HomeNalar PolitikAnies-Sandi Takut Debat?

Anies-Sandi Takut Debat?

Kecil Besar

Kalau pemilih Jakarta memang sudah teguh dengan kata hatinya, maka tidak ada cara yang bisa mengubah pilihan politik rakyat, termasuk debat-debat politik.


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]B[/dropcap]ukan namanya politik jika tidak ada cerita seru dan menarik di balik semua kejadian. Hal yang sama juga terjadi pada menjelang gelaran Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta putaran kedua yang akan diadakan pada 19 April 2017 nanti. Berita terbaru adalah tentang ketidakhadiran pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno (Anies-Sandi) dalam debat jelang Pilgub yang dilaksanakan oleh Kompas TV.

Acara tersebut sedianya dilaksanakan pada Minggu, 2 April 2017 malam. Namun, hingga pukul 19.00 atau waktu acara akan dimulai, pihak Anies-Sandi tidak juga menampakkan diri, sementara pasangan Ahok-Djarot sudah hadir pada acara tersebut. Akhirnya acara yang dipandu oleh presenter Rosianna Silalahi itu pun diubah formatnya dengan hanya Ahok dan Djarot sebagai narasumber pada acara tersebut.

Kejadian tersebut akhirnya mendatangkan berbagai reaksi dan komentar yang bermunculan di media sosial.

Banyak yang menilai Anies-Sandi ‘takut’ menghadapi debat yang disiarkan secara live di TV nasional tersebut.

Atas kejadian tersebut, tim sukses pasangan calon nomor 3 tersebut mengatakan bahwa ketidakhadiran Anies-Sandi merupakan buntut dari adanya perbedaan pandangan mengenai konsep acara yang diselenggarakan, di mana pihak Anies-Sandi tidak setuju dengan adanya pendukung dalam acara debat tersebut.

Selain itu, menurut pihak Anies, acara tersebut seharusnya hanya menghadirkan calon wakil gubernur – Djarot dan Sandi saja. Namun, secara sepihak oleh televisi tersebut disiarkan bahwa acara tersebut juga menghadirkan calon gubernur. Eh, siapa benar, siapa salah?

Entah kesalahan dalam acara ini adalah dari TV penyelenggara atau pun dari tim sukses pasangan calon nomor 3, yang jelas ketidakhadiran Anies-Sandi dalam debat ini menarik perhatian publik. Tercatat dari pengamatan PinterPolitik.com, berita ketidakhadiran Anies-Sandi ini menjadi trending topic di twitter pada minggu malam. Banyak yang menyayangkan ketidakhadiran pasangan ini. Namun, apakah ketidakhadiran pada acara debat ini berpengaruh besar bagi elektabilitas Anies-Sandi?

Anies-Sandi Takut Debat?

Publik bertanya-tanya, mengapa Anies-Sandi tidak datang? Tagar Aniestakutdebat (#AniesTakutDebat) sempat menghiasi twitter pada minggu malam. Tentu agak meragukan kalau menilai televisi seperti Kompas TV melakukan kesalahan komunikasi terkait siapa saja yang harus hadir dalam acara tersebut – walaupun tidak menutup kemungkinan hal tersebut bisa saja terjadi. Lalu, apakah Anies-Sandi memang takut debat?

Tentu jawaban atas pertanyaan tersebut bisa jadi sangat subjektif – apalagi saat ini masyarakat Jakarta sedang terpecah menjadi dua. Namun, jika ingin memposisikan diri secara netral, performa Anies pada debat pertama yang dilaksanakan pada acara Mata Najwa sebetulnya tidaklah buruk, bahkan sangat menjanjikan. Anies tampil dengan percaya diri dan terlihat lebih mendominasi. Sementara Ahok terlihat lebih tenang dan lebih banyak tertawa – hal yang bisa jadi juga merupakan bagian dari strategi politiknya.

Baca juga :  Komprador Gurita Batu Bara

Walaupun demikian, pada beberapa bagian debat tersebut, ada fakta yang membuat Anies menjadi pergunjingan di media sosial, misalnya terkait rumah seharga 350 juta rupiah di daerah Jakarta – yang oleh banyak pihak disebut tidak mungkin ada. Lalu, apakah karena alasan itu Anies tidak datang?

Hal lain yang boleh jadi dianggap sebagai salah satu alasan mengapa Anies-Sandi tidak hadir mungkin karena televisi yang menyiarkan acara ini adalah Kompas TV yang ratingnya tidak setinggi stasiun TV nasional lainnya. Pada akhir tahun 2015 lalu, rating Kompas TV masih berada di angka 0,7%. Angka ini di bawah TV One dan Metro TV yang berada di atas 2 %. Walaupun telah melakukan banyak perubahan dalam siaran dan juga jaringan, mungkin saja Anies-Sandi tidak datang ke acara ini karena menurut mereka Kompas TV tidak punya rating yang tinggi, sehingga tidak terlalu berdampak bagi mereka. Eh, benarkah demikian? Harus dicatat bahwa walaupun tidak punya rating yang tinggi, Kompas TV berada di bawah naungan Kompas Gramedia, salah satu grup media terbesar di Indonesia.

Alasan lain yang paling masuk akal adalah karena Anies-Sandi menganggap debat tidak lagi berkontribusi bagi elektabilitas mereka di Jakarta. Debat atau tidak debat, Anies-Sandi sudah yakin bahwa mereka akan memenangkan kontestasi politik ini. Benarkah demikian?

Apakah Debat Masih Berpengaruh?

