HomeHeadlineIni Penyebab Anies-Imin Kalah di Jawa Timur

Ini Penyebab Anies-Imin Kalah di Jawa Timur

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Perolehan suara Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin di Jawa Timur jadi yang terendah. Padahal, pemilihan Cak Imin sebagai cawapres Anies punya tujuan utama untuk menggaet pemilih di Jawa Timur yang merupakan salah satu lumbung suara utama, berbekal latar belakang Cak Imin sebagai salah satu tokoh NU. Pertanyaannya adalah mengapa Anies-Imin gagal di Jatim?


PinterPolitik.com

Pemilihan Presiden 2024 telah berlangsung di semua provinsi di Indonesia, tidak terkecuali di Jawa Timur. Provinsi ini menjadi salah satu yang paling menarik untuk diamati karena statusnya sebagai salah satu lumbung suara terbesar di Indonesia, hanya kalah dari Jawa Barat dari sisi jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Lebih menariknya lagi, salah satu kandidat yang diprediksi akan meraih suara besar di Jawa Timur, justru nyungsep. Adalah Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar yang jadi juru kunci dalam pertarungan di ujung Timur pulau Jawa ini.

Berdasarkan hasil hitung resmi KPU, Anies-Cak Imin hanya raih 15,8% suara. Ini berselisih sangat jauh dibandingkan dengan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka yang raih 66,4% suara. Anies-Cak Imin bahkan kalah dari Ganjar Pranowo-Mahfud MD yang raih 17,69% suara. Perolehan ini di posisi suara masuk mencapai 81% dan diprediksi tidak akan banyak berubah hingga akhir penghitungan suara nanti.

Seperti disebut di awal, fenomena ini menarik karena alasan pemilihan Cak Imin sebagai cawapres Anies, disebut-sebut bertujuan untuk salah satunya memenangkan suara di Jawa Timur. Ini adalah salah satu wilayah lumbung suara yang menjadi titik lemah Anies. Cak Imin yang berasal dari Jombang dan memimpin PKB yang punya basis suara di PKB, diharapkan bisa memberikan efek positif bagi suara Anies Baswedan.

Relasi Cak Imin dengan tokoh-tokoh NU juga diharapkan mampu menjadi pendulang suara bagi pasangan ini dengan harapan bisa memuluskan jalan menuju kursi RI-1 dan RI-2.

Sayangnya, hal ini tidak terjadi. Pasangan ini justru jadi juru kunci. Lebih anehnya lagi, PKB yang dipimpin oleh Cak Imin justru menikmati kemenangan di Jawa Timur. Data hitung KPU menunjukkan bahwa PKB memimpin di ujung Timur pulau Jawa ini dengan total 19,04% suara. PKB sukses mengalahkan PDIP yang di Pemilu 2019 meraih kemenangan di provinsi ini.

Baca juga :  Adu Nasib Rusdi-Sandi

Tentu pertanyaannya adalah mengapa hal ini terjadi dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya?

Faktor Penyebab Kekalahan Anies di Jawa Timur

Setidaknya ada beberapa faktor yang menyebabkan kondisi kekalahan Anies-Cak Imin di Jawa Timur. Faktor pertama dan yang utama adalah kondisi yang kerap disebut sebagai split-ticket voting. Ini adalah keadaan ketika pemilih dari partai politik tertentu justru memilih kandidat yang diusung oleh partai lain.

Faktor penyebabnya bisa beragam, mulai dari demografi pemilih yang kompleks, hingga soal efek kampanye yang mengubah pilihan masyarakat pada kandidat tertentu.

Kondisi di Jawa Timur ini dibuktikan oleh hasil exit poll Litbang Kompas yang menyebut 45,6% pemilih PKB justru pilih Prabowo-Gibran yang merupakan kandidat nomor 02. Sementara hanya 36,6% yang pilih Anies-Imin. Dengan demikian, bisa dipahami mengapa PKB bisa menjadi partai pemenang di Jawa Timur, namun justru tak mampu mendongkrak suara Anies-Imin.

