HomeNalar PolitikLobi Pres-T Hingga Reshuffle

Lobi Pres-T Hingga Reshuffle

Kecil Besar

Pembahasan RUU Pemilu masih mengalami jalan buntu, akibat belum adanya kesepakatan mengenai ambang batas presidential threshold. Lobi-lobi terus dilakukan, bahkan sampai perjanjian reshuffle kabinet.


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]P[/dropcap]embahasan Rancangan Undang-undang Pemilihan Umum (RUU Pemilu) masih belum menemui titik temu antara kubu pemerintah dengan sejumlah partai politik (parpol) yang menginginkan agar Presidential Threshold (Pres-T) dihapuskan. Hingga Senin (10/7) malam, lobi-lobi yang dilakukan pemerintah dengan sejumlah fraksi belum membuahkan hasil.

Seperti yang kita ketahui, Pemerintah tetap berkeras dengan ambang batas Pres-T di posisi 20 persen dari jumlah kursi di DPR atau 25 persen dari jumlah suara. Usulan ini telah didukung oleh tiga fraksi pro pemerintah, seperti PDI Perjuangan, Golkar, dan Nasdem. Sementara empat fraksi lain yang juga koalisi pemerintah yakni Hanura, PPP, PAN, dan PKB menginginkan Pres-T diturunkan di bawah 15 persen. Sementara fraksi lainnya, seperti Gerindra, PKS, dan Demokrat tetap di posisi nol persen.

Seorang sumber di parlemen mengatakan kalau wacana reshuffle juga mengemuka dalam lobi terkait Pres-T ini. “Ada juga yang mau menaikkan bargaining bila menterinya dijamin tidak terkena perombakan. Idealnya, partai yang kadernya masuk dalam kabinet kerja, seharusnya mendukung opsi pemerintah. Saya melihat ada manuver-manuver di fraksi pendukung pemerintah,” terangnya, Selasa (11/7).

Menurut si sumber, tujuh fraksi koalisi pemerintah seharusnya dapat dengan mudah mengambil keputusan di DPR. Tapi nyatanya, tarik ulur Pres-T masih juga alot. Sedang dari sisi pemerintah, bisa saja mengganti menteri dari parpol yang tidak mendukung. “Nanti kita lihat setelah 20 Juli. Nanti akan kelihatan apakah Pres-T sesuai harapan pemerintah atau tidak. Kalau tidak, saya kira reshuffle (kabinet) sudah menunggu.” Ia mengatakan, kepentingan tiap fraksi terkait RUU Pemilu, berbeda. Tapi fraksi-fraksi pendukung pemerintah, seharusnya loyal saat mengambil keputusan penting di DPR.

Baca juga :  Reinkarnasi Ahmad Sahroni?

Komentar ini ditanggapi oleh Ketua Umum PPP Romahurmuziy atau Romy. Ia yakin, koalisi partai pendukung Pemerintah tetap solid dalam pembahasan RUU Pemilu, terutama mengenai syarat ambang batas Pres-T. “Mayoritas sudah bisa menerima presidential threshold 20 persen itu, termasuk PPP,” katanya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (11/7).

Romy mengatakan, salah satu pertimbangan MK dalam memutus dilaksanakannya pilpres dan pileg bersamaan adalah untuk penghematan anggaran. Namun tujuan tersebut tak akan bisa dicapai jika angka Pres-T nol persen atau semua partai bisa mencalonkan presiden dan wakil presiden. Tanpa adanya ambang batas, tak menutup kemungkinan jumlah capres dan cawapres mencapai belasan pasangan.

“Kalau kemudian apa yang secara teoritik betul-betul terjadi di lapangan, apa tidak terkesan pilpres kita di putaran pertama besok main-main?” tanya anggota Komisi XI DPR itu. Ia memandang pihak-pihak yang tak memahami alasan tersebut, tak melihat semangat yang terkandung dari putusan MK, yakni penghematan anggaran. “Bila parpol yang merupakan representasi rakyat ikhtiar efisiensi anggaran, sama artinya dengan tidak menangkap semangat latar belakang diputuskannya pileg dan pilpres serentak.” jelasnya.

Di tempat terpisah, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan, pembahasan Pres-T merupakan isu yang paling sulit diputuskan lantaran menyangkut kepentingan politik jangka panjang. “Yang satu ini (Pres-T) kan kepentingan politik jangka panjang,” katanya. Namun pemerintah berharap RUU Pemilu ini dapat diselesaikan dengan cara musyawarah. “Kalau tidak bisa musyawarah, ada dua opsi. Pertama, dibawa ke paripurna untuk voting, atau kedua, pemerintah menyatakan pendapat.”

Bagi Tjahjo, keinginan pemerintah untuk tetap mempertahan Pres-T pada 20-25 persen adalah karena ambang batas tersebut adalah yang terbaik. “Pemerintah hanya mengimbau, silahkan saja itu hak partai kalau mau nol persen dan partai ini mau 10 persen, lainnya sekian persen, terserah saja. Tapi kami ingin yang sudah baik dipertahankan,” tegasnya.

Baca juga :  Djojohadikusumo-Baswedan Bertemu di 33

Bagi Tjahjo, ketentuan presidential threshold yang sudah disepakati selama ini terbukti berjalan demokratis dan tidak ada masalah, juga dinilai sebagai sistem yang efektif. “Ini masalah sistem yang kita sudah sepakat, sistem kuat masih kita pertahankan untuk bangun sistem presidensial yang lebih efektif.” (Suara Pembaruan)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Informasi Bias, Pilpres Membosankan

Jelang kampanye, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oposisi cenderung kurang bervarisi. Benarkah oposisi kekurangan bahan serangan? PinterPolitik.com Jelang dimulainya masa kampanye Pemilihan Presiden 2019 yang akan dimulai tanggal...

Galang Avengers, Jokowi Lawan Thanos

Di pertemuan World Economic Forum, Jokowi mengibaratkan krisis global layaknya serangan Thanos di film Avengers: Infinity Wars. Mampukah ASEAN menjadi Avengers? PinterPolitik.com Pidato Presiden Joko Widodo...

Jokowi Rebut Millenial Influencer

Besarnya jumlah pemilih millenial di Pilpres 2019, diantisipasi Jokowi tak hanya melalui citra pemimpin muda, tapi juga pendekatan ke tokoh-tokoh muda berpengaruh. PinterPolitik.com Lawatan Presiden Joko...