HomeNalar PolitikDuel “Raja Game” MbS–Xi?

Duel “Raja Game” MbS–Xi?

Kecil Besar

Audio ini dibuat dengan teknologi AI.

Arab Saudi dan Tiongkok kini tengah bertarung di medan baru: industri game global. Di era digital ini, perebutan pengaruh tak lagi lewat senjata atau minyak, melainkan lewat piksel dan budaya pop.


PinterPolitik.com

Dalam beberapa tahun terakhir, langkah investasi Arab Saudi di industri hiburan global tampak semakin agresif—dan kali ini, sasarannya bukan sepak bola, melainkan industri game. Setelah sebelumnya menggegerkan dunia dengan menghadirkan Cristiano Ronaldo ke Liga Arab Saudi, kini kerajaan di bawah kendali Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MbS) tampak ingin menaklukkan panggung digital.

Melalui Public Investment Fund (PIF), Arab Saudi mengakuisisi saham di sejumlah raksasa industri game seperti EA Games, Take-Two Interactive, Nintendo, Activision Blizzard, hingga Capcom. Nilainya luar biasa: diperkirakan mencapai lebih dari Rp1.200 triliun dalam lima tahun terakhir. Langkah besar ini membuat Arab Saudi bukan hanya pemain baru di dunia game, tapi juga salah satu pemegang saham terbesar di beberapa studio paling berpengaruh di planet ini.

Di balik deretan akuisisi tersebut, ada strategi besar yang mulai terlihat: apakah itu?

17602745530257962043050834639125

Di Balik Ambisi Game Arab Saudi?

Mengapa Arab Saudi tiba-tiba begitu tertarik menanam modal di industri game? Setidaknya ada tiga faktor utama yang menjelaskan fenomena ini: prospek bisnis, diversifikasi ekonomi, dan soft power geopolitik.

a. Prospek Bisnis yang Menjanjikan

Industri game kini menjadi sektor hiburan terbesar di dunia. Menurut laporan Statista, nilai pasar global game pada tahun 2025 diproyeksikan mencapai sekitar Rp3.000 triliun, melampaui gabungan pendapatan industri film dan musik. Dengan pertumbuhan rata-rata di atas 9 persen per tahun, game bukan lagi sekadar hiburan remaja, melainkan arena bisnis strategis yang menghubungkan teknologi, budaya pop, dan ekonomi digital.

Arab Saudi tampaknya memahami potensi ini lebih cepat daripada banyak negara lain. Dengan mayoritas penduduknya berusia muda—sekitar 70 persen di bawah usia 35 tahun—game juga menjadi medium alami untuk menyerap kreativitas, inovasi, dan partisipasi generasi digital. Bagi MbS, ini bukan hanya investasi, tetapi juga cara membangun “ekosistem ekonomi masa depan” di luar minyak.

Baca juga :  Three Kingdoms of PSI?

b. Diversifikasi Ekonomi dan Visi 2030

Faktor kedua adalah agenda diversifikasi ekonomi. Sejak 2016, Vision 2030 menjadi dokumen panduan utama arah pembangunan Arab Saudi. Salah satu tujuannya adalah mengurangi ketergantungan terhadap minyak, yang selama puluhan tahun menjadi sumber utama pendapatan nasional.

Untuk mencapai itu, MbS berupaya menciptakan “pilar-pilar ekonomi baru” di sektor pariwisata, hiburan, teknologi, dan digital. Investasi pada industri game, e-sports, dan creative media masuk dalam agenda besar tersebut. Arab Saudi bahkan telah membentuk Savvy Games Group, anak perusahaan PIF yang khusus berfokus pada investasi global di sektor gaming dan e-sports.

Langkah ini tak hanya memperluas portofolio ekonomi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru bagi ribuan warga muda Saudi. Dalam jangka panjang, kebijakan ini bisa menjadi instrumen penting memperkuat legitimasi politik MbS di dalam negeri.

c. Game sebagai Alat Soft Power

Faktor ketiga—dan mungkin paling menarik—adalah penggunaan industri game sebagai instrumen soft power.
Dalam teori politik internasional, soft power mengacu pada kemampuan suatu negara memengaruhi pihak lain melalui daya tarik budaya, nilai, dan gaya hidup, bukan lewat tekanan militer atau ekonomi.

