HomeCelotehPSI dan Ganjar “Kawin Lari”?

PSI dan Ganjar “Kawin Lari”?

“Kalau kamu punya anak, kemudian anakmu mau saya pinang, aku ngomong sama kamu enggak? Ngomonglah sama Ketum. Begitu loh, Bos!” – Bambang “Pacul” Wuryanto, Ketua Bappilu PDIP


PinterPolitik.com

Tidak berlebihan jika  mengatakan kalau pekan ini merupakan “hari-hari deklarasi calon presiden (capres)”. Setelah Anies Baswedan yang dideklarasikan Partai Nasdem, kini giliran Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang juga akhirnya mendeklarasikan Ganjar Pranowo sebagai capres. 

Wakil Ketua Dewan Pembina PSI Grace Natalie menyatakan bahwa deklarasi PSI untuk Gubernur Jawa Tengah (Jateng) itu hanya upaya untuk menyampaikan hasil jajak pendapat soal pen-capres-an. 

Hal ini yang juga menjadi alasan kenapa PSI menilai tidak perlu terlebih dahulu berbicara pada Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri terkait deklarasi dukung Ganjar. 

Sedikit memberikan konteks, deklarasi PSI terhadap Ganjar sempat disentil oleh Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) PDIP Bambang “Pacul” Wuryanto. Ia mengibaratkan Ganjar seperti seorang anak yang dipinang oleh orang lain. 

Bambang mengungkapkan bahwa, jika seseorang hendak meminang anak orang lain, maka orang tersebut harus bicara lebih dahulu ke orang tuanya. PSI harusnya bicara terlebih dahulu kepada Megawati sebelum deklarasi Ganjar. 

Sikap PDIP ini tentunya berbeda dengan sikap Ganjar ketika mendengar deklarasi PSI yang mengusung dirinya. 

Ganjar merespons hal itu dengan mengucapkan terima kasih kepada PSI. Namun, saat ini ia akan fokus terlebih dulu dengan tugas-tugasnya sebagai Gubernur Jateng.�

image 27
Ganjar “Buat Rumah” Diam-diam?

Anyway, sikap PSI ini kemudian menimbulkan banyak spekulasi. Ada yang melihat kalau deklarasi PSI terhadap Ganjar sebagai upaya “kawin lari” politik, artinya PSI sengaja tidak meminta izin PDIP dan berupaya merebut Ganjar. Tentu, pertimbangan popularitas Ganjar bisa jadi faktor utamanya. 

Baca juga :  Mungkinkah PDIP Jerumuskan Anies di Jakarta?

Lantas, muncul pertanyaan, apakah tujuan PSI hanya untuk merebut Ganjar? Apakah tidak ada tujuan yang lebih besar dibandingkan itu? 

Nah, di sinilah politik beroperasi bagaikan dagelan. Politik sekilas memamerkan kelucuan dari sikap institusi maupun individu yang sering berakrobat dalam sebuah pranata sosial yang disebut panggung politik. 

Jika melihat lebih jauh aksi PSI ini, sebenarnya bukan hanya dagelan politik yang ditunjukkan, melainkan ada semacam kemungkinan untuk merebut – bahkan mungkin “menggeser” para pemilih PDIP beralih ke PSI. 

Upaya semacam ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, PSI sempat mengkritik tajam PDIP terkait isu tentang partai politik yang berlabel nasionalis tetapi mendukung Peraturan Daerah (Perda) Syariah.

Ketua DPP PDI Perjuangan Hendrawan Supratikno mengatakan bahwa upaya PSI itu sengaja dilakukan untuk mencapai ambisi ingin lolos ke DPR, yakni dengan cara menarik simpati pemilih PDIP. 

Supratikno melihat hal ini dimungkinkan karena segmen PDIP yang gemuk diisi oleh kalangan anak-anak muda dengan urban lifestyle dan segala atributnya. PSI ingin meraih segmen tersebut. 

Pernyataan Supratikno ini sejalan dengan data yang dirilis Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada tahun 2017. CSIS menyebut PDIP merupakan partai yang paling populer di antara generasi milenial (berusia 17-29 tahun). 

Bahkan, persentase popularitas PDIP di segmen generasi milenial mencapai angka 94,2 persen. Hal ini menarik jika kita sandingkan dengan PSI yang mengasosiasikan diri sebagai partai anak muda dan generasi milenial. 

PSI hanya mampu mendapat 11,5 persen popularitas di kalangan milenial – yang mana kebanyakan telah diambil PDIP. 

Menjadi semakin wajar jika PSI sebenarnya bukanlah partai yang bisa kita atribusikan sebagai “PDIP Mini” karena ada upaya dari partai muda ini untuk melakukan semacam “kanibalisme elektoral” 

Baca juga :  Kaesang Singkirkan Ahmad Luthfi & PDIP?

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menerjemahkan istilah kanibalisme elektoral sebagai upaya sebuah partai mengambil suara dari partai lain yang juga dalam segmen atau ciri politik yang sama. 

Tampak di permukaan ada kesamaan ciri dan identitas yang dimiliki oleh PSI dengan PDIP. Keduanya mengklaim berakar pada semangat dan pemikiran Soekarno.

Pada akhirnya, kita bisa sampai  pada salah satu dari banyak kemungkinan kesimpulan yang akan terjadi. Rupanya, ada misi lain dibalik deklarasi Ganjar oleh PSI – sebuah misi untuk mengambil pemilih yang rentan retak dalam PDIP. 

Hmm, seandainya spekulasi ini benar dan PSI berhasil mewujudkannya. Bisa jadi di masa depan PDIP akan dijuluki “PSI Mini”. Upps. Hehehe. (I76)


Kelas Revolusi Baru, Jalan Nadiem Menuju Pilpres
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

More Stories

Ganjar Punya Pasukan Spartan?

“Kenapa nama Spartan? Kita pakai karena kata Spartan lebih bertenaga daripada relawan, tak kenal henti pada loyalitas pada kesetiaan, yakin penuh percaya diri,” –...

Eks-Gerindra Pakai Siasat Mourinho?

“Nah, apa jadinya kalau Gerindra masuk sebagai penentu kebijakan. Sedang jiwa saya yang bagian dari masyarakat selalu bersuara apa yang jadi masalah di masyarakat,”...

PDIP Setengah Hati Maafkan PSI?

“Sudah pasti diterima karena kita sebagai sesama anak bangsa tentu latihan pertama, berterima kasih, latihan kedua, meminta maaf. Kalau itu dilaksanakan, ya pasti oke,”...