HomeNalar PolitikAksi 313: Siapa Bela Siapa?

Aksi 313: Siapa Bela Siapa?

Kecil Besar

Demonstrasi 313 ini akan menambah daftar deretan demonstrasi dengan nama dan angka cantik: 411, 212, lalu 313. Secara simbol politik, orang yang merancang demo-demo tersebut sangat pandai membuat kemasan politik yang menarik: mulai dari pemilihan hari, tanggal, dan apa yang ingin dicapai.


PinterPolitik.com

“Repetitio est mater studiorum”.

[dropcap size=big]P[/dropcap]engulangan adalah ibu dari semua pembelajaran’, demikian kalau pribahasa Latin tersebut diartikan ke dalam bahasa Indonesia. Tampaknya kata-kata ini betul-betul dimaknai oleh kelompok massa yang akan menyelenggarakan aksi demonstrasi pada tanggal 31 Maret 2017: mengulang dan terus mengulang adalah kunci menyelesaikan persoalan. Benarkah demikian?

Rencananya pada Jumat besok, akan ada gerakan protes massa dalam tajuk ‘Aksi Bela Al-Quran 313’. Pemilihan tanggal dan penamaan aksinya pun seolah-olah mengikuti apa yang sebelum-sebelumnya sudah pernah terjadi tahun lalu dalam demonstrasi 411 dan 212.  Berbagai selebaran, undangan, pesan-pesan broadcast sudah tersebar untuk mengajak semua pihak untuk ikut dalam aksi ini.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono, dalam keterangan persnya memperkirakan jumlah peserta demo akan mencapai 50 ribu orang. Sementara beberapa sumber lain memperkirakan akan ada 100 ribu orang yang ikut ambil bagian dalam aksi ini. Selain itu, akan ada banyak ormas yang terlibat dalam demonstrasi yang diprakarsai oleh Forum Umat Islam (FUI) ini.

Adapun aksi ini nantinya akan dimulai dengan Sholat Jumat di Masjid Istiqlal. Setelah itu dilanjutkan dengan long march dari Istiqlal menuju depan Istana Negara.

Salah satu tuntutan yang dibawa dalam aksi ini adalah meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memberhentikan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dari jabatannya sebagai gubernur. Status Ahok yang telah menjadi tersangka dalam kasus dugaan penistaan agama membuatnya dianggap tidak layak untuk menduduki kursi kepemimpinan di Jakarta.

Tentu semua masyarakat menanti: apakah kita akan disuguhkan oleh pemandangan aksi massa yang luar biasa besar sama seperti yang terjadi pada demonstrasi 212? Apakah demonstrasi ini hanya sekedar menyuarakan aspirasi, ataukah ada maksud politik lain di belakangnya?

Siapa Bela Siapa di Aksi 313
Pemandangan Tugu Monas saat aksi 212 (Foto: services.korpri.online)

Riak Jelang Aksi 313

Tuntutan utama dalam aksi ini adalah melengserkan Ahok dari jabatannya sebagai gubernur. FUI berpendapat perlu ada kejelasan dalam penegakkan hukum, mengingat sebelumnya ada 5 gubernur yang telah dicopot dari jabatannya karena statusnya sebagai tersangka dalam kasus hukum – walaupun dalam pernyataan tersebut, tidak disebutkan secara rinci siapa saja gubernur yang telah dilengserkan tersebut.

Namun, rencana aksi ini bukan tanpa ‘riak’ atau dinamika di dalamnya. Kabar terbaru, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU), Kiai Haji Said Aqil Siradj bahkan tidak merestui aksi tersebut. Menurut orang nomor satu dalam organisasi Islam independen terbesar di dunia ini, tidak perlu ada lagi aksi-aksi demonstrasi.  Apalagi tuntutannya pun sudah jelas.

“Enggak perlu. Mau pilih Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) silahkan. Enggak senang, enggak usah dipilih. Pilih Anies (Baswedan) silahkan. Enggak seneng enggak usah dipilih, begitu aja, ngapain (aksi).”

