HomeHeadlineAnies Bagaikan Guardiola?

Anies Bagaikan Guardiola?

Kecil Besar

Calon presiden (capres) nomor urut 1 Anies Baswedan tampaknya menerapkan strategi menyerang dalam dua edisi debat capres kemarin dengan tujuan untuk menutupi kekurangannya terkait data. Benarkah demikian?


PinterPolitik.com

“When you have the ball, that is the best way to defend.” – Pep Guardiola

Dalam dunia sepak bola terdapat dua strategi yang biasanya diterapkan dalam sebuah pertandingan, yakni bertahan dan menyerang.

Permainan menyerang dan bertahan seringkali menjadi perdebatan mengenai mana yang lebih baik. Mereka para pengguna dan juga para penikmat permainan menyerang lebih berpikir idealis, sedangkan penikmat permainan bertahan lebih terkesan realistis.

Di sepak bola juga terkenal adagium “menyerang adalah pertahanan yang baik”, dan salah satu pelatih yang sukses dengan idealisme permainan menyerang dalam sepak bola adalah Pep Guardiola.

Dengan permainan menyerangnya, Guardiola tidak hanya berhasil menghibur jutaan pasang mata penikmat sepak bola, tapi juga berhasil memenangkan banyak gelar bergengsi.

anies on the offense

Sementara itu, dalam dunia politik, persaingan antar capres bisa kita ibaratkan sebagai pertandingan sengit di lapangan sepak bola.

Mirip dengan tim sepak bola yang menerapkan strategi menyerang untuk mencetak gol, para calon presiden (capres) juga perlu merancang dan menerapkan strategi agresif untuk memenangkan hati pemilih.

Capres nomor urut 1 Anies Baswedan yang memberi nama tim suksesnya dengan nama Timnas, dan identik dengan sepak bola tampaknya juga sedang menerapkan strategi menyerang di sepak bola ala Guardiola dalam dua edisi debat capres lalu.

Strategi itu bisa di lihat dari Anies yang cukup ofensif dalam memberikan pertanyaan dan pernyataan kepada capres nomor urut 2 Prabowo Subianto.

Bahkan, Anies sudah menerapkan strategi serangan itu sejak penyampaian visi misi dalam dua edisi debat capres.

Sama seperti di sepak bola, para penonton debat ada yang menyukai serangan-serangan yang dilancarkan Anies ke Prabowo. Tapi, ada juga yang menganggap Anies terlalu berlebihan.

Apapun itu, tak dapat dipungkiri strategi yang Anies terapkan dalam debat itu bisa dikatakan berhasil untuk memenangkan impresi “pertandingan” dalam dua edisi debat capres.

Dengan strategi menyerangnya, Anies berhasil memancing Prabowo untuk melakukan kesalahan, yakni mengontrol emosi, dan juga berhasil menutupi ketidaktahuan Anies dalam materi debat.

Baca juga :  Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Lantas, mengapa Anies memilih untuk melakukan strategi menyerang itu dalam debat capres?

Demi Simpati Publik?

Sempat dipuji dalam debat capres edisi pertama, penampilan Anies dalam debat terakhir capres pada minggu (7/1) malam menimbulkan banyak kontroversi.

Di antaranya Anies dituduh untuk menyerang sisi personal Prabowo dalam debat, hingga dinilai banyak kekeliruan data yang Anies ungkapkan untuk menyerang Prabowo.

Namun, Sun Tzu dalam bukunya The Art of War menulis jika “Attack is the secret of defense, defense is the planning of an attack”. Serangan adalah rahasia dari pertahanan dan pertahanan adalah bagian dari rencana penyerangan.

Dalam konteks Anies, dirinya kiranya sadar akan kurangnya pengetahuan yang dia miliki dalam beberapa tema debat, sehingga dia lebih memilih untuk melakukan serangan terlebih dahulu sebelum dirinya diserang karena tampak tidak terlalu menguasai tema debat.

Strategi ini kiranya cukup berhasil Anies lakukan, mengingat munculnya impresi positif dari publik pasca debat.

Profesor Ilmu Politik di California Institute of Technology, R. Michael Alvarez, dalam tulisannya Why Do Politicians Always Attack Each Other?, menjelaskan bahwa kampanye negatif, yakni menyerang kelemahan lawan politik adalah cara paling ampuh untuk menarik simpati publik.

Dengan memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Prabowo sebelum bersaing dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, Anies kiranya cukup mengetahui kelemahan Prabowo, salah satunya kelemahan dalam mengelola emosi.

