HomeNalar PolitikJokowi dan Prabowo: Pelukan Shakespeare

Jokowi dan Prabowo: Pelukan Shakespeare

Kecil Besar

Aksi pelukan Jokowi dan Prabowo menggambarkan kebesaran dalam politik nasional. Keduanya tidak hanya mendinginkan suasana, tetapi juga menggambarkan masih adanya honour dalam politik yang saat ini identik dengan intrik, pengkhianatan dan cenderung Machiavellian. Honour adalah hal yang mahal dalam politik dan Shakespeare sudah membicarakannya sejak 4 abad lalu.


PinterPolitik.com

“You may my glories and my state depose, but not my griefs. Still am I king of those.”

:: King Richard II kepada Henry Bolingbroke (King Henry IV), dalam “Richard II” karya William Shakespeare ::

[dropcap]B[/dropcap]erpelukan! Kata ini mungkin familiar bagi generasi muda yang masa kecilnya rajin menyaksikan serial Teletubbies yang tayang di televisi nasional.

Tapi, konteks “berpelukan” yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan lawan politiknya, Prabowo Subianto punya makna yang jauh lebih mendalam, dibanding apa yang sekedar dilakukan oleh Tinky-Winky, Dipsy, Laa Laa, dan Po ketika kata-kata “saatnya tubby berpisah” terdengar di televisi.

Sehari yang lalu, publik memang disuguhkan oleh pelukan antara Jokowi dengan Prabowo pada pertandingan pencak silat Asian Games. Saat itu, atlit Indonesia Hanifan Yudani Kusumah yang berhasil memperoleh medali emas menghampiri tribun yang ditempati oleh Jokowi dan Prabowo.

Ia menyalami semua yang ada, kemudian saat sampai ke Prabowo, atlit asal Soreang, Bandung tersebut memeluk Ketua Umum Partai Gerindra itu dan menarik Jokowi ke dalam rangkulannya juga. Penonton dan elite politik yang hadir saat itu bersorak-sorai menyaksikan pemandangan tersebut.

Beragam pujian berdatangan yang menyebut aksi Jokowi dan Prabowo itu bisa membuat suasana politik jelang Pilpres 2019 menjadi lebih sejuk. Hampir semua surat kabar besar dan portal berita online memajang foto aksi pelukan – yang sepertinya memang spontan dilakukan – sebagai headline. Sementara tajuk Pemilu sejuk dan damai menjadi intisari berita yang disuguhkan.

Reaksi yang tergambarkan ini memang pantas muncul, mengingat dalam sepekan terakhir friksi politik antara pendukung Jokowi dan Prabowo kembali panas. Adalah aksi penolakan terhadap deklarasi #2019GantiPresiden yang terjadi di beberapa daerah yang menjadi penyebabnya.

Bahkan, di beberapa tempat, situasi mencekam yang berpotensi mengarah ke chaos sempat terjadi. Saling tuduh di kalangan elite pun ikut mewarnai panasnya friksi tersebut. Pendukung Jokowi misalnya menyebut gerakan #2019GantiPresiden adalah upaya makar terhadap pemerintahan yang sah, sementara oposisi balik menyebut pelarangan deklarasi adalah bentuk represi terhadap kebebasan dan demokrasi – sama seperti yang terjadi pada era Orde Baru.

Walaupun pertentangan dua kubu tidak benar-benar hilang – karena tentu saja ini bagian dari kampanye politik – aksi pelukan Jokowi dan Prabowo sedikit menenangkan para pendukung masing-masing. Apalagi, Jokowi dan Prabowo sempat ada dalam vlog yang dibuat sang presiden dan sama-sama berucap: “Semuanya untuk Indonesia” – kata-kata yang punya makna cukup besar.

Terlepas dari berbagai pujian yang bermunculan, nyatanya hubungan Jokowi dan Prabowo berada di level yang berbeda dibanding banyak tokoh politik di Indonesia. Ada perasaan saling menghormati yang besar di antara mantan Wali Kota Solo dengan mantan Danjen Kopassus itu, sekalipun keduanya juga sering pula saling kritik.

