HomeNalar PolitikJuggernaut Peradaban Indonesia

Juggernaut Peradaban Indonesia

Kecil Besar

Meminjam istilah Anthony Giddens – seorang sosiolog asal Inggris – Juggernaut berarti sebuah truk besar. Yang juga diartikan sebagai kekuatan besar. Istilah ini bisa dipakai untuk menggambarkan kondisi negara Indonesia, yang diibaratkan sebagai sebuah truk besar, yang dikendalikan oleh kekuatan besar.


pinterpolitik.com19 Desember 2016. 

Anda mungkin bingung dengan judul tulisan ini. Tetapi, alih-alih dimulai dengan juggernaut, tulisan ini akan dimulai dengan kisah tentang Francis Fukuyama. Ketika Francis Fukuyama menerbitkan essay-nya yang berjudul “The End of History?” pada tahun 1989, yang kemudian diterbitkan kembali menjadi buku dengan judul “The End of History and The Last Man” pada tahun 1992, semua orang bertanya-tanya: apa benar? Apakah benar paham liberalisme yang kapitalistik menjadi akhir dari sejarah manusia?

Bisa saja saat itu Fukuyama sedang ngopi-ngopi sore sambil membaca berita di koran atau mendengar siaran radio tentang keruntuhan Uni Soviet, kehancuran tembok Berlin, atau lantunan lagu Scorpions yang berjudul “Wind of Change”, lalu terinspirasi menulis tulisan tersebut. Oleh karena itu, sambil  ngopi dan makan gorengan di sore ini, mungkin baik juga kita sekalian memainkan lagu “Wind of Change” di playlist music sambil merefleksikan sejarah umat manusia.

Buku Fukuyama menjadi begitu fenomenal sehingga menghadirkan banyak tanggapan. Salah satunya adalah tanggapan dari dosen Fukuyama sendiri, Samuel P. Huntington. Dalam pidatonya pada tahun 1992 di American Enterprise Institute, Huntington mengenalkan apa yang disebutnya sebagai teori ‘benturan peradaban’ (the clash of civilization theory). Menurut Huntington, identitas dan agama akan menjadi sumber konflik di masa depan.

Huntington membagi dunia ke dalam beberapa peradaban besar, mulai dari peradaban ‘Barat’ yang mencakup Amerika Serikat, Kanada, Eropa Barat dan Tengah, serta Australia dan Oceania; lalu peradaban Amerika Latin; peradaban Orthodox yang mencakup bekas Uni Soviet; kemudian ada peradan ‘Timur’ yang mencakup Tiongkok, Buddha, Jepang, dan Hindu; peradaban Muslim Timur Tengah Raya; peradaban Sub-Sahara di Africa; hingga peradaban ‘negara celah’ atau negara dengan identitas besar mayoritas dan minoritas (misalnya antara mayoritas Hindu dan minoritas Muslim yang juga berjumlah besar di India).

Lalu negara yang disebut sebagai ‘lone country’ semisal Israel, Etiophia dan Haiti. Membingungkan bukan? Tentu saja,  biar nggak bingung, mungkin baik setelah membaca tulisan ini, jalan-jalan lah ke toko buku, nyari buku Huntington yang berjudul The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order untuk dibaca. Dijamin, setelah baca, pasti tambah bingung. Nah lo. Mari menyeruput kopi sebelum melanjutkan membaca tulisan ini.

Huntington mengatakan bahwa dunia belum akan berakhir karena potensi konflik akan tetap lahir sebagai akibat dari perbenturan identitas – dan bahkan agama – di antara peradaban-peradaban tersebut. Teori benturan peradaban ini begitu relevan jika melihat konteks politik internasional saat ini. Kehadiran Negara Islam Irak dan Suriah misalnya dengan sejuta potensi konflik yang dihadirkannya bisa jadi merupakan pembuktian tesis Huntington soal benturan peradaban ini. Kebangkitan gerakan-gerakan politik mayoritas di daratan Eropa dan Amerika juga kembali menjadi pembuktian tesis Huntington tersebut.

Baca juga :  Reinkarnasi Ahmad Sahroni?

Potensi konflik akan selalu timbul dan boleh jadi akan melecut perang-perang baru. Jika tulisan Fukuyama seolah ingin menampar Karl Marx yang mengatakan bahwa Komunisme merupakan akhir dari peradaban, maka Huntington seolah ingin menampar Fukuyama dan bilang: ‘Kid, you need to read more books’. Jadilah kita bisa menyaksikan para ilmuwan ini tampar-tamparan, mungkin sambil makan popcorn enak kali ya buat disaksikan.

