HomeNalar PolitikDjarot Resmi Gubernur DKI

Djarot Resmi Gubernur DKI

Kecil Besar

Tepat seperti yang dijanjikan, hari ini Djarot Saiful Hidayat akhirnya resmi dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta untuk mengisi sisa masa jabatan hingga Oktober nanti.


PinterPolitik.com

“Saya dipesankan, sebelum pelantikan ini saya ketemu beliau dan saya ngobrol, segera tuntaskan dan standar kita yang paling utama adalah tingkat kepuasan masyarakat.”

[dropcap size=big]U[/dropcap]sai dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Gubernur DKI Definitif di Istana Negara, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (15/6), Djarot Saiful Hidayat mengaku telah dititipkan pesan mengenai tugas barunya sebagai gubernur DKI Jakarta oleh pendahulunya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat mengunjunginya di Rumah Tahanan Markas Komando Brimob, Depok.

Pada pertemuan itu, Ahok mengingatkannya soal tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Pemprov DKI yang sudah mencapai 70 persen. Secara khusus, ia meminta Djarot untuk mempertahankan kepuasan masyarakat itu. Demi mewujudkan pesan itu, kata Djarot, dalam sisa 4 bulan bertugas, ia akan meminta seluruh elemen Pemprov DKI untuk bekerja lebih keras dan cepat.

Pria yang lahir di Magelang, Jawa Tengah, 6 Juli 1962 ini merupakan kader PDI Perjuangan yang juga pernah menjabat sebagai anggota DPR RI periode 2014-2019. Selain itu, Djarot juga pernah bertugas sebagai walikota Blitar (3 Mei 2000- 3 Agustus 2010), anggota DPRD Jawa Timur (1999-2000), dan Wakil Gubernur DKI Jakarta (17 Desember 2014 – 9 Mei 2017).

Setelah pelantikan pun, Djarot berencana kembali membesuk Ahok untuk bersilaturahmi sekaligus berkonsultasi. “Sebelumnya kan sudah ke sana untuk diskusi, dan setelah ini, saya juga akan ke sana juga untuk berdiskusi,” terang Djarot di Balai Kota, usai pelantikan. Ia merasa, posisinya saat ini tak lepas dari kerelaan Ahok yang tak lagi mengajukan banding atas putusan hukumnya.

Baca juga :  RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Keputusan Ahok mengundurkan diri, terangnya, semata-mata untuk kepentingan pembangunan Jakarta. Apalagi kasusnya menyedot perhatian masyarakat luas. “Bagaimana mempercepat penuntasan pembangunan di Jakarta tahun 2017. Dengan pengunduran diri Pak Ahok, maka proses penetapan definitif itu bisa menjadi lebih cepat, karena sisa waktu tidak banyak, 5 bulan dari sekarang kurang,” tambahnya.

Di sisa masa jabatannya ini, Djarot akan mengejar ketertinggalan pekerjaaan yang selama ini telah dikerjakan, seperti pembangunan infrastruktur sarana olahraga Asian Games, Simpang Susun Semanggi, dan pekerjaan 6 Flyover dan Underpass yang ditargetkan rampung tahun ini. “Maka ini harus segera kita kebut, terutama beberapa yang sudah dirancang sebelumnya dan harus selesai tahun 2017,” tukasnya lagi.

Sementara itu, DPRD DKI Jakarta meminta Djarot bekerja cepat menyelesaikan sejumlah permasalahan. “Kebiasaan Pak Ahok itu kan kerja cepat, kerja lapangan, ini harus bisa diimbangi oleh beliau. Saya minta Pak Djarot seperti itu,” kata Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi di sela menghadiri pelantikan Gubernur DKI Jakarta di Istana Negara Jakarta, Kamis (15/05).

Ia mengatakan, program-program yang sudah ada harus diteruskan sampai Oktober 2017. “Kita meminta Pak Djarot harus lebih dari Pak Ahok,” kata Prasetyo. Meskipun hanya menjabat hanya sekitar 4-5 bulan, Gubernur DKI Jakarta agar tidak lemah dalam bersikap dan memutuskan sesuatu. “Biarpun hanya 4-5 bulan, dia sekarang merupakan Gubernur DKI Jakarta.”

Mengenai hubungan yang sebelumnya sempat panas antara DPRD DKI dengan Ahok, Prasetyo menyatakan saat ini tidak ada masalah kemitraan antara legislatif dengan eksekutif dalam pemerintahan di DKI Jakarta. “Saya kira kemitraan tidak ada masalah, dengan Pak Ahok tidak ada masalah, dengan Pak Djarot juga tidak masalah,” tegas Prasetyo sambil mengingatkan kalau saat ini sistem pembahasan anggaran terbuka, sehingga semua orang mengetahui.

Baca juga :  Inul, Naykilla, dan Kebangkitan ‘Centil-isme’

“Kita buka semua, antara eksekutif dan legislatif sudah transparan. Semua rapat di komisi dan badan anggaran terbuka, apapun harus terbuka karena sekarang sudah dikunci dengan e-budgeting, semua sudah transparan dan terstruktur,” tegas Prasetyo yang mengatakan DPRD DKI Jakarta tidak akan mempermasalahkan keputusan gubernur. “Yang penting ayo membangun Jakarta lebih baik,” pungkasnya.

(Berbagai sumber/R24)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

More Stories

Informasi Bias, Pilpres Membosankan

Jelang kampanye, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oposisi cenderung kurang bervarisi. Benarkah oposisi kekurangan bahan serangan? PinterPolitik.com Jelang dimulainya masa kampanye Pemilihan Presiden 2019 yang akan dimulai tanggal...

Galang Avengers, Jokowi Lawan Thanos

Di pertemuan World Economic Forum, Jokowi mengibaratkan krisis global layaknya serangan Thanos di film Avengers: Infinity Wars. Mampukah ASEAN menjadi Avengers? PinterPolitik.com Pidato Presiden Joko Widodo...

Jokowi Rebut Millenial Influencer

Besarnya jumlah pemilih millenial di Pilpres 2019, diantisipasi Jokowi tak hanya melalui citra pemimpin muda, tapi juga pendekatan ke tokoh-tokoh muda berpengaruh. PinterPolitik.com Lawatan Presiden Joko...