HomeNalar PolitikMelihat Sudhamek, Konglomerat Dewan BRIN

Melihat Sudhamek, Konglomerat Dewan BRIN

Kecil Besar

Awal Oktober lalu Presiden Joko Widodo (Jokowi) melantik 10 orang sebagai Dewan Pembina Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Di antara nama-nama lain yang muncul, terdapat nama Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto, seorang konglomerat besar. Siapakah dia? Dan mengapa perannya penting di BRIN?


PinterPolitik.com

Baru-baru ini, pembahasan mengenai peleburan antara politik dan sains marak diperbincangkan di Indonesia. Hal ini karena 13 Oktober lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) melantik 10 orang terpilih sebagai Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang menjadi ketuanya adalah Megawati Soekarnoputri. Respons masyarakat pun mencuat, ada yang mendukung, dan ada juga yang tidak.

Melihat kabar yang beredar, sepertinya orang-orang memberikan fokus yang berlebihan kepada Megawati. Tentu, seorang petinggi partai politik yang memiliki jabatan tinggi di lembaga riset nasional nasional sangat menggiurkan untuk dibahas.

Namun, keanggotaan Dewan Pengarah BRIN tidak seluruhnya diisi oleh politisi, banyak juga praktisioner bidang-bidang lain. Salah satu contoh yang menarik adalah kemunculan nama Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto, seorang pengusaha, yang diberikan mandat menjadi sekretaris di Dewan Pengarah BRIN.

Baca Juga: Kerancuan Jabatan Megawati di BRIN

Sudhamek sendiri diketahui adalah chairman PT. Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD). Produk Garudafood seperti Kacang Garuda, biskuit Gary, dan keripik kentang Leo pasti sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Pada tahun 2020, Sudhamek disebut menjadi orang terkaya ke-41 di Indonesia oleh majalah Forbes, dengan total kekayaan US$635 juta atau Rp9 triliun.

Konglomerat ini sering diberikan apresiasi karena mampu mempertahankan bisnis Kacang Garuda yang ia dirikan pada tahun 1968, melalui gejolak ekonomi dan sosial reformasi pada tahun 1998. Pada saat ini, ia juga menjabat sebagai Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Karena hal ini, Sudhamek diakui sebagai salah satu konglomerat paling berpengaruh di Indonesia karena mampu menembus jajaran elite di Tanah Air dan menjadi salah satu tokoh strategis nasional yang memiliki pengaruh penting.

Lantas, mengapa konglomerat seperti Sudhamek tertarik terlibat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek)? Dan wajarkah gerakan seperti ini?

Sebuah Tren Abad ke-21

Amerika Serikat (AS) adalah negara dengan jumlah konglomerat yang terjun ke dunia iptek paling banyak. Mantan Presiden Barrack Obama pada tahun 2014 pernah menyebutkan bahwa untuk menumbuhkan ekonomi yang sehat, maka keterlibatan filantropi dalam sains harus ditingkatkan. Dengan adanya dukungan dari swasta, Obama ingin mendorong AS untuk menjadi negara yang paling unggul dalam sains.

Kalau kita sering memerhatikan berita iptek, dalam kurun waktu setidaknya 10 tahun ke belakang, memang benar  ada sebuah tren di mana banyak miliarder mendirikan atau terlibat dalam lembaga sains dan riset. Contohnya adalah pendiri sekaligus chairman Amazon, perusahaan e-commerce ternama asal AS, Jeff Bezos.

Baca juga :  "Sell Indonesia" dan Spirit 1928

Meskipun tidak memiliki latar belakang pendidikan astronomi atau teknologi dirgantara, pada tahun 2000 Bezos mendirikan sebuah perusahaan kedirgantaraan dan layanan penerbangan luar angkasa, Blue Origin. Bahkan, pada tanggal 20 Juli 2021 pengusaha tersebut mencetak sejarah dengan menjadi bagian dari penerbangan suborbital pertama tanpa pilot dengan awak pesawat yang semuanya adalah warga sipil.

Menurut artikel di New York Times, alasan kenapa Bezos mendirikan Blue Origin adalah untuk menurunkan biaya peluncuran roket dan membuka ruang untuk warga sipil melakukan wisata ke luar angkasa. Ia juga disebutkan ingin berkontribusi pada masa depan manusia yang dinilainya berada di luar angkasa.

Selain Bezos, ada juga cerita menarik lain dari seorang miliarder yang merupakan salah satu pendiri perusahaan raksasa AS, Microsoft. Orang itu bernama Paul Allen. Teman masa kecil Bill Gates ini diketahui merupakan pendiri Allen Institute for Brain Science, salah satu lembaga riset terdepan di AS yang didedikasikan untuk penelitian biosains dan ilmu jaringan otak.

Allen disebut setidaknya telah mengeluarkan uang sebesar US$500 juta untuk pendanaan lembaga riset tersebut. Mereka juga telah melakukan banyak kontribusi dengan berbagai proyek studi melacak ekspresi berbagai gen di bermacam bagian otak. Hasil riset ini mereka bagikan secara bebas melalui situs web Allen Brain Map.

Baca Juga: Hebatnya Diplomasi Vaksin Jokowi

Tidak hanya di luar negeri, sebelum Sudhamek, di Indonesia sendiri pun sudah ada konglomerat yang mencoba terjun ke dunia iptek, dia adalah Mochtar Riady. Pendiri perusahaan raksasa yang bernama Lippo Group itu diketahui juga mendirikan sebuah lembaga riset yang didedikasikan untuk penelitian teknologi nano, Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN), pada tahun 2006.

