HomeNalar PolitikKala Deddy Saingi Najwa Shihab

Kala Deddy Saingi Najwa Shihab

Kecil Besar

Belakangan ini publik selalu antusias dalam merespon berbagai konten yang dibawakan oleh Deddy Corbuzier, terutama terkait politik dan pemerintahan tanah air. Lantas, apakah saat ini kualitas intelektual ex illusionist itu dapat disejajarkan dengan sosok Najwa Shihab yang telah dikenal sebagai pembawa acara atau host politik dan pemerintahan ulung?


PinterPolitik.com

Perhatian masif dari publik selalu direngkuh oleh setiap acara yang dibawakan oleh Deddy Corbuzier, terutama dalam siniar atau podcast di kanal You Tube pribadinya belakangan ini.

Jika sebelumnya dikenal sebagai pembawa acara talkshow di televisi dengan tema yang cenderung umum, dalam kanal You Tubenya Deddy justru banyak menguak lebih dalam aspek berbobot dari politik dan pemerintahan tanah air, terutama yang terkait pandemi Covid-19 belakangan ini.

Di setiap episodenya, pejabat publik dan elite politik silih berganti meramaikan bincang-bincang mendalam namun dikemas secara santai dan kekinian. Tak tanggung-tanggung, mereka yang meramaikan kanal You Tube pribadi Deddy Corbuzier di antaranya seperti pakar politik Rocky Gerung, Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto, hingga Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD.

Impresi yang selalu menarik dan menjadi perbincangan hangat publik, terutama di dunia maya, ialah adanya sesuatu di balik berita pada umumnya yang terkuak, bahkan menjadi viral. Mulai dari intrik bisnis rumah sakit Covid-19 yang dikemukakan Achmad Yurianto, hingga curhat Mahfud MD yang pusing karena banyak alternatif kebijakan di pemerintah yang tidak saling selaras.

Bahkan yang terkini, Deddy Corbuzier menjadi satu-satunya sosok yang dipercaya mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari untuk menyampaikan pesan dan wejangan, terkait status hukumnya serta nasihat soal pandemi Covid-19.

Jika melihat perbandingannya, pembawa acara atau host investigatif mendalam dalam negeri selalu diisi para jurnalis berkaliber mumpuni, misalnya nama Najwa Shihab. Nama ini bahkan sangat akrab dengan acara serta konten terkait politik dan pemerintahan bermutu yang jamak menyingkap makna signifikan di balik berbagai peristiwa yang menarik perhatian masif dari publik.

Lalu, mengacu pada berbagai deskripsi sebelumnya, ada apa sebenarnya dibalik konten Deddy Corbuzier yang seolah selalu menarik hasrat publik akan kehadirannya? Serta apakah saat ini sang magician telah sepadan jika disetarakan dengan Najwa Shihab, dari sisi host investigatif aspek politik dan pemerintahan nasional yang mumpuni?

“Konsumsi” Kekinian

Matthew Baum dalam publikasinyaThe Oprah Effect: How Soft News Helps Inattentive Citizens Vote Consistently” mengemukakan bahwa ketika informasi politik dikemas sebagai sebuah hiburan atau entertainment, bahkan mereka yang awalnya tidak tertarik politik dapat menjadi aktor dalam diskursus politik.

Pernyataan Baum tersebut cukup menjawab pertanyaan di balik menariknya konten politik dan pemerintahan yang dibawakan oleh Deddy Corbuzier. Selain dikemas secara ringan dengan bahasa yang tidak kaku, pengemasan atau packaging konten kekinian yang lekat dengan hiburan publik di jagat maya menjadi faktor pendukung lainnya.

Pengemasan dalam format siniar atau podcast yang sedang digandrungi warganet seantero republik tentu menjadi magnet tersendiri. Selain itu, platform You Tube yang menjadi wadah seluruh konten Deddy Corbuzier juga memberikan kesan menghibur serta praktis untuk diakses.

Lalu jurnal berjudul “The Electoral Consequences of Candidate Appearances on Soft News Programs” yang ditulis oleh Masaki Taniguchi menjelaskan karakteristik tertentu pada sebuah acara talkshow yang bersifat ringan.

Ihwal itu ialah karakteristik inheren yang ada pada format acara talkshow yang dikemas secara ringan akan membawa narasumber menjadi apa yang disebut Taniguchi sebagai “more human”. Hal ini kemudian secara otomatis, baik langsung maupun tidak langsung dapat mengekspos atribut politik personal mereka.

Intisari dari kutipan pernyataan Baum dan Taniguchi tersebut terartikulasikan dengan baik pada format konten Deddy Corbuzier. Format acara yang santai, ringan, serta diselingi humor yang tidak kaku, membuat narasumber pejabat publik atau tokoh politik yang menjadi bintang tamunya merasa nyaman.

