HomeNalar PolitikAgus Salim Sang Diplomat Ulung

Agus Salim Sang Diplomat Ulung

Kecil Besar

Berbicara tentang jejak perjuangan Agus Salim tidak lepas dari perjuangan diplomasi bangsa Indonesia. Menjadi seorang polyglot adalah keunikan yang ia miliki. Lantas, bagaimana kisah Agus Salim yang dijuluki sang diplomat ulung ini?


PinterPolitik.com

Sebagai sebuah lembaga resmi, Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) selalu memperjuangkan karakter dan watak politik luar negeri Indonesia yang bebas-aktif dimulai dari awal kemerdekan hingga saat ini.

Semangat Kemenlu ini adalah warisan yang sama, ketika bangsa ini memilih untuk meraih kemerdekaan tidak hanya dengan mengangkat senjata, melainkan juga perjuangan kemerdekaan dengan cara diplomasi atau melalui perundingan.

Bahkan perjuangan diplomasi ini memungkinkan Indonesia pada akhirnya meraih dukungan luas masyarakat internasional di PBB pada tahun 1950. Tentunya tercatat juga beberapa momen diplomasi yang harus dilewati, seperti Perjanjian Renville, Perjanjian Roem-Royen, Perjanjian Linggarjati, dan Konferensi Meja Bundar.

Pertimbangan para pemimpin bangsa saat itu untuk memilih jalan diplomasi dikarenakan kondisi Indonesia yang masih jauh dari kata stabil di berbagai bidang. Indonesia tidak akan mampu meladeni Belanda menggunakan kekuatan fisik saja.

Tujuan dari perjuangan diplomasi adalah mencari jalan keluar dari konflik yang terjadi. Lebih dari itu, tujuan lain diplomasi yaitu dapat membawa martabat bangsa agar diakui di mata dunia internasional.

Berbicara persoalan diplomasi dan martabat bangsa, kita akan diingatkan kembali kepada sosok pahlawan Indonesia yang dalam perjuangannya berbicara hal yang serupa, yaitu Haji Agus Salim.

Lantas, seperti apa jejak perjuangan tokoh yang dijuluki sebagai The Grand Old Man ini?

infografis anthony albanese aku padamu indonesia

Kisah The Grand Old Man

8 Oktober 1884 di Desa Koto Gadang lahir seorang tokoh bangsa dengan nama kecil Masjhoedoelhaq Salim, nama ini bermakna ‘pembela kebenaran’. Seperti nama kecilnya, Agus Salim menjadi pembela kebenaran bagi bangsa yang terjajah.

Rizky Kusumo dalam tulisannya H Agus Salim Diplomat Poliglot yang Memilih Melarat Sepanjang Hidup, mengungkapkan Agus Salim adalah seorang yang menghabiskan masa hidupnya untuk intelektualisme.

Dan yang membuat ia berbeda dibandingkan pejuang lain adalah, Agus Salim merupakan seorang polyglot. Ia mampu menguasai berbagai bahasa, tercatat  ada 9 bahasa asing yang berhasil dikuasainya. Hal ini yang mempermudah aktivitasnya dalam berdiplomasi untuk memperjuangkan nasib bangsa Indonesia.

Pendidikan Agus Salim dimulai dari ELS (Europeese Lagere School) saat berusia 6 tahun dan kemudian melanjutkan HBS (Hogere Burger School). Agus Salim adalah perwakilan bumi putra yang mampu meraih angka tertinggi dalam kelulusannya.

Baca juga :  Indonesia: "Lone Wolf" Penyelamat Iklim?

Prestasi itu yang membuat Agus Salim muda mulai terkenal di seantero Hindia Belanda, terutama di kalangan kaum kolonial dan terpelajar. Bahkan dikisahkan, Raden Ajeng Kartini sampai menghibahkan beasiswa kepadanya sebesar 48.000 gulden, tapi beasiswa itu ditolak.

Padahal sebelumnya beasiswa kedokteran yang diajukan Agus Salim pernah juga ditolak oleh pemerintah Belanda. Merasa beasiswa itu seharusnya diperuntukkan untuk Kartini bukan untuknya, Agus Salim menolak untuk mendapat sesuatu yang didorong oleh rasa iba bukan karena prestasinya.

Tercatat, Agus Salim menempuh pengalaman beragam yang juga nantinya membentuk karakteristiknya. Mulai dari bekerja sebagai penerjemah dan pengurus urusan haji pada Konsulat Belanda di Jeddah. Kemudian terjun ke dunia media massa dengan mendirikan dan sebagai pemimpin redaksi harian Neratja, Hindia Baroe, Fadjar Asia, dan Moestika.

Keseluruhan pengalaman itu memantapkan dirinya menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) mewakili Sarekat Islam pada periode 1921-1924. Merupakan sebuah kisah fenomenal karena Agus Salim menjadi orang pertama yang berpidato dalam bahasa Melayu/Indonesia di sidang Volksraad.

Pernikahan dengan Zainatun Nahar melengkapi tugas Agus Salim sebagai pemimpin bangsa dan juga pemimpin keluarga kecil yang sederhana. Banyak kesaksian yang mengatakan kehidupan dan keadaan rumah Agus Salim dijalani dengan sederhana, bahkan beberapa kali pindah rumah kontrakan di sekitaran Jakarta.