Faktor kedua adalah soal dukungan dari tokoh-tokoh penting, salah satunya Khofifah Indar Parawansa. Mantan Gubernur Jawa Timur ini jadi salah satu sosok dengan elektabilitas tertinggi di Jawa Timur, jauh melampaui Cak Imin.  

Survei Indikator pada September 2023 menyebutkan bahwa elektabilitas Cak Imin di Jatim hanya 4,9%. Kalah jauh dibandingkan Khofifah yang meraih 15,1%, Mahfud yang mendapatkan 11,5% dukungan, dan bahkan kalah dari Gibran yang raih 5,5% dukungan. Ini jelas menunjukkan bahwa secara personal, Cak Imin sangat lemah di Jatim.

Khofifah sendiri menjadi bagian struktural dari NU dan menyatakan dukungan pada Prabowo-Gibran di Pilpres 2024.

Faktor ketiga adalah soal posisi Cak Imin sendiri yang tak bisa menggaransi suara NU ke Anies. Ia tak seperti Ma’ruf Amin yang memegang posisi tertinggi di NU saat akan maju di Pilpres 2019. Ma’ruf Amin tercatatan menjabat Rais Aam NU di sekitaran Pemilu 2019 – ini merupakan salah satu posisi tertinggi di NU. Akibatnya, secara ketokohan dan organisasi, Ma’ruf Amin bisa mendapatkan dukungan yang jauh lebih besar di lingkungan NU.

Sementara Cak Imin tidak demikian. Ia tak menjabat posisi tertentu di NU, dan meskipun dekat dengan tokoh-tokoh NU, ia juga tak bisa menggaransi pemilih NU untuk memilih dirinya.

Baca juga :  Inul, Naykilla, dan Kebangkitan ‘Centil-isme’

Faktor berikutnya adalah perseteruan Imin dan Gus Dur di seputaran perebutan kekuasaan di PKB. Cak Imin berhasil mengambil alih PKB dari Gus Dur – yang adalah pamannya sendiri – di sekitaran tahun 2008 lalu. Peristiwa ini meninggalkan kekecewaan dan ketidakpuasan di banyak warga NU, utamanya yang mendukung Gus Dur.

Apalagi, ada nama Mahfud MD – sosok yang yang juga berasal dari Jatim dan satu jalur dengan Gus Dur – yang jadi lawan Cak Imin. Meski suaranya berbeda tipis, namun warga NU kemungkinan besar juga banyak yang akan lebih memilih Mahfud ketimbang Cak Imin.

Faktor berikutnya adalah soal narasi politik identitas yang melekat pada Anies. Seperti diketahui, sejak Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu, isu identitas selalu melekat pada Anies Baswedan. Dalam salah satu kesempatan berbincang dengan Anies, PinterPolitik mendapati bahwa Anies ternyata tak ingin melawan berbagai sentimen dan cap negatif terhadapnya terkait politik identitas ini. Ia justru “memanfaatkan” ini untuk meraih top of mind awareness masyarakat alias ingin agar namanya terus dipergunjingkan publik.

Sayangnya untuk kasus di Pemilu 2024 ini, strategi Anies ini tak berhasil dan justru menyebabkan kekalahan pasangan ini.  

Dan faktor yang terakhir adalah soal Presiden Jokowi sendiri. Terlepas dari berbagai tuduhan kecurangan Pemilu, harus diakui bahwa Jokowi adalah sosok yang masih sangat kuat. Approval ratingnya masih mencapai 80%. Dan jangan lupa juga, di Pemilu 2019, Jokowi menang besar di Jawa Timur dengan 65% suara.

Artinya, basis pemilih Jokowi masih sangat besar di Jatim. Dan ketika ada narasi dukungan tersirat kepada pasangan Prabowo-Gibran, maka sangat mungkin masyarakat yang mendukungnya akan memilih pasangan tersebut.

Setidaknya itu adalah beberapa faktor yang menjadi penyebab kekalahan Anies-Cak Imin di Jawa Timur. Memang masih ada faktor-faktor lain yang bisa saja ikut berpengaruh. Namun, faktor-faktor yang telah dijelaskan di atas dianggap jauh lebih kuat memberikan efek kekalahan untuk pasangan nomor urut 01 itu. (S13)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

More Stories

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.