Pada saat pandemi Covid-19 melanda Tanah Air, MRIN digandeng oleh pemerintah untuk membantu menangani krisis kesehatan. MRIN juga diakui sebagai institusi penelitian swasta satu-satunya di Indonesia yang berpartisipasi dalam mengirimkan genom ke Global Initiative on Sharing Avian Influenza Data (GISAID), dengan total 17 urutan asam nukleat di bulan Mei 2020 dan Januari 2021.

Tentu, cerita-cerita ini bukan contoh satu-satunya, masih banyak miliarder lain yang melakukan hal yang sama. Tampaknya, dengan tren seperti ini, kita bisa melihat bahwa filantropi telah menjadi salah satu cara yang populer bagi seorang miliarder untuk menggunakan kekayaannya.

Dan dari fakta-fakta di atas, meskipun informasi mengenai peran Sudhamek di BRIN masih sangat minim, kita bisa menelaah bahwa ketika seorang miliarder terlibat dalam sains, mereka selalu memberikan kontribusi yang cukup besar untuk kelangsungan penelitian-penelitian yang dilakukan. Tidak selalu melalui finansial, tetapi juga masukan intelektual dan strategis.

Dengan demikian, mengapa kita harus menganggap peran konglomerat dalam iptek penting?

Buah Manis Filantropi

Fenomena filantropi ini sesungguhnya adalah buah dari neoliberalisme. Sebagai selayang pandang, sederhananya ini adalah teori yang menekankan pentingnya peran swasta dalam kehidupan sehari-hari. Neoliberalisme melihat  pemerintah hanya bertugas menciptakan lingkungan yang mendukung, sehingga modal dapat bergerak bebas dengan baik.

Baca juga :  Cahaya Harapan MK untuk Keterwakilan Perempuan

Dag Einar Thorsen dalam tulisannya yang berjudul What is Neoliberalism? berpendapat bahwa dengan mendorong masuknya modal dari luar anggaran belanja negara dalam ekonomi domestik, yaitu dengan swasta, negara dapat terhindar dari ancaman ekonomi seperti distorsi dan ekonomi berbiaya tinggi (high cost economy). Oleh karena itu, rentannya sirkulasi keluangan terhadap tindakan korupsi dapat lebih mudah diawasi dan dikurangi.

Dari sini, filantropi dapat berperan penting. Selain dapat menjadi sumber pendanaan tambahan untuk proyek-proyek negara, filantropi juga dapat membantu menstimulasi potensi yang terdapat di berbagai sektor yang sebelumnya belum tersentuh atau masih terkendala untuk dikembangkan oleh pemerintah. Di Indonesia, contohnya adalah sektor riset dan penelitian sains.

Matthew Bishop dan Michael Green dalam buku mereka Philanthrocapitalism: How the Rich Can Save The World, menyebutkan bahwa meskipun tujuan besar dari tindakan filantropi, contohnya seperti pemberantasan kemiskinan dunia dan kemajuan iptek masih perlu dianalisis, upaya yang dilakukan para miliarder seperti Paul Allen dan Mochtar Riady telah menciptakan wadah yang mampu menampung banyak ide hebat tanpa ketergantungan pada keterbatasan politik dan negara.

Mereka juga berpandangan bahwa dengan semakin melibatkan pihak swasta, pemerintah jadi bisa fokus melakukan apa yang telah mereka nilai sebagai prioritas negara, tanpa perlu diganggu oleh beban ekonomi dan strategis yang muncul dari sektor yang sebenarnya belum menjadi kepentingan utama mereka.

Baca Juga: Menkes Budi, Barometer Rasionalitas Jokowi?

Di sisi lain, Green dan Bishop menilai dengan semakin terlibatnya konglomerat ke sektor sains, mereka bisa menjadi harapan tambahan untuk mengatasi berbagai permasalahan besar negara yang sebelumnya hanya mendapatkan solusi-solusi jangka pendek dari pemerintah.

Jika melihat kembali ke contoh-contoh filantropi yang dilakukan para konglomerat, seperti Allen dan Mochtar, mereka semua telah berkontribusi besar pada sektor sains dan riset. Karena adanya MRIN, Mochtar berperan langsung dalam menangani pandemi Covid-19. Sementara Allen berperan dalam pengembangan pengetahuan mengenai bagaimana otak manusia bekerja.

Kembali ke Sudhamek yang menjadi sekretaris BRIN, memang belum banyak penjelasan yang muncul mengenai perannya. Namun, sepertinya wajar jika kita berekspektasi pada nilai-nilai filantropi. Dari segi pendanaan, BRIN tidak menutup peluang masuknya dana dari non anggaran belanja negara. Ini tertera dalam Perpres Nomor 78 Tahun 2021 Tentang BRIN, Pasal 69 ayat 3.

Penunjukan Sudhamek juga bisa dianggap  menjadi batu loncatan yang inspiratif bagi kalangan konglomerat Indonesia. Cerita Sudhamek bisa menjadi cerita motivatif yang dapat mendorong orang-orang kaya lain untuk berinvestasi dalam perkembangan iptek di Indonesia. (D74)


spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?ย 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto โ€” dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit?ย 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jersey Oranje Pengubur Luka Sejarah?

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Ketika luka 350 tahun penjajahan berubah jadi dukungan totalitas untuk timnas Oranje โ€” apa yang sebetulnya sedang...

Xi Jinping, the King of Games?

Tiga miliar manusia bermain game setiap hari โ€” dan sebagian besar tidak tahu bahwa lapangan bermain itu dikuasai oleh Beijing