HomeNalar PolitikMasih Mungkinkah Mengejar AS & Tiongkok?

Masih Mungkinkah Mengejar AS & Tiongkok?

Kecil Besar

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI.

ASEAN adalah blok regional yang kuat, tapi bahkan gabungan sepuluh negaranya masih jauh tertinggal dibanding dua adidaya dunia: Amerika Serikat dan Tiongkok. Apakah ini pertanda bahwa dunia kini bergerak menuju tatanan geopolitik yang hanya ditentukan oleh dua poros kekuatan besar?


PinterPolitik.com

ASEAN adalah salah satu organisasi kawasan paling mapan di dunia. Dengan sepuluh negara anggotanyaโ€”dari Indonesia hingga Singapuraโ€”ASEAN merepresentasikan beragam potensi: populasi besar, sumber daya melimpah, posisi strategis di jalur pelayaran dunia, hingga integrasi ekonomi yang terus berkembang.

Namun, ketika kekuatan ASEAN sebagai satu blok regional dibandingkan dengan dua adidaya global, Amerika Serikat dan Tiongkok, hasilnya cukup mencengangkan.

Data yang disusun PinterPolitik menunjukkan bahwa untuk menandingi kekuatan ekonomi dan militer Tiongkok, ASEAN butuh direplikasi sebanyak 5 hingga 7 kali lipat tergantung sektornyaโ€”dari PDB hingga belanja militer. Bahkan untuk logistik militer seperti jet tempur dan kapal perang, ASEAN masih harus dikalikan beberapa kali agar setara.

Sementara itu, jika dibandingkan dengan Amerika Serikat, jurangnya lebih ekstrem: ASEAN perlu menjadi 21 kali lebih besar hanya untuk menyamai belanja militer AS. Satu-satunya dimensi di mana ASEAN unggul adalah populasiโ€”itu pun hanya jika dibandingkan dengan AS, bukan Tiongkok.

Ini adalah gambaran yang menarik sekaligus menggugah. Bagaimana bisa sekelompok negara yang sudah terintegrasi dalam satu organisasi masih tertinggal sejauh itu dari dua negara tunggal?

Apakah ini mencerminkan kekuatan luar biasa dua adidaya tersebut, atau lemahnya kerja kolektif di kawasan Global South? Lebih jauh dari sekadar hitung-hitungan statistik, bagaimana kita sebaiknya membaca kesenjangan ini dari perspektif geopolitik global?

17494806828494624830216025507587

Ketimpangan yang Tak Pernah Terjadi Sebelumnya?

Dalam sejarah hubungan internasional, kekuatan global memang tidak pernah tersebar merata. Namun, apa yang terlihat saat ini bisa jadi adalah salah satu bentuk konsentrasi kekuasaan paling ekstrem dalam sejarah dunia modern.

Baca juga :  Xi Jinping, the King of Games?

Amerika Serikat dan Tiongkok tidak hanya unggul dalam satu dimensi, tetapi secara simultan mendominasi hampir semua aspek: ekonomi riil, ekonomi digital, kapasitas militer, dan bahkan kemampuan logistik strategis. Tak heran jika banyak pengamat menyebut kondisi global ini sebagai era bipolarisme baru, meskipun bentuknya berbeda dari era Perang Dingin.

Ketika Uni Soviet bersaing dengan AS pada abad ke-20, kekuatan keduanya cenderung setara di bidang militer tetapi berbeda dalam bidang ekonomi. Kini, baik AS maupun Tiongkok memiliki dominasi relatif yang nyaris menyeluruh. Teori neorealisme dalam hubungan internasional, terutama yang dikembangkan Kenneth Waltz, menyebut bahwa sistem internasional akan cenderung menuju kestabilan jika ada dua kutub kekuatan besarโ€”dan itu yang mungkin sedang kita lihat sekarang. Namun, perbedaannya, dua kutub ini tidak hanya dominan, tetapi juga sangat jauh di atas yang lain.