Demikian penggalan ucapan KH Said Aqil Siradj saat dimintai tanggapannya terkait rencana aksi demonstrasi besok. Menurut Kiai Said, setiap pilihan politik di Pilkada DKI Jakarta sebaiknya dikembalikan kepada pribadi masing-masing. Selain itu, ia menilai sebaiknya urusan politik tidak dicampuradukkan dengan persoalan agama. Ia pun meminta semua pihak untuk menyukseskan Pilkada DKI Jakarta hingga di hari pencoblosan pada 19 April nanti. Saat ditanya apakah dirinya melarang warga NU untuk mengikuti aksi 313, ia menjawab dengan tegas bahwa larangan tersebut sudah ada sejak aksi-aksi sebelumnya.

Menarik untuk ditunggu apakah dengan adanya larangan dari PBNU ini, jumlah orang yang akan datang dan mengikuti demonstrasi ini akan berkurang atau tidak. Selain PBNU, Kepolisian juga kemungkinan tidak mengizinkan massa melakukan aksi long march menuju ke Istana Negara karena dianggap dapat mengganggu aktivitas para pengguna jalan.

Baca juga :  Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Tak Ada FPI dan Rizieq Shihab?

Hal lain yang menarik dalam rencana aksi 313 adalah tentang Front Pembela Islam (FPI) dan pemimpinnya, Habib Rizieq Shihab yang dikabarkan tidak ikut aksi 313 ini. Tentu banyak yang bertanya, mengapa salah satu tokoh yang begitu vokal dalam perjuangan melawan Ahok tidak ikut serta dalam aksi ini?

Juru bicara FPI, Slamet Maarif dalam keterangan persnya menuturkan bahwa FPI tidak ikut terlibat karena saat ini sedang berkonsentrasi menyiapkan sejumlah acara, di antaranya sholat subuh keliling di kawasan pemukiman warga Jakarta, serta mengawasi proses hukum kasus dugaan penodaan agama yang menjerat Ahok.

Selain itu, FPI juga sedang fokus mendukung upaya menggalang umat untuk ikut aksi Tamasya Al Maidah pada hari H pilkada Jakarta putaran kedua pada 19 April 2017. Aksi tersebut digalang oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI dan Gerakan Kemenangan Jakarta yang dipimpin Kapitra Ampera.

Tamasya Al Maidah sendiri adalah gerakan untuk memobilisasi massa dari berbagai daerah untuk datang ke Jakarta pada hari penyelenggaraan pilkada putaran ke-2, 19 April 2017 mendatang. Wow! Bukankah itu berarti akan ada aksi intimidasi terhadap pilkada di Jakarta? Menarik untuk ditunggu akan seperti apa Jakarta pada tanggal 19 April mendatang jika gerakan ini benar-benar dilakukan.

Yang jelas, ketidakhadiran FPI dan Rizieq tentu mengurangi ‘rasa’ pada demonstrasi besok, mungkin bisa diibaratkan sebagai sayur tanpa garam. Tentu ada banyak analisis lain terkait ketidakhadiran Rizieq dan FPI dalam aksi besok, misalnya soal selentingan tentang dana yang sudah berkurang, kasus-kasus hukum yang menjerat Rizieq, ataupun strategi politik lain yang sedang dimainkan oleh elit-elit politik. Lalu, bagaimana dampaknya terhadap demonstrasi besok? Siapkan bahan catatan baru setelah selesai aksi besok siang!

Gerakan Politik Jalanan

Aksi Bela Al-Quran 313 dimotori oleh Forum Umat Islam (FUI). Sesungguhnya tidak banyak sumber informasi tentang oraganisasi ini. Penelusuran yang dilakukan terhadap website resmi FUI pun tidak memberikan banyak informasi terkait identitas organisasi ini. Bahkan, website tersebut belum jadi sepenuhnya. (Silahkan cek: forum-umat-islam.com) Informasi yang mungkin bisa digali adalah yang berasal dari website Hizbut Tahrir Indonesia.

Menurut tulisan dari Hizbur Tahrir Indonesia tersebut, FUI dideklarasikan pada 26 Juni 2008. Deklarasi yang disebut dengan nama ‘Deklarasi Darunnajah’ tersebut berisi kesepakatan dari sekitar 200 ulama yang hadir saat itu akan pentingnya forum yang mengakomodasi pemurnian pemikiran Islam, koordinasi antargerakan Islam, dan sebagai sarana untuk mencari solusi untuk semua persoalan yang terjadi di antara umat Islam.