Faktanya, sebuah survei dari PolMark Research Center (PRC) mengatakan bahwa preferensi pemilih di Jakarta tidak akan terpengaruh oleh hasil debat. Menurut PRC, alasan utama yang dipilih oleh warga Jakarta untuk memilih pemimpin di ibukota adalah soal agama. Berikut adalah hasil survei PRC tentang variabel-variabel yang dianggap sebagai alasan seseorang memilih gubernur di Jakarta.

Agama menjadi alasan utama seseorang memilih pemimpin di Jakarta. Oleh karena itu, sebaik apa pun performa debat atau gagasan seseorang, mayoritas warga Jakarta tidak akan memilihnya kalau ia berbeda agama dengan pemimpin tersebut. Tentu hal ini menjadi tantangan besar untuk pasangan Ahok-Djarot, mengingat Ahok bukan berasal dari agama mayoritas masyarakat Jakarta. Agama pun masih menjadi alasan utama warga Jakarta untuk tidak memilih seseorang menjadi pemimpin.

Jika mengacu pada hasil survei tersebut, maka makin jelaslah kalau debat pemilihan gubernur tidak terlalu berpengaruh terhadap hasil pemilihan gubernur nanti. Faktor agama yang sangat dominan akan membuat Ahok-Djarot kesulitan memenangkan pertarungan di Jakarta ini. Wow, benarkah demikian? Kalau memang seperti itu, lalu untuk apa debat dilakukan? Toh, masyarakat sudah teguh dengan pilihan politiknya masing-masing.

Debat dalam Kontes Politik

Keberadaan debat dalam kontes politik seperti pilpres atau pilkada sebetulnya adalah cara calon-calon yang bertarung untuk mensosialisasikan visi, misi serta program-program kerja yang ingin dilakukannya. Debat juga berpengaruh untuk menarik hati para pemilih yang belum menentukan pilihan politiknya (undecided voters).

Baca juga :  The One-Man Band

Walaupun tidak berdampak signifikan, namun performa debat bisa menaikan atau menurunkan tingkat elektabilitas seseorang sampai beberapa persen. Penampilan yang tidak meyakinkan dalam debat juga membuat seorang calon pemimpin bisa jadi kehilangan suara.

Hal ini bisa dilihat dari performa debat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada putaran pertama pilgub Jakarta. Survei yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada akhir Januari 2017 lalu menunjukkan ada penurunan elektabilitas AHY akibat performa yang kurang baik dalam debat. Sebelum debat pilgub, elektabilitas AHY berada pada angka 30,8 % di bulan Desember 2016. Setelah debat pilgub, elektabilitasnya merosot menjadi 22,5 %. Hal yang sama terjadi pada pemilihan presiden Amerika Serikat pada November 2016 lalu. Saat debat terakhir, elektabilitas Hillary Clinton mengalami penurunan hingga 3 %.

Selain dari konten debat itu sendiri, faktor lain yang dianggap berpengaruh adalah tentang media spin atau analisis-analisis yang dibuat berdasarkan konten debat yang dibicarakan. Bahkan, media spin berperan sama besarnya dengan isi debat itu sendiri. Media spin itu saat ini sedang dialami oleh Anies ketika pernyataannya tentang rumah 350 juta rupiah di debat pertama menjadi bulan-bulanan di media massa dan media sosial.

Terlepas dari hal tersebut, jika menggunakan parameter survei PRC tentang alasan seseorang memilih pemimpin, maka debat tentu saja tidak akan banyak berpengaruh terhadap preferensi pemilih. Kalau pemilih Jakarta memang sudah teguh dengan kata hatinya, maka tidak ada cara yang bisa mengubah pilihan politik – tidak juga debat sekalipun. Lalu, untuk apakah berdebat lagi?

Masih Pentingkah Bebat Pilgub Jakarta?

Debat dalam kontestasi politik secara fungsional berperan sebagai bagian dari cara calon-calon yang bersaing untuk memaparkan visi, misi dan program. Oleh karena itu, keberadaan debat sangat penting dalam proses demokrasi.

Debat memungkinkan masyarakat untuk menilai seberapa meyakinkan calon pemimpin dengan gagasan-gagasan politiknya dan bagaimana cara gagasan tersebut dieksekusi. Selain itu, debat juga menjadi bagian dari transparansi agenda politik. Debat membantu masyarakat melihat bagaimana calon pemimpin mempertanggungjawabkan rencana-rencana yang dibuatnya dan bagaimana pertanggungjawabannya tersebut mampu menarik hati para pemilih.

Namun, jika berhadapan dengan masyarakat yang loyal terhadap sosok pemimpin tertentu dan kuat secara identitas (memilih pemimpin berdasarkan suku, agama, ras), maka debat politik sesungguhnya sulit dipakai sebagai acuan untuk meramalkan hasil pemilihan pemimpin. Masyarakat mungkin puas terhadap kinerja Ahok, namun jika berhadapan dengan preferensi identitas pemimpin, maka sulit membayangkan Ahok bisa memenangkan kontestasi politik di Jakarta.

“Winners never quit and quitters never win”.

Kata-kata ini diucapkan oleh Vince Lombardi (1933-1970) – mantan atlet dan pelatih American Football. Anies-Sandi memang tidak datang pada debat di Kompas TV – hal yang sama juga pernah dilakukan oleh AHY pada debat di salah satu stasiun TV. Lalu, apakah kekalahan yang dialami oleh AHY akan terjadi pada Anies dan Sandi juga? Menarik untuk ditunggu. (S13)

 

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

More Stories

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.