HomeCelotehPuan Disokong "Remah-remah Rengginang"?

Puan Disokong “Remah-remah Rengginang”?

“Kalau bahasa Jermannya ini saya termasuk remah-remah rengginang di partai ini, tapi kan boleh dong punya kesukaan. Orang kan punya relawan. Ya, saya relawan lah kira-kira begitu yang mendukung Mbak Puan,” – Johan Budi, Anggota DPR RI Fraksi PDIP


PinterPolitik.com

Mendengar ungkapan, “Aku tuh cuma remahan rengginang,” memunculkan pengertian kalau ini adalah bentuk ungkapan merendah. Ini seolah-olah orang yang mengucapkannya sedang ingin berkata, dia adalah sesuatu yang remeh dan tidak perlu dikenang.

Sebenarnya, nggak masalah sih jika perkataan tersebut dimaksudkan untuk merendah, bahkan terkesan bagus karena menunjukkan sikap orang Timur yang terkenal rendah hati.

Namun, maknanya akan kontras jika yang dirasakan adalah sebaliknya, yakni ketika kita ucapkan kalimat itu dengan perasaan rendah diri atau merasa insecure. Bukan hanya berbahaya, perasaan ini akan menjadi penghalang untuk kita berlaku kreatif dalam hidup.

Nah, persoalan seperti ini rupanya tidak hanya tampak dalam kehidupan sehari-hari. Dalam politik, misalnya, ungkapan “remah-remah rengginang” diucapkan oleh Anggota DPR RI Fraksi PDIP Johan Budi. 

Sedikit memberikan konteks, peristiwa ini berawal ketika Johan Budi bersama rekan-rekannya membentuk Dewan Kolonel  sebuah gerakan yang bertujuan meningkatkan citra serta elektabilitas Ketua DPR Puan Maharani sebagai calon presiden (capres) potensial di 2024. 

Namun, gerakan itu tak berlanjut usai mendapatkan sanksi berupa teguran dari DPP PDIP. Merespons sanksi dan teguran tersebut, akhirnya terlepaslah kalimat “remah-remah rengginang di PDIP”.

image 41
Pendukung Puan Hanya Remah-remah Rengginang?
- Advertisement -

Anyway, dalam politik, frasa kiasan yang merupakan bagian dari majas seperti ini rupanya sering digunakan oleh tokoh-tokoh politik. 

Ungkapan “Remah-remah Rengginang” mungkin hanya candaan tapi bisa saja punya makna politik. Sebuah ungkapan perasaan seseorang yang sudah bekerja keras tetapi tak pernah dianggap karena bukan siapa-siapa atau orang yang berpengaruh. 

Baca juga :  Megawati-Puan Sayang Korea?

Dalam konteks bahasa, ungkapan ini termasuk bagian dari majas litotes dan, layaknya alat perang lainnya, majas juga menjadi salah satu instrumen perang wacana dalam  panggung politik. 

Ulin Nuha Masruchin dalam bukunya Buku Pintar: Majas, Pantun, dan Puisi menjelaskan bahwa majas litotes adalah ungkapan menyatakan perlawanan dari kenyataan atau realitas sosial. Majas ini biasa digunakan untuk merendahkan diri kepada lawan bicara. 

Litotes sebagai salah satu entitas majas – tak cukup paripurna jika hanya diterjemahkan secara leksikal kebahasaan. 

Seperti halnya majas-majas lain, semestinya dapat dilihat dari sudut pandang yang lebih luas dan lebih mendalam, yang mana dalam kajian termutakhir dimasukkan kategori analisis wacana kritis.

Di panggung politik Indonesia, ungkapan menggunakan majas pernah diperlihatkan oleh mantan Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Ia pernah mengatakan, “ibarat bayi yang lahir, Anas adalah bayi tidak diharapkan.” 

Tidak hanya itu, bahkan dalam setiap fase-fase Anas lengser dari kepemimpinan Partai Demokrat, ia mengibaratkan kalau drama itu layaknya episode dengan banyak bab-bab yang belum ditulis. 

- Advertisement -

Nah, dari sini kita mampu mendapatkan gambaran kalau ungkapan politisi itu rupanya akan terlihat berkelas, jika ia mampu merangkai kalimat dengan indah, mengombinasikan ide atau gagasannya dengan majas untuk menjadi sebuah kalimat. 

By the way, muncul pertanyaan, apakah betul Johan Budi sebenarnya hanya remah-remah rengginang? Bukannya mendukung Puan-notabene anak dari Ketum PDIP Megawati Soekarno Putri- lebih berkelas dari rengginang? 

Hmm, Agak ragu sih Dewan Kolonel itu hanya remah-remah rengginang. Pesaingnya Dewan Kopral yang bisa jadi remah-remah rengginang sebenarnya. Kalau Dewan Kolonel lebih cocok disebut kue Red Velvet kali ya? Uppsss. Hehehe. (I76)

Baca juga :  Biden vs Putin Makin Sengit?

Deklarasi Terlalu Cepat: Anies Akan Dijegal?
spot_img

#Trending Article

Jakarta-Shanghai, Apple to Apple?

“In the long run, your human capital is your main base of competition. Your leading indicator of where you're going to be 20 years...

Zulhas dan Bisnis Jastip Menjanjikan

Nama Mendag Zulkifli Hasan (Zulhas) disebutkan Prof. Karomani soal kasus penitipan mahasiswa baru di Universitas Lampung (Unila).

PDIP Bakal Gabung KIB?

“Jadi warnanya tidak jauh dari yang ada di bola ini (Al Rihla)” – Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Golkar PinterPolitik.com Demam Piala Dunia 2022 Qatar rupanya...

Ada “Udang” di Balik Relawan Jokowi?

“Saya di dalam sana. Jadi saya tahu perilakunya satu-satu. Kalau Anda bilang ada dua faksi sih tidak, berfaksi-faksi. Ada kelompok yang tiga periode, ada kelompok...

Tito Sewakan Pulau, Cari Investasi?

“Pada intinya, akan mengembangkan kawasan sebagai eco-tourism. Sebetulnya, bagus, menurut saya, daripada dia tidak digunakan kosong begitu saja” –   Tito Karnavian, Menteri Dalam Negeri PinterPolitik.com Sebagian besar masyarakat Indonesia...

PDIP vs Relawan Jokowi, Rebutan GBK?

Usai acara Gerakan Nusantara Bersatu di GBK, PDIP tampak tidak terima relawan Jokowi bisa pakai GBK. Mengapa GBK jadi semacam rebutan?

Mengintip “Spotify Wrapped” Jokowi

Sekarang sudah waktunya untuk "Spotify Wrapped 2022". Musik dan politik pun saling berkaitan. Apakah Jokowi punya "Wrapped" sendiri?

Saatnya Ganjar Balas Jasa Puan?

“Ganjar itu jadi Gubernur (Jateng) jangan lupa, baik yang pertama dan kedua itu, justru panglima perangnya Puan Maharani,” –   Said Abdullah, Ketua DPP...

More Stories

Lord Rangga Pergi, Indonesia Bersedih?

“Selamat jalan, Lord Rangga! Terima kasih sudah menyuguhkan kritik sosial dengan balutan performance gimmick yang cerdas untuk masyarakat yang memang bingung ini! Suwargi langgeng!” – Warganet PinterPolitik.com Sejumlah...

Tito Sewakan Pulau, Cari Investasi?

“Pada intinya, akan mengembangkan kawasan sebagai eco-tourism. Sebetulnya, bagus, menurut saya, daripada dia tidak digunakan kosong begitu saja” –   Tito Karnavian, Menteri Dalam Negeri PinterPolitik.com Sebagian besar masyarakat Indonesia...

Ada “Udang” di Balik Relawan Jokowi?

“Saya di dalam sana. Jadi saya tahu perilakunya satu-satu. Kalau Anda bilang ada dua faksi sih tidak, berfaksi-faksi. Ada kelompok yang tiga periode, ada kelompok...