HomeNalar PolitikDeddy Mizwar Siap Maju

Deddy Mizwar Siap Maju

Kecil Besar

Bursa pencalonan gubernur Jawa Barat masih terus bergulir, kini Deddy Mizwar sudah resmi menyatakan dirinya siap maju merebut posisi nomor satu.


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]G[/dropcap]elagat Deddy Mizwar yang ingin maju menjadi Gubernur Jawa Barat pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018, sebenarnya sudah santer terdengar sejak lama. Namun ia menunggu ada partai yang mau mencalonkannya. “Kalau dicalonkan harus siap. Calon Gubernur kecil, mati saja siap,” katanya pongah.

Akhirnya, keinginnya itu tercapai setelah Partai Gerindra menyatakan kesiapannya mengusung aktor yang terkenal melalui film Naga Bonar tersebut. Menurut dia, Partai Gerindra digadang-gadang bakal menyandingkannya dengan Mulyadi yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Provinsi Jawa Barat. “Belum ada calon pasti, kita tunggu saja, tapi kalau dicalonkan siap,” kata Deddy.

Kabar ini juga diklarifikasi oleh Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon, ia mengatakan partainya akan memutuskan kandidat yang akan diusung pada Pilkada Jabar 2018. Soal nama Wagub Jabar Deddy Mizwar, Fadli menilai Deddy memiliki potensi memenangi Pilkada Jabar.

“Sudah ada beberapa kali bertemu. Pada waktunya akan kami putuskan siapa yang kami dukung. Pak Deddy adalah salah satu kandidat yang kita lihat punya kapasitas dan kapabilitas untuk memenangkan Pilgub Jabar,” ujar Fadli di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (3/5/2017).

Walau begitu, Fadli mengatakan Gerindra belum secara resmi mendukung Deddy untuk Pilgub Jabar 2018. Tapi partainya sudah melakukan penjajakan. “Belum secara resmi, tapi sudah penjajakan, tapi nanti secara resmi akan diumumkan,” katanya, sambil menambahkan posisi Deddy sebagai pertahana memiliki peluang yang lebih besar.

Menurut seorang sumber, Deddy berharap pada dukungan Gerindra. “Beliau berharap ada titah ketua umum kami, Prabowo Subianto. Pertemuan sudah dilakukan, namun keputusan belum dikeluarkan,” katanya di gedung parlemen, Jumat (5/5) malam. Namun menurut sang sumber, harapan aktor senior itu tetap tinggi.

Baca juga :  Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Sebelumnya, Partai Gerindra sebenarnya telah secara resmi mengusung Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Barat, Mulyadi sebagai kandidat calon kepala daerah di Pilkada Jawa Barat pada 2018. Keputusan ini diambil berdasarkan hasil Rapat Pimpinan Daerah partai tersebut di Sentul, Bogor, 2 Mei 2017 lalu.

Gerindra sendiri sebenarnya tidak dapat mengusung calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat tanpa berkoalisi dengan partai politik lain. “Masih berbicara, dengan PKS, Demokrat, PBB, semua masih cair,” jelas Deddy. Bila dilihat dari dukungan dari Gerindra berikan padanya di Pilkada sebelumnya, menurut sumber tersebut, ada kemungkinan koalisi antara Dedy Mizwar dan Mulyadi akan terjadi.

“Pintu sih sudah dibuka, tapi keputusan ada di ketua umum,” kata sumber tersebut sambil mengungkapkan kalau pertemuan itu dilakukan di Hambalang, Bogor, Selasa, dua minggu lalu. Menurutnya, DPD Gerindra Jabar saat Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) itu juga memutuskan bahwa DPC di 27 kabupaten/kota mendukung Ketua DPD Gerindra Jabar, dan tidak merekomendasikan nama Deddy Mizwar. “Tapi, rekomendasi DPD tentu bisa berubah jika Ketum kami tidak sepakat,” katanya.

Siapapun yang nantinya akan didukung oleh Gerindra, tentu harus mampu bertarung dengan calon lainnya yang juga kuat dan memiliki pendukung tersendiri. Nama-nama yang kini santer terdengar antara lain, Walikota Bandung Ridwan Kamil yang sudah mendapatkan dukungan dari Partai Nasional Demokrat. Serta Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang mendapatkan dukungan penuh dari partainya, Golkar.

Mengenai pilihan Gerindra yang memilih ‘bercerai’ dengan Ridwan Kamil, Ketua DPD Gerindra Jabar, Mulyadi mengatakan, “RK (Ridwan Kamil) cuma di Bandung saja dan media sosial menangnya,” ejeknya. Meskipun pamor Deddy Mizwar masih di bawah Kang Emil – sapaan Ridwan Kamil, ia yakin kalau para pemilih tradisional akan memilih aktor gaek tersebut.

Baca juga :  Unair, ITB, dan Ilusi Peringkat

Gerindra, tambahnya, juga akan tetap menghormati PKS. Ini berkaitan jika memang ingin mengusung Deddy Mizwar. “Kemungkinan Pak Wagub bisa bersama-sama kita. Tetap kami menghormati PKS yang sedang menghelat Pemilihan Raya (Pemira),” ungkapnya lagi. Saat ini, Gerindra memiliki 11 kursi dan PKS ada 12 kursi, sehingga cukup untuk berkoaliasi karena batas minimalnya 20 kursi.

Pertarungan di Pilkada 2018, khususnya di Jabar, kemungkinan besar akan cukup panas. Apalagi bila benar Gerindra dan PKS akan mengusung Deddy Mizwar, maka akan berhadapan dengan Kang Emil dan Dedi Mulyadi, bila memang Nasdem dan Golkar setuju untuk berkoalisi. Dilihat dari kedua pasangan kandidat ini, siapakah yang akan mampu memimpin Jabar dengan lebih baik? Berikan pendapatmu!

(Berbagai sumber/R24)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

More Stories

Informasi Bias, Pilpres Membosankan

Jelang kampanye, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oposisi cenderung kurang bervarisi. Benarkah oposisi kekurangan bahan serangan? PinterPolitik.com Jelang dimulainya masa kampanye Pemilihan Presiden 2019 yang akan dimulai tanggal...

Galang Avengers, Jokowi Lawan Thanos

Di pertemuan World Economic Forum, Jokowi mengibaratkan krisis global layaknya serangan Thanos di film Avengers: Infinity Wars. Mampukah ASEAN menjadi Avengers? PinterPolitik.com Pidato Presiden Joko Widodo...

Jokowi Rebut Millenial Influencer

Besarnya jumlah pemilih millenial di Pilpres 2019, diantisipasi Jokowi tak hanya melalui citra pemimpin muda, tapi juga pendekatan ke tokoh-tokoh muda berpengaruh. PinterPolitik.com Lawatan Presiden Joko...