HomeNalar PolitikDi Balik Trump Bantu Jokowi

Di Balik Trump Bantu Jokowi

Kecil Besar

Dalam pembicaraannya ketika menghubungi Presiden Joko Widodo (Jokowi) via telepon, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebutkan bahwa AS akan mengirimkan ventilator yang dibutuhkan oleh Indonesia di tengah pandemi virus Corona (Covid-19). Namun, adakah dinamika geopolitik yang terjadi balik tawaran bantuan ini?


PinterPolitik.com

“Make the phone call, feels so good getting what I want” – Charli XCX, penyanyi asal Inggris

Pandemi yang disebabkan oleh virus Corona (Covid-19) kali ini mungkin telah membuat banyak negara kerepotan. Bagaimana tidak? Virus ini bahkan membuat negara-negara besar seperti Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok tak berdaya menghadapinya.

Tiongkok misalnya terpaksa mengalami kontraksi ekonomi dalam kuartal pertama tahun 2020 sebesar 6,8 persen. Tak hanya dampak ekonomi, negara yang dipimpin oleh Presiden Xi Jinping tersebut pun dikabarkan telah kehilangan sebanyak 4.633 jiwa akibat Covid-19. Selain itu, secara total, Tiongkok juga telah melaporkan 82.830 sejak kasus pertama ditemukan.

Namun, Tiongkok ternyata tidak sendirian. AS yang biasa disebut sebagai negara “lawannya” malah menjadi salah satu pusat penyebaran baru dan menjadi tempat bagi jumlah kasus positif terbanyak hingga kini.

Negara yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump tersebut telah melaporkan jumlah kasus positif sebesar 987.322 kasus. Jumlah kematian akibat Covid-19 bisa dibilang tidak sedikit, yakni sebesar 55.415 jiwa.

Layaknya ekonomi Tiongkok, kondisi ekonomi AS juga diprediksi akan memburuk – bahkan dapat dibilang terburuk dalam sejarah. Oxford Economics misalnya memprediksi penurunan tahunan ekonomi AS akan menunjukkan angka 12 persen.

AS sendiri juga dikabarkan kerepotan dalam menangani Covid-19. Bagaimana tidak? Negara digdaya satu ini dikabarkan kekurangan persediaan alat pelindung diri (APD) dan mesin ventilator yang diperlukan untuk merawat pasien Covid-19.

Meski begitu, Presiden AS Trump akhir-akhir ini membanggakan bahwa perusahaan-perusahaan AS kini telah memproduksi ventilator dalam jumlah besar.

Saking bangganya, Trump pun berencana mengirimkan mesin-mesin ini ke berbagai negara lain, seperti Honduras, El Salvador, dan Ekuador. Selain mengirimkannya ke negara-negara Amerika Latin, Presiden AS juga dikabarkan juga menyediakan sebagian untuk Indonesia.

Tak tanggung-tanggung, kabar ini langsung diberitahukan oleh Trump ketika berbicara dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) via sambungan telepon. Pembicaraan teleponnya ini turut disampaikan oleh Presiden AS melalui cuitannya di Twitter.

Cuitan Trump ini sontak membuat beberapa pengikutnya mempertanyakan keputusan itu. Salah satu akun Twitter yang bernama @dvillella menanyakan quid pro quo ­(keuntungan timbal balik) apa yang didapatkan AS dari Indonesia.

Mungkin, pertanyaan yang sama juga timbul dalam tulisan ini. Mengapa tiba-tiba Trump bersedia memberikan mesin ventilator pada Jokowi? Bukannya Presiden AS kini memiliki doktrin politik luar negeri America First yang menempatkan urusan AS sebagai hal yang paling penting? Bila benar begitu, apa yang didapatkan AS dari pemberian ventilator ini?

Baca juga :  Reinkarnasi Ahmad Sahroni?

Jokowi-Trump Makin Lengket?

Keputusan Trump untuk bersedia mengirimkan mesin ventilator untuk Indonesia ini bisa jadi terjadi akibat diplomasi personal yang terjadi antara Trump dan Jokowi. Pasalnya, keduanya tampak mulai dekat dan sering berkomunikasi, baik dalam pertemuan konferensi tingkat tinggi (KTT) maupun via telepon.

Diplomasi personal (personal diplomacy) sendiri sebenarnya bukan merupakan hal baru. Dalam sejarahnya, diplomasi yang didasarkan kedekatan antarpemimpin telah lama dilaksanakan antarnegara.

Tizoc Chavez dalam disertasinya yang berjudul Presidential Parley mendefinisikan diplomasi personal sebagai interaksi yang melibatkan seorang pemimpin negara dengan pemimpin negara lainnya. Istilah ini bahkan biasanya menggambarkan adanya ikatan personal yang terbangun di antara pemimpin-pemimpin negara tersebut.

Salah satu diplomasi personal yang populer dalam sejarah adalah ikatan personal yang terbangun antara Presiden AS Franklin Delano Roosevelt (FDR) dan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill.

Diplomasi personal adalah berbagai macam interaksi yang melibatkan pemimpin negara dengan pemimpin negara lainnya. Biasanya, turut terbentuk ikatan personal di antara keduanya. Share on X

Ikatan personal yang dianggap penting di tengah Perang Dunia II tersebut bahkan turut digambarkan dalam produk-produk budaya populer, seperti dalam film The Darkest Hour (2017) yang mana menunjukkan Churchill menghubungi FDR via telepon secara langsung.

Selain FDR dan Churchill, terdapat kisah sukses diplomasi personal lain yang tercatat dalam sejarah. Philip E. Muehlenbeck dalam tulisannya yang berjudul Kennedy and Touré menjelaskan bahwa Presiden AS John Fitzgerald Kennedy (JFK) membangun diplomasi personal yang sukses dengan negara-negara Afrika.