Baca juga :  Jokowi: Saya akan Lawan! Part 2

Fenomena ini terjadi karena adanya perasaan yang sering dimunculkan oleh William Shakespeare dalam karya-karyanya dan disebut sebagai honour of politics. Seperti apakah kondisi itu?

Apakah kisah yang ditulis Shakespeare akan menjadi kenyataan dan Jokowi “Richard II” harus menyerahkan mahkotanya kepada Prabowo “Henry IV”? Share on X

Pelukan di Tengah Pertempuran

Tak diragukan, William Shakespeare adalah salah satu pujangga terbesar sepanjang sejarah manusia. Pria yang dijuluki Bard of Avon – diambil dari nama tempat kelahirannya Stanford-upon-Avon – memang dikenal lewat puisi dan lakon drama yang ditulisnya.

Menolak disebut politis, nyatanya karya-karya Shakespeare menampilkan banyak pesan dan pandangan politik. Salah satu hal yang menonjol dalam puisai dan dramanya adalah yang berhubungan dengan konsep honour atau kehormatan/kebesaran.

David Bevington dalam bukunya Shakespeare’s Ideas, More Things in Heaven and Earth menyebutkan bahwa honour merupakan bagian yang cukup intrinsik dari pemikiran politik sang pujangga.

Secara sederhana honour – dikenal dengan honor di Amerika Serikat dan Kanada – diartikan sebagai bagian yang integral dengan status kualitas seseorang di hadapan masyarakat dan berhubungan dengan nilai-nilai yang dihormati oleh masyarakat tersebut.

Jokowi dan Prabowo: Pelukan Shakespeare

Honour berhubungan dengan integritas seseorang yang biasanya ditunjukkan oleh sifat-sifat seperti keberanian, ksatria dan kejujuran, namun pada saat yang sama juga bisa menunjukkan welas asih. Karena sifat-sifat tersebut, honour seringkali menjadi hal yang integral dengan kualitas maskulinitas seseorang – bukan secara fisik, tetapi lebih kepada etos personal.

Maka, sebutan sebagai honourable man – orang yang terhormat – sering disematkan pada orang-orang yang dianggap punya kualitas tersebut. Dalam politik, honour – yang tentu saja menjadi produksi dari tatanan nilai dan moral – bisa disebut sebagai kutub yang berseberangan dengan gagasan kaum Machiavellian yang menyebut moral harus disingkirkan dari politik. Pandangan kelompok terakhir ini memang menjadi sikap politik yang paling umum terjadi saat ini.

Tema honour muncul dalam banyak karya Shakespeare. Namun, dalam konteks politik beberapa karya yang cukup fenomenal adalah The Tragedy of Julius Caesar yang ditulis pada tahun 1599, Richard II yang ditulis tahun 1595, serta Henry IV yang ditulis tahun 1597. Dalam karya-karyanya ini Shakespeare menggambarkan bagaimana honour menjadi ukuran kualitas seseorang ketika memperebutkan kekuasaan.

Dalam Richard II yang berkisah tentang King Richard II, honour digambarkan misalnya dalam saling tuduh antara Henry Bolingbroke (kemudian menjadi King Henry IV) dan Thomas Mowbray terkait siapa yang layak disebut sebagai pengkhianat sesungguhnya terhadap King Richard II.

Sekalipun dalam konteks menggoyang kekuasaan, baik Henry maupun Mowbray sama-sama menjunjung kehormatan mereka. “My honour is my life, both grow in one, take honour from me, and my life is done,” demikian penggalan kata-kata Mowbray.

Honour juga tampak dalam hubungan antara Henry dan Richard yang dikisahkan sebagai teman sejak kecil, namun pada akhirnya terlibat dalam pertentangan dalam kebijakan hingga pemberontakan. Konteks serupa juga muncul dalam The Tragedy of Julius Caesar, sekalipun digambarkan pada konteks yang lebih ekstrem dalam diri Brutus yang gila kehormatan.

Konsepsi honour ini menjadi pandangan politik yang berada di kutub seberang dari kisah pengkhianatan, tajuk “tidak ada kawan yang abadi dalam politik”, hingga cara-cara kotor yang digunakan untuk merebut kekuasaan. Shakespeare juga menggarisbawahi bahwa political infighting atau pertentangan politik berpotensi merusak lingkungan dan masyarakat. Dalam politik, sekalipun dianggap setara dengan perang, namun penggunaan cara-cara yang terhormat masih dipandang sebagai sesuatu yang harus tetap dijunjung tinggi.

