HomeNalar PolitikGaduh Terus di Kabinet Jokowi

Gaduh Terus di Kabinet Jokowi

Kecil Besar

Bulan September saja tercatat ada 4 sampai 5 kegaduhan dalam kabinet Jokowi. Kegaduhan itu terjadi di antara menteri dan pimpinan lembaga, maupun gaduh dengan partai politik yang punya jabatan menteri di kabinet.


PinterPolitik

[dropcap size=big]T[/dropcap]inggal beberapa bulan lagi dan kita akan memasuki tahun politik: 2018. Namun, tensi politik itu tampaknya sudah mulai meninggi sejak saat ini. Bahkan, kegaduhan itu mulai menjalar dari lapisan bawah di masyarakat, hingga ke dalam kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Hal inilah yang membuat Jokowi memerintahkan semua jajaran menteri dan pejabat tinggi negara untuk tidak menimbulkan kegaduhan politik di masyarakat. Jokowi berharap jika ada masalah yang terjadi di antara kementerian dan lembaga, semuanya dapat diselesaikan dengan kondusif.

Namun, pernyataan ini secara tidak langsung membenarkan fakta bahwa kabinet Jokowi memang selalu penuh riak-riak persinggungan kepentingan. Bahkan, di bulan September ini kegaduhan itu sangat terasa. Ditambah lagi, isu PKI dan polemik film penumpasannya menjadi hiasan di tengah bising saling tuduh terkait 5.000 senjata ilegal, dan entah mengapa, September menjadi bulan yang penuh dengan ‘kebocoran dokumen’.

Sejak pertama kali memimpin, Jokowi selalu dihadapkan dengan masalah gaduh-gaduh di kabinetnya. Padahal, idealnya, pemerintahan yang baik sudah selayaknya kompak dan kondusif dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Jika sering gaduh, maka akan mengganggu perjalanan pemerintahan itu sendiri.

Publik tentu bertanya-tanya, mengapa kabinet Jokowi terlihat sering gaduh? Mengapa pada pemerintahan sebelumnya, misalnya pada zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), terlihat tidak ada kegaduhan yang berarti?

Jokowi dan Pemerintahan Penuh Kegaduhan

Entah mengapa, dua bulan terakhir adalah bulan-bulan penuh kegaduhan. Mungkin karena momentumnya bertepatan dengan peringatan Gerakan 30 September 1965, sehingga semua tokoh politik berusaha memanfaatkan hal ini dengan sebaik mungkin. Apalagi, Jokowi sering diserang dengan menggunakan isu PKI.

Jika dirunut, publik awalnya disuguhi oleh kegaduhan akibat kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy yang mencuri perhatian dengan program ambisius full day school. Program ini melahirkan ketegangan politik yang melibatkan organisasi Islam NU dan Muhammadiyah.

Kritik saat itu datang dari Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin yang menganggap program tersebut mengancam keberadaan madrasah. Sementara, Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa menyebut kebijakan tersebut sulit berlaku di semua sekolah.

Gaduh Terus di Kabinet Jokowi

Kemudian, ribut-ribut bertambah setelah Partai Amanat Nasional (PAN) dituduh bermain ‘dua kaki’ – tidak jelas antara mendukung atau bertentangan dengan pemerintah – dalam polemik presidential threshold  UU Pemilu. Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) yang berasal dari PAN disebut-sebut akan didepak dari kabinet karena persoalan tersebut.

September ‘berdarah’ dimulai dengan pernyataan Jaksa Agung, M. Prasetyo yang mengkritik kebijakan supervisi KPK dalam rapat dengar pendapat dengan Pansus Hak Angket KPK. Pernyataan tersebut seolah-olah ingin melemahkan kewenangan KPK. Kritik datang dari Sekretaris Kabinet, Pramono Anung yang menyebut pernyataan Jaksa Agung bertentangan dengan keinginan Presiden Jokowi yang ingin memperkuat KPK.

Baca juga :  Kopi Bukan Filosofi tapi Hilirisasi

Lalu, setelah ribut-ribut tentang PKI memanas, Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo mengeluarkan pernyataan bahwa ada institusi non-militer yang memesan 5.000 senjata canggih. Pernyataan Gatot ini mendatangkan sedikit ribut-ribut dengan Menkopolhukam, Wiranto yang secara tegas membantah. Persoalan ini juga menyeret Badan Intelijen Negara (BIN), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), dan Badan Narkotika Nasional (BNN) yang disebut-sebut sebagai pihak yang memesan senjata tersebut.

