HomeHeadlineMegawati dan Misteri Patung Butet

Megawati dan Misteri Patung Butet

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Seniman bernama Butet Kertaredjasa membuat sebuah karya patung bernamakan “Melik Nggendong Lali” dan mengadakan pameran seni selama April-Mei 2024. Makna apa yang ingin disajikan di balik patung yang sempat menarik perhatian Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri itu?


PinterPolitik.com

Aja ketungkul marang kalungguhan, kadonyan, lan kemareman.”

Pada beberapa akhir pekan lalu, Adi bingung harus menghabiskan waktu dengan cara apa. Sebagia perantau di Jakarta yang begitu besar ini, Adi kerap merasa kesepian dan tidak memiliki banyak teman yang bisa diajak berjalan-jalan.

Adi-pun memutuskan untuk mencari teman yang mana selalu ada meskipun sang “teman” ini tidak pandai bicara layaknya orang-orang pada umumnya. “Teman” ini hanya bisa diam sambil menunjukkan apa yang ingin dirinya katakan.

“Teman” satu ini Adi temui di sebuah tempat yang jauh lebih sepi bila dibandingkan dengan mal-mal perbelanjaan di dekat Tanah Abang dan Menteng, Jakarta Pusat. Banyak dari orang-orang menghabiskan waktu untuk bercanda, belanja, hingga makan di mal-mal ini.

Kadang kala, saking ramainya mal-mal itu, seruan “selamat datang!” dari dalam lingkaran monumen tidak lagi terdengar sama sekali. Kereta-kereta bajapun silih berganti meneriakkan klakson mereka masing-masing, tanpa tahu bahwa mereka sedang disambut oleh monumen yang dibangun di era Presiden Soekarno itu.

Namun, suara-suara kecil inilah yang didengar oleh Adi. Maka dari itu, Adi-pun memutuskan untuk datang ke tempat “teman-temannya” ini di Galeri Nasional Indonesia, yakni tempat di mana “teman-teman” bisunya ini mengatakan makna yang jauh lebih banyak daripada barisan designer outlets di mal-mal Menteng dan Tanah Abang tadi.

Ada satu “teman” yang akhirnya berbicara pada Adi. “Teman” satu ini bernama “Melik Nggendong Lali”. Dia bercerita bahwa dirinya lahir ke dunia ini akibat ulah tangan seorang pelukis kaca asal Bantul, Yogyakarta, yang bernama Subandi Giyanto.

Dalam dirinya, tergambarkan sejumlah tokoh pewayangan, seperti Petruk dan Gareng. Petruk sendiri terlihat sedang menggendung dua nona perempuan.

Lukisan inipun berbicara agar diri kita tidak mengambil yang bukan milik kita. “Melik Nggendong Lali” pun memiliki arti bahwa, jika sudah menyenangi atau mencintai sesuatu, manusia suka lupa bahwa hal itu bukan miliknya.

Lukisan Subandi ini akhirnya juga dikembangkan kembali oleh Butet Kertaredjasa. Dengan tema yang sama, Butet menampilkan sosok mirip Petruk, pria kurus berhidung panjang, yang berpakaian ala raja Jawa.

Baca juga :  Jokowi: Saya akan Lawan! Part 2

Pameran seni yang diadakan Butet juga mengundang Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri. Salah satu karya yang mengambil perhatian Megawati adalah patung “Melik Nggendong Lali” karya Butet.

Mengapa seni ini seperti karya Butet ini bisa menimbulkan banyak tafsir? Kemudian, mengapa seni yang akhirnya dipilih? Apakah ini berkaitan juga dengan politik?

Patung Butet Adalah Lukisan Politik?

Politik dan kesenian merupakan dua hal yang saling terkait meskipun berbeda. Pengindraan manusia membuat kesenian menjadi salah satu hal penting dalam banyak aspek kehidupan, termasuk politik.

Dalam seni rupa, misalnya, pengindraan manusia yang digunakan adalah pandangan atau visi. Manusia akan menilai apa yang dilihatnya, menentukan derajat visi (visibilitas).

Mengacu ke tulisan Brian Creech yang berjudul “Exploring the Politics of Visibility: Technology, Digital Representation, and the Mediated Workings of Power,” visibilitas ini akhirnya digunakan dalam politik.

