HomeNalar PolitikMenunggu Capres 2024 Selesaikan Mario Dandy

Menunggu Capres 2024 Selesaikan Mario Dandy

Kecil Besar

Kasus pemukulan yang dilakukan oleh Mario Dandy Satriyo terhadap Cristalino David Ozora seakan membius satu Indonesia โ€“ mulai dari persoalan kekerasan hingga kekayaan pejabat pajak. Mengapa para calon presiden (capres) potensial belum ada yang angkat bicara?


PinterPolitik.com

โ€œEvery time I turn around, there’s a new trial of the centuryโ€ โ€“ F. Lee Bailey (1933-2021), pengacara hukum pidana asal Amerika Serikat (AS)

Ada kebiasaan menarik yang biasa dilakukan oleh masyarakat Amerika Serikat (AS). Kebiasaan itu adalah memberikan sebutan unik terhadap setiap peristiwa besar yang menghebohkan khalayak umum.

Istilah โ€œtrial of the centuryโ€ โ€“ atau โ€œperadilan terbesar di abad iniโ€ bila diterjemahkan โ€“ adalah salah satunya. Frasa ini dilekatkan pada kasus-kasus hukum yang menyita perhatian begitu besar.

Salah satu kasus besar yang mendapatkan predikat tersebut adalah peradilan atas kasus pembunuhan terhadap Nicole Brown Simpson dan temannya, Ronald Goldman, pada tahun 1994 yang menempatkan Orenthal James (OJ) Simpson โ€“ mantan suami Nicole sekaligus pemain National Football League (NFL) terkenal โ€“ sebagai tersangka.

Peradilan itu bisa dibilang menjadi salah satu persidangan terbesar di sejarah kontemporer AS. Bagaimana tidak? Persidangan itu dinilai berjalan layaknya drama yang jadi tontonan masyarakat โ€“ mengingat banyak bagian proses persidangan ditayangkan secara langsung melalui televisi.

Belum lagi, isu besar turut menyelimuti jalannya proses peradilan dari kasus ini. Seiring berjalannya proses peradilan, narasi-narasi seperti isu rasial juga mempengaruhi sentimen masyarakat AS โ€“ apalagi OJ merupakan seorang warga keturunan Afrika-Amerika yang kerap mendapatkan ketidakadilan.

Di kelompok Afrika-Amerika, misalnya, beredar narasi bahwa pihak kepolisian Los Angeles (LAPD) melakukan sejumlah konspirasi agar OJ bisa diputuskan bersalah. Asumsi ini timbul dari kegelisahan publik atas ketidakadilan sistem penegakan hukum pada kelompok-kelompok minoritas seperti Afrika-Amerika dan Latin.

Mungkin, berkaca dari sejarah ini, Indonesia mungkin akan segera memiliki salah satu trial of the century โ€“ mengingat publik kini benar-benar dihebohkan oleh kasus pemukulan Mario Dandy Satriyo terhadap Cristalino David Ozora.

Bagaimana tidak? Kasus ini bisa dibilang telah merambang ke banyak aspek. Peristiwa yang mulanya disebut sebagai persoalan โ€˜cintaโ€™ ini akhirnya melibatkan sejumlah organisasi masyarakat (ormas) besar seperti Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Nahdlatul Ulama (NU).

Mario Dandy Sambo Jilid 2

Bukan hanya persoalan ormas saja, persoalan ini juga sudah merembet ke kepercayaan publik terhadap pejabat-pejabat pajak โ€“ mengingat Mario kerap memamerkan harta kekayaannya yang ternyata tidak dilaporkan. Ayah Mario yang sebelumnya pejabat di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Rafael Alun Trisambodo, sampai memundurkan diri.

Seruan-seruan warganet untuk tidak membayar pajak mulai terkumandangkan di berbagai linimasa media sosial (medsos) โ€“ membuat sejumlah pengambil kebijakan seperti Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati berupaya untuk mengembalikan kepercayaan publik.

Dengan magnitudo sebesar ini, tentu, kasus ini bisa saja membahayakan keberlangsungan pemerintahan โ€“ mengingat penerimaan pajak adalah salah satu sumber pendapatan negara. Namun, mengapa calon-calon presiden (capres) potensial di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 masih belum angkat bicara?

Baca juga :  Reinkarnasi Ahmad Sahroni?