Menjelang akhir September, ribut-ribut bertambah dengan bocornya dua surat penting. Surat pertama yang bocor berasal dari Menteri Keuangan (Menkeu) kepada Menteri BUMN dan Menteri ESDM terkait kondisi keuangan Perusahan Listrik Negara (PLN) yang sedang dililit utang dalam jumlah yang cukup besar.

Dalam surat tersebut, Menkeu menyebut PLN sedang dalam kondisi yang memprihatinkan dan bahkan bisa bangkrut jika tidak ditangani dengan baik. Namun, hal tersebut dibantah oleh Menteri ESDM yang menyebut kondisi keuangan PLN dalam keadaan yang stabil dan baik-baik saja.

Surat kedua yang bocor adalah surat CEO Freeport, Richard Adkerson kepada Menkeu. Freeport disebut kecewa dengan proposal pemerintah melalui Menteri ESDM yang dinilai tidak sesuai dengan kerangka kesepakatan antara Freeport yang diwakili Adkerson, Menteri ESDM Ignasius Jonan, dan Menkeu, Sri Mulyani Indrawati, beberapa waktu lalu.

Padahal, dalam konferensi pers yang digelar pada waktu itu, Menteri ESDM secara terbuka mengatakan bahwa kesapakatan antara Freeport dan pemerintah sudah terjadi. Freeport juga disebut-sebut ‘marah’ terhadap Jonan karena dalam surat yang dikirimkan ke Menkeu tersebut tidak ada tembusan kepada Menteri ESDM.

Kabinet Ribut, Negara Ruwet

Kegaduhan kabinet ini berimbas pada situasi politik nasional selama bulan September. Polemik tentang senjata misalnya melahirkan perdebatan tentang hubungan militer dan sipil, termasuk melahirkan kritik atas sikap politik Panglima TNI. Perdebatan tentang pretorianisme – atau militer aktif berpolitik juga kembali mengemuka.

Bahkan, pada saat peringatan ulang tahun TNI, Jokowi sampai harus berpidato meminta TNI untuk setia pada pemerintahan yang sah. Permintaan ini tentu sangat memprihatinkan, apalagi dikeluarkan oleh seorang kepala negara sah yang adalah panglima militer tertinggi kepada bawahannya. Hal ini berarti masih banyak pihak – khususnya dari kubu militer – yang mempertanyakan legitimasi pemerintahan Jokowi – seorang sipil yang tidak punya partai politik.

Ribut-ribut ini juga berdampak secara ekonomi. Dampak yang paling terlihat adalah pelemahan nilai tukar rupiah. Kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat pada Juli 2017 lalu sempat menyentuh angka Rp 13.200-an. Kini, nilainya melemah di level Rp 13.600-an.

Walaupun BI menyebut kondisi ini bersifat sementara, namun Bank Dunia pernah mengeluarkan peringatan dampak fluktuasi nilai tukar rupiah, apalagi Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed dipercaya akan menaikan suku bunga.

Baca juga :  Sultan Jogja: Simpul Kuasa Indonesia

Beberapa pihak juga menyebutkan bahwa kegaduhan politik di kabinet ini menyebabkan muncul keraguan dan menurunkan kepercayaan investor. Persoalan yang terjadi pada Freeport juga akan mendatangkan dampak terhadap iklim investasi di Indonesia.

Kabinet kok Gaduh?

Jika berkaca pada pemerintahan-pemerintahan sebelumnya, sangat jarang terjadi kegaduhan yang sangat besar dalam kabinet pemerintahan. Selama dua periode pemerintahan Presiden SBY, tidak ada kegaduhan berarti, apalagi yang menyebabkan terjadinya pertentangan di antara menteri atau pejabat tinggi negara.

Lalu, mengapa pemerintahan Jokowi menjadi rawan kegaduhan?

Alasan yang paling mendasar adalah fakta bahwa pada pemerintahan SBY, kekuatan politik dalam kabinet bersifat tunggal, yakni ada pada sosok SBY itu sendiri. Politik SBY yang berupaya merangkul semua pihak, membuatnya punya kekuatan politik yang besar.

Selain itu, SBY adalah Ketua Partai Demokrat. Ia juga pensiunan militer. Dua faktor itu saja sudah memperkuat posisi politiknya dan membuat kondusif keadaan kabinet.

