HomeFokus BUMNKemen BUMN Salah Kaprah Jika Inginkan Citos Dibeli Perusahaan BUMN

Kemen BUMN Salah Kaprah Jika Inginkan Citos Dibeli Perusahaan BUMN

Kecil Besar

Keinginan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) agar  perusahaan BUMN yang nantinya membeli aset PT Asuransi Jiwasraya (Persero) yaitu Mal Cilandak Town Square (Citos) seandainya jadi dijual untuk membayar utang nasabah mulai mendapat kritikan.


PinterPolitik.com

Rencana tersebut dinilai lucu dan salah kaprah, karena bukan core perusahaan  pelat merah mengurusi Mal. “Saya dengar, Citos masa yang beli harus BUMN juga. Apa urusannya BUMN urusin Mal? Udah kesurupan setan apa ini ya? Jadi anti persaingan semua, kalau gini semua mah monopoli,” kata ekonom senior INDEF, Faisal Basri dalam sebuah diskusi di Kantor Pusat ISEI, Jakarta, Kamis (12/3).

Menurut Faisal Basri, lebih baik penjualan aset itu dijual ke pihak lain, jangan ditawarkan ke sesama BUMN, karena menurutnya BUMN tak perlu mengurus hal seperti itu.

Faisal mengaku bingung dalam memahami pemikiran pejabat-pejabat saat ini, dia menilai banyak pejabat yang berbicara tidak menggunakan akal sehat dalam menentukan keputusan.

“Apakah pantas BUMN itu memiliki Mal? Apa tidak cukup Sarinah (PT Sarinah) saja, kok mengurusi hal-hal tektekbengek seperti ini, apa salahnya, jika saya beli Citos dengan harga tinggi, lantas tidak diutamakan tapi dikasih dahulu yang lain,” ujarnya.

Faisal menilai hal ini, tidak adil bagi masyarakat Indonesia khususnya pihak swasta yang ingin membeli Citos. Dengan menawarkan ke pihak sesama BUMN akan mnejadi rancu, seharusnya tugas negara itu mendorong untuk menyegarkan sektor investasi, yakni bagaimana memberikan Investasi kepada Investor supaya menjadi profesional.

“Kalau saya bisa beli Mal Citos lebih mahal ga boleh? Saya warga negara punya hak yang sama, dengan warga negara yang lain, sama-sama bayar pajak,” ungkapnya.

Faisal menilai rencana ini tidak benar,  secara pribadi dia mengharamkan negara punya Mal. “Bukan malah menambah kepemilikan, yang tidak ada hubungannya dengan Agent of Development. Apa urusannya Mal dengan negara,  saya enggak ngerti, enggak tahu lagi,” ujarnya.

Baca juga :  RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Selain itu jika dijual ke perusahaan BUMN, namun dana yang diterima akan lama. Berbeda jika dijual ke pihak lain, tentu bisa langsung dibayarkan, sehingga dananya pun bisa cepat dibayarkan ke para nasabah.

Faisal  menambahkan, jika yang beli perusahaan  BUMN tentunya prosesnya akan lama. “Nggak bisa cepat, mesti ajukan dulu ke DPR. Kalau swasta yang bisa beli bahkan lebih mahal kenapa nggak,” ungkap Faisal.

Dia mencontohkan, seandainya Citos ditawarkan ke investor Jepang, yang mungkin tertarik dengan lokasi Citos, yang letaknya strategis dan dekat dengan MRT. Apabila dibeli investor Jepang, Citos mungkin akan disulap menjadi kawasan terintegrasi.

“Coba itu kan dekat MRT, tawarin orang Jepang mau pasti. Dia bikin kawasan pemukiman atau apa, jual mahal juga mau, atau tawarin aja sekalian ke Sultan Brunei, langsung bayar cash, duitnya langsung dipakai kan bisa,” pungkasnya. (R58)

View this post on Instagram

Angka kekerasan terhadap #perempuan terus meningkat setiap tahun, baik itu kekerasan fisik maupun kekerasan seksual. Saat ini Indonesia bahkan telah ada dalam kondisi darurat kekerasan seksual menurut laporan dari #KomnasPerempuan. Nyatanya, ada persoalan ketidakseimbangan relasi kuasa antara perempuan dan laki-laki di #Indonesia yang menjadi salah satu akar persoalan ini. Ini juga terjadi akibat budaya dominasi laki-laki yang sangat kuat. ⠀ ⠀ Temukan selengkapnya di Talk Show: “Dominasi dan Legacy Male Power terhadap Wanita Indonesia, Kenapa? Dari Mana? Masih Perlu?”⠀ ⠀ Tiket dapat dibeli di: http://bit.ly/TalkShowPinterPolitik ⠀ #infografik #infografis #politik #politikindonesia #pinterpolitik #EventPinterPolitik #TalkShowPinterPolitik #komnasperempuan #rockygerung

A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik) on

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_img

#Trending Article

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz

Ketika hampir semua selat strategis dunia punya wacana bypass secara bersamaan, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kepanikan logistik — dan Indonesia perlu membacanya sebelum terlambat.

More Stories

Erick Thohir Pastikan 4,7 Juta Masker Telah Didistribusikan

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memastikan 4,7 juta masker yang diproduksi oleh perusahaan pelat merah, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) telah...

BUMN akan Bangun RS Darurat Corona di Daerah

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memerintahkan jajarannya untuk membangun Rumah Sakit Darurat Corona di sejumlah daerah di Indonesia. Hal itu untuk mengantisipasi lonjakan...

BUMN Back Up Sepenuhnya RS Darurat Covid-19

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN),  Erick Thohir  menjamin RS Darurat Penangan Covid-19 siap beroperasi  pada Senin (23/3). BUMN sepenuhnya siap back up kebutuhan...