluncuran Sputnik oleh Uni Soviet pada 1957. Presiden Eisenhower mengotorisasi ARPA pada Februari 1958.

Pada Oktober 1969, pesan komputer-ke-komputer pertama dikirim antara UCLA dan Stanford Research Institute. Ironisnya, pesan yang dimaksud adalah “login” — tapi sistem crash setelah dua huruf, sehingga yang terkirim hanya “lo.” Bukan awal yang heroik untuk jaringan yang akan mengubah dunia.

Google? Algoritma PageRank — fondasi dari perusahaan senilai lebih dari dua triliun dolar hari ini — dikembangkan Sergey Brin dan Larry Page di Stanford dengan dana gabungan NSF, DARPA, dan NASA. Ini bukan klaim. Ini tertulis di paper akademik pertama mereka tahun 1998: “Funding also provided by DARPA and NASA.”

Lalu pada 2004, Google mengakuisisi Keyhole — perusahaan yang didanai In-Q-Tel, venture capital resmi CIA — dan mengubahnya menjadi Google Earth. CIA sendiri mengkonfirmasi ini di website resminya, menyebutnya sebagai salah satu kontribusi CIA untuk teknologi modern.

Baca juga :  Jersey Oranje Pengubur Luka Sejarah?

Facebook? Pada 4 Februari 2004, DARPA secara resmi menutup program LifeLog — proyek ambisius untuk merekam seluruh kehidupan digital seseorang: email, lokasi, transaksi, bahkan langkah kaki. Di tanggal yang sama persis, Mark Zuckerberg meluncurkan The Facebook di Harvard. Apakah berhubungan langsung? Tidak ada bukti dokumen resminya.

Jim Gage, peneliti yang memimpin LifeLog, membantahnya. Tapi Newton Lee, ilmuwan komputer yang pernah bekerja di DARPA, mengatakan sesuatu yang sulit dibantah: programnya mungkin dibatalkan, tapi idenya tetap hidup — dan dengan bantuan media sosial, “database serba tahu” yang pernah jadi ambisi militer itu pada akhirnya terwujud.

Dan daftar ini tidak berhenti di Google dan Facebook.

In-Q-Tel — yang logo dan portofolionya bisa dilihat secara publik — tercatat berinvestasi di lebih dari 325 perusahaan, termasuk Palantir (analitik intelijen), Recorded Future (prediksi ancaman), dan Dataminr (monitoring media sosial real-time).

Amazon memegang kontrak cloud dengan CIA dan Pentagon. Microsoft menjalankan kontrak JEDI dan memproduksi HoloLens untuk tentara AS. Regina Dugan, Direktur DARPA 2009–2012, pindah ke Google, lalu ke Facebook — di mana ia memimpin Building 8, laboratorium yang mengerjakan antarmuka otak-komputer.

Bukan Konspirasi, Tapi Konvergensi

Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Silicon Valley adalah boneka militer? Jawabannya lebih nuanced — dan justru karena itu, lebih mengkhawatirkan.

Shoshana Zuboff, profesor Harvard Business School, memberikan kerangka paling tajam untuk memahami fenomena ini melalui teorinya tentang Surveillance Capitalism (2019). Menurutnya, perusahaan teknologi telah menciptakan model bisnis baru: mengubah perilaku manusia menjadi bahan baku — data yang dipanen, diproses, dan dijual sebagai produk prediktif kepada pengiklan. Tapi yang tidak ditekankan Zuboff: produk prediktif yang sama — kemampuan memahami dan memprediksi perilaku manusia dalam skala masif — juga sangat berharga bagi aparatus militer dan intelijen.

Ini bukan kolusi. Ini konvergensi. Korporasi dan negara tidak perlu berkonspirasi — mereka cukup menginginkan hal yang sama: data manusia, sebanyak mungkin, setepat mungkin, sepermanen mungkin.

Pola ini terlihat paling jelas dalam evolusi sikap Google terhadap militer. Pada 2018, empat ribu karyawan Google menandatangani petisi menolak Project Maven — kontrak drone militer dengan Pentagon. Google mundur dan menerbitkan prinsip etis: tidak akan membangun AI untuk senjata. Yang membagongkan, pada Februari 2025, prinsip itu diam-diam dihapus dari website mereka. Sebulan kemudian, Google menyerahkan Gemini — AI paling canggih yang mereka miliki — kepada Pentagon untuk operasi militer. Dari “Don’t Be Evil” ke Gemini untuk militer — dalam waktu tujuh tahun.

Baca juga :  Jalan-jalan dengan Sepatu Roda 'Girl Power'

Michel Foucault mungkin tidak kaget. Dalam konsepnya tentang panopticon — menara pengawas di mana satu orang bisa memata-matai semua tahanan tanpa mereka tahu kapan sedang diamati — Foucault berargumen bahwa bentuk kekuasaan paling efektif adalah yang membuat orang mengawasi diri sendiri.

Platform digital membangun panoptikon yang jauh lebih efisien: bukan satu menara di tengah penjara, tapi miliaran perangkat yang dibawa orang ke mana-mana, dengan sukarela, karena menawarkan konektivitas dan hiburan.

Apa yang Bisa Indonesia Pelajari?

Bagi Indonesia, ini bukan sekadar bacaan geopolitik yang menarik. Ini adalah pertanyaan kedaulatan digital yang sangat konkret.

Pertama, soal kesadaran. Mayoritas pengguna internet Indonesia — yang jumlahnya lebih dari 210 juta orang — menggunakan produk-produk yang lahir dari ekosistem militer-intelijen AS tanpa pernah mengetahui sejarahnya. Literasi digital yang hanya mengajarkan cara posting dan setting privasi tanpa memahami struktur kekuasaan di balik platform adalah literasi yang dangkal.

Kedua, soal infrastruktur. Indonesia sedang membangun IKN, mendorong digitalisasi pemerintahan, dan mengintegrasikan AI ke berbagai sektor. Pertanyaannya: di atas infrastruktur siapa semua ini dibangun? Ketika data strategis negara mengalir melalui server-server milik perusahaan yang punya kontrak dengan Pentagon, kedaulatan digital menjadi lebih dari sekadar slogan.

Ketiga, dan paling penting: soal imajinasi. Jika Amerika bisa membangun DARPA pada 1958 sebagai respons terhadap Sputnik — dan dari situ lahir internet, GPS, dan seluruh ekosistem teknologi yang mendominasi dunia — maka pertanyaan untuk Indonesia bukan “bagaimana kita mengatur teknologi mereka,” melainkan “kapan kita membangun ekosistem kita sendiri?”

Kuda Troya hanya bekerja satu kali dalam mitologi. Tapi dalam dunia digital, kuda itu masuk ke rumah kita setiap hari — dan kita yang membukakan pintunya. (S13)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.