Di tengah Perang Dingin dengan Uni Soviet, langkah untuk memperluas kerja sama dengan negara-negara Afrika dianggap penting untuk membatasi pengaruh blok Timur.

Maka dari itu, JFK merasa perlu untuk membangun ikatan personal dengan pemimpin-pemimpin Afrika. Bahkan, JFK secara rutin mengadakan pertemuan dengan pemimpin-pemimpin Afrika kala itu.

Salah satu negara yang penting kala itu adalah Guinea yang dipimpin oleh Ahmed Sékou Touré karena terdapat kekhawatiran bahwa negara tersebut dapat menjadi Kuba versi Afrika bila masuk terlalu dalam ke orbit Uni Soviet. JFK akhirnya membangun ikatan dan diplomasi personal dengan Touré.

Bila presiden-presiden AS ini dapat membangun diplomasi personal dengan pemimpin negara lain, bagaimana dengan Trump dan Jokowi?

Pergeseran Geopolitik?

Berkaca dari FDR dan JFK, Trump bisa jadi juga tengah membangun diplomasi personal dengan Jokowi di Indonesia. Pasalnya, kedekatan antara dua pemimpin ini makin terlihat semenjak KTT G20 digelar di Osaka, Jepang, pada Juni 2019 silam.

Keduanya tampak saling berbicara dan – bahkan – Trump sempat menawarkan permen kepada Jokowi. Presiden AS dan Presiden Indonesia kala itu juga tampak dekat dalam sesi foto bersama pemimpin-pemimpin G20.

Tak hanya terjadi di G20, keduanya sempat berencana akan bertemu untuk membahas berbagai kerja sama ekonomi di bidang perdagangan dan pembangunan. Pada Februari lalu misalnya, Trump disebutkan ingin menawarkan proyek-proyek infrastruktur kepada Jokowi, termasuk pembangunan ibu kota negara (IKN) baru di Kalimantan.

Baca juga :  Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Meski begitu, kedekatan yang terbangun antara Trump dan Jokowi ini masih menyisakan pertanyaan. Pasalnya, seperti yang diketahui, Presiden AS kini memiliki orientasi kebijakan yang lebih mementingkan kepentingan AS sendiri.

Lantas, mengapa Trump tampak ingin membantu Jokowi dan menawarkan kerja sama-kerja sama strategis – seperti proyek IKN? Apa kepentingan AS di baliknya?

Apa yang dilakukan Trump kini bisa jadi menandakan adanya pergeseran kekuatan geopolitik di Indonesia. Bila sebelumnya Tiongkok tampak mendominasi investasi dan kerja sama pembangunan infrastruktur, AS bisa jadi kini ingin menjadi negara penantang di Indonesia.

Hal ini bisa saja dipahami sebagai upaya balancing (pengimbangan) pengaruh AS terhadap pengaruh Tiongkok di Indonesia. Layaknya Kennedy, Trump bisa jadi berusaha menggeser pengaruh negeri Tirai Bambu tersebut.

Upaya balancing seperti ini terejawantahkan dalam teori balance of power (BoP) dari perspektif realis di studi Hubungan Internasional. Aristotle Tziampiris dalam tulisannya yang berjudul Balance of Power and Soft Balancing menjelaskan bahwa balancing dilakukan dengan melakukan kebijakan-kebijakan yang bertujuan untuk menyamai, melebihi, atau memblokir kekuatan negara lain.

Guna melakukan kebijakan seperti ini, negara dapat melakukan internal balancing dengan memperbesar kekuatan domestiknya sendiri atau melakukan external balancing dengan membentuk jaringan aliansi dengan negara-negara lain.

Boleh jadi, Trump kini telah melakukan external balancing terhadap kekuatan Tiongkok di Indonesia. Hal ini semakin memungkinkan dengan pukulan ekonomi yang besar bagi Tiongkok akibat pandemi Covid-19.

Upaya menggeser dominasi Tiongkok di Indonesia ini juga terlihat semakin jelas dengan adanya perubahan kebijakan yang diambil oleh pemerintahan Jokowi. Layaknya Kennedy dan Touré, Guinea akhirnya mulai membuka diri terhadap bantuan-bantuan AS meski sebelumnya disebut-sebut menjadi salah satu orbit Uni Soviet di Afrika.

Hal serupa mungkin juga terjadi dalam pembelian persenjataan dan kapal dari Rusia dan Tiongkok yang  telah dibatalkan oleh pemerintah Indonesia. Kabarnya, pemerintah AS menawarkan pembelian pesawat-pesawat tempur canggihnya kepada Indonesia sebagai gantinya.

Selain soal pembelian senjata, kerja sama juga terjadi di bidang moneter dan ekonomi. Baru-baru ini, The Federal Reserve AS (The Fed) sepakat untuk mengadakan repurchasing agreement (repo) senilai US$ 60 miliar dengan Bank Indonesia.

Tentu saja, kerja sama seperti ini bisa jadi tidak hanya berhenti di sini. Jokowi dan Trump sendiri sepakat untuk meningkatkan kerja sama ekonomi pasca-pandemi Covid-19. Siapa tahu, AS dapat menggeser dominansi Tiongkok di Indonesia – melalui proyek infrastruktur dan IKN – ketika hari itu tiba. (A43)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

MBG dan Runtuhnya ‘Republik Tepung’

Prabowo melarang telur dadar di program MBG karena rawan dicampur tepung. Mungkinkah kebiasaan "tepung" ini mengancam masa depan bangsa?