HomeNalar PolitikMencari Zhang Indonesia Hadapi Corona

Mencari Zhang Indonesia Hadapi Corona

Kecil Besar

Nama Papa Zhang – Dokter Zhang Wenhong – menjadi buah bibir di media sosial terkait upayanya melawan virus Corona (Covid-19) di Tiongkok. Adakah sosok seperti Papa Zhang di Indonesia?


PinterPolitik.com

“Look, my word is bond as f**k. My life is hard enough. They not rewarding us. They disregarding us” – 6LACK, penyanyi rap asal Amerika Serikat

Pada abad ke-21 ini, sudah menjadi wajar bagi kita apabila mulai bermunculan sosok-sosok populer yang sebelumnya jarang terlihat di media mainstream seperti televisi. Mungkin, figur-figur populer ini lebih banyak dikenal dengan istilah-istilah seperti YouTuber, selebgram, selebtweet, dan influencer.

Biasanya, individu-individu berusia muda yang tergolong dalam Generasi Z dan milenial sudah tak asing dengan peran mereka dalam mengisi konten-konten jejaring media sosial. Beberapa pegiat-pegiat media sosial tersebut membuat konten terkait hobi, fashion, komedi, dan sebagainya.

Namun, di tengah pandemi global yang disebabkan oleh virus Corona (Covid-19), bidang konten lain tampaknya mulai mendapat perhatian. Soal kesehatan misalnya, menjadi salah satu perhatian besar di masyarakat.

Bisa jadi, inilah yang tengah terjadi di Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Seorang dokter dan ahli epidemiologi yang bernama Zhang Wenhong menjadi salah satu selebriti daring yang meledak di negara yang menjadi pusat pertama pandemi Covid-19 itu.

Sosok yang dikenal dengan sebutan “Papa Zhang” ini sempat ditulis oleh mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan dalam situs miliknya. Dahlan menyebutkan bahwa Papa Zhang ini adalah sosok yang benar-benar didengarkan oleh publik Tiongkok di tengah-tengah pandemi Covid-19 – sampai dianalogikan seperti fatwa ulama.

Selain Dahlan, Alice Yan di media South China Morning Post asal Tiongkok juga pernah menulis mengenai Papa Zhang. Dokter ini menjadi populer secara daring pada Januari 2020 lalu karena sikapnya yang lugas di tengah-tengah sikap pemerintah Tiongkok yang dianggap simpang siur dan omong kosong.

Uniknya, di bawah pemerintahan Tiongkok yang dianggap otoritarian, ucapan-ucapan Zhang tetap diperbolehkan meskipun kerap tak sejalan dengan panduan Partai Komunis Tiongkok. Bahkan, dokter tersebut turut mengirimkan dokter-dokter yang menjadi anggota partai tunggal tersebut ke garda terdepan dalam menghadapi pandemi.

Bukan tidak mungkin kehadiran Papa Zhang ini menjadi penting dalam upaya Tiongkok dalam melawan pandemi Covid-19. Lantas, apakah Indonesia memerlukan juga sosok seperti Papa Zhang ini? Bila perlu, punyakah Indonesia?

Siapa Papa Zhang?

Fenomena meledaknya popularitas Papa Zhang di Tiongkok sebenarnya menandakan perlunya figur yang dapat didengarkan oleh masyarakat dan pemerintah sendiri. Pasalnya, bukan tidak mungkin modal dan pengetahuan dokter – seperti Zhang – memiliki peran tertentu dalam dinamika sosial dan politik.

Meningkatnya popularitas Papa Zhang ini dapat terjadi akibat modal simbolis yang dimilikinya. Fenomena ini dapat dijelaskan dengan konsep-konsep yang berhubungan dengan social capital (modal sosial) yang diperkenalkan oleh filsuf dan ahli sosiologi asal Prancis yang bernama Pierre Bourdieu.