Dalam beberapa kesempatan, FUI juga kerap mendorong pemerintah untuk meninggalkan sekularisme. Indonesia dikenal sebagai negara berpenduduk muslim moderat terbesar di dunia, namun negara ini bukan negara agama. FUI mendorong pemerintah untuk menghentikan dan menghapus segala bentuk sekulerisme, liberalisme, dan kapitalisme yang menurut FUI telah nyata-nyata menghancurkan Indonesia dan menggantikannya dengan sistem Islam. Maka, semakin jelaslah mengapa FUI menjadi begitu ngotot ketika berhadapan dengan masalah hukum yang menimpa Ahok.

Baca juga :  'Teach You a Lesson': Fantasi Indonesia?

Walaupun FUI adalah forum keagamaan, namun tidak bisa dipungkiri aksi 313 yang digalang FUI kali ini sarat akan muatan politis. Apalagi saat ini tinggal 2 minggu lebih sebelum Pilkada DKI putaran kedua. Maka, aksi besok bisa dianggap sebagai aksi politik jalanan – aksi protes atas nama agama dan hukum, namun punya dimensi politik yang kuat.

Politik jalanan atau street politic bisa diartikan sebagai konflik atau aksi politik yang melibatkan sekelompok masyarakat berhadapan dengan otoritas pemerintah. Istilah ini digunakan oleh Asef Bayat – professor keturunan Iran yang menjadi guru besar di University of Illinois – ketika menulis buku berjudul “Street Politics” yang berisi aksi-aksi jalanan sepanjang Revolusi Iran (1977-1979). Gerakan politik jalanan di Iran berhasil mengakhiri kekuasaan monarki Shah Mohammad Reza Pahlavi, lalu apakah gerakan politik jalanan esok akan mendatangkan dampak yang serupa?

Mungkin masih terlalu jauh untuk sampai pada titik itu, buktinya dua kali demonstrasi besar pada tahun lalu – yang dianggap sebagai demonstrasi terbesar setelah tahun 1998 – belum mampu mendatangkan efek yang sama dengan aksi gerakan politik jalanan di Iran. Yang jelas kita tetap berharap negara ini tidak melupakan jati diri dan cita-cita para pendirinya.

Semua tentu ingin hidup aman dan damai agar kemajuan bangsa dan negara pun bisa terus diperjuangkan. Dengan semakin seringnya aksi-aksi politik semacam demonstrasi, konsentrasi politik pun akan terbagi. Akhirnya, ketimbang memperhatikan pembangunan bangsa dan negara, negara ini sibuk dengan saling sikut antara anak bangsa sendiri: kapan majunya?

Siapa Bela Siapa?

Demonstrasi 313 ini akan menambah daftar deretan demonstrasi dengan nama dan angka cantik: 411, 212, lalu 313. Secara simbol politik, orang yang merancang demo-demo tersebut sangat pandai membuat kemasan politik yang menarik: mulai dari pemilihan hari, tanggal, dan apa yang ingin dicapai. Semuanya adalah kerja politik yang tersistematis.

Walaupun demikian, harus diakui berbagai aksi yang terjadi di seputaran dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok telah membuat bangsa ini lelah. Jangan heran, Ketua Umum PBNU saja sampai melarang warga NU untuk ikut ambil bagian dalam aksi ini. Bagi masyarakat awam, tentu pertanyaannya adalah ‘siapa bela siapa sih sebetulnya dalam aksi-aksi ini’? Mungkin sudah saatnya kita sadar bahwa hanya karena alasan perebutan kekuasaan di ibukota, bangsa ini telah terpecah belah dan mudah diadu domba.

“Political language is designed to make lies sound truthful and murder respectable”.

Kata-kata ini ditulis oleh George Orwell (1903-1950) – novelis dan sastrawan Inggris – untuk mengomentari dunia politik. Mungkin benar, selama politik dijalankan hanya untuk memenuhi hasrat untuk berkuasa, maka kebaikan paling baik pun akan dipandang sebagai keburukan, demikian pun sebaliknya. Semoga aksi 313 besok berjalan lancar dan aman, sehingga tidak memicu hal-hal yang lebih buruk. Selalu ada harapan untuk politik yang beradab di negara ini. (S13)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz

Ketika hampir semua selat strategis dunia punya wacana bypass secara bersamaan, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kepanikan logistik — dan Indonesia perlu membacanya sebelum terlambat.

More Stories

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.