HomeData PolitikPolitik Selfie

Politik Selfie

Kecil Besar

PinterPolitik.com

[dropcap size=big]A[/dropcap]lkisah ada seorang pemuda yang luar biasa tampan. Ketampanannya bak dewa dan membuat ia disukai oleh banyak wanita. Namun, tak satu pun wanita yang mampu menaklukan hatinya. Ia begitu bangga akan segala sesuatu yang dimilikinya dan menjadi sombong. Karena kesombongannya itu, suatu hari ia dibimbing Nemesis – dewi pembalasan yang biasa menghukum orang-orang yang sombong dan menetang para dewa – menuju sebuah sungai. Saat melihat bayangannya sendiri yang terpantul di air sungai, pemuda itu jatuh hati pada pantulan wajahnya. Saking jatuh cinta pada wajahnya sendiri, ia bahkan tidak mau beranjak dari tempat itu. Akhirnya, pemuda bernama Narcissus itu tetap berada di tempat itu dan memandangi wajahnya sampai ia mati.

Berbeda dengan kisah Narcissus, di lain waktu dan di lain tempat, sebuah pemandangan menghebohkan terjadi ketika beberapa hari yang lalu, Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud mengunjungi gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia. Sebuah momen menarik terjadi ketika Raja Salman lewat di tengah ruang sidang dan begitu banyak anggota DPR yang berada di kiri dan kanan jalan yang dilewati oleh Raja Salman berebutan untuk menyalami, berswafoto atau selfie, celingak-celinguk tersenyum, dan lain sebagainya. Tidak sedikit yang bahkan menggunakan ‘tongkat narsis’ alias ‘tongsis’ untuk mengabadikan momen tersebut.

Owalah, pemandangan tersebut jelas membuat banyak pihak melayangkan kritik terhadap anggota dewan kita yang terhormat itu – tidak sedikit yang menganggapnya sebagai sesuatu yang memalukan. Anggota DPR ingin mengabadikan wajahnya di dekat Raja Salman, setelah itu foto-fotonya dipamer-pamerkan di media sosial dengan caption: ‘Kunjungan Raja Salman ke DPR’, lalu mendapatkan banyak komentar, dapat banyak likes, asyik periode berikut bisa terpilih lagi! Bapak- bapak, ibu-ibu, tolong rancangan Undang-Undang yang sudah masuk Prolegnas dibereskan dulu, baru foto-foto narsis. Anak-anak zaman sekarang pasti akan bilang: hadeh.

Selfie dan Politik: Sebuah Narsisisme?

Dua kisah di atas menggambarkan hal yang sama, namun dalam konteks dan zaman yang berbeda. Cerita tentang Narcissus menjadi awal lahirnya fenomena narsisisme – sebuah istilah untuk menjelaskan orang yang secara berlebihan jatuh cinta pada dirinya sendiri dan begitu membangga-banggakan diri sendiri. Ada banyak versi kisah tentangnya, namun yang jelas semuanya mengisahkan tentang sifat membanggakan diri secara berlebihan.

Sementara kisah anggota DPR yang jingkrak-jingkrak dengan handphone dan tongkat sakti bernama ‘tongsis’ saat menyambut kedatangan Raja Salman merupakan fenomena mengikuti trend yang umum terjadi di masyarakat saat ini. Pertanyaannya tentu saja adalah apakah hal ini bisa disebut sebagai sebuah narsisisme?

Selfie yang berlebihan hanyalah salah satu bagian dari narsisisme. Pada dasarnya, narsisisme itu sendiri bisa dijelaskan sebagai sebuah perasaan mencintai diri sendiri secara berlebihan dan membuat seseorang begitu membangga-banggakan dirinya – bahkan seringkali juga membuat orang lupa dan mengabaikan orang lain serta lingkungan sekitarnya. Dengan menggunakan pengertian tersebut, boleh jadi aksi anggota DPR yang mencoba untuk terlihat eksis – begitu istilah yang biasa digunakan anak muda zaman sekarang – bisa dikategorikan sebagai sebuah narsisisme. Jika mampu berfoto dengan orang besar seperti raja Arab Saudi, tentu saja ada kebanggaan tersendiri – walaupun caranya sampai harus berjingkrak-jingkrak, dan lain sebagainya. Yang penting bisa dapat swafoto yang ada Raja Salman di dalamnya.  Tidak heran aksi ini tentu saja dinilai oleh banyak orang berlebihan dan kurang pantas dilakukan oleh anggota parlemen kita yang terhormat.

Dalam konteks yang lebih luas, kalau dilihat dari apa yang terjadi saat ini, selfie dan narsisisme sudah masuk ke ranah politik. Selfie dan narsisisme bahkan sudah tercampur aduk dengan politik pencitraan – sebuah istilah untuk menggambarkan image branding ­yang dibangun oleh seorang politisi untuk memuluskan jalannya menggapai dukungan dan meraih kekuasaan.

Selfie atau swafoto hanyalah satu bagian dari narsisisme. Mungkin karena akarnya muncul dari kisah Narcissus yang mencintai pantulan wajahnya sendiri, maka potret diri sendiri adalah salah satu bentuk narsisisme yang paling umum. Kita tentu tahu bagaimana orang yang hidup di zaman ini sangat lekat dengan aktivitas swafoto atau yang lebih dikenal dengan sebutan selfie – kata yang menjadi word of the year pada tahun 2013 lalu.

Baca juga :  Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Keberadaan selfie dan narsisisme memang sangat lekat dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Mulai dari politisi hingga ibu rumah tangga, mulai dari tukang siomay hingga pebisnis besar, mulai dari anak TK hingga kakek-kakek, semuanya terkena demam selfie. Selfie menjadi sarana  pemenuhan sifat narsis manusia – yang oleh Andrew P. Morrison dalam bukunya “Shame: The Underside of Narcissism” (1989) disebut sebagai sifat yang ada dalam diri setiap manusia dan dibawa sejak lahir.

Bagi politisi dan pemangku kebijakan, selfie politik – kalau mau disebut demikian – bisa menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada masyarakat, termasuk juga untuk mensosialisasikan program, meningkatkan popularitas, serta – kemungkinan terburuk – sekedar menjadi sarana untuk pemenuhan hasrat narsisisme. Maka, tidak heran kita melihat begitu banyak politisi berlomba-lomba untuk membuat swafoto, mengunggahnya di media sosial, memberikan komentar, dan lain sebagainya. Lalu, apakah fenomena selfie dalam politik ini adalah sebuah metode politik baru untuk menggalang dukungan dan simpati masyarakat? Ataukah hanya sekedar pemenuhan hasrat narsisisme pribadi?

‘Selfie Kata-kata’ ala Trump

Jika ingin lebih jauh membahas soal narsisme dalam politik, aksi-aksi swafoto yang berlebihan hanyalah salah satu bagian tunggal dari keseluruhan fenomena narsis. Membangga-banggakan diri sendiri pun bisa dikategorikan sebagai sifat narsis – mungkin bisa diistilahkan sebagai selfie kata-kata, kalau mau disebut demikian. Ketika Donald J. Trump berkampanye dan mengatakan bahwa hanya dirinyalah satu-satunya orang yang mampu memperbaiki berbagai persoalan yang terjadi di Amerika Serikat pada pemelihan presiden Amerika Serikat tahun lalu, sesungguhnya ia sedang menunjukkan salah satu sifat narsis.

No one knows the system better than me,” kata Donald Trump saat menerima nominasi Calon Presiden dari Partai Republik. “Which is why I alone can fix it.” Kata-katanya tersebut memang bertujuan untuk meyakinkan masyarakat Amerika Serikat bahwa dialah satu-satunya orang yang mampu memperbaiki segala hal yang menurutnya salah di Amerika Serikat. Namun, dalam kata-kata tersebut tergambar sifat narsis – membangga-banggakan diri secara berlebihan.

Trump juga kerap mengatakan bahwa hanya dialah yang mampu membawa Amerika Serikat kembali berjaya – ucapan lain yang juga menggambarkan kepercayaan diri yang tinggi, namun juga bisa diartikan sebagai narsisisme. Narsisisme Trump lebih kepada penunjukkan terhadap diri sendiri sebagai orang yang mampu menyelesaikan segala persoalan kenegaraan – sesuatu yang berbeda dari pendahulunya Barrack Obama.

Lalu, apakah hal itu buruk? Pada dasarnya narsisisme ada dalam diri setiap orang dan baru bisa dinilai sebagai hal yang buruk jika hal tersebut terlalu berlebihan dan akhirnya merugikan diri sendiri dan orang lain. Trump juga sering membangga-banggakan dirinya sebagai satu-satunya orang yang layak menjadi presiden.

Selfie dan Presiden

Lain Trump, lain Presiden Indonesia, Joko Widodo. Akhir-akhir ini, Presiden Jokowi semakin sering menggunakan selfie untuk berbagi pengalaman dan perasaan yang didapatnya saat melakukan aktivitas tertentu. Jokowi juga dikenal mulai menggunakan video blogging – mungkin bisa juga disebut swavideo – dalam beberapa kesempatan.

Terkait dengan kedatangan Raja Salman ke Indonesia pun Presiden Jokowi sempat membuat video blogging khusus. Lalu, apakah itu berarti Jokowi adalah orang yang narsis? Mungkin narsis bukan kata yang tepat untuk menggambarkan aktivitas Presiden Jokowi ini. ‘Eksis’ mungkin adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan aktivitas Presiden Jokowi ini.

Baca juga :  Jebakan Logika Bedah Kasus Nadiem?

Apa yang dilakukan oleh Presiden Jokowi ini mungkin adalah cara Presiden untuk mendekatkan diri kepada masyarakatnya. Dengan berswafoto atau berswavideo, Presiden Jokowi ingin mengatakan pada masyarakat bahwa seorang Presiden adalah sama seperti orang-orang kebanyakan yang suka berbagi video saat makan bakso misalnya, atau saat menonton pertandingan sepakbola di stadion. Kalaupun ada maksud lain di belakangnya, hanya Presiden Jokowi yang tahu.

Dalam konteks kaitannya dengan tajuk ‘selfie politik’, Presiden Jokowi benar-benar memanfaatkan selfie sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada masyarakat. Sekali lagi, apakah Presiden Jokowi narsis? Silahkan dipikirkan sambil makan bakso, jangan lupa direkam videonya, lalu di-share di media sosial. Biar makin eksis.

Selfie dalam Dunia Politik: Sebuah Trend?

Selfie sepertinya sedang menjadi trend tersendiri dalam dunia politik beberapa tahun terakhir. Kita tentu masih ingat pada akhir tahun 2013 lalu, Presiden Amerika Serikat, Barack Obama melakukan swafoto bersama Perdana Menteri Inggris, David Cameroon dan Perdana Menteri Denmark, Helle Thorning-Schmidt saat acara penghormatan terhadap Nelson Mandela. The Telegraph pada saat itu menurunkan tajuk: “Selfie Diplomacy”. Sejak saat itu selfie menjadi begitu populer di kalangan politisi dunia.

Kita juga tentu masih ingat group selfie yang dilakukan oleh pasangan calon  gubernur dan wakil gubernur yang bertarung dalam Pemilihan Kepala Daerah (pilkada) DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Walaupun tensi politiknya panas, keberadaan swafoto tersebut mampu sedikit meredakan berbagai ketegangan yang terjadi sebelum kontestasi politik di ibukota berlangsung.

Yang terbaru kita juga menyaksikan selfie Raja Salman bersama Megawati Soekarnoputri dan Puan Maharani.

Selfie pada dasarnya berbeda dengan foto biasa karena biasanya selfie juga menggambarkan kedekatan. Jika dua pemimpin negara melakukan selfie, hubungan yang terjadi biasanya ada pada tataran yang berbeda jika dibandingkan dengan foto formal biasa. Hal yang sama bisa kita saksikan dalam kunjungan Presiden Jokowi ke Australia dan berswafoto bersama Perdana Menteri Malcolm Turnbull.

Selfie dan Political Branding

Selfie pada dasarnya bisa digunakan untuk membangun political branding. Hal ini disadari betul oleh politisi-politisi zaman sekarang. Kegiatan selfie juga berhubungan langsung dengan aktivitas di dunia maya. Dengan memanfaatkan hal tersebut secara baik, seseorang bisa meningkatkan kekuatan politiknya. Apalagi, saat ini dunia maya sangat berperan bagi sukses atau tidaknya seseorang dalam kontestasi politik.

Namun demikian, perlu disadari pula bahwa dalam pembentukan political branding seringkali politisi berubah menjadi aktor. Erving Goffman dalam bukunya “The Presentation of Self in Everyday Life” (1956) menyebutnya dengan istilah dramaturgi. Politisi bisa memainkan peranannya dengan cara berbeda-beda. Saat tampil di depan publik secara langsung maupun melalui selfie misalnya, seseorang bisa menampilkan dirinya yang berbeda jika dibandingkan dengan yang terjadi dalam kehidupannya sehari-hari.

Oleh karena itu, sebagai masyarakat dan pemilih, kita harus lebih teliti melihat seseorang yang akan kita pilih sebagai calon pemimpin kita. Apakah yang dilakukannya adalah pencitraan, apakah benar-benar serius, ataukah hanya sekedar untuk mendapatkan suara pemilih. Jangan sampai, politisi yang kita pilih menjadi seperti anggota dewan kita yang terhormat, begitu hebohnya dapat kunjungan Raja Salman, akhirnya melupakan keprotokoleran dan menjadi begitu narsis. Hadeh.

Politik Selfie
Gambar: Y 14

Semoga generasi kita tidak menjadi orang-orang yang terpaku memandangi wajahnya sendiri di dalam cermin atau handphone atau perangkat lainnya, sehingga lupa dengan keadaan di sekitar kita dan akhirnya menjadi seperti Narcissus: mati memandangi wajah sendiri. Semoga selfie bisa juga mendekatkan para elit-elit politik kita – seperti saat selfie menjelang Pilkada DKI – biar masyarakatnya hidup tenang, rukun dan damai. Mungkinkah? (S13)

 

spot_imgspot_img

#Trending Article

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

More Stories

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.