HomeNalar PolitikMenuju AHY Jilid II

Menuju AHY Jilid II

Kecil Besar

Dengan visi Indonesia Emas 2045, sebagai generasi muda, AHY telah menggariskan jalan politiknya sendiri untuk kemajuan bangsa dan negara.


PinterPolitik.com

“Indonesia akan semakin produktif karena kita selalu berpikir ke depan” – Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)

[dropcap size=big]P[/dropcap]asca hiruk pikuk Pilkada DKI Jakarta 2017 beberapa bulan lalu, sosok Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memang tidak banyak muncul lagi di pemberitaan. Publik tentu mengingat dengan jelas kiprah putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini dalam 7 bulan terakhir di seputaran Pilkada Jakarta. AHY yang terakhir berpangkat Mayor, memang meninggalkan karir militernya yang cemerlang dan masuk ke dunia politik untuk ikut bersaing memperebutkan kursi gubernur Jakarta.

Kini, kiprah AHY kembali mendapatkan sorotan ketika ia meresmikan The Yudhoyono Institute (TYI)sebuah think tank milik trah Yudhoyono pada 10 Agustus 2017 lalu. TYI dipercaya sebagai salah satu lembaga tempat AHY akan menempa karir politiknya menuju cita-cita utama: menjadi presiden Indonesia suatu saat nanti. SBY memang dipercaya menjadikan AHY sebagai calon presiden berikutnya dari trah Yudhoyono. Apalagi, kiprah AHY saat Pilkada DKI Jakarta tidak buruk sepenuhnya – bahkan untuk ukuran politisi baru, AHY bisa disebut sukses menyejajarkan dirinya dengan tokoh politik yang lebih senior.

Pertemuan AHY dengan Presiden Joko Widodo di hari yang sama juga sempat memunculkan spekulasi terkait peluang dirinya menjadi calon wakil presiden menemani Jokowi di Pilpres 2019 mendatang – di tengah munculnya isu penarikan dukungan PDIP terhadap Jokowi. (Baca: “PDIP: Good Bye Jokowi”). Berbekal dukungan Partai Demokrat, kehadiran AHY tentu saja akan mengubah peta pertarungan politik di tingkat elit pada tahun 2019 nanti.

Terbaik di Militer

SBY memang telah menggariskan AHY untuk menjadi penerusnya. Oleh karena itu, pendidikan militer dipilih SBY untuk membentuk karakter AHY – sama seperti dirinya dan kakek AHY, mendiang Letnan Jenderal Sarwo Edhie Wibowo.

Walaupun lahir di Bandung, AHY pernah merasakan bersekolah di Timor Timur saat SBY bertugas di provinsi yang kini telah menjadi negara sendiri tersebut. Setelah menamatkan pendidikan sebagai lulusan terbaik di SMA Taruan Nusantara, Magelang, AHY masuk Akademi Militer (Akmil) Magelang. Pada tahun 2000, AHY lulus sebagai lulusan terbaik Akmil dan memperoleh penghargaan pedang Tri Sakti Wiratama dan medali Adhi Makayasa.

Kemudian di tahun 2001, ia lagi-lagi menjadi lulusan terbaik di Sekolah Dasar Kecabangan Infanteri dan Kursus Combat Intel yang kemudian membuatnya bergabung dengan kesatuan ‘baret hijau’ Kostrad (Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat). AHY menjadi komandan peleton di Batalyon Infanteri Lintas Udara 305/Tengkorak di Brigif Linud 17 Kostrad dan berangkat ke Aceh di tahun 2002 untuk ikut dalam perjuangan melawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Baca juga :  Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Sekembalinya dari Aceh, pria yang memperoleh gelar M.Sc, MPA, dan MA ini mengikuti kursus Pasiops di Pusat Pendidikan Infanteri Pusat Kesenjataan Infanteri Bandung dan meraih predikat lulusan terbaik. AHY kemudian melanjutkan pendidikan masternya di Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapura dan lulus sebagai Master of Science (M.Sc.) di tahun 2005 dengan predikat memuaskan. Di tahun itu juga ia menikah dengan Anissa Larasati Pohan – putri mantan Gubernur Bank Indonesia, Aulia Pohan.

AHY Jilid II

Pada tahun 2006, AHY bertugas sebagai pasukan penjaga perdamaian yang dikirim ke Lebanon. Ia juga berperan dalam tim pendirian Universitas Pertahanan – kampus yang menjadi gagasan SBY. Pada tahun 2008, AHY melanjutkan pendidikan masternya di Universitas Harvard, Amerika Serikat dan mengambil jurusan public administration. Ia lulus di tahun 2010 dengan predikat sangat memuaskan.