Dari โ€˜Cintaโ€™ Jadi Huru-hara

Kasus pidana OJ Simpson yang menggemparkan masyarakat AS bisa dibilang mulanya bukankah urusan publik. Justru, persoalan antara OJ dan Nicole Simpson mulanya adalah urusan interpersonal.

Ya, walaupun isu ini jadi domain publik karena melibatkan unsur pidana, urusan ini mulanya bukan persoalan sosial dalam skala besar. Namun, kasus ini berubah jadi isu sosio-politik karena isu rasial yang menyelimutinya.

Saking terbelahnya secara sosio-politik masyarakat AS kala itu, para politisi pun ikut angkat bicara soal peradilan dan keputusannya pada tahun 1995. Presiden AS Bill Clinton dari Partai Demokrat, misalnya, berkomentar bahwa dirinya tetap percaya pada sistem keadilan AS. Sentimen yang sama pun ditunjukkan oleh lawan-lawan politiknya, seperti Bob Dole dari Partai Republik.

Namun, mengapa isu-isu seperti ini akhirnya bisa menjadi isu sosio-politik yang bisa mengancam stabilitas domestik? Kenapa banyak orang akhirnya takut dan sangat curiga terhadap aparat penegak hukum akibat kasus OJ Simpson?

Mungkin, salah satu alasannya adalah sifat alami manusia yang lebih takut pada hal-hal negatif โ€“ seperti kerugian dan ancaman โ€“ daripada dengan hal-hal positif โ€“ seperti keuntungan. Inilah yang disebut sebagai bias negativitas (negativity bias).

Dalam tulisan Bad World: The Negativity Bias in International Politics dari Dominic D.P. Johnson dan Dominic Tierney, bias negativitas ini bekerja pada tingkat bawah sadar (subconscious) manusia. Bias ini pula yang akhirnya menimbulkan tindakan tertentu dari manusia.

Karena Mario Dandy Sri Mulyani Pusing

Dalam politik internasional, misalnya, negara akan mencurigai satu sama lain ketika salah satu dari mereka memiliki persenjataan yang lebih kuat dan canggih. Inilah yang disebut sebagai dilema keamanan (security dilemma) dalam studi Hubungan Internasional.

Hal yang sama juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Ketika pasangan Anda pergi bersama orang lain, rasa cemburu bisa saja muncul. Ini karena Anda boleh jadi melihat orang tersebut sebagai ancaman. 

Nah, hal yang sama bukan tidak mungkin juga terjadi di kasus OJ Simpson. Apalagi, narasi ketidakadilan rasial-lah yang akhirnya menyebar โ€“ membuat kelompok minoritas di AS semakin tidak percaya dengan sistem keadilan.

Hal ini pula yang akhirnya menyebabkan para politisi dan pengambil kebijakan di AS turut mengomentari kasus OJ yang mulanya hanya persoalan hukum. Tentu, ketidakpercayaan publik yang besar kemudian menjadi kepentingan Clinton maupun Dale.

Hal yang sama pun bisa juga berlaku di kasus pemukulan Mario Dandy terhadap David. Dengan kemewahan milik Mario dan Rafael yang terungkap, publik bisa saja makin tidak percaya dengan para pejabat yang duduk di urusan pajak.

Apalagi, pajak yang dibayarkan diharapkan dapat bertransformasi menjadi manfaat bagi publik. Maka dari itu, bila kepercayaan pajak menurun dan masyarakat semakin tidak ingin untuk membayar pajak, bukankah ini ancaman besar bagi jalannya pemerintahan?

Baca juga :  MBG dan Runtuhnya 'Republik Tepung'

Capres Kok Diam Saja?

Sejauh ini, sebagian besar yang berkomentar adalah para pejabat pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) yang memang bersinggungan langsung dengan isu tersebut. Beberapa diantaranya adalah Menkeu Sri Mulyani dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD.

Boleh jadi, para pejabat ini melakukan apa yang disebut oleh R. Kent Weaver sebagai politik menghindari kesalahan (politics of blame avoidance) dalam tulisan The Politics of Blame Avoidance. Biasanya, para pengambil kebijakan melakukan penghindaran kesalahan ketika ada persoalan yang terus meningkat dampaknya.

Nah, bila benar demikian, para pengambil kebijakan ini melakukan blame avoidance dengan cara melompat ke kereta musik (jumping on the bandwagon). Sri Mulyani, misalnya, langsung dengan sigap memberhentikan Rafael dan meminta Inspektorat Jenderal (Itjen) Kemenkeu untuk memeriksa harta Rafael.

