HomeNalar PolitikJokowi Rising Bersama Rich Brian?

Jokowi Rising Bersama Rich Brian?

Kecil Besar

Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu bertemu dengan musisi rap Rich Brian di Istana Bogor. Pertemuan ini bisa jadi merupakan cerminan keterhubungan antara politik dan musik.


PinterPolitik.com

“I’m the one and only, but I swear about a thousand Indonesian kids will come with me” – Rich Brian, musisi rap asal Indonesia

“Kolaborasi” yang paling megah di negeri ini akhirnya tiba. Presiden Joko Widodo (Jokowi) bertemu dengan musisi rap Rich Brian yang sukses merintis karier di dunia internasional. Sontak, perhatian masyarakat pun tertuju ke Istana Bogor, lokasi dihelatnya pertemuan.

Jokowi memang sering kali tampil di publik dengan tokoh-tokoh muda. Pegiat YouTube Atta Halilintar misalnya, pernah berkunjung ke Istana Bogor dan membuat

Sebelum Atta, beberapa pegiat YouTube lainnya juga pernah membuat video bersama sang presiden. Salah satunya adalah dua orang bersaudara pemilik akun SkinnyIndonesian24, yaitu Jovial da Lopez dan Andovi da Lopez.

Setelah dinyatakan terpilih dalam Pilpres 2019, Jokowi kali ini mengunggah foto pertemuannya dengan Rich Brian – seorang musisi asal Indonesia yang dianggap telah berhasil menorehkan prestasinya di panggung musik internasional.

Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf dan Mantan CEO Net Mediatama Televisi, Wishnutama, guna membahas beberapa prakarsa pengembangan industri kreatif di Indonesia. Beberapa prakarsa yang dibicarakan saat itu adalah Indonesia Rising – sebuah sub-program kerja sama milik Indonesia Creative Incorporated (ICINC) dengan label musik 88 Rising.

Nama 88 Rising sendiri merupakan label musik dari Rich Brian. Dalam beberapa tahun terakhir, label tersebut telah mempromosikan banyak musisi Asia di Amerika Serikat (AS), khususnya musisi-musisi beraliran hip-hop dan R&B.

Terlepas dari adanya kerja sama tersebut, hal unik yang mungkin dapat dipertanyakan adalah pertemuan itu sendiri. Keuntungan apa yang diperoleh Jokowi dari pertemuan tersebut? Lalu, apakah alasan yang melatarbelakangi pertemuan tersebut?

Komunikasi Politik

Kunjungan-kunjungan para musisi dan selebritas ke pemimpin-pemimpin negara sebenarnya telah banyak dilakukan di berbagai negara. Sering kali, pertemuan tersebut disertai dengan pembahasan mengenai persoalan-persoalan sosial.

Di negara Paman Sam, para musisi turut memiliki andil bagi para presiden dalam menentukan titik persoalan sosial yang terjadi. Musisi rap Kanye West misalnya, sempat mengunjungi Presiden AS Donald Trump di Kantor Oval, Gedung Putih, sebagai bentuk dukungannya terhadap kepresidenan mantan bintang televisi tersebut.

Dalam pertemuan tersebut, Kanye membahas berbagai persoalan negara AS, termasuk bisnis dan lowongan pekerjaan yang banyak lari ke negara lain. Selain itu, sang rapper juga berbincang mengenai kekerasan antar-kelompok yang prevalen di Chicago.

Baca juga :  Jebakan Rindu Soeharto?

Selain Kanye, musisi rap Kendrick Lamar juga pernah bertemu dengan Presiden Barack Obama dan berbincang mengenai berbagai persoalan urban yang dialami kelompok Afrika-Amerika. Obama sendiri memang dikenal dekat dengan komunitas hip-hop.

Uniknya, kedekatan tersebut tidak hanya sebatas pada dimensi kultural. Kedekatan Obama dengan komunitas hip-hop dan kreatif lainnya juga disebut-sebut bersifat politis.

Setidaknya, sisi inilah yang berusaha dikupas oleh Krissah Thompson dalam tulisannya di Washington Post. Thompson menjelaskan bahwa Obama merupakan salah satu presiden yang dikenal dekat dan, bahkan, disambut oleh budaya populer, terutama komunitas hip-hop dan Hollywood.

Musik memiliki kekuatan tersendiri sebagai instrumen komunikasi politik. Share on X

Obama dan istrinya, Michelle, memang sering kali menjangkau publik dengan tampil dan menghadiri berbagai pertunjukkan populer, seperti Carpool Karaoke milik James Corden. Beberapa referensi populer juga sering diungkapkan oleh Obama dalam pidato-pidatonya. Selain itu, staf-staf presiden Afrika-Amerika pertama tersebut juga menjalin kerja sama dengan selebritas-selebritas media sosial, seperti di YouTube dan Vine.

Kemampuan Obama untuk menjangkau publisitas inilah yang membuatnya dekat dengan para musisi dan selebritas. Kedekatan tersebut juga menguntungkan Obama dalam menarik hati para pemilih. Dalam Pemilu AS 2012 misalnya, Obama mampu memperoleh dukungan dan bantuan dari pasangan musisi besar, yaitu JAY Z dan Beyoncé.

Tidak mengherankan pula apabila taktik yang sama juga digunakan oleh Hillary Clinton guna menandingi Trump dalam Pemilu 2016. Pasalnya, jika mengacu pada tulisan milik John Street yang berjudul Music as Political Communication, musik memiliki kekuatan tersendiri sebagai instrumen komunikasi politik.

