HomeCelotehMengapa Mahfud Kebut UU PDP?

Mengapa Mahfud Kebut UU PDP?

Kecil Besar

Beberapa waktu lalu, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akhirnya mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Data Pribadi setelah Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD berjanji untuk mengesahkannya dalam waktu singkat.


PinterPolitik.com

“Akhirnya datang juga!” – Akhirnya Datang Juga (2007-2008; 2011)

Siapa sih yang tidak menanti-nanti akan kedatangan seseorang yang diharap-harapkan? Apalagi nih, seseorang – bisa juga sesuatu – itu adalah mereka yang diharap-harapkan kehadirannya sejak lama.

Mungkin, itulah efek menunggu. Semakin lama waktu yang dihabiskan untuk menanti, semakin besar pula efek yang dirasakan ketika penantian itu akhirnya berakhir.

Ya, mungkin, konsep inilah yang akhirnya disajikan oleh serial komedi seperti Akhirnya Datang Juga (2007-2008; 2011). Gimana nggak? Serial komedi ini dimulai dengan kedatangan orang yang paling dinanti-nanti, yakni bintang tamu yang nantinya harus melakukan improvisasi terhadap skenario yang dia tidak persiapkan sebelumnya.

Ya, se-gimana pun jagonya sang bintang tamu, datang tanpa persiapan – seperti membaca skenario – tentu saja bakal menimbulkan kebingungan tersendiri bagi sang bintang tamu. Di sini lah, letak unsur lucu dari serial sitkom ini.

Mirip-mirip dengan Akhirnya Datang Juga, kehidupan sehari-hari juga biasanya mengandung unsur-unsur yang tidak terduga. Soal-soal yang muncul dalam ujian, misalnya, sering kali tuh ternyata berasal dari materi-materi yang tidak dipelajari.

Bisa-bisa bakal kebingungan tuh menjawab soal-soal tidak terduga seperti itu. Lebih parah lagi kalau misalnya kita belajarnya pakai sistem kilat – alias sistem kebut semalam (SKS). Beuh, makin banyak tuh unsur-unsur yang nggak terduga.

PDP Disahkan Terima Kasih Bjorka

Kayak-nya nih, cara kerja SKS ini tidak hanya berlaku bagi siswa dan mahasiswa Indonesia saja, melainkan juga bagi para pengambil kebijakan kita. Banyak tuh kan regulasi yang sebenarnya bisa dipersiapkan dari jauh-jauh hari tetapi malah disiapkannya mepet dan malah sudah lewat dari saat-saat krusial.

Baca juga :  Jebakan Rindu Soeharto?

Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Data Pribadi (PDP), misalnya, baru cepetcepet disahkan setelah publik diramaikan oleh serangan-serangan siber dari hacker (peretas) bernama Bjorka. Meski sudah dirancang sejak tahun 2016, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD akhirnya kemarin berjanji agar RUU itu bisa disahkan dalam waktu sekitar sebulan.

Alhamdulillah, nggak sampai sebulan, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akhirnya nge-sah-in UU PDP. Tapi, gimana ya? Banyak yang bertanya, “Apa lagi data yang dilindungi? Kan, udah bocor semua data masyarakat?”

Emang sih, legislasi buat bikin UU-UU gini memang banyak intrik politiknya. Kata Jefferson William Fink di tulisannya yang berjudul Law, Politics, and the Creation of Public Policy, dijelaskan bahwa pembuatan kebijakan publik emang dipenuhi oleh kepentingan-kepentingan politik.

Bukan nggak mungkin, proses pengesahan UU PDP juga dipenuhi dengan unsur-unsur itu. Soal independensi lembaga perlindungan data pribadi, misalnya, sempat jadi perdebatan – bahkan setelah UU tersebut disahkan.

Hmm, tapi, kalau gini caranya, kasihan juga masyarakat yang jadi korban. Masa iya bila ada masalah baru dipercepat? Apakah negeri ini adalah negeri serba SKS? Well, maybe yes kalau melihat ke kasus UU PDP ini. (A43)


spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

PKS Baper Makin Dikorbankan Gerindra

“Satu-satu, daun-daun, berguguran tinggalkan tangkainya. Satu-satu, burung kecil beterbangan tinggalkan sarangnya.” – Lagu Andaikan Aku Punya Sayap PinterPolitik.com Perlahan-lahan partai Koalisi Adil Makmur mulai berguguran meninggalkan...

Gimik Haedar di Istana Presiden?

“Bilangnya sayang sama negara, negara banyak diperas kok pada enggak lihat?” PinterPolitik.com Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengusulkan enam poin Nawacita II untuk...

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?