HomeCelotehPKS Pertanyakan Kenegarawanan Jokowi?

PKS Pertanyakan Kenegarawanan Jokowi?

“Presiden itu kepala pemerintahan sekaligus kepala negara, maka sikapnya harus sebagai negarawan, bukan politisi semata. Apalagi menjadi supporter kandidat, itu tidak baik,” – Muhammad Kholid, Juru Bicara (Jubir) Partai Keadilan Sejahtera (PKS).


PinterPolitik.com

Mungkin kita sering bertanya, kenapa pemimpin yang mempunyai sifat negarawan seolah-olah menjadi harapan setiap orang. Terlebih dalam panggung politik, pemimpin negarawan menjadi barang mahal yang sulit ditemukan.

Istilah negarawan muncul kembali, ketika Juru Bicara (Jubir) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Muhammad Kholid, memberikan penilaian tentang sikap Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat memberi sinyal Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menjadi penerusnya di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang.

Kader PKS ini menilai seorang Presiden tidak mesti terlalu jauh ikut dalam meramaikan bursa pencapresan. Bagi Kholid, sikap kepala negara harus sebagai negarawan, bukan menjadi pendukung kandidat.

image 49
2024 Giliran Prabowo?

Anyway, pertarungan istilah negarawan dan pendukung kandidat atau dapat kita sebut dengan istilah politisi, bukanlah hal yang baru. Negarawan selalu mempunyai tempat yang lebih tinggi dibandingkan politisi. Kok bisa ya?

Samsul Nizar dalam tulisannya Negarawan Versus Politikus, mencoba memotret jarak antara negarawan dan politisi dalam pandangan ilmu sosial dan politik.

Bagi Nizar, secara substansi, tipikal sosok pemimpin yang berkarakter negarawan memiliki sifat mengayomi dan memikirkan masa depan bangsa, serta punya visi lebih jauh tentang generasi bangsa yang akan datang.

- Advertisement -

Seorang negarawan memiliki idealisme yang kokoh. Kehadirannya bagai seorang “ayah” mengantarkannya menjadi sosok yang bijaksana dan berpikir visioner.

Meletakkan profesionalisme dan moral sebagai standar utama. Kebijakannya berangkat dari kepentingan kolektif rakyat dan meminimalkan dominasi kepentingan kolegial yang bersumber kepentingan dan dorongan kelompok.

Berbeda dengan tipikal politisi yang sudah terlanjur punya makna peyoratif, karena dianggap hanya memikirkan kepentingan sesaat demi tercapainya tujuan pribadi dan komunitas yang terbatas.

Baca juga :  Setuju RK Sama Ganjar?

Meminjam istilah Ahmad Syafii Ma’arif, yakni “politisi rabun ayam”, politisi hanya melihat sesuatu yang berada di depan mata dengan jarak pendek, tapi tak mampu melihat sesuatu yang jauh ke depan.

Pada titik ini, kritik PKS sekiranya bisa menjadi bahan evaluasi agar Jokowi lebih berhati-hati dalam bersikap atau melontarkan pernyataan, karena hampir semua mata akan memperhatikannya.

Harapannya, tindak tanduk yang dilakukan Presiden Jokowi berasal dari sebuah pemikiran dan pertimbangan yang matang. Kematangan pemikiran itu terlihat dari pandangannya yang jauh ke depan untuk membangun kecemerlangan peradaban, tidak sebatas dukungan pada Pilpres 2024. Uppsss. Hehehe. (I76)


Deklarasi Terlalu Cepat: Anies Akan Dijegal?
spot_img

#Trending Article

Jakarta-Shanghai, Apple to Apple?

“In the long run, your human capital is your main base of competition. Your leading indicator of where you're going to be 20 years...

Zulhas dan Bisnis Jastip Menjanjikan

Nama Mendag Zulkifli Hasan (Zulhas) disebutkan Prof. Karomani soal kasus penitipan mahasiswa baru di Universitas Lampung (Unila).

PDIP Bakal Gabung KIB?

“Jadi warnanya tidak jauh dari yang ada di bola ini (Al Rihla)” – Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Golkar PinterPolitik.com Demam Piala Dunia 2022 Qatar rupanya...

Ada “Udang” di Balik Relawan Jokowi?

“Saya di dalam sana. Jadi saya tahu perilakunya satu-satu. Kalau Anda bilang ada dua faksi sih tidak, berfaksi-faksi. Ada kelompok yang tiga periode, ada kelompok...

Tito Sewakan Pulau, Cari Investasi?

“Pada intinya, akan mengembangkan kawasan sebagai eco-tourism. Sebetulnya, bagus, menurut saya, daripada dia tidak digunakan kosong begitu saja” –   Tito Karnavian, Menteri Dalam Negeri PinterPolitik.com Sebagian besar masyarakat Indonesia...

PDIP vs Relawan Jokowi, Rebutan GBK?

Usai acara Gerakan Nusantara Bersatu di GBK, PDIP tampak tidak terima relawan Jokowi bisa pakai GBK. Mengapa GBK jadi semacam rebutan?

Mengintip “Spotify Wrapped” Jokowi

Sekarang sudah waktunya untuk "Spotify Wrapped 2022". Musik dan politik pun saling berkaitan. Apakah Jokowi punya "Wrapped" sendiri?

Saatnya Ganjar Balas Jasa Puan?

“Ganjar itu jadi Gubernur (Jateng) jangan lupa, baik yang pertama dan kedua itu, justru panglima perangnya Puan Maharani,” –   Said Abdullah, Ketua DPP...

More Stories

Lord Rangga Pergi, Indonesia Bersedih?

“Selamat jalan, Lord Rangga! Terima kasih sudah menyuguhkan kritik sosial dengan balutan performance gimmick yang cerdas untuk masyarakat yang memang bingung ini! Suwargi langgeng!” – Warganet PinterPolitik.com Sejumlah...

Tito Sewakan Pulau, Cari Investasi?

“Pada intinya, akan mengembangkan kawasan sebagai eco-tourism. Sebetulnya, bagus, menurut saya, daripada dia tidak digunakan kosong begitu saja” –   Tito Karnavian, Menteri Dalam Negeri PinterPolitik.com Sebagian besar masyarakat Indonesia...

Ada “Udang” di Balik Relawan Jokowi?

“Saya di dalam sana. Jadi saya tahu perilakunya satu-satu. Kalau Anda bilang ada dua faksi sih tidak, berfaksi-faksi. Ada kelompok yang tiga periode, ada kelompok...