HomeNalar PolitikAlasan Australia Dekati Jokowi

Alasan Australia Dekati Jokowi

Kecil Besar

Pandemi global yang disebabkan oleh virus Corona (Covid-19) tampaknya tak buat Australia diam dalam menerapkan politik luar negerinya di Indonesia. Kira-kira, gerak-gerik apa yang tengah disiapkan oleh negara tetangga satu ini dalam mendekati pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)?


PinterPolitik.com

“We got a love-and-hate relationship, I know. But I’ll keep you on my mind, no matter where I go” – Big K.R.I.T., penyanyi rap asal Amerika Serikat

Mungkin, takdir akan realitas memang tak dapat ditentukan secara pasti. Seperti apa yang banyak dikatakan orang-orang, manusia hanya dapat berencana tetapi Tuhan yang menentukan.

Ungkapan umum semacam ini sepertinya juga berlaku di dunia politik. Lagi pula, siapa juga yang memangnya bisa memastikan apa yang dapat dan akan terjadi di dunia yang penuh dengan intrik kepentingan tersebut?

Bisa dibilang, politik merupakan dunia yang dipenuhi dengan situasi dan dinamika yang tak pasti. Saking dinamisnya, terkadang, teman dapat menjadi musuh dan, begitu juga sebaliknya, lawan dapat menjadi kawan.

Hubungan yang kompleks seperti ini biasa juga disebut dengan istilah “love-and-hate relationship”. Meski sebenarnya saling membenci, tanpa disadari ada sisi terdalam di benak hati yang ternyata menyukai sebagian dari orang yang kita benci.

Iron Man dan Captain America dalam film Captain America: Civil War (2016) misalnya menunjukkan bahwa kedua teman dekat ternyata dapat sangat saling membenci dalam beberapa momen tertentu. Meski begitu, saling benci seperti ini berhasil disisihkan demi kepentingan bersama untuk melawan Thanos di kemudian hari.

Love-and-hate relationship serupa tampaknya juga mengisi dinamika politik luar negeri. Siapa sangka bahwa Indonesia dan Australia ternyata kini dapat menjadi “sahabat karib” meski sebelumnya kerap saling berbeda pendapat?

Coba kita ingat kembali. Dalam beberapa kesempatan, Australia menjadi “musuh” bagi sebagian masyarakat Indonesia. Soal penyadapan yang terjadi beberapa tahun silam misalnya, sentimen anti-Australia banyak disuarakan di media sosial oleh warganet.

Meski persoalan masa lampau itu tetap ada di memori, tampaknya pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dan pemerintahan Scott Morrison kini malah memutuskan untuk menjalani jenjang hubungan lebih lanjut.

Bagaimana tidak? Di tengah pandemi virus Corona (Covid-19), Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto dan Mendag Australia Simon Birmingham beberapa waktu lalu sepakat untuk melanjutkan tahap final ratifikasi perjanjian dagang bertajuk Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).

Berdasarkan klaim keduanya, implementasi IA-CEPA yang akan mulai berlaku pada 5 Juli 2020 ini dapat membantu pemulihan ekonomi pasca-pandemi, baik bagi Indonesia maupun bagi Australia. Pasalnya, selain meminimalisir tarif ekspor antarnegara, IA-CEPA disebut turut memberikan program peningkatan sumber daya manusia (SDM) seperti vokasi dan magang.

Mungkin, IA-CEPA ini bak penyelamat dalam love-and-hate relationship antara Indonesia dan Australia. Namun, kerja sama ekonomi dan perdagangan ini bukan berarti tidak menimbulkan beberapa pertanyaan.

Baca juga :  Jebakan Logika Bedah Kasus Nadiem?

Mengapa Australia ingin terlibat dalam perjanjian dan kerja sama seperti IA-CEPA dengan Indonesia? Lantas, apa artinya kerja sama ini bagi hubungan love-and-hate Australia dengan Indonesia?

Karena Tiongkok?

Meski Australia telah lama memiliki hubungan yang fluktuatif dengan Indonesia, bukan tidak mungkin negara kanguru tersebut memiliki alasan tertentu untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan pemerintahan Jokowi. Boleh jadi, hal ini disebabkan oleh pengaruh negara lain.

Negara tersebut adalah Republik Rakyat Tiongkok. Negara yang identik dengan hewan panda ini digadang-gadang menjadi salah satu calon negara terkuat di dunia – menjadi penantang bagi Amerika Serikat (AS).

Luasnya pengaruh negara ini bisa dilihat dari bagaimana banyaknya negara yang kini hidup di bawah bayang-bayang Tiongkok. Negara-negara Pasifik Selatan misalnya semakin ke sini semakin memiliki hubungan yang dekat dengan negara Tirai Bambu tersebut.

Bisa jadi, luasnya bayang-bayang pengaruh Tiongkok kini membuat Australia semakin khawatir. Share on X

Padahal, kawasan tersebut sebelumnya dikenal berada di bawah pengaruh Australia. Pasalnya, sebagai negara terbesar di kawasan Pasifik Selatan, Australia bisa dibilang adalah pemimpin alamiah bagi kawasan itu.

Mungkin, kawasan Pasifik Selatan ini kini menjadi salah satu “medan tempur” yang krusial antara Australia dan Tiongkok. Bagaimana tidak? Tiongkok kini malah menjadi negara yang banyak menawarkan proyek dan pinjaman bagi negara-negara kecil berbentuk kepulauan tersebut.