Mario Dandy Hanya Puncak Gunung Es

Lantas, bagaimana dengan mereka yang tidak berada di pemerintahan? Apakah mereka tidak bisa ikut andil untuk terlibat menyelesaikan persoalan ini?

Tentu saja, mereka pun bisa. Individu-individu yang tergabung dalam GP Ansor dan NU, misalnya, turut membantu menyelesaikan persoalan ini. Ini terlihat dari bagaimana Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor turut mengawal kasus hukum yang melibatkan David sebagai korban.

Yang menarik, isu yang telah merambah ke domain publik ini sebenarnya bisa diikuti juga oleh siapapun โ€“ selama dia adalah anggota masyarakat. Isu negatif satu ini bisa dikomentari oleh politisi siapapun โ€“ apalagi politisi adalah figur publik.

Politikus PDIP Budiman Sudjatmiko, misalnya, turut mengomentari kasus pemukulan ini di akun Twitter-nya. Politikus yang juga penggemar Real Madrid itu mengatakan bahwa kasus ini perlu diselesaikan secara tuntas.

Kalaupun Budiman saja bisa, lantas, mengapa para capres potensial โ€“ mulai dari Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, Puan Maharani, Ridwan Kamil, Airlangga Hartarto, hingga Erick Thohir โ€“ belum terlihat berkomentar terkait kasus Mario Dandy?

Padahal, seperti apa yang dijelaskan sebelumnya, bias negativitas bisa saja memiliki dampak yang luas. Para capres ini bisa saja memunculkan diri untuk menawarkan opsi-opsi penghindaran kerugian akibat kasus Mario Dandy โ€“ layaknya Clinton dan Dole di kasus OJ Simpson.

Ini juga sejalan dengan teori interaksionisme simbolis (symbolic interactionism) dari George Herbert Mead. Interaksi yang dilakukan โ€“ termasuk mengomentari dan memberikan solusi atau kritik atas isu Mario Dandy โ€“ turut membentuk konsep diri (self) seseorang di masyarakat.

Lantas, bukankah kasus Mario Dandy ini bisa menjadi momen yang tepat untuk menawarkan self sebagai the next leader yang bisa mengobati bias negativitas masyarakat? Bukankah ini bisa menjadi trial of the century ala Indonesia? (A43)


spot_imgspot_img

#Trending Article

Transformasi Dudung, Jenderal Kanvas?

Dari membeli lukisan siswi SMP hingga mendengar langsung aspirasi mahasiswa, Dudung Abdurachman seolah menampilkan wajah baru KSP. Apakah ini sekadar pencitraan, atau tanda lahirnya paradigma baru komunikasi institusi dan seorang purnawirawan jenderal di saat bersamaan?

Lapar yang Tidak Ikut Libur

Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.comChairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis KATA PEMRED #43PinterPolitik.com Tiga hari lagi, pada 22 Juni 2026,...

Komprador Gurita Batu Bara

Pemadaman listrik bergilir kembali menghantui sejumlah wilayah Indonesia. Di baliknya, PLN menghadapi defisit 20 juta ton batu bara yang belum dikontrak dari total kebutuhan 154 juta ton per tahun. Menteri Bahlil sempat membantah, namun tim koordinasi darurat sudah dibentuk โ€” tanda masalah ini lebih serius dari yang diakui.

Danantara OTW Beli Chelsea?

SWF dunia kini berbondong-bondong masuk industri olahraga. Akankah Indonesia ikut bermain?

‘Teach You a Lesson’: Fantasi Indonesia?

Serial Korea soal negara yang mengirim inspektur ke sekolah jadi sorotan. Mungkinkah fantasi itu yang sebenarnya dibutuhkan guru Indonesia?

IPDN, Bima, & Si Paling Berhak?

Pernyataan Bima Arya sontak memantik debat lama, apakah pendidikan birokrasi memberi hak lebih besar untuk memimpin daerah? Dari IPDN, meritokrasi, hingga legitimasi demokrasi, membuka pertanyaan mengenai apakah yang paling siap berdasarkan โ€œijazah birokratโ€ otomatis menjadi yang paling berhak memimpin rakyat?

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

More Stories

‘Teach You a Lesson’: Fantasi Indonesia?

Serial Korea soal negara yang mengirim inspektur ke sekolah jadi sorotan. Mungkinkah fantasi itu yang sebenarnya dibutuhkan guru Indonesia?

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?ย