HomeNalar PolitikAda Apa dengan Sandiaga-Coldplay?

Ada Apa dengan Sandiaga-Coldplay?

Kecil Besar

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno beberapa kali semacam bocoran terkait jadi atau tidaknya grup band ternama, Coldplay, untuk berkonser di Indonesia. Ada apa dengan Sandiaga dan Coldplay?


PinterPolitik.com

“Listen as the crowd would sing” – Coldplay, “Viva La Vida” (2008)

Tahun 2022 dan 2023 bisa dibilang menjadi tahun emas bagi comeback-nya acara-acara konser setelah pandemi Covid-19 membuat industri musik mandek untuk sementara. Kini, hampir semua musisi mengadakan tur atau berpartisipasi aktif di festival-festival musik.

Pada Maret 2023 kemarin, misalnya, para BLINK dibius bahagia oleh kedatangan BLACKPINK di Jakarta. Konser yang berlangsung selama dua hari itu menjadi salah satu konser terbesar di Indonesia pada tahun ini.

Tidak hanya berhenti di BLACKPINK, musisi-musisi internasional lainnya juga mulai mencoba menangkap kembali besarnya pasar musik Indonesia. Arctic Monkeys, misalnya, berkonser di Jakarta selang seminggu setelah BLACKPINK membanjiri Gelora Bung Karno (GBK) dengan lautan manusia berpakaian hitam dan merah muda.

Kini, musisi besar lainnya disebut-sebut juga akan datang ke Indonesia. Musisi ini bisa dibilang setidaknya pernah masuk playlist sejuta umat. Siapa lagi kalau bukan Coldplay?

Grup band asal Britania (Inggris) Raya itu selama bertahun-tahun menghasilkan banyak lagu hits secara global – mulai dari “The Scientist” (2002), “Viva La Vida” (2008), hingga “My Universe” (2021). Jadi, jelas saja apabila Coldplay menjadi band yang digemari sejuta umat.

Untung saja, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno “mendengarkan” aspirasi para penggemar Coldplay. Beberapa kali, Sandiaga memang memberikan bocoran di akun media sosialnya (medsos) mengenai kejelasan konser Coldplay yang dirumorkan bakal digelar pada November 2023 nanti.

Coldplay Join Us Jokowi

Namun, seakan-akan memberikan harapan, Sandiaga pun beberapa kali menghapus unggahannya setelah terlihat beberapa saat. Mantan Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta itupun mengunggah beberapa unggahan agar para followers-nya bersabar terkait kelanjutan kabar konfirmasi kedatangan Coldplay.

Terakhir, update terbaru disampaikan oleh Sandiaga saat diwawancarai oleh wartawan pada Minggu, 7 Mei 2023, kemarin. Sang Menparekraf kali ini kembali meminta agar publik bersabar dan memberikan bocoran bahwa kabar pastinya kemungkinan akan disampaikan beberapa hari ke depan.

Meski merupakan pejabat publik, Sandiaga seakan-akan menjadi pihak hubungan masyarakat (humas) bagi pihak promotor konser. Padahal, jelas, pengumuman konfirmasi kedatangan Coldplay bukanlah urusannya.

Baca juga :  Waspada 3 "Kingdoms" of Jokowi?

Lantas, mengapa Sandiaga kini tampil sebagai penyampai kabar perihal Coldplay – bahkan berencana memanggil media juga? Mengapa ini bisa saja jadi bagian dari strategi politik Sandiaga?

Sandiaga, Sang Pop-litikus?

Upaya Sandiaga untuk menjadi penyampai kabar tentang kepastian konser Coldplay di Indonesia sebenarnya bukanlah hal yang unik. Banyak politisi sebenarnya kerap mengkooptasi produk-produk budaya populer (popular culture) seperti musik dalam komunikasi politik yang mereka lakukan.

Pola ini bisa ditemukan pada akun media sosialnya (medsos) milik Sandiaga yang kerap menggunakan budaya populer dalam komunikasi politiknya. Ketika berkunjung ke Korea Selatan (Korsel), contohnya, Sandiaga melakukan joget Gangnam Style ala PSY – seorang penyanyi rap (rapper) asal Korsel.

Tidak hanya musik, Sandiaga juga pernah membuat konten dengan mengikuti meme-meme yang tengah viral di medsos. Pada 4 Mei 2023 lalu, misalnya, Sandiaga membuat konten dengan menggunakan teknologi artificial intelligence (AI) – yakni ketika medsos ramai membicarakan teknologi AI yang mampu menirukan suara berbagai penyanyi terkenal.

