HomeHeadlineKamala Harris, Pion dari Biden?

Kamala Harris, Pion dari Biden?

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Presiden ke-46 Amerika Serikat (AS) Joe Biden telah memutuskan mundur dari Pemilihan Presiden (Pilpres) AS 2024 dan memutuskan untuk mendukung Kamala Harris sebagai calon presiden (capres) Partai Demokrat. Mengapa?


PinterPolitik.com

“Look, I view myself as a bridge, not as anything else. There’s an entire generation of leaders you saw stand behind me. They are the future of this country” – Joe Biden, Calon Presiden AS 2020 (9 Maret 2020)

Pada 9 Maret 2020 silam, ribuan warga Amerika Serikat (AS) berkumpul di satu tempat, tepatnya di balai olahraga di salah satu sekolah di Detroit, Michigan. Joe Biden yang saat itu masih menjadi calon presiden (capres) dalam Pilpres AS 2020, disambut oleh para pendukungnya.

Pada hari itu, Gubernur Michigan Gretchen Whitmer memperkenalkan Biden ke ribuan warganya. Whitmer sendiri merupakan salah satu politikus yang berasal dari Partai Demokrat.

Saat tiba gilirannya berpidato, Biden-pun menyebutkan Whitmer sebagai salah satu pemimpin masa depan AS. “Mereka adalah masa depan negara ini,” ucap Biden sambil menunjuk para politisi yang berdiri di belakangnya.

Whitmer akhirnya menjadi salah satu politisi yang disebut-sebut menjadi kandidat calon wakil presiden (cawapres) untuk Biden. Namun, Whitmer tidak sendiri. 

Di momen itu, berdiri juga sejumlah politisi Demokrat lainnya. Terdapat juga Senator New Jersey Cory Booker dan Senator California Kamala Harris.

Momen itu berlalu dan kemudian publik AS akhirnya mengetahui siapa yang menjadi pendamping Biden. Beberapa bulan setelahnya, yakni pada 19 Agustus 2020, Kamala dipilih untuk menjadi cawapres Biden.

Momen empat tahun lalu ini seakan-akan juga menjadi pengingat akan situasi politik Pilpres AS 2024 di masa kini. Usai memutuskan untuk mundur dari Pilpres AS 2024, Presiden ke-46 AS Biden mengumumkan akan mendukung wapresnya, Kamala, sebagai capres yang diusung Partai Demokrat.

Baca juga :  Judol Bocor dari Genggaman

Padahal, sejumlah nama potensial lainnya juga muncul ke permukaan. Salah satunya adalah istri Presiden ke-44 Barack Obama, Michelle Obama, yang disebut-sebut bisa mengalahkan Donald Trump di hasil survei.

Lantas, mengapa Biden lebih memilih Harris? Mungkinkah ada permainan politik di baliknya, layaknya dalam kontestasi politik di Indonesia?

Kamala Harris, Pilihan Biden di 2020

Hubungan Biden dan Kamala tidaklah selalu mulus. Kamala bahkan pernah mengkritik Biden pada tahun 2019 silam.

Dalam debat capres yang digelar oleh Partai Demokrat pada Juni 2019 silam, Biden berhadapan dengan sejumlah bakal capres Demokrat lainnya. Kamala adalah salah satu individu itu di antara nama-nama lain seperti Bernie Sanders.

Kala itu, Kamala mempermasalahkan bagaimana Biden pernah bekerja sama dengan dua politisi yang mendukung segregasi rasial. Serangan Kamala inipun akhirnya mempertanyakan komitmen Biden pada kesetaraan ras dan etnis, mengingat kelompok non-putih adalah basis suara terbesar Partai Demokrat.

Tentunya, kritik Kamala ini menjadi rapot buruk saat Biden akhirnya memenangkan nominasi Partai Demokrat pada tahun 2020. Namun, meski begitu, dari nama-nama potensial lainnya seperti Elizabeth Warren dan Susan Rice, Biden justru malah memilih Kamala sebagai cawapres.

Salah satu alasan terkuat mengapa Biden memilih Kamala adalah karena alasan rasial. Biden ingin menyajikan kampanye yang kontras dengan Trump. Mudahnya, Biden ingin terlihat lebih inklusif dibandingkan kubu sebelah.

Alasan kedua adalah Biden ingin tetap dominan sebagai presiden. Menurut beberapa sumber yang disebutkan di artikel The New York Times yang berjudul “How Biden Chose Harris,” Kamala diminta berjanji untuk menjadi wapres yang penurut dan menjadi anggota tim yang menjalankan instruksi sang presiden.

Biden memang dikenal memiliki tendensi untuk mengutarakan apa yang ada di pikirannya. Dan, sang presiden selalu ingin pemikirannya ini sejalan dengan apa yang dipikirkan oleh timnya. 

Bukan tidak mungkin, Kamala akhirnya bisa menjadi wapres yang menjalankan peran tersebut. Biden juga terlihat lebih dominan dalam pertemuan-pertemuan tingkat tinggi di luar negeri daripada Kamala.

Lantas, apa hubungannya dengan dukungan Biden pada Kamala di Pilpres AS 2024 kini? Mungkinkah Kamala tetap menjadi kepanjangan tangan Biden di masa mendatang?

Kamala Harris, Pilihan Biden (Lagi) di 2024

Bukan tidak mungkin, dukungan Biden kepada Kamala adalah bargaining chip yang diberikan pada donor dan elite Partai Demokrat lainnya. Bisa jadi, ini menjadi cara Biden agar tetap memiliki pengaruh pada capres Demokrat selanjutnya.

Tidak dipungkiri, meski publik dan media banyak menyoroti kemampuan dan kesehatannya, Biden tetap memiliki modal politik yang besar. Modal politik ini berupa modal sosial yang dimilikinya di Partai Demokrat.

Bagaimanapun, Biden memiliki dukungan terbesar dalam proses nominasi di Partai Demokrat. Modal sosial ini, sejalan dengan penjelasan Kimberly Casey dalam tulisannya yang berjudul Defining Political Capital, bisa ditransformasikan menjadi modal politik.

Salah satunya adalah untuk memberikan dukungan politik. Pasalnya, dukungan politik bisa saja bertransformasi menjadi pengaruh politik ke depannya.

Dengan mendukung Kamala, Biden bisa saja masih memiliki pengaruh pada bagaimana jalannya pemerintah AS, jikalau Kamala memenangkan Pilpres AS 2024 nanti.

Biden sendiri bisa saja memiliki kepentingan tertentu. Anaknya, Hunter Biden, misalnya, disebut terlibat sejumlah kasus hukum, seperti kasus pajak dan kasus kepemilikan senjata api.

Well, tentunya, ini semua kembali lagi pada hasil Pilpres AS 2024 mendatang. Apapun yang terjadinya nantinya, yang jelas baik Trump maupun Biden memiliki kepentingan yang perlu mereka jaga. Bukan begitu? (A43)


spot_imgspot_img

#Trending Article

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?