HomeFokus BUMNErick Thohir Inginkan Orang Muda Isi Posisi Direksi BUMN

Erick Thohir Inginkan Orang Muda Isi Posisi Direksi BUMN

Kecil Besar

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir  menginginkan jabatan direksi di perusahaan pelat merah diisi oleh kaum muda.  Setidaknya  orang nomor satu di kementerian BUMN ini menargetkan 10 hingga 15 ada orang muda bisa mengisi beberapa jabatan di lingkungan perseroan milik negara tersebut.


PinterPolitik.com

“Saat ini tercatat ada 142 perusahaan milik negara. Kalau ada 10 direksi yang muda kan bagus,” kata Erick Thohir di Ciputra World 1, Jakarta Selatan, Rabu malam (19/2).

Meski menginginkan anak muda terlibat langsung mengurus perusahaan pemerintah, namun Erick menyebut tetap harus melewati serangkaian seleksi.

Menurutnya  proses penilaian pun sedang berlangsung di masing-masing internal perusahaan. “Ada perusahaan yang assessment, jadi bukan hasil tunjuk-tunjuk,” tandas Erick.

Proses penilaian internal yang berhasil dilakukan yakni Claus Wamafma. Seorang putra daerah asal Papua yang ditunjuk sebagai Direktur PT Freeport Indonesia beberapa waktu lalu.

Erick mengungkapkan, Claus meniti karier di Freeport dari bawah. Selama 20 tahun bekerja, Claus sudah menjajal beragam posisi di Freeport.

Dia pernah menjabat sebagai Pengawas Umum Pergudangan sejak 2008 hingga 2011 serta Manajer Pergudangan pada Juli 2011 hingga ditetapkan menjadi SVP.

Jabatan terakhir sebelum diangkat jadi direktur utama, Claus dipercaya sebagai Senior Vice President (SVP) membawahi CSR (Corporate Social Responsibility), partnership fund serta community development.

Erick menambahkan proses yang sama juga tengah berlangsung di beberapa perusahaan BUMN lainnya. Namun Erick  enggan membeberkan perusahaan mana lagi yang bakal dipimpin oleh anak muda dan berasal dari internal perusahaan.

“Kita sedang berjalan, tinggal bagaimana kita sebagai pimpinan itu lebih baik lagi,”pungkas Erick. (R58)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Baca juga :  Danantara dan Konstitusi Kedua: Ketika Negara Memilih Menjadi Satu Arsitektur

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Erick Thohir Pastikan 4,7 Juta Masker Telah Didistribusikan

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memastikan 4,7 juta masker yang diproduksi oleh perusahaan pelat merah, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) telah...

BUMN akan Bangun RS Darurat Corona di Daerah

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memerintahkan jajarannya untuk membangun Rumah Sakit Darurat Corona di sejumlah daerah di Indonesia. Hal itu untuk mengantisipasi lonjakan...

BUMN Back Up Sepenuhnya RS Darurat Covid-19

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN),  Erick Thohir  menjamin RS Darurat Penangan Covid-19 siap beroperasi  pada Senin (23/3). BUMN sepenuhnya siap back up kebutuhan...