Baca juga :  Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dalam konteks Jokowi dan Prabowo, honour jelas terlihat sebagai bagian yang intrinsik dari kualitas pribadi keduanya. Hal itu sudah tergambar sejak Pilpres 2014 lalu.

Sebagai pihak yang kalah, Prabowo misalnya menghormati kemenangan Jokowi di kontestasi politik tersebut, menunjukkan rasa hormat karena status Jokowi sebagai kepala negara, serta selalu berusaha menjaga hubungan keduanya tetap cair.

Sementara, Jokowi juga selalu berusaha untuk merangkul lawan politiknya itu. Dalam konteks kebijakan politik, keduanya mungkin saling berseberangan. Namun, secara kualitas personal, tak ada yang meragukan citra honour keduanya. Mungkin, hal inilah yang membuat baik Jokowi maupun Prabowo  layak bersaing sebagai kandidat pemimpin negeri ini – terlepas dari citra masa lalu Prabowo, atau kuatnya ikatan patron politik Jokowi dalam tajuk “petugas partai”.

Honour di Dunia Politik Masih Hidup

Konsep honour yang dimiliki Jokowi dan Prabowo mungkin kontras jika dibandingkan dengan era sebelumnya, katakanlah yang terjadi antara Megawati Soekarnoputri dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Hubungan SBY dan Mega hingga saat ini memang terus dingin, sekalipun SBY misalnya terus berusaha memperbaiki apa yang terjadi di antara keduanya.

Tentu tidak dapat dielakkan banyak juga persepsi yang muncul, misalnya yang menyebut aksi Jokowi dan Prabowo mungkin hanya sekedar showcase di hadapan publik, katakanlah seperti apa yang disebut oleh sosiolog Erving Goffman sebagai dramaturgi: beda di depan, lain lagi di belakang.

Namun, jika memperhatikan perjalanan hubungan Jokowi dan Prabowo sejak Pilpres 2014 – bahkan juga sejak Pilkada DKI Jakarta 2012 – jelas keduanya punya penghargaan terhadap satu sama lain. Latar belakang Prabowo yang berasal dari militer tentu saja membuat sikap-sikap ksatria tak akan luntur darinya.

Sementara, Jokowi selalu dianggap sebagai sosok yang berani dalam sikap-sikap politik, serta selalu apa adanya – sekalipun akhir-akhir ini juga dikritik, katakanlah dalam kasus tak jadi dipilihnya Mahfud MD sebagai cawapres.

Untuk kasus terakhir, Jokowi pun punya cara tersendiri bagaimana memberikan penghargaan personal kepada Mahfud – misalnya dengan memanggil mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu ke Istana – yang lagi-lagi menunjukkan sisi honour dalam citra politiknya.

Selain itu, perkataan “semuanya untuk Indonesia” yang diucapkan oleh Jokowi dan Prabowo dalam vlog juga menunjukkan sikap honour tersebut, bahwa selama semuanya demi kepentingan bangsa dan negara, apa pun pasti akan dilakukan, termasuk mengakui keunggulan lawannya. Ini seperti Richard II yang rela menanggalkan mahkotanya dan memberikannya kepada Henry IV demi kepentingan yang lebih besar.

Jokowi dan Prabowo menjadi harapan besar bahwa kontes politik Indonesia – sekalipun diwarnai dengan isu SARA, gontok-gontokan antar pendukung, hingga kampanye hitam – pada akhirnya tetap harus diwarnai kebesaran hati masing-masing pihak, sebab itulah ukuran seseorang bisa disebut sebagai honourable man.

Tentu menarik untuk ditunggu apakah kisah yang ditulis Shakespeare akan menjadi kenyataan dan Jokowi “Richard II” harus menyerahkan mahkotanya kepada Prabowo “Henry IV”. Jika itu yang terjadi, mungkin Shakespeare layak juga disebut sebagai peramal. (S13)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.