HomeHeadlineAmbalat: Awas Siasat Anwar?

Ambalat: Awas Siasat Anwar?

Kecil Besar

Malaysia mengganti nama Ambalat menjadi Laut Sulawesi, memicu reaksi keras dari warganet Indonesia. Apakah langkah ini murni soal peta, atau ada siasat politik di baliknya?


PinterPolitik.com

“Dalam politik tidak ada masa untuk kita rasa letih atau kecewa sehingga matlamat perjuangan itu tercapai.” – Anwar Ibrahim, Perdana Menteri ke-10 Malaysia

“Lho, kok namanya diganti?” tanya Cupin sambil memelototi peta maritim. Nama yang selama ini dikenal sebagai Ambalat kini resmi disebut Laut Sulawesi oleh Malaysia.

Ambalat adalah blok laut strategis di Laut Sulawesi yang sejak lama diperebutkan Indonesia dan Malaysia, khususnya Blok ND6 dan ND7. Langkah mengganti nama ini bukan sekadar kosmetik, melainkan memiliki makna politik yang dalam.

Kementerian Luar Negeri Malaysia beralasan bahwa “Ambalat” adalah istilah buatan Indonesia yang menguatkan klaim Jakarta. Mereka meminta semua warga dan pejabat Malaysia memakai istilah Laut Sulawesi, sesuai peta maritim Malaysia 1979 dan putusan Mahkamah Internasional tahun 2002 tentang Sipadan–Ligitan yang memenangkan pihak Malaysia.

Bagi Indonesia, Ambalat bukan sekadar titik di peta. Ia adalah simbol kedaulatan sekaligus sumber daya yang kaya, dan penggantian nama itu dinilai sebagai bentuk klaim sepihak yang perlu dilawan.

Ketegangan pun kembali mencuat. Dari diplomasi meja bundar hingga sorotan publik, isu nomenklatur ini mempertebal aroma persaingan dua negara bertetangga.

Cupin mengerutkan dahi sambil bertanya mengapa perubahan nama ini memicu reaksi keras. Apakah sebenarnya yang diperebutkan lebih dari sekadar nama di peta, dan apakah faktor ekonomi menjadi alasan yang membuat Ambalat begitu penting?

Ekonomi Politik di Ambalat?

Cupin kembali membuka catatan dan mulai memahami bahwa perebutan wilayah ini bukan hanya soal kedaulatan, tetapi juga soal sumber daya. Ambalat memiliki cadangan minyak dan gas yang cukup besar untuk membuatnya menjadi incaran dua negara.

Namun, jika dibandingkan dengan blok Rokan di Sumatera atau Mahakam di Kalimantan Timur, nilainya relatif kecil. Bahkan Blok Cepu di Jawa Timur jauh lebih produktif dan menguntungkan bagi Indonesia, seperti yang pernah diuraikan dalam Jurnal Hukum Internasional terbitan 2024.

Walau nilainya tidak sebesar blok migas lainnya, keberadaan Ambalat tetap signifikan dalam peta geopolitik kawasan. Di dunia politik internasional, wilayah kecil sekalipun dapat menjadi simbol besar kedaulatan.

Penulis dan pengamat hubungan internasional, James Ligunjang, dalam tulisannya Understanding the Ambalat Dispute between Malaysia and Indonesia and the Path to Resolution menjelaskan bahwa sengketa ini menyentuh tiga hal utama: kedaulatan, hak atas sumber daya, dan hukum maritim internasional. Itulah sebabnya pembahasan opsi joint development sering muncul di meja negosiasi.

Pemerintah kedua negara pernah mencoba memadukan kepentingan melalui rencana pengembangan bersama. Namun, selama klaim kedaulatan belum tuntas, semua rencana itu masih berhenti pada tahap wacana.

Tulisan di Jurnal Hukum Internasional juga menyebut bahwa sengketa Ambalat punya dimensi politik domestik. Di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, isu ini bahkan digunakan untuk mengalihkan sebagian tekanan politik dalam negeri. Politik luar negeri kadang memang menjadi cermin dinamika dalam negeri.

Cupin lalu bertanya-tanya apakah pola serupa bisa terjadi di Malaysia seperti yang pernah terjadi di Indonesia. Bagaimana seorang pemimpin seperti Anwar Ibrahim mengatur langkahnya untuk mengubah sengketa ini menjadi alat politik yang menguntungkan?

Awas Siasat Anwar Ibrahim?

Cupin membaca berita terbaru tentang situasi politik di Malaysia. Perdana Menteri Anwar Ibrahim sedang menghadapi tekanan politik domestik yang besar, dan isu Ambalat muncul sebagai instrumen strategis untuk memperkuat posisinya.