Prestasinya yang cemerlang membuat AHY terpilih sebagai peserta dari The Young Future Defence Leader Workshop. Ia lalu mengikuti pendidikan Sekolah Lanjutan Perwira di Fort Benning, Amerika Serikat dan menjadi lulusan terbaik dari sekolah tersebut serta mendapatkan banyak penghargaan. Kembali ke Indonesia, AHY ditugaskan sebagai Kepala Seksi 2 Operasi di Satuan elit Kostrad, Brigade Infanteri Lintas Udara 17.

Tahun 2014, AHY kembali mengikuti pendidikan militer di sekolah komando Command and General Staff College (CGSC) di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat – tempat yang sama di mana SBY juga pernah belajar. Pendidikan di sekolah komando tersebut ia selesaikan dalam jangka waktu satu tahun dan berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4.0. AHY juga meraih IPK 4.0 di George Herbert Walker School di Webster University dalam program master di bidang Leadership and Management. Kembali ke Indonesia, AHY langsung dipromosikan sebagai Danyonif Mekanis 203/Arya Kemuning di bawah jajaran Kodam Jaya.

Berbagai prestasi dan puluhan penghargaan yang diraih AHY selama berkarir di militer membuat banyak pihak menyebutnya sebagai calon jenderal terbaik dengan prestasi yang luar biasa yang dimiliki oleh TNI di masa depan.

Penerus Trah Yudhoyono

Keputusan AHY berhenti dari militer dan terjun ke politik awalnya disayangkan oleh banyak pihak. Ia maju sebagai calon gubernur dalam Pilkada Jakarta dan oleh karenanya harus melepas jabatannya sebagai perwira militer di TNI Angkatan Darat. Namun, segudang prestasi yang dimilikinya di militer membuat AHY dianggap sebagai salah satu tokoh politik muda yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Sosok AHY yang muda dan energik juga dipercaya akan berdampak sangat positif bagi dunia politik Indonesia. Segudang prestasi dan pendidikannya di luar negeri pun akan sangat membantu jika ia nantinya terpilih menjadi presiden karena – sama seperti Soekarno, Habibie dan SBY – AHY tidak akan canggung bergaul di lingkungan internasional dan mewujudkan perdamaian.

Baca juga :  Jokowi: Saya akan Lawan! Part 2

Sebagai pendatang baru, AHY memang masih perlu meningkatkan wawasan politiknya, apalagi berkaca pada gelaran Pilkada DKI Jakarta lalu, gagasan politik AHY masih sering kandas ketika dibenturkan dengan fakta di lapangan. Oleh karena itu, TYI bisa menjadi jalan bagi AHY untuk menajamkan ‘indra’ politiknya – termasuk dalam hal pelaksanaan berbagai kebijakan publik di masyarakat. Jika dalam hitungan bulan saja AHY sudah bisa bersaing dalam kontes politik sebesar Pilkada DKI Jakarta, apalagi jika ia punya setahun dua tahun melalui TYI.

Dengan visi Indonesia Emas 2045,  AHY telah menggariskan jalan politiknya sendiri untuk kemajuan bangsa dan negara sebagai generasi muda. Kontes politik terdekat yang bisa diikutinya adalah Pilpres 2019 di mana AHY berpeluang sangat besar untuk menjadi calon wakil presiden – menjadikannya sebagai daya tawar Partai Demokrat. Jika ia sukses dalam periode tersebut, peluangnya untuk menjadi presiden pada pemilu 2024 akan terbuka lebar. Apalagi, pada tahun 2020-2030, Indonesia akan memasuki bonus demografi, di mana angkatan produktifnya akan mencapai 70 persen dari total populasi.  Sebagai bagian dari angkatan tersebut, AHY akan menjadi salah satu tokoh yang mewakili 70 persen masyarakat Indonesia.

Pada akhirnya, apakah AHY akan memenangkan persaingan tersebut tergantung pada upaya yang dilakukannya selama beberapa tahun ke depan. Secara politik, adanya sosok AHY menunjukkan bahwa SBY telah berhasil melakukan regenarasi politik – hal yang mungkin saat ini masih gagal dilakukan oleh elit politik lain.

Politik SBY yang ‘terencana dan penuh persiapan’ – dan menurun pada AHY – benar-benar menunjukkan sosoknya sebagai jenderal ahli strategi ‘baret hijau’. Sosok AHY merupakan perwujudan peribahasa Latin: “Amat Victoria Curram”, ‘kemenangan diraih oleh orang-orang yang mempersiapkan diri’. Terlepas dari kritik ‘apakah ini adalah politik dinasti’, yang jelas SBY telah mempersiapkan AHY dengan matang. Menarik untuk ditunggu bagaimana kiprah AHY dengan The Yudhoyono Institute-nya. (S13)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.