Ramai ramai ke Konser Dewa

Berbagai konten Sandiaga di medsos ini tentu bukanlah tanpa alasan. Mengacu ke tulisan Omer M. Manhaimer yang tulisan berjudul Between Pepe and Beyoncé: The Role of Popular Culture in Political Research, dengan mengutip pendekatan Foucault, budaya populer dapat dipahami sebagai stok luas atas pengetahuan, bentuk-bentuk, analogi, simbol, dan teknik sosial yang dapat dikomunikasikan dan digunakan oleh aktor-aktor sosio-politik untuk mempengaruhi lingkungannya.

Kelebihan yang dimiliki oleh budaya populer adalah kemampuannya untuk menjangkau mereka yang tidak terlibat dalam politik – baik dalam dinamika maupun diskursusnya. Budaya populer mampu menjangkau individu-individu secara lebih personal.

Menjadi wajar apabila Sandiaga kerap menggunakan unsur dan pendekatan budaya populer dalam menjangkau followers-nya. Lagipula, budaya populer – seperti meme – memang menjadi bahasa yang lebih universal di dunia maya.

Mungkin, inilah mengapa Sandiaga akhirnya berusaha memposisikan dirinya sebagai penyampai kabar terkait kedatangan Coldplay. Apalagi, sudah bukan rahasia lagi bahwa grup band asal Inggris tersebut memiliki jangkauan penggemar yang luas di Indonesia – berasal dari berbagai kelompok.

Namun, mengapa Sandiaga merasa perlu mengkooptasi wacana konser Coldplay di Jakarta? Mungkinkah ada kepentingan politik lebih besar yang ingin dicapai oleh Sandiaga?

Baca juga :  MBG dan Runtuhnya 'Republik Tepung'

Medan Perang Sandiaga vs Erick?

Seperti yang dijelaskan di atas, penggunaan budaya populer dalam komunikasi politik merupakan hal yang banyak dilakukan. Sandiaga pun bukanlah satu-satunya politikus yang menggunakan pendekatan demikian – termasuk beberapa politisi yang ingin mencalonkan diri di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Selain Sandiaga, nama kandidat lain yang kerap menggunakan produk-produk budaya populer adalah Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir. Di akun medsosnya, seperti Instagram, Erick pun mengikuti tren meme yang sedang ramai di medsos – salah satunya adalah foto-foto figur publik yang dimodifikasi menjadi versi anak kecil oleh teknologi AI.

Konser Musik Tetap Jalan Bos

Layaknya Sandiaga, Erick sedang menggunakan pendekatan budaya populer sebagai medium komunikasi dengan mereka yang tidak terlalu melibatkan diri dalam aktivitas dan diskursus politik. 

Apalagi, sebagai Ketua Umum (Ketum) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), nama Erick sempat menjadi buah bibir banyak orang setelah pembatalan status tuan rumah Indonesia di Piala Dunia U-20 – yang mana olahraga populer seperti sepak bola juga merupakan bagian dari budaya populer.

Bukan tidak mungkin, Coldplay yang punya jangkauan yang besar di budaya populer memang dibutuhkan oleh Sandiaga. Pasalnya, Erick disebut-sebut menjadi pesaing Sandiaga agar bisa menjadi calon wakil presiden (cawapres) untuk Ganjar Pranowo yang diusung sebagai calon presiden (capres) oleh PDIP dan sejumlah partai politik lainnya – seperti PPP dan Partai Hanura.

Apalagi, perhatian publik – termasuk di medsos – menjadi modal politik yang bisa ditransformasikan menjadi pengaruh politik. Bukan tidak mungkin, inilah yang akhirnya inilah yang ingin dijaga oleh Sandiaga yang sempat dijuluki sebagai Papa Online pada Pilpres 2019.

Mengacu ke penjelasan Norbert Merkovity dalam tulisannya yang berjudul Introduction to Attention-based Politics, komunikasi politik bertujuan untuk menjadikan aktor politik sebagai pusat perhatian (center of attention) yang bisa jadi modal besar bagi aktor tersebut – sejalan dengan apa yang disebut sebagai modal simbolis ala Pierre Bourdieu yang didasarkan pada pengakuan, status, dan legitimasi.

Lantas, bila benar demikian, mungkinkah Sandiaga mampu mengimbangi persaingan medsos ini? Akankah Coldplay mampu menciptakan perhatian besar bagi Sandiaga layaknya pembatalan Piala Dunia U-20 2023 di Indonesia bagi Erick? Menarik untuk diamati kelanjutannya. (A43)


spot_imgspot_img

#Trending Article

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?