HomeNalar PolitikEkor 'Kritikus' Jokowi

Ekor ‘Kritikus’ Jokowi

Kecil Besar

Kisruh yang disebabkan oleh tulisan John McBeth kini sudah reda. Tetapi bukan berarti penggalian tak berhenti begitu saja.


PinterPolitik.com 

[dropcap]G[/dropcap]unawan Mohammad (GM) langsung menuliskan pernyataannya melalui status Faceboook guna merespon tulisan viral John McBeth. Seolah menghadang pemberitaan buruk yang dijalinnya melalui Asia Times, GM terkesan membela Jokowi di dalamnya.

Dalam tulisannya, Redaktur Senior Majalah Tempo ini berkata bila karya yang dihasilkan McBeth tidak perlu ditanggapi secara heboh. Menurutnya tak ada informasi baru yang dituliskan McBeth dan tulisannya tersebut mudah saja digunakan pihak oposisi untuk menyerang Jokowi.

Lebih jauh lagi, pria berusia 76 tahun ini menambahkan bila jurnalisme McBeth bukan dhasilkan dari investigasi yang penuh kerja keras. “Siapa saja yang membaca Tempo (saya perkirakan McBeth juga baca Tempo edisi Inggris) dapat menemukannya – dan dapat mengutipnya sembari duduk minum bir di rumah, dapat menyiarkannya lagi,” tulisnya.

Terlepas dari apa bentuk pembelaan yang dilakukan GM melalui status Facebook-nya tersebut, sosok McBeth memang tak banyak diketahui selain dari laman Wikipedia dan media terkait. Oleh beberapa pihak yang mencoba menyingkap identitas, relasi, dan afiliasi politiknya, McBeth disebut merupakan pendukung dan dekat dengan Prabowo Subianto, lawan politik Jokowi di Pilpres 2014 lalu.

Lantas bagaimana seluk beluk kedekatan antara John McBeth dengan Sondhi? Serta kedekatan ‘teman-teman’ Sondhi dengan ‘teman-teman Thaksin Shinawatra?

Serang SBY Karena Shinawatra?

Seperti yang sudah dituliskan sebelumnya, selain Jokowi, McBeth juga pernah ‘menyerang’ presiden Indonesia lainnya, yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tulisan panjang mengenai SBY itu, tertuang dalam buku tebal berjudul The Loner yang diluncurkan tahun 2016 silam.

Jika ia menyebut Jokowi ahli pencitraan untuk menutupi kegagalannya, dalam The Loner ia mengupas kelebihan dan kekurangan kebijakan SBY sehingga Indonesia, disebutnya, kehilangan satu dekade di bawah pemerintahannya.

Menariknya, peluncuran buku tersebut dilakukan pada 2016, berdekatan dengan putusan hukuman yang dijatuhkan pada Sondhi Limthongkul, pemilik media Asia Times, tempat di mana McBeth bernaung. Sekedar mengingatkan, selain seorang taipan, Sondhi juga pendiri partai politik Aliansi Rakyat untuk Demokrasi (PAD) yang beroposisi dengan Thaksin Shinawatra.

Sayangnya, setelah bertahun-tahun berjibaku menyerang pemerintahan Thaksin, sampai membentuk aliansi ‘Kaos Kuning’, Sondhi harus melewati percobaan pembunuhan terhadap dirinya dan juga hukuman selama 20 tahun penjara karena dianggap menghina Thaksin Shinawatra.

Baca juga :  Jokowi: Saya akan Lawan! Part 2

Berkebalikan dengan Sondhi, walau Thaksin berhasil dilengserkan dari kursi kepemimpinan, dirinya secara tak langsung masih memiliki kekuasaan di tampuk pemerintahan, sebab pengganti dirinya tak lain dan tak bukan adalah adiknya sendiri, Yingluck Shinawatra.

Yingluck dan Thaksin Shinawatra (sumber: istimewa)

Klan Shinawatra ini, baik Thaksin maupun Yingluck, beberapa kali mendatangi Indonesia di masa pemerintahan SBY. Di tahun 2008, Thaksin secara langsung berkata sangat tertarik untuk berinvestasi di Indonesia. “Karena suksesnya desentralisasi, perkembangan ekonomi sangatlah pesat padahal keadaan perekonomian dunia sedang limbung,” kata Thaksin. Namun keinginan Thaksin tersebut hanya menjadi janji kopong, karena dananya dibekukan oleh pemerintah Thailand.

Kedekatan SBY dengan klan Shinawatra tak hanya dengan pada Thaksin saja, tetapi juga pada penggantinya, Yingluck. Saat kondisi politik Thailand masih bergejolak karena revolusi, Yingluck mengirim surat pada SBY guna mengucapkan terima kasih atas dukungannya kepada pemerintahan demokrasi Thailand. Saat itu, SBY membalas dengan mengungkapkan dukungannya kepada pemerintahan Shinawatra dalam menyelesaikan konflik secara demokratis.

Sebelumnya, Yingluck juga pernah bertemu dengan Presiden SBY di tahun 2011 dan membicarakan berbagai hal. Dari rentetan pertemuan antara klan Shinawatra dengan SBY sejak 2008, sedikit banyak mengisyaratkan hubungan yang lumayan dekat antara SBY dengan klan Shinawatra.

Yingluck dan SBY (sumber: istimewa)

Saat Shinawatra berhasil ‘menjebloskan’ Sondhi ke penjara, tak berapa lama, buku The Loner pun diluncurkan oleh John McBeth. Apakah ini bisa digunakan sebagai manuver penyerangan McBeth karena SBY begitu mendukung dan dekat dengan pihak yang menjebloskan ‘kawan’ McBeth di Asia Times? Tak bisa dibuktikan memang, tetapi tentu saja kemungkinannya  sangat terbuka lebar untuk diinterpretasikan ke sana.

Sebagai tambahan, menurut informasi dari orang terpercaya, klan Thaksin pun tak hanya dekat dengan SBY tetapi juga besan dari salah satu pemimpin partai besar di Indonesia. Bedanya, partai ini adalah partai politik yang memiliki kedekatan signifikan dengan Jokowi.

Bila sebelumnya ia mengkritik SBY habis-habisan dalam The Loner karena ‘diindikasikan’ dengan dengan klan Shinawatra, apakah ‘serangannya’ kepada Jokowi saat ini dimotori oleh kedekatannya dengan pengusaha dari besan politisi tersebut?

Berita dari Mantan Penghuni Freeport

Pertanyaan di atas itu, akan menemui jawaban ‘tidak’, saat mengurai hubungan McBeth dengan istrinya. Mengapa bisa? Ya, alih-alih menyuarakan keberatan yang disebabkan oleh afiliasi personal antara Sondhi – Thaksin dan Yingluck – SBY, kritik McBeth terhadap Jokowi datang karena menyuarakan perspektif para investor.

Baca juga :  "Termul" Pensiun, AI Ambil Alih

Keberpihakan Mcbeth kepada Freeport, sebetulnya tak hanya terjadi dalam tulisan viral Smoke and Mirror saja, tetapi juga di tulisan-tulisan sebelumnya. Dalam dua tulisan tersebut, ia secara spesifik menyebut bahwa kebijakan neoliberalisme adalah kunci kesuksesan Indonesia dan menyalahkan kebijakan ekonomi Indonesia terutama yang terkait dengan perubahan perjanjian dengan Freeport.

Istrinya, Yuli Ismartono, adalah orang yang tak jauh dengan Freeport. Ia pernah menjabat sebagai petinggi Humas Freeport di tahun 1997, sebelum bergabung dengan Majalah Tempo berbahasa Inggris di tahun 2000. Bila dikaitkan dengan kritik GM, mungkin inilah yang dimaksud dengan “investigasi tanpa kerja keras”. Sebab bisa saja informasi yang didapat McBeth adalah dari istrinya sendiri, dan secara tidak langsung berasal dari Tempo di mana GM sebagai salah satu pendirinya.

Selain itu, menurut sumber yang didapat dari seorang wartawan, baik McBeth dan istrinya, sama-sama berhubungan dengan petinggi investor dari Shell dan Inpex, dua perusahaan dari Tiongkok yang dikabarkan bekerjasama dengan Presiden Jokowi dalam membangun Blok Marsela di Maluku. Seperti yang sudah marak diketahui pula, pembangunan di sana menemui ganjalan, sebab keinginan Jokowi membangun pabrik pengolahan onshore, bertabrakan dengan realita matematis yang dihitung oleh para ahli dan petinggi dari Shell dan Inpex.

Dengan demikian, persinggungan dan sikap ‘tak bersahabat’ dirinya terhadap pemerintahan Jokowi, tidak dipengaruhi oleh hubungan besan dari petinggi partai yang mendukungnya tersebut. Sejak awal, ia memang sudah memposisikan dirinya berada di seberang Jokowi dan lebih mendukung sosok Prabowo.

Dalam sebuah tulisan, ia bahkan menyebut jika Prabowo terindikasi fasis, tetapi ia tak korupsi. Bahkan pada Pilpres 2014, ia mantap memuji sosok Prabowo dalam tulisannya. Dari fakta yang ada inilah, sangat wajar jika GM menyebut tulisan McBeth tak perlu mendapatkan tepuk tangan maupun kepalan tinju. Sebab sekali lagi, walau bisa dijadikan sebagai bahan refleksi pemerintah, tulisan McBeth tersebut memang sangat berat sebelah dan informasi yang diangkat sebenarnya tidak ada yang baru. (Berbagai sumber/ A27)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Jangan Remehkan Golput

Golput menjadi momok, padahal mampu melahirkan harapan politik baru. PinterPolitik.com Gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 tunai sudah. Kini giliran analisis hingga euforia yang tersisa dan...

Laki-Laki Takut Kuota Gender?

Berbeda dengan anggota DPR perempuan, anggota DPR laki-laki ternyata lebih skeptis terhadap kebijakan kuota gender 30% untuk perempuan. PinterPolitik.com Ella S. Prihatini menemukan sebuah fakta menarik...

Menjadi Pragmatis Bersama Prabowo

Mendorong rakyat menerima sogokan politik di masa Pilkada? Prabowo ajak rakyat menyeleweng? PinterPolitik.com Dalam pidato berdurasi 12 menit lebih beberapa menit, Prabowo sukses memancing berbagai respon....