Kebangkitan gerakan identitas kanan-Katolik di Prancis, atau partai Fidesz di Hungaria, atau bahkan Freedom Party di Austria merupakan contoh pembuktian tesis demokrasi suara mayoritas: representasi mayoritas seringkali mengalahkan aspirasi kepentingan minoritas, sekaligus tesis Huntington tentang benturan identitas. Pada suatu titik di masa depan, dunia akan dihadapkan pada situasi ketika identitas – dan bisa jadi agama – akan menjadi pemicu perang dan konflik, yang menurut Huntington akan terjadi di antara peradaban-peradaban tersebut.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Dalam klasifikasi peradaban Huntington, Indonesia masuk ke dalam peradaban Muslim Timur Tengah Raya. Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Lalu, apakah itu berarti Indonesia karena kesamaan identitas sepenuhnya bulat sebagai kekuatan muslim? Bukan tanpa alasan pertanyaan itu terlontar. Jika merefleksikan dengan lebih jelas, di Indonesia terdapat benturan tiga peradaban.

Ada peradaban barat (Amerika Serikat, Eropa Barat dan Tengah, juga Singapura, Jepang, dan Australia) yang telah mengakar di negara ini sejak zaman kolonialisme dan tetap menguasai negara ini bahkan setelah merdeka. Ada pula peradaban timur yang secara perlahan tapi pasti melalui kekuatan ekonomi Tiongkok berusaha ingin menguasai negara ini. Dan yang terakhir adalah peradaban transnasional muslim yang saat ini seolah mulai masuk dan menjalar di Indonesia. Tiga peradaban atau kekuatan ini berpotensi melahirkan konflik di negara ini.

Perbedaan identitas dan bisa juga bahkan agama, suatu saat akan berpotensi melahirkan gesekan-gesekan di dalam masyarakat. Peradaban barat sangat dicirikan oleh Kristianitas (Katolik-Protestan), peradaban timur sangat dicirikan oleh kebudayaan timur dan Buddhisme, sementara peradaban trans-nasional muslim dicirikan oleh agama Islam itu sendiri. Jika menggunakan tesis Huntington, maka konflik di antara ketiga peradaban ini akan sangat mungkin terjadi. Wow, konflik adalah sesuatu yang sangat tidak diharapkan tentunya.

Baca juga :  Kebangkitan Kedua

Pada tahap inilah istilah ‘juggernaut’ menjadi layak untuk dipasangkan. Meminjam istilahnya Anthony Giddens – seorang sosiolog asal Inggris – juggernaut berarti sebuah truk besar. Namun, ia bisa juga diartikan sebagai kekuatan yang besar. Giddens memang menggunakan istilah ini untuk menggambarkan globalisasi yang tak terkontrol. Namun, istilah ini bisa juga dipakai untuk menggambarkan kondisi negara ini.

Indonesia bisa diibaratkan sebagai sebuah truk besar: sebuah juggernaut. Juggernaut Indonesia sedang bergerak kencang dan seolah hampir tak terkontrol akibat pertumbuhan ekonomi yang luar biasa: menempatkan negara ini dalam 20 besar negara-negara berekonomi besar di dunia.  Namun, di balik kursi kemudi negara ini ada tiga kekuatan besar yang mencoba saling berebut posisi untuk mengendalikan ‘si truk besar’. Kalau bingung, bayangin aja lagi nonton film Fast and Furious dan lagi ada perampokan truk bahan bakar serta ada perkelahian di belakang kemudi truk bahan bakar tersebut.

Seperti itulah kira-kira Indonesia. Tiga kekuatan peradaban besar ini sedang mencoba mengartikulasikan kepentingannya masing-masing. Benturan peradaban ini mungkin belum nyata mengerucut, namun benih-benih untuk menuju ke arah itu sedang muncul dan berkembang. Jika teori Huntington ini tidak meleset, maka suatu saat di masa depan konflik akan terjadi. Pertanyaannya adalah kapan hal itu akan terjadi? Mungkin sebaiknya ditanyakan pada tukang pisang goreng di pojok jalan, sore-sore gini makan pisang goreng enak bro.

Sebagai sebuah juggernaut, Indonesia sedang melaju kencang: apakah menuju sebuah kemajuan – yang oleh sebagian pemikir mungkin bisa juga berujung pada utopia – ataukah malah menuju sebuah jurang kehancuran? Fukuyama mungkin terlalu dini memprediksi akhir dari dunia dan Huntington mungkin terlalu skeptis soal perdamaian, tetapi apakah konflik benar-benar merupakan akhir dari sejarah peradaban? Tentu saja kita tidak ingin negara ini berakhir dengan konflik. Kita semua ingin negara ini penuh dengan kedamaian.

Sebagai orang Indonesia kita tidak ingin kungkungan tiga peradaban itu mengaburkan dan menghancurkan nilai-nilai luhur bangsa kita. Kita tidak ingin ke-bhinekaan negara ini begitu saja hancur akibat kepentingan orang-orang tersebut. Kita ingin semua masyarakat hidup berdampingan satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, jika tulisan ini membuat anda berpikir untuk memandang negatif orang-orang di sekitar anda, mungkin sebaiknya cari tukang es cendol dulu. Mumpung musim hujan, nggak ada salahnya membantu tukang es cendol memperoleh penghasilan – gara-gara jualan nggak laku – sekalian biar nyegerin pikiran dan ngademin hati. (S13)

 

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.