Bagi Street, musik sebagai alat komunikasi politik dapat digunakan untuk memperoleh dukungan, seperti dalam suatu Pemilu. Bahkan, musik juga dapat digunakan untuk mengamankan dukungan bagi pemerintah.

Lalu, bagaimana dengan Jokowi? Apakah pertemuannya dengan Brian merupakan bagian dari upaya komunikasi politik?

Bila berkaca pada apa yang dilakukan Obama, Jokowi bisa jadi tengah menggunakan musik dan industri hiburan lainnya sebagai instrumen dalam melakukan komunikasi politik. Melalui media tersebut, sang presiden bisa jadi tengah berusaha menyampaikan pesan-pesan politiknya pada publik.

Jokowi sendiri pernah melakukan hal yang mirip dengan Michelle Obama. Seperti segmen acara Carpool Karaoke milik James Corden, Mantan Wali Kota Solo tersebut juga pernah menjadi bintang tamu dalam konten video milik Boy William dan pegiat-pegiat YouTube lainnya.

Perang Musik?

Uniknya, pelibatan musisi-musisi dalam upaya komunikasi politik memiliki dimensi lain. Bisa jadi, pelibatan tersebut berkaitan dengan kontestasi yang terjadi di dunia musik sendiri.

Dalam tulisan milik Street, dijelaskan bahwa rezim yang berkuasa biasanya menggunakan musik untuk menanamkan pesan-pesan politik tertentu pada masyarakat. Bahkan, musik dapat benar-benar diatur oleh penguasa dalam pemerintahan yang otoritarian, seperti Hitler dan Stalin.

Baca juga :  Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Biasanya, pengaturan tersebut dilakukan dengan menciptakan birokrasi tersendiri yang mempromosikan musik-musik tertentu saja. Menurut Street, birokrasi semacam ini dibuat untuk mendukung musik yang memiliki kesesuaian dengan tatanan yang dominan dan membatasi musik yang dianggap tidak sesuai dengan pesan yang diinginkan.

Bila kita tilik kembali, kehadiran Brian di Istana Bogor turut disertai dengan pengenalan program Indonesia Rising yang ditujukan untuk memilah musisi-musisi Indonesia untuk melakukan pengembangan bersama label 88 Rising. Program semacam ini bisa jadi akan melibatkan campur tangan pemerintah – seperti Bekraf – untuk menentukan warna musisi-musisi tersebut.

Mungkin, kelahiran program tersebut berkaitan dengan kontestasi gagasan yang tengah terjadi di dunia musik. Dengan menilik kembali pada pola musisi-musisi yang dihadirkan oleh Jokowi-Ma’ruf Amin dalam kampanye Pilpres 2019, musisi-musisi yang dilibatkan kemungkinan besar memiliki gagasan yang sejalan dengan citra Jokowi, yaitu progresivitas.

Grup band Slank contohnya, memiliki basis penggemar yang dianggap dekat dengan masyarakat kelas bawah. Bahkan, bisa dibilang, musisi-musisi seperti Slank memiliki corak underground – seperti rock dan hip-hop – yang berusaha mendobrak tatanan yang dibangun oleh elite.

Di sisi lain, musisi-musisi yang memiliki corak Islami lebih terlihat dekat dengan kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Rhoma Irama dan Nissa Sabyan misalnya, lebih memiliki resonansi gagasan dengan kelompok-kelompok Muslim konservatif.

Kehadiran musisi-musisi Islami seperti Nissa bukan tidak mungkin dapat menguatkan momentum politik kelompok-kelompok konservatif yang kerap berseberangan dengan Jokowi dan dapat menjadi ancaman bagi dominansi gagasan sang presiden dalam musik dan budaya populer lainnya.

Pasalnya, jika mengacu pada tulisan milik Roos Sekewaël yang berjudul Indonesian Popular Music and Identity Expressions, tumbuhnya nilai-nilai Islam dalam budaya populer Indonesia – termasuk musik – mampu mendorong para penggemarnya untuk lebih mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Bila benar begitu, pertemuan Jokowi dengan Brian bisa jadi hanya merupakan upaya kooptasi terhadap para musisi. Kooptasi ini dilakukan untuk mengecilkan kekuatan politik musisi-musisi lainnya.

Pada akhirnya, mungkin benar apa yang dikatakan oleh rapper Rich Brian dalam lirik lagunya sendiri di awal tulisan. Melalui pertemuannya dengan sang presiden, akan lebih banyak lagi dilahirkan musisi-musisi Indonesia lainnya yang, boleh jadi, tetap sewarna. Menarik untuk dinanti musisi-musisi yang akan dan tengah rising tersebut. (A43)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jebakan Logika Bedah Kasus Nadiem?

Hakim sudah membaca putusannya. Tapi jauh sebelum itu, publik sudah selesai bersidang di kepala masing-masing.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz

Ketika hampir semua selat strategis dunia punya wacana bypass secara bersamaan, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kepanikan logistik — dan Indonesia perlu membacanya sebelum terlambat.

Lex Talionis Taufik Hidayat Biadab

Lex talionis bukan tentang balas dendam, melainkan batas peradaban atas kekerasan. Dalam kasus Taufik Hidayat, prinsip kuno itu menemukan relevansinya kembali, hukuman maksimal bukan ekspresi kebencian, tetapi pengakuan negara atas martabat korban. Saat keadilan diuji, korban tak boleh kalah dua kali.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.

More Stories

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

Di Balik Mekarnya Citra Habibie

Tanggal 25 Juni dikenang sebagai hari lahir Habibie. Citranya kian harum meski telah tiada. Apa rahasia di balik reputasi yang tak pernah layu itu?