Oposisi menuntut sikap keras terhadap Indonesia terkait kedaulatan. Anwar memilih langkah yang seimbang: mempertahankan klaim, namun tetap menjaga hubungan bilateral yang baik.

Dalam beberapa pernyataannya, Anwar menegaskan komitmen untuk mempertahankan Sabah dan wilayah terkait. Meski begitu, ia membuka peluang kerja sama ekonomi melalui opsi joint development, sebuah pendekatan yang juga pernah disinggung James Ligunjang dalam analisisnya.

Pertemuan Anwar dengan Presiden Prabowo Subianto pada Juni 2025 menjadi momen penting. Kedua pemimpin mencapai kesepakatan prinsip untuk mempercepat kerja sama ekonomi di wilayah Ambalat, meskipun klaim kedaulatan masih terus dibicarakan. Pandangan dari Jurnal Hukum Internasional menunjukkan bahwa kombinasi diplomasi ekonomi dan isu kedaulatan memang sering menjadi strategi efektif di kawasan ini.

Bagi Anwar, strategi ini bukan hanya soal mempertahankan wilayah, tetapi juga mempertahankan kepercayaan rakyatnya. Sengketa Ambalat pada akhirnya menjadi panggung di mana kedaulatan dan citra kepemimpinan diuji sekaligus dipertontonkan. (A43)


Baca juga :  Chip yang Belum Pernah Terbang
spot_imgspot_img

#Trending Article

BGN and the ‘Nurturing’ Nanik

Prabowo tunjuk Nanik S. Deyang sebagai Kepala BGN baru. Mampukah sentuhan perempuan menyembuhkan dapur 60 juta porsi yang sedang sakit? 

Driver Ojol Sang Marhaen Modern

Simbolisme Marhaen kini bergeser ke kisah Fatimah Iryanti. Seratus tahun lalu, Soekarno menemukan wajah kemiskinan di sawah yang kering. Hari ini, wajah itu duduk di jok motor, menanggung terik kota, mengantar pesanan demi pesanan yang surplusnya tidak pernah benar-benar sampai ke tangannya.

Ipul Quiet Power, Imin Quite Stuck?

Head-to-head menarik terkonstruksi dengan Muhaimin Iskandar, seiring impresi Gus Ipul yang membangun kedekatan dengan lingkar Istana, mengawal Sekolah Rakyat, dan mengakumulasi modal simbolik secara “senyap”.

“Termul” Pensiun, AI Ambil Alih

Mereka tidak mencoba meyakinkan Anda. Mereka hanya perlu meyakinkan Anda bahwa semua orang lain sudah setuju. AI akan mengambil posisi Buzzer Konvensional. Mereka tidak bergerak dengan ratusan akun, mereka bergerak dengan ribuan atau jutaan akun. Manusia biasa tidak mungkin bisa melakukannya. Selamat Datang di fenomena AI SWARM. 

Sultan Jogja: Simpul Kuasa Indonesia

Pertemuan Megawati dan Sultan Hamengku Buwono X beberapa hari lalu terlihat seperti silaturahmi biasa — kangen-kangenan setelah lama tak berjumpa. Namun di balik hangatnya obrolan itu, banyak pihak membaca makna lebih dalam: Sultan sekali lagi berdiri di persimpangan politik Indonesia, menjadi titik temu yang tak bisa diabaikan.

Nadiem dan Senjata Karet UU Tipikor?

Karena yang sesungguhnya sedang diuji bukan hanya niat seorang menteri. Yang sedang diuji adalah seberapa jauh rumusan hukum Indonesia mampu membedakan antara keputusan yang koruptif dengan keputusan yang keliru.

Jokowi: Saya akan Lawan! Part 2

Seorang pria dari Solo itu tidak akan pernah diam sampai permainan “catur” politiknya menang lagi. Langkah politik yang akan dipersiapkan seolah ia teriak kembali “Saya akan lawan!” untuk yang kedua kalinya. 

Balada Negeri Ormek

Indonesia memiliki satu keunikan politik: banyak politisi dan pejabatnya lahir dari organisasi mahasiswa. Mengapa kondisi ini bisa terjadi?

More Stories

BGN and the ‘Nurturing’ Nanik

Prabowo tunjuk Nanik S. Deyang sebagai Kepala BGN baru. Mampukah sentuhan perempuan menyembuhkan dapur 60 juta porsi yang sedang sakit? 

Djojohadikusumo-Baswedan Bertemu di 33

Prabowo menyebut Pasal 33 sebagai cetak biru ekonomi RI. Namun, sebenarnya, siapa saja yang merumuskan pasal itu? 

Habibie: Varian ‘Dinasti Teknokrat’?

28 tahun setelah Habibie jadi presiden, putranya kini masuk arena politik. Apakah ini dinasti baru atau sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya?