HomeCelotehKetika Pratikno Klarifikasi Gibran

Ketika Pratikno Klarifikasi Gibran

Kecil Besar

Istana melalui Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno menyebutkan bahwa sikap penolakan pemerintah terhadap revisi Undang-undang Pemilihan Kepala Daerah (UU Pilkada) tidak berkaitan dengan persiapan Gibran Rakabuming Raka untuk Pilkada DKI Jakarta 2024.


PinterPolitik.com

Urusan politik memang tidak ada habisnya. Bisa dibilang, pro dan kontra akan selalu menyertai sebuah isu atau polemik yang tengah jadi perbincangan di masyarakat.

Soal pelaksanaan vaksinasi Covid-19 mandiri, misalnya, dinilai dapat mempercepat laju vaksinasi nasional yang bisa jadi sangat krusial bagi pemulihan ekonomi nasional (PEN). Sementara, vaksinasi mandiri juga dipertanyakan karena dinilai dapat menyebabkan ketimpangan di masyarakat atas akses terhadap vaksin itu sendiri.

Tidak hanya soal vaksin, perdebatan juga sempat memanas terkait revisi Undang-undang (UU) Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Di satu sisi, UU Pemilu & Pilkada yang baru disahkan tahun 2016 memiliki alasan tertentu agar Pilkada dijalankan serentak pada tahun 2024.

Sementara, di sisi lain, banyak pihak menilai bahwa Pilkada yang dilaksanakan berdekatan dengan Pemilu dan Pilpres bisa membuat petugas kelelahan. Ditakutkan kasus pada Pemilu 2019 akan terulang nantinya. Belum lagi, fokus Komisi Pemilihan Umum (KPU) bisa terbagi.

Nggak hanya itu, ada juga yang bilang bahwa Pilkada Serentak 2024 bisa menghilangkan panggung politik sejumlah politisi yang kini menjabat sebagai kepala daerah, seperti Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan hingga Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Bahkan, pro dan kontra ini berlanjut hingga munculnya desas-desus bahwa ada upaya pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) untuk mempersiapkan Wali Kota Solo terpilih Gibran Rakabuming Raka untuk Pilkada DKI Jakarta 2024. Pasalnya, pemerintah juga telah menyatakan sikap untuk menolak revisi UU Pilkada.

Baca juga :  Gibran "Ban Serep" yang Ngarep?

Baca Juga: Gibran Bukan Newbie Biasa?

Pilkada 2024 untuk Gibran

Nah, menanggapi desas-desus ini, akhirnya Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno memberikan klarifikasi tuhEits, tentunya, klarifikasinya bukan ke podcast Deddy Corbuzier ya. Hehe.

Kata Pak Pratikno sih, sikap pemerintah terkait revisi UU tersebut tidak ada kaitannya dengan Mas Gibran kokWong Mas Gibran itu masih sibuk jualan martabak kala UU Pilkada tersebut disahkan pada tahun 2016 silam.

Hmm, terlepas dari itu nihkok tumben yang muncul ke muka publik sekarang Pak Pratikno nih? Biasanya, sosok yang mewakili Istana di muka publik adalah Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko atau Juru Bicara (Jubir) Presiden Fadjroel Rachman.

Apa jangan-jangan Pak Jokowi kini butuh Pak Pratikno ya kalau soal isu-isu sensitif seperti ini – mengingat kedekatan tertentu Presiden dengan Mensesneg? Kan, Pak Moeldoko dan Bung Fadjorel lagi banyak kontroversi juga nih di mata para warganet. Hehe.

Lagipula nih ya, sebenarnya isu soal Gibran ini kan juga bukan isu penting dalam pemerintahan Jokowi. Kan, ini hanya isu yang dilemparkan oleh segelintir aktor politik. Tapi, kenapa ya Istana sampai repot-repot klarifikasi segala? Wah.

Mbok ya isu-isu yang lebih krusial yang diklarifikasi. Penelitian Bloomberg soal vaksinasi yang memakan waktu lebih dari 10 tahun, misalnya, perlu juga dong diklarifikasi soal bagaimana data tersebut bisa aja terlalu statis. Masa cuma disuruh belajar ajaUpss.

Ya, terlepas dari itu semua, ada baiknya pemerintah menyortir isu-isu penting apa saja yang perlu ditanggapi. Apalagi nih, kepercayaan publik pada pemerintahan Jokowi kini disebut-sebut makin menurun tuhHayoo. (A43)

Baca Juga: Hanya Pratikno Yang Dipercaya Jokowi?

Baca juga :  Gibran "Ban Serep" yang Ngarep?

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

PKS Baper Makin Dikorbankan Gerindra

“Satu-satu, daun-daun, berguguran tinggalkan tangkainya. Satu-satu, burung kecil beterbangan tinggalkan sarangnya.” – Lagu Andaikan Aku Punya Sayap PinterPolitik.com Perlahan-lahan partai Koalisi Adil Makmur mulai berguguran meninggalkan...

Gimik Haedar di Istana Presiden?

“Bilangnya sayang sama negara, negara banyak diperas kok pada enggak lihat?” PinterPolitik.com Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengusulkan enam poin Nawacita II untuk...

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?