Hal ini terbukti dari Anies yang tampaknya selalu berhasi memancing emosi Prabowo untuk mengaburkan semua materi yang sudah dipersiapkan sebelum debat.

Bisa dikatakan, Anies berhasil memancing Prabowo untuk melakukan kesalahan sendiri dengan tidak mengontrol emosionalnya.

Belum lagi, beberapa kebijakan Prabowo ketika menjadi Menteri Pertahanan (Menhan) yang juga menjadi tema debat menjadi sasaran empuk bagi Anies untuk membuat citra Prabowo di hadapan publik negatif.

Dengan begitu, Anies berhasil menarik simpati publik kepada dirinya dan memberikan impresi negatif ke Prabowo yang dinilai sebagai pemimpin emosional dan tidak bisa menjadi Menhan yang baik.

Baca juga :  Anies dan Dark Side of The Moon

Lalu, mengapa Anies memilih untuk menyerang Prabowo dalam debat?

bumerang silet anies ke prabowo

Prabowo Paling Mudah Diserang?

Anies sebenarnya memiliki kedekatan dengan Prabowo secara personal, mengingat Prabowo adalah pihak yang mengusung Anies dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017 lalu.

Namun perlu diingat, dalam politik ada adagium “tidak ada politik yang abadi” sehingga kedekatan Anies dan Prabowo sebelum Pilpres 2024 seolah tidak pernah terjadi sebelumnya.

Leopoldo Fergusson dan kawan-kawan dalam tulisan mereka yang berjudul The Need for Enemies menjelaskan aktor politik, baik yang berkuasa maupun tidak, akan selalu membutuhkan sosok musuh untuk mempertahankan keunggulan politik mereka, dan demi mempertahankan atau menciptakan dukungan politik.

Hal ini karena sejatinya mayoritas para aktor politik dipilih untuk menyelesaikan suatu permasalahan.

Menariknya, alih-alih menyelesaikannya dengan cepat, Fergusson dan kawan-kawan melihat para aktor politik pasti akan mencari alasan agar permasalahan itu dapat terus terjadi.

Tujuannya adalah agar khalayak dan para target konstituen tetap memiliki alasan untuk melihat bahwa mereka masih membutuhkan kinerja aktor politik itu sebagai tempat berbagi kesamaan persepsi, representasi, serta penyalur aspirasi.

Dengan kata lain, “musuh” dalam politik sesungguhnya berperan sebagai justifikasi agar kekuatan yang dominan tetap memiliki alasan untuk melancarkan kepentingan-kepentingannya.

Anies yang membutuhkan musuh untuk diserang dalam debat memilih Prabowo sebagai sosok itu untuk mendapatkan dukungan politik dan menutupi dirinya yang tampaknya tidak menguasai tema debat.

Anies kiranya menjadikan Prabowo sebagai alasan untuk para pemilih di Pilpres 2024 memilih dirinya agar kepentingannya menjadi RI-1 dapat tercapai.

Well, dalam konteks debat capres, menerapkan strategi menyerang seperti di sepak bola dapat memberikan pandangan yang menarik dan berguna.

Analogi ini dapat mengilustrasikan pentingnya perencanaan, koordinasi, dan adaptabilitas dalam meraih kemenangan.

Menarik untuk ditunggu strategi debat Anies dalam debat capres terakhir nanti yang akan dilaksanakan pada 4 Februari 2024 mendatang.

Apakah Anies akan menerapkan strategi yang sama, atau justru Prabowo yang dapat membalikkan keadaan? Patut ditungggu debat capres terakhir nanti. (S83)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

More Stories

Ketua DPR, Golkar Lebih Pantas? 

Persaingan dua partai politik (parpol) legendaris di antara Partai Golkar dan PDIP dalam memperebutkan kursi Ketua DPR RI mulai “memanas”. Meskipun secara aturan PDIP paling berhak, tapi beberapa pihak menilai Partai Golkar lebih pantas untuk posisi itu. Mengapa demikian?

Anies “Alat” PKS Kuasai Jakarta?

Diusulkannya nama Anies Baswedan sebagai calon gubernur (cagub) DKI Jakarta oleh PKS memunculkan spekulasi jika calon presiden (capres) nomor urut satu ini hanya menjadi “alat” untuk PKS mendominasi Jakarta. Benarkah demikian?

Pemilu 2024, Netralitas Jokowi “Diusik” PBB? 

Dalam sidang Komite Hak Asasi Manusia (HAM) PBB, anggota komite Bacre Waly Ndiaye mempertanyakan netralitas Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait lolosnya Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden (cawapres) dari Prabowo Subianto. Lalu, apa yang bisa dimaknai dari hal itu?