Dengan konsep political visibility (visibilitas politik), visibilitas akhirnya mendapatkan pengaruh terhadap persepsi atas realitas. Persepsi inilah yang akhirnya pengindraan manusia memainkan peran penting.

Dalam dunia seni, persepsi ini akhirnya dipengaruhi dengan visibilitas yang disajikan, membangun persepsi publik atas realitas yang ada. Contohnya adalah ketika Raden Saleh pada tahun 1857 memutuskan untuk melukis peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro. 

Sebelumnya, peristiwa itu telah dilukiskan oleh seorang pelukis dari Belanda yang bernama Nicholas Pineman. Namun, lukisan itu dinilai menggambarkan Pangeran Diponegoro sebagai sosok yang menyerahkan diri tanpa perlawanan kepada Letnan Jenderal Baron de Kock.

Lukisan inipun dilukis oleh Raden Saleh dengan persepsi yang berbeda. Saleh menggambarkan Pangeran Diponegoro dengan kepala tegap dan tangan mengepal, menandakan bahwa telah melakukan perlawanan terhadap Belanda. Lukisan ini disebut juga sebagai simbol nasionalisme Asia pertama di era kolonial.

Apa yang dilakukan Saleh ini bisa jadi cara bagaimana seni rupa bisa mempengaruhi persepsi orang terhadap realitas. Dengan mengubah apa yang tampak dalam lukisan, persepsi publik terkait peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro turut dipengaruhi.

Berkaca pada Saleh, mungkinkah ini menjadi alasan mengapa Butet akhirnya membuat patung yang disebut-sebut dikaitkan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi)? Mengapa peran Megawati juga menjadi penting?

Megawati dan Simbol Politik

Kehadiran Megawati bukanlah hanya untuk meramaikan pameran yang digelar oleh Butet. Justru, peran Megawati menjadi kunci dalam bagaimana simbol politik patung itu bekerja.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, visibilitas dalam seni bisa mempengaruhi persepsi seseorang terhadap realitas. Persepsi inipun akan semakin terbentuk berdasarkan nilai yang dimiliki oleh sebuah kelompok.

Dalam tulisannya, Creech juga menjelaskan bahwa visibilitas juga menguatkan identitas kolektif. Simbol-simbol politik, misalnya, menjadi salah satu karakteristik yang biasa digunakan untuk membedakan satu identitas dengan identitas lainnya.

Salah satu contohnya adalah lambang partai. Lambang biasanya merupakan simbol atau gambar yang visible (terlihat). Lambang kepala banteng, misalnya, menandakan bahwa mereka yang menggunakan simbol itu adalah bagian dari PDIP.

Maka dari itu, bila berkaca pada penguatan identitas, kehadiran Megawati akhirnya menjadi penting. Tidak dapat dipungkiri bahwa Megawati tetaplah tokoh kunci di partai berlambang kepala banteng itu.

Namun, kehadiran Jokowi dengan pengaruhnya yang terus berkembang membuat PDIP tidaklah hanya soal Megawati. Pasalnya, sejumlah kader PDIP tidak dipungkiri turut membelot mengikuti Jokowi untuk mendukung Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 kemarin.

Maruarar Sirait, misalnya, menjadi salah satu contoh bagaimana seseorang yang memilih sejarah panjang di PDIP akhirnya bisa begitu saja meninggalkan partainya untuk mendukung Prabowo-Gibran. Hal yang sama juga terjadi pada Budiman Sudjatmiko.

Seperti yang dijelaskan dalam tulisan PinterPolitik.com yang berjudul “Jokowi vs Megawati: Keruntuhan PDIP?”, Jokowi dan Megawati kini menjadi semacam dua raja/ratu Jawa yang saling menjadi pusat kekuatan politik di dalam tubuh PDIP.

Berkaca dari ini, Megawati tampak ingin memberikan pesan bahwa siapapun yang disindir dalam patung “Melik Nggendong Lali” adalah sosok yang tidak bisa dipercaya. Ini menjadi semacam pesan bahwa “lawannya” adalah individu yang bukanlah tokoh yang pantas diikuti.

Pada akhirnya, simbol politik melalui seni rupa ini bukan tidak mungkin akan mempengaruhi persepsi atas realitas politik di PDIP, khususnya bagi mereka yang berada dalam dinamika hubungan Megawati-Jokowi. (A43)


spot_imgspot_img

#Trending Article

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

More Stories

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit?