HomeCelotehSirkuit Mandalika Berujung Becek?

Sirkuit Mandalika Berujung Becek?

Kecil Besar

Hujan deras beberapa waktu lalu mengguyur Sirkuit Mandalika di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Alhasil, banyak lingkungan sekitar Mandalika menjadi banjir dan becek. Apakah “pawang hujan” Mandalika kurang sakti?


PinterPolitik.com

Matahari. Sebuah benda langit yang menjadi tata surya yang terdiri atas banyak planet. Salah satu planet itu adalah alternate universe Bumi-88.

Banyak orang sangat mendambakan kehadiran matahari – apalagi bila ada tetangga yang menghelat sebuah kegiatan hajatan. Ya, namanya juga masyarakat Kedaton Indonesia. Kegiatan seperti ini tentu memiliki makna tertentu bagi masyarakat.

Ada satu kebiasaan unik dari para warga Bumi-88 bila mengadakan hajatan, yakni kehadiran pawang hujan. Pawang ini biasanya bertugas untuk menghalau hujan agar hajatan senantiasa berjalan lancar.

Tentunya, pawang hujan ini juga tidak terkecuali ketika Raja Jaka mengadakan sebuah hajatan. Nama hajatan itu adalah World Super Big Kedaton (WSBK). Hajatan ini menjadi simbol besar dari “kedaton” ala Raja Jaka.

Maka dari itu, sudah sewajarnya apabila Raja Jaka menyiapkan sebuah venue yang sangat megah

Namun, tanpa diduga-duga sebelumnya, pawang hujan yang dipekerjakan Raja Jaka tidaklah cukup sakti. Padahal, pawang hujan yang digunakan sudah cukup canggih – dengan berbagai peralatan seperti pesawat terbang.

Melihat guyuran hujan deras ini, Raja Jaka pun langsung memanggil maha patihnya yang bernama Lihit. Meksi yakin bahwa venue Graha Mandalika ini sudah canggih, Lihit pun segera mencari solusi yang lebih tepat.


Raja Jaka: Lihit, ini ngopo kok venue-nya malah banjir? Saya lagi menerima tamu-tamu penting dari negara-negara sahabat di perhelatan WSBK. Tulung segera diselesaikan!

Lihit: Baik. Segera saya selesaikan, Baginda Raja.

Raja Jaka: Padahal, saya mau menggelar balapan yang besar juga di sini nanti. Kalau bisa ya setingkat Moto Guyub Padu (MotoGP) lan Formula Setunggal, bukan susu formula ya. Jangan sampai kita kalah sama si itu yang mau bikin Formula Edan.

Lihit: Baik. Siap, Baginda Raja.

Dengan perintah Raja Jaka, Lihit pun langsung mencari solusi yang lebih tepat. Bagaimana caranya? Lihit pun akhirnya mengadakan sayembara online untuk mencari pawang hujan yang lebih ampuh.


Baca Juga: Mandalika Untuk Donald Trump?

Jokowi Ngeng-ngeng di Mandalika

Seiring dibukanya pendaftaran, banyak individu mumpuni akhirnya mendaftar. Namun, Lihit akhirnya menemukan satu pawang hujan yang dianggap paling canggih di antara semuanya. Namanya adalah Storm.


Lihit: Selamat pagi, Mbak Storm. Silakan masuk dan kita mulai wawancaranya.

(Mbak Storm akhirnya masuk dan duduk di hadapan Lihit.)

Lihit: Silakan perkenalkan diri terlebih dahulu.

Mbak Storm: Iya. Terima kasih, Pak Lihit, atas kesempatannya. Jadi, begini, saya bisa mengatasi persoalan yang dihadapi oleh Pak Lihit, yakni untuk mengontrol cuaca dan menjadi pawang hujan terbaik yang pernah ada untuk Kedaton Indonesia.

Lihit: Hmm, bagaimana caranya? Coba ceritakan pengalaman Mbak Storm.

Mbak Storm: Mudah sekali. Venue Graha Mandalika ini perlu diperbaiki lagi infrastrukturnya.

Lihit: Maksud Mbak Storm bagaimana? Mandalika ini sudah jadi venue bertaraf internasional dan terbaik di seluruh Kedaton.

Mbak Storm: Benar, Pak. Ada satu yang kurang tapi, yakni pemberian garam dan penancapan cabai di banyak sudut. Ini juga diperlukan.

Lihit: Mbak Storm ini pengalamannya panjang. Sudah pernah magang dan kerja di perusahaan mutan PT Eks-Men tetapi solusinya pakai cabai dan garam. Benar ini?

Mbak Storm: Lho, bapak sih nggak tahu. Kadang tradisi itu jadi solusi paling top lho, Pak. Termasuk juga di Eks-Men. Wolferin aja kemarin saya suruh ke Mpu Gondrong biar bisa ditanamin kekuatan magis yang lebih wah di cakarnya itu. Jadinya adalah Keris-damantium.

Lihit: Hooh. Keren-keren. Ya sudah kalau begitu. Anda saya terima. Jadi, kapan bisa melaksanakan tes TWK?

Mbak Storm: Hah? Sorry, sorry. Tes apa, Pak?

THE END.

(A43)

Baca Juga: MotoGP Mandalika: Pertaruhan Legacy Jokowi?


► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

PKS Baper Makin Dikorbankan Gerindra

“Satu-satu, daun-daun, berguguran tinggalkan tangkainya. Satu-satu, burung kecil beterbangan tinggalkan sarangnya.” – Lagu Andaikan Aku Punya Sayap PinterPolitik.com Perlahan-lahan partai Koalisi Adil Makmur mulai berguguran meninggalkan...

Gimik Haedar di Istana Presiden?

“Bilangnya sayang sama negara, negara banyak diperas kok pada enggak lihat?” PinterPolitik.com Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengusulkan enam poin Nawacita II untuk...

Pidato Berbisik Ala Prabowo

“Gebleknya maling-maling itu sudah mencuri uang kita, dia menyogok kita dengan uang kita sendiri saudara-saudara sekalian.” ~Prabowo Subianto PinterPolitik.com Menyedihkan gengs. Ternyata uang kita selama ini...

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?