Bisa jadi, luasnya bayang-bayang pengaruh Tiongkok kini membuat Australia semakin khawatir. Kekhawatiran juga menguat dengan banyaknya properti dan infrastruktur di negara kanguru tersebut yang turut dimiliki oleh Tiongkok.

Di bidang perdagangan, Australia juga semakin memiliki hubungan yang erat dengan negara yang dipimpin oleh Presiden Xi Jinping tersebut. Bahkan, mungkin, negara Tirai Bambu tersebut telah menjadi salah satu rekan dagang terbesarbagi Australia.

Meski hubungan keduanya tampak dekat, siapa sangka ternyata Australia dan Tiongkok memiliki hubungan love-and-hate relationship juga? Seperti yang diungkapkan oleh mantan Perdana Menteri (PM) Australia Malcolm Turnbull dalam memoirnya, negara Tirai Bambu itu patut dilihat sebagai teman sekaligus musuh (frenemy).

Dari sini, mungkin kita dapat menyadari bahwa – sesuai penjelasan A.F.K. Organski dengan bukunya yang berjudul World Politics – Tiongkok dianggap berbeda dengan AS dan negara-negara Barat lainnya – disertai dengan nilai-nilai iliberal yang dibawanya. Kemunculannya sebagai negara penantang bagi AS boleh jadi membuat Australia turut cemas – apalagi letak geografisnya yang terbilang jauh dari AS dan Eropa.

Rasa cemas tentunya akan membuat seseorang mencari jalan keluar agar ketenangan dapat kembali lagi. Dalam hal ini, apa yang akan dilakukan Australia guna menghadapi Tiongkok? Ke mana Australia akan mencari pertolongan?

Indonesia, Harapan Australia?

Meskipun Australia memiliki love-and-hate relationship dengan Indonesia, negara kanguru tersebut tampaknya kini membutuhkan porsi love yang lebih besar dibandingkan hate. Mungkin, porsi hate yang dimiliki oleh Australia terhadap Tiongkok membuat negara ini kini memikirkan opsi-opsi baru.

Tak dapat dipungkiri bahwa Indonesia kerap dilihat sebagai ancaman oleh Australia. Secara alamiah, Indonesia yang sulit diprediksi membuat negara yang dipimpin oleh PM Scott Morrison itu selalu memikirkan worst scenario (skenario terburuk) dalam hubungan tetangga tersebut.

Baca juga :  Jalan-jalan dengan Sepatu Roda 'Girl Power'

Bagaimana tidak? Indonesia merupakan satu-satunya negara dengan wilayah luas yang menjadi ancaman terdekat bagi Australia. Dengan ancaman sedekat ini, negara kanguru tersebut sudah pasti merasa hati-hati bila konflik suatu saat dapat meletus.

Namun, kehadiran Tiongkok membuat Australia harus mengubah cara pandangnya terhadap Indonesia. Bila sebelumnya kerap dilihat sebagai ancaman potensial, kini negara kanguru tersebut perlu melihat Indonesia sebagai kawan potensial secara strategis.

Asumsi inilah yang dijelaskan oleh Hugh White dari Australian National University (ANU). White menyebutkan bahwa pembangunan hubungan yang lebih erat dengan tetangga Australia di utara ini dapat menjadi kunci bagi upaya untuk menghalau pengaruh Tiongkok, khususnya di kawasan Asia Tenggara.

Mungkin, dari penjelasan White inilah, Australia akhirnya merasa perlu untuk membangun lebih banyak kerja sama dengan Indonesia. IA-CEPA bisa jadi salah satu upaya agar Canberra merasa lebih akrab dengan Jakarta.

Lagi pula, berdasarkan teori Balance of Power (BoP) ala realis dalam studi Hubungan Internasional, upaya pengimbangan terhadap pengaruh negara lain dapat dilakukan dengan mengajak negara lain. Upaya semacam ini biasa disebut sebagai external balancing (pengimbangan eksternal).

Meski begitu, Indonesia sendiri sebenarnya dapat menjadi “medan tempur” kedua bagi Australia dan Tiongkok. Pasalnya, di bawah pemerintahan Jokowi, Indonesia juga tengah membangun hubungan yang lebih erat dengan negara Tirai Bambu tersebut.

Boleh jadi, IA-CEPA ini menjadi salah satu “amunisi” Australia guna menghalau Tiongkok dari Indonesia dan Asia Tenggara. Bagaimana pun juga, Indonesia adalah garda terakhir dalam “pertempuran” antara Australia dan Tiongkok.

Namun, upaya balancing Australia ini kembali lagi pada arah dan kemauan Indonesia sendiri. Bila pemerintahan Jokowi tak ingin lagi hidup di bawah bayang-bayang Tiongkok, Australia dan Indonesia akhirnya bisa jadi memiliki kepentingan yang sama.

Namun, bila pemerintahan Jokowi ingin tetap berada di bawah bayang-bayang Tiongkok, Australia bisa jadi butuh bantuan kawan-kawan lainnya agar dapat membuat Indonesia berada pada pandangan yang sama. Bisa jadi, sedikit “tekanan” dari AS mampu membantu Australia menjalani hubungan lebih dekat dengan Indonesia.

Mungkin juga, pandemi virus Corona (Covid-19) yang kini membuat Indonesia berkeluh kesah dapat menjadi momen yang tepat bagi Australia menawarkan bantuan dan kerja sama yang lebih erat – seperti IA-CEPA – karena, bagaimana pun, Indonesia adalah frenemy yang tetap dibutuhkan oleh negara kanguru tersebut. Menarik untuk dinanti kelanjutan hubungan keduanya. (A43)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_img

#Trending Article

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?