Dengan menjadi pemilik saham besar di berbagai studio game global, Arab Saudi pada dasarnya sedang membeli panggung budaya digital dunia. Game modern seperti FIFA, GTA, atau Call of Duty bukan hanya produk hiburan; mereka adalah media yang membentuk persepsi, imajinasi, bahkan identitas generasi muda di seluruh dunia.

Melalui jalur ini, Arab Saudi bisa menanamkan citra baru: bukan lagi negara konservatif yang kaku, tapi negara modern yang terlibat aktif dalam budaya global. Strategi ini sejajar dengan kampanye branding nation lainnya—seperti pendirian kota futuristik NEOM atau penyelenggaraan konser dan festival internasional di Riyadh.

Dalam jangka panjang, kepemilikan atas narasi budaya digital bisa menjadi sumber pengaruh yang tak kalah kuat dibandingkan minyak atau diplomasi militer. Dunia mungkin sedang menyaksikan lahirnya bentuk baru diplomasi: game diplomacy.

Baca juga :  Tito Karnavian, Politik “Low Exposure”?
17602750550164656587880994497479

Berhadapan dengan Tiongkok?

Namun, Arab Saudi bukan satu-satunya negara yang melihat potensi politik dan ekonomi di balik industri game. Di Asia Timur, Tiongkok di bawah kepemimpinan Xi Jinping juga tengah menguatkan posisi sebagai kekuatan besar di bidang yang sama.

Tiongkok selama bertahun-tahun telah menjadi rumah bagi raksasa industri seperti Tencent dan NetEase, dua perusahaan yang menguasai sebagian besar pasar game global. Tencent, misalnya, memiliki saham di Riot Games (pencipta League of Legends), Epic Games (Fortnite), hingga Supercell (Clash of Clans). Di sisi lain, NetEase terus memperluas pengaruhnya melalui kerja sama dengan perusahaan-perusahaan Amerika dan Jepang.

Bedanya dengan Arab Saudi, Tiongkok tidak hanya berperan sebagai investor, tapi juga produsen dan regulator. Pemerintah Xi melihat industri game sebagai bagian dari keamanan budaya nasional (cultural security). Game di-manage agar selaras dengan nilai-nilai ideologis penting, sekaligus dijadikan instrumen export culture ke luar negeri.

Jika pada masa Perang Dingin dulu pertarungan budaya terjadi antara Amerika Serikat dan Uni Soviet melalui film, musik, dan propaganda media, maka di era digital kini muncul babak baru: “perang budaya lunak” antara Tiongkok dan Arab Saudi.

Keduanya menggunakan game sebagai senjata halus untuk membangun pengaruh global—Tiongkok lewat produksi dan ekspor konten, Arab Saudi lewat investasi dan kepemilikan modal.

Dalam konteks ini, muncul pertanyaan menarik: siapa yang akan menjadi “raja game” dunia di masa depan—MbS dengan kekuatan dananya, atau Xi dengan kekuatan industrinya?

Mungkin jawabannya tidak sesederhana itu. Dunia digital tidak lagi mengenal batas negara seperti dalam geopolitik klasik. Namun satu hal pasti, industri game kini telah menjadi arena baru perebutan pengaruh global, tempat para pemimpin dunia tak lagi bertarung dengan senjata dan minyak, tetapi dengan piksel, budaya, dan imajinasi. (D74)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jersey Oranje Pengubur Luka Sejarah?

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Ketika luka 350 tahun penjajahan berubah jadi dukungan totalitas untuk timnas Oranje — apa yang sebetulnya sedang...

Xi Jinping, the King of Games?

Tiga miliar manusia bermain game setiap hari — dan sebagian besar tidak tahu bahwa lapangan bermain itu dikuasai oleh Beijing