Jokowi? Selain bukan ketua partai, Jokowi juga bukan berasal dari kelompok militer. Dengan demikian, sangat bisa dipastikan kekuatan politik dalam kabinet Jokowi tidak bersifat tunggal. Jika politik itu diibaratkan dengan seorang koki yang mengaduk adonan roti, pemerintahan SBY hanya punya satu koki.

Sementara, pemerintahan Jokowi punya banyak koki yang saling tunggang menunggang mengaduk roti. Bahkan, ada yang merasa diri paling berhak mengaduk roti. Jokowi terlihat lemah mengahadapi tekanan-tekanan tersebut. Ia ingin mengelak, namun terikat pada kepentingan patron yang lain.

Jika ditelusuri lebih dalam, kabinet Jokowi adalah win-win solution dari semua partai pendukung dengan basis kepentingan politik, bukan ketokohan. Akibatnya, adonan roti pemerintahan Jokowi tidak mengembang dengan bagus karena terlalu banyak yang mengerecoki. Hal ini sebetulnya sudah diprediksi jauh sebelum Jokowi memenangkan Pilpres 2014 lalu.

Gaduh Terus di Kabinet Jokowi
Dengan kondisi kabinet yang berisikan beberapa patron politik, ribut-ribut akan terus terjadi hingga akhir masa jabatan Jokowi (Foto: koran-jakarta.com)

Kubu-kubu politik yang menempatkan wakilnya dalam kabinet Jokowi punya kepentingan yang berbeda-beda. Sebagai presiden, Jokowi tidak mampu mengendalikan patron politik dalam kabinetnya tersebut. Hal ini membuat kabinet Jokowi terlihat punya beberapa kutub. Jokowi memang menjadi penghuni Istana Kepresidenan, namun ia terlihat kesulitan mengontrol para pembantunya sendiri.

Jangankan dengan menteri, dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) saja misalnya, Jokowi masih sering berbeda pendapat. Jangankan dengan partai koalisi, dengan partai utama pendukungnya sendiri pun Jokowi masih sering berbeda pendapat.

Artinya, hingga sisa masa jabatannya berakhir, Jokowi masih akan dihantui oleh persoalan yang sama: kegaduhan di kabinet kerjanya sendiri. Kegaduhan ini pun masih akan terus terjadi hingga 2019 karena persoalan tentang PLN, Freeport, atau Jenderal Gatot yang berpolitik, hingga presidential threshold  masih akan menjadi konsumsi politik hingga 2019 nanti.

Persoalannya tinggal bagaimana Jokowi secara cerdas memainkan instrumen politik yang dimilikinya sebagai presiden untuk mengendalikan patron-patron politik yang mempengaruhi kabinetnya. Apakah akan berhasil? Menarik untuk ditunggu. (S13)

 

 

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

MBG dan Runtuhnya ‘Republik Tepung’

Prabowo melarang telur dadar di program MBG karena rawan dicampur tepung. Mungkinkah kebiasaan "tepung" ini mengancam masa depan bangsa? 

Bongkar Deep State Dapur MBG?

Kepala BGN yang baru, Nanik Sudaryati Deyang krianya mewarisi lebih dari sekadar jabatan, mulai dari ekosistem kepentingan yang telah mengakar hingga probabilitas deep state di balik dapur MBG. Mengapa demikian?

Jersey Oranje Pengubur Luka Sejarah?

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Ketika luka 350 tahun penjajahan berubah jadi dukungan totalitas untuk timnas Oranje — apa yang sebetulnya sedang...

More Stories

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.

Sultan Jogja: Simpul Kuasa Indonesia

Pertemuan Megawati dan Sultan Hamengku Buwono X beberapa hari lalu terlihat seperti silaturahmi biasa — kangen-kangenan setelah lama tak berjumpa. Namun di balik hangatnya obrolan itu, banyak pihak membaca makna lebih dalam: Sultan sekali lagi berdiri di persimpangan politik Indonesia, menjadi titik temu yang tak bisa diabaikan.

Prabowo’s Coffee Theory

Di Rapat Paripurna DPR/MPR, 20 Mei 2026, Prabowo spontan berkelakar mencari kopi saat berpidato – sebuah bahasa politik yang menarik bagi banyak pihak. Bagi seorang presiden, momen itu bukan sekadar kantuk. Itu adalah sinyal politik: bahwa kekuasaan pun butuh jeda, dan kenyamanan tak harus mewah. Kopi adalah simpul sejarah, politik dan kekuasaan Indonesia.