Baca juga :  Xi Jinping, the King of Games?

Berdasarkan tulisan Kimberly Casey dari University of Missouri, St. Louis, yang berjudul Defining Political Capital, Bourdieu setidaknya menyebutkan beberapa modal dalam lingkup sosial, seperti modal sosial (jaringan relasi) itu sendiri, modal ekonomi (uang dan property), modal kultural (barang dan jasa kultural seperti pendidikan), dan modal simbolis (legitimasi).

Casey sendiri membagikan modal-modal tersebut menjadi tujuh klasifikasi modal secara lebih detail, yakni modal institusional (afiliasi dengan lembaga), modal manusia (kombinasi kemampuan, keahlian, dan pendidikan), modal sosial, modal ekonomi, modal kultural, modal simbolis, dan modal moral (prinsip dan nilai).

Beberapa dari konsep Bourdieuan tersebut dapat ditarik kembali pada fenomena Papa Zhang di Tiongkok. Konsep-konsep modal seperti modal manusia, modal sosial, dan modal simbolis bisa jadi turut memengaruhi pengaruh Zhang di negara tersebut.

Modal manusia misalnya, dimiliki oleh Zhang dengan pendidikan dan keahlian yang dimilikinya, yakni keahlian kesehatan dan epidemiologi. Dokter tersebut juga pernah belajar di Harvard Medical School, Amerika Serikat (AS).

Legitimasi menciptakan dominasi terhadap perbedaan sosial yang ada di masyarakat – membuat sistem simbolis memiliki fungsi politik. Share on X

Selain modal manusia, Zhang juga memiliki modal simbolis. Mengacu pada tulisan Casey, modal simbolis ini dapat berasal dari gelar dan profesi. Sebagai dokter, Zhang tentunya memiliki modal tersebut.

Modal-modal ini pun juga dapat menjadi sumber personal Zhang yang tentunya dapat berpengaruh pada modal lain, yakni modal sosial. Dengan mengutip Nan Lin, Casey menjelaskan bahwa modal-modal personal tersebut dapat ditransformasikan menjadi modal sosial.

Selain itu, modal simbolis yang dimiliki oleh Zhang membuat dirinya dapat memiliki legitimasi untuk berbicara kepada publik. Legitimasi ini menciptakan dominasi terhadap perbedaan sosial yang ada di masyarakat – membuat sistem simbolis memiliki fungsi politik.

Seperti yang diasumsikan oleh pendekatan ala Michel Foucault – filsuf asal Prancis, pengetahuan dapat memproduksi kekuatan dalam diskursus publik. Pengetahuan medis misalnya, akan selalu didengarkan oleh pasiennya.

Mungkin, dari sini lah, Zhang akhirnya memiliki peran politik yang penting di masyarakat. Bahkan, dokter itu dapat memiliki narasi yang dianggap tak sejalan dengan pemerintah Tiongkok.

Meski begitu, Papa Zhang dianggap penting dalam memberitahukan informasi-informasi bermanfaat kepada publik di tengah-tengah keraguan publik terhadap pemerintah yang kerap dinilai melontarkan omongan-omongan kosong.

Bila modal-modal politik milik Zhang ini dapat dianggap penting dalam penanganan pandemi Covid-19 di Tiongkok, bagaimana dengan di Indonesia? Adakah suara politik serupa di negara kepulauan Asia Tenggara ini?

Mencari Zhang versi Indonesia

Di tengah-tengah pandemi Covid-19 ini, bukan tidak mungkin peran yang dijalankan Zhang – sebagai dokter dan suara masyarakat – penting dalam menekan pemerintah. Meski begitu, di Indonesia, sosok seperti Zhang tampaknya masih belum benar-benar eksis.

Padahal, kini, Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki tingkat kematian yang cukup parah. Di Asia sendiri, Indonesia kini menduduki posisi kedua setelah Tiongkok – pusat pertama pandemi Covid-19.

Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) sendiri memiliki kecenderungan untuk meremehkan dampak yang dapat disebabkan oleh pandemi ini. Sejak awal kekhawatiran publik muncul, pemerintah justru dianggap terlalu banyak bercanda daripada menyiapkan langkah antisipatif.

Selain itu, hingga kini, pemerintahan Jokowi juga enggan menerapkan kebijakan yang dapat melarang mobilisasi publik, seperti karantina wilayah. Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman sendiri sempat mengatakan bahwa mudik tetap diperbolehkan – meski menyebutkan soal pemberian status Orang dalam Pemantauan (ODP).

Baca juga :  Komprador Gurita Batu Bara

Respons yang lambat dan kecenderungan untuk menutupi informasi terkait pandemi di Indonesia juga sebenarnya mirip dengan apa yang sebelumnya terjadi di Tiongkok. Bisa jadi, Indonesia juga membutuhkan sosok seperti Zhang yang dapat menggebrak kesadaran pemerintah.

Lantas, siapakah sosok yang dapat berdiri di hadapan publik dan memberikan gebrakan tersebut?

Beberapa waktu lalu, sosok-sosok di dokter sebenarnya mulai hadir dalam diskursus publik soal penanganan Covid-19. Dokter Tirta Mandra Hudhi misalnya, menjadi salah satu figur media sosial yang sempat ramai dibicarakan.

Sosok dokter ini sebenarnya bisa saja menjadi suara tersebut. Secara modal simbolis, bukan tidak mungkin Tirta dapat didengarkan dalam dinamika sosial dan politik di tengah pandemi ini.

Selain Dokter Tirta, muncul juga sosok yang dianggap penting dalam penanganan Covid-19 di Indonesia. Petisi yang muncul di Change.org misalnya, mendesak agar pemerintah membebaskan mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari yang dianggap berpengalaman dalam menghadapi wabah penyakit menular.

Munculnya petisi ini bukan tidak mungkin menandakan ketidakpuasan publik dan dibutuhkannya sosok yang dapat menjadi suara penggebrak layaknya Zhang. Bagaimana pun juga, Siti dianggap memiliki modal-modal Bourdieuan yang penting, seperti keahliannya sebagai akademisi dan pengalaman sebagai mantan Menkes yang pernah menghadapi wabah Flu Burung dan Flu Babi.

Beberapa waktu lalu, kalangan profesi medis – termasuk dokter – juga menyuarakan keresahannya kepada kebijakan pemerintah yang lamban, seperti kurangnya ketersediaan alat pelindung diri (APD) di Indonesia.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) selama ini kabarnya juga cenderung mendukung preferensi-preferensi kebijakan yang diusulkan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dibandingkan milik pemerintah pusat, seperti lockdown (karantina wilayah) dan larangan mudik.

Mungkin, peran ala Zhang di Indonesia ini tengah dijalankan oleh IDI. Organisasi profesi tersebut juga kerap adu argumen dengan pemerintah pusat. Selain itu, dalam sejarahnya, IDI juga kerap bersebarangan dengan Menkes Terawan Agus Putranto.

Terlepas dari itu semua, publik tampaknya masih membutuhkan sosok penggebrak yang memiliki modal-modal Bourdieuan yang dijelaskan sebelumnya, entah itu Tirta ataupun Siti yang kini tengah didorong untuk dibebaskan – termasuk oleh beberapa politisi seperti Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah. Pasalnya, pemerintah masih dinilai enggan berfokus pada dampak kesehatan publik yang dapat disebabkan oleh pandemi.

Bagaimana pun juga, bukan tidak mungkin tenaga medis dan publik semakin merasa tidak puas dengan cara pemerintah yang tidak populer. Lagi pula, baik pemerintah maupun masyarakat sendiri perlu mendengarkan apa kata ahlinya. Bukan begitu? (A43)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_img

#Trending Article

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?