Kenyamanan tersebut yang acapkali berujung pada terkuaknya sebuah realita mengejutkan yang selama ini tidak terungkap secara pasti pada media lainnya. Seperti strategi “bohong” pemerintah atas informasi Covid-19 dan isu bisnis rumah sakit yang dihaturkan Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto.

Lalu, ada juga pengakuan Menko Polhukam Mahfud MD yang merasa pusing dengan banyaknya alternatif kebijakan pemerintah soal Covid-19 yang tidak sinkron. Selain itu, Mahfud MD juga menyampaikan pernyataan yang patut digarisbawahi perihal intrik antara Luhut Pandjaitan dan Said Didu. Menko Polhukam menyakatan bahwa hukum tidak boleh takut pada siapapun, termasuk pada Luhut.

Penggunaan properti kekinian yang terlihat juga dinilai memberikan implikasi tersendiri, baik bagi penonton maupun narasumber konten Deddy Corbuzier. Perpaduan hal tersebut dengan beragam realita yang terkuak tersebut tentu menjadi daya tarik besar bagi siapapun yang menyaksikannya, sehingga ada kecenderungan untuk menantikan kembali konten Deddy Corbuzier dengan bintang tamu dan fakta “berbumbu” berikutnya.

Dengan kualitas konten yang intelek serta menguak tabir tersendiri yang pantas diperbincangkan tersebut, apakah kaliber Deddy Corbuzier saat ini sudah cukup bersaing dengan host intelek serupa seperti Najwa Shihab?

Sepadan Najwa?

Jeffrey Jones dalamI Want My Talk TV: Network Talk Shows in a Digital Universe” menyatakan bahwa sebuah acara atau konten talkshow sangat bergantung pada kharisma, dan kepribadian pembawa acara atau host itu sendiri.

Berdasarkan kutipan pernyataan Jones tersebut agaknya publik memang harus melihat segala sesuatunya secara proporsional dan dari sudut pandang atau angle yang beragam. Termasuk ketika membandingkan kaliber Deddy Corbuzier dan Najwa Shihab.

Khusus untuk Najwa Shihab, tidak perlu dipertanyakan lagi. Latar belakang dalam prestasi akademis turut menempa kiprah gemilangnya sebagai anchor mumpuni yang malang melintang di berbagai stasiun televisi nasional terkemuka. Bahkan, saat ini ia konsisten memandu acara investigatif politik dan pemerintahan yang sempat hiatus beberapa waktu lalu.

Kemudian ketika sorotan publik mengarah kepada Deddy Corbuzier, mayoritas tentu mengetahui sosok lama Deddy sebagai seorang pesulap atau magician beralian mentalist dan illusionist yang terkenal dengan penampilan khasnya kala itu.

Namun seiring berjalannya waktu, Deddy Corbuzier bertransformasi menjadi seorang public speaker serta host sebuah acara televisi swasta, yang kemampuannya bahkan dinilai sepadan dengan skill magisnya.

Geoffrey Baym dalamPolitical Media as Discursive Modes: A Comparative Analysis of Interviews with Ron Paul from Meet the Press, Tonight, The Daily Show, and Hannity” menyebutkan bahwa hanya host tertentu yang dapat “memaksa” narasumber politik atau political guest mereka untuk berada dalam perspektif kejujuran personal yang mendalam.

Apa yang dinyatakan oleh Baym tersebut tampaknya merupakan keahlian spesifik seorang Deddy Corbuzier. Hal itu telah jamak ia representasikan dalam menguak berbagai realita politik dan pemerintahan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Jika dibandingkan dengan sosok serupa di Amerika Serikat (AS), ada nama Stephen Colbert dalam acara The Late Show dan Trevor Noah dalam acara The Daily Show. Keduanya berlatarbelakang komedian namun membawakan acara dengan tamu dan tema politik investigatif yang dikemas secara ringan dan santai di dalamnya.

Hal inilah yang kemudian menjadi pembeda tersendiri antara Deddy Corbuzier dan Najwa Shihab. Pada konteks ini, karakter acara ataupun konten Deddy Corbuzier dinilai tidak dapat dibawakan bahkan oleh seorang jurnalis mumpuni sekalipun.

Pembawaan yang sangat mengalir, bahkan acapkali mengimbuhkan sapaan santai seperti “bro” dan sebagainya kepada tokoh sekelas pejabat publik dan politik, dinilai menjadi trik magis tersendiri yang membuat narasumber merasa tidak keberatan dalam pembicaraan yang membawa atribut politik personal.

Dan sampai di titik ini, poin krusial yang menjadi pembeda antara Deddy Corbuzier dan Mata Najwa tentu ialah segmentasi dan karakter inheren masing-masing sosok. Di luar perbedaan tersebut, tentu kita sepakat bahwa keduanya memiliki kekhasan mumpuni tersendiri dalam meramu sebuah acara agar menjadi sangat menarik untuk disaksikan. (J61)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Baca juga :  “Mixed Feelings” ala Megawati Berlanjut?
spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?