St. Sularto dalam bukunya H. Agus Salim (1884-1954): Tentang Perang, Jihad dan Pluralisme, mengatakan Agus Salim mendapat julukan sebagai The Grand Old Man karena kepiawaiannya dalam melakukan perundingan dengan negara-negara Arab, serta memimpin delegasi Indonesia di forum PBB tahun 1947.

Agus Salim dipercaya menjabat menteri dalam beberapa kabinet, ia merupakan seorang diplomat, jurnalis, dan negarawan. Pada Kabinet Sjahrir I dan II, Agus Salim adalah Menteri Muda Luar Negeri, sedangkan pada Kabinet Amir Sjarifuddin tahun 1947 dan Kabinet Hatta periode tahun 1948-1949, ia dipercaya menjadi Menteri Luar Negeri.

Kepiawaian Agus Salim dalam menuturkan berbagai bahasa membuatnya mampu menarik simpati negara-negara yang berdiplomasi dengannya. Bahkan beberapa utusan negara asing yang berjumpa dengan Agus Salim selalu mengakui  kesederhanaan yang ditunjukkan olehnya.

Muhammad Roem dan Kasman dalam tulisannya Haji Agus Salim, Memimpin Adalah Menderita, mengulang perkataan sang guru mereka, yang mengungkapkan bahwa jalan pemimpin bukan jalan yang mudah, memimpin adalah jalan yang menderita. Seperti bunyi pepatah kuno Belanda, leiden is lijden, artinya memimpin adalah menderita.

Baca juga :  Ipul Quiet Power, Imin Quite Stuck?

Well, kisah perjuangan Agus Salim layak untuk dijadikan pelajaran bagi penerus perjuangan bangsa. Lantas, bagaimana menafsirkan kisah Agus Salim dikaitkan dengan diplomasi kita?

biden tantang kim jong un

Gerbang Kedaulatan Indonesia

Situasi politik setelah proklamasi kemerdekaan mengharuskan pemerintah Indonesia bekerja keras mendapatkan pengakuan internasional untuk memperkuat status negara Indonesia di mata dunia. Salah satu cara untuk mencapai pengakuan tersebut yaitu dengan cara diplomasi.

Agus Salim berhasil memberikan contoh bahwa diplomasi Indonesia bukan saja mampu meraih pengakuan negara lain pada masa awal kemerdekaan, melainkan juga mampu meninggikan martabat bangsa Indonesia.

Muhammad Hasits dalam tulisannya Diplomasi Agus Salim di Negara-negara Arab Bikin Belanda Pusing, menceritakan kisah Agus Salim dan rombongan terbang ke Mesir. Delegasi Mesir ini yang menjadi gerbang pertama kedaulatan Indonesia di mata dunia.

Dipilihnya Agus Salim sebagai ketua tim dikarenakan ia dinilai sebagai seorang pemimpin Islam yang cerdas. Ia mahir berpidato dalam bahasa Belanda, Inggris, Prancis, Jerman, dan Belanda. Meski pada rombongan saat itu ada pula nama-nama seperti Rasjidi, Nazir St Pamoentjak, Abdul Kadir, dan AR Baswedan.

Di Mesir, pidato-pidato Agus Salim memikat rakyat dan pemerintah Mesir. Pidato Agus Salim dibumbui dengan gaya humor yang menarik. Mesir akhirnya memutuskan untuk mengakui Indonesia sebagai negara merdeka dan berdaulat penuh. Indonesia berhak mengadakan hubungan diplomatik dengan Mesir. 

Dukungan Mesir langsung membuat harapan Belanda membentuk Indonesia Serikat pupus. Setelah pengakuan Mesir, negara-negara Arab lainnya langsung menunjukkan dukungannya kepada Indonesia. Bukan hanya karena fasih berbahasa Arab, melainkan juga sikap sederhana yang ditunjukkan Agus Salim mampu meluluhkan hati negara-negara tersebut.

Kesederhanaan adalah identitas pemimpin yang besar, inilah nilai etis yang dicontohkan.  Agus Salim saat berdiplomasi dengan bangsa-bangsa di dunia internasional memperlihatkan martabat Indonesia yang berwibawa.

Seperti itulah sebagian cerita dari sosok Agus Salim dalam berdiplomasi dengan negara asing. Harapan bagi para diplomat-diplomat di masa yang akan datang, mereka mampu menjadikan kisah Agus Salim sebagai pemicu untuk bertarung dan berjuang sekuat tenaga demi tegaknya martabat Indonesia di mata dunia. (I76)


Agus Salim Tolak Bantuan Kartini
spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Ganjar Punya Pasukan Spartan?

“Kenapa nama Spartan? Kita pakai karena kata Spartan lebih bertenaga daripada relawan, tak kenal henti pada loyalitas pada kesetiaan, yakin penuh percaya diri,” –...

Eks-Gerindra Pakai Siasat Mourinho?

“Nah, apa jadinya kalau Gerindra masuk sebagai penentu kebijakan. Sedang jiwa saya yang bagian dari masyarakat selalu bersuara apa yang jadi masalah di masyarakat,”...

PDIP Setengah Hati Maafkan PSI?

“Sudah pasti diterima karena kita sebagai sesama anak bangsa tentu latihan pertama, berterima kasih, latihan kedua, meminta maaf. Kalau itu dilaksanakan, ya pasti oke,”...