Temuan dari pengumpulan data ini mengonfirmasi asumsi yang sering terlontar dalam diskursus geopolitik mutakhir: bahwa dunia sedang memasuki era “super gap” antara dua adidaya dan negara-negara lainnya. Konsep ini sejalan dengan analisis dari Graham Allison dalam Destined for War yang menunjukkan bagaimana dua kekuatan besar tidak hanya bersaing, tetapi juga menentukan struktur sistem internasional yang memaksa negara-negara lain untuk menyesuaikan posisi mereka.

Bahkan jika ASEAN disatukan secara total dalam aspek ekonomi dan militer, masih dibutuhkan pelipatgandaan signifikan agar bisa menyamai satu negara. Ini bukan hanya mencerminkan kekuatan absolut AS dan Tiongkok, tetapi juga menunjukkan keterbatasan blok-blok regional lainnya untuk menjadi penyeimbang. Di sinilah muncul relevansi analisis hegemonic stability theoryโ€”yang menyatakan bahwa stabilitas global sering kali hanya mungkin dicapai jika ada satu atau dua kekuatan dominan yang cukup kuat untuk menetapkan aturan main dan menjaga ketertiban.

Baca juga :  Hikayat Tiongkok Tangkis โ€˜The Economistโ€™

Dalam konteks ASEAN, posisi ini menegaskan betapa pentingnya kerja sama strategis yang lebih dalam jika kawasan ini ingin memiliki suara yang lebih kuat di meja global. Namun, bahkan kerja sama itu pun tidak menjamin kemampuan menandingi kekuatan dua negara yang telah berinvestasi puluhan tahun dalam kekuatan komprehensifnya.

17494806930681937056069091584020

Geopolitik Dunia dalam Dua Tangan?

Kita hidup dalam fase geopolitik yang mungkin tidak memiliki preseden. Tidak pernah sebelumnya ada dua negara yang begitu mendominasi lanskap global dalam banyak aspek sekaligus: kekuatan ekonomi, kekuatan militer, teknologi digital, dan bahkan pengaruh budaya.

Menariknya, jika tren ini berlanjut, maka tatanan dunia masa depan kemungkinan besar akan sangat ditentukan oleh interaksiโ€”dan mungkin juga rivalitasโ€”antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Apakah ini berarti negara-negara lain hanya akan menjadi โ€œpenontonโ€ dalam kontestasi geopolitik besar ini? Tidak selalu. Namun kenyataannya, kemampuan negara-negara non-adidaya, termasuk blok kawasan seperti ASEAN, untuk membentuk tatanan dunia sendiri akan sangat terbatasโ€”kecuali mereka mampu mengkonsolidasikan kekuatan secara lebih serius dan berkelanjutan.

Dalam situasi ini, adaptasi menjadi kata kunci. Negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, atau Vietnam harus cermat membaca arah angin global, menavigasi kepentingan antara dua kutub kekuatan dengan strategi fleksibel dan berbasis kepentingan nasional yang jelas. Kemampuan beradaptasi inilah yang akan menjadi bentuk kekuatan baru di tengah ketimpangan global yang terus melebar.

Namun, tetap harus ada ruang untuk refleksi strategis. Dunia yang hanya dipimpin oleh dua kekuatan besar tentu memiliki risiko tersendiri: dari ketegangan berkepanjangan hingga pola relasi yang makin eksklusif. Maka, meskipun kekuatan ASEAN dan negara-negara lain masih jauh dari memadai, penting bagi kawasan ini untuk terus memperkuat posisinya sebagai kekuatan penyeimbangโ€”bukan karena ingin menyaingi, tetapi demi memastikan bahwa dunia tetap punya lebih dari dua pilihan. (D74)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?ย 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto โ€” dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit?ย 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jersey Oranje Pengubur Luka Sejarah?

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Ketika luka 350 tahun penjajahan berubah jadi dukungan totalitas untuk timnas Oranje โ€” apa yang sebetulnya sedang...

Xi Jinping, the King of Games?

Tiga miliar manusia bermain game setiap hari โ€” dan sebagian besar tidak tahu bahwa lapangan bermain itu dikuasai oleh Beijing