HomeCelotehHilang Merah, Tinggal Putih?

Hilang Merah, Tinggal Putih?

Banyak usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), pedagang kecil, pedagang kaki lima (PKL), buruh, dan kelompok terdampak pandemi Covid-19 mulai mengibarkan bendera putih di tengah penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3-4 oleh pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Apakah bendera merah dan putih yang biasa warnai bulan Agustus kini berubah hanya menjadi putih?


PinterPolitik.com

Kalian ingat nggak sih masa-masa sekolah sebelum pandemi Covid-19 menghantam? Biasanya tuh, hari Senin itu menjadi salah satu hari yang paling berat. Ya, mungkin, karena hari ini adalah hari yang pertama kali datang setelah libur akhir pekan kali ya?

Terlepas dia datang setelah libur akhir pekan, ada satu ciri khas hari Senin yang kerap jadi momok buat para siswa dan siswi, yakni upacara bendera. Gimana nggak? Di hari Senin yang sudah terkenal berat untuk dilalui, masih aja disuruh untuk berdiri selama bermenit-menit di bawah terik matahari.

Hayoo, siapa yang dulu paling nggak suka kalau harus ikut upacara? Kalau dulu pas masih duduk di bangku sekolah, aku sih suka banget kalau ikut upacara bendera – padahal terik matahari Kota Surabaya itu nylekitHehe.

Ya, selain bisa menghormati Sang Saka Merah Putih, bisa jadi kesempatan ikutan nyanyi lagu kebangsaan dan sejumlah lagu lainnya – ya meskipun suaranya akhirnya tertutupi suara siswa-siswi lainnya. Bukan begitu, gaes?

Tapi, jujur aja sih, aku kadang juga bolos upacara. Alasanku cuma satu sih, yakni karena atribut seragam sekolah yang aku pakai nggak lengkap – misal topi. Kebiasaan tuh kalau hari Senin itu berangkatnya jadi ngaret. Alhasil, serba ketinggalan tuh atribut seragam untuk upacara. Sorry sorryHihi.

Ya, terlepas dari kadang bolos tadi, upacara itu penting lhogaes. Setidaknya, kita secara nggak langsung ikut menghargai dan menghormati jasa para pahlawan sehingga negara Indonesia kini masih tetap berdiri. Apalagi nihgaes, pada 17 Agustus 2021 nanti, kita akan merayakan kemerdekaan Indonesia yang ke-76.

Baca juga :  Laga Kominfo vs Bjorka!
- Advertisement -

Baca Juga: Dewa Kipas dan Risalah Patriotisme Netizen

Merah Putih Kehilangan Merahnya

Ada yang bilang bendera kita ini melambangkan sifat berani (merah) dan jiwa yang suci (putih). Namun, ada juga yang bilang kalau bendera Merah Putih itu melambangkan tubuh manusia (merah) dan jiwa manusia (putih). Mungkin, dengan melihat bendera kita ini, kita bisa mengingat para pahlawan yang memberikan raga dan jiwanya untuk mewujudkan Indonesia yang merdeka.

Ya, meskipun bendera Merah Putih ini merupakan simbol dan pengingat penting atas memori dan jati diri bangsa kita, ada bendera lain yang baru-baru ini berkibar nih sejak Juli 2021 lalu, yakni bendera putih. Kabarnya, bendera putih ini dikibarkan oleh para pelaku usaha dan pedagang kecil untuk mengatakan kata menyerah terhadap kondisi pandemi Covid-19 yang merongrong negara kita.

Sedih dan ironi juga sih jadinya. Pada bulan Agustus yang harusnya menjari momen euforia kemerdekaan, Indonesia masih saja dirongrong oleh virus ini. Apalagi, semakin ke sini, makin ada aja varian-varian baru yang tiba datang menginvasi. Apakah sekarang “penjajah” kita sekarang adalah Covid-19? Entahlah.

Mungkin ya, dengan munculnya bendera-bendera di berbagai penjuru Indonesia ini, pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) harus bisa nih mengembalikan warna merah yang telah hilang dari bendera-bendera tersebut. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno sendiri udah mengimbau para pedagang untuk mengibarkan bendera Merah Putih daripada bendera putih aja.

Ayo, Pak Jokowi, Pak Luhut, Pak Sandi, dan bapak-ibu lainnya! Kita harus bisa tuh mengembalikan warna merah alias sifat berani kita. Boleh jadi, ini adalah kesempatan pemerintahan Jokowi buat membuat kebijakan yang berani dan tegas nih – daripada menerapkan kebijakan yang separuh-separuh.

Baca juga :  Prabowo-Imin: Koalisi Kolang-kaling?

Misal nih, bisa Pak Jokowi memberlakukan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3-4 yang juga disertai kebijakan stimulus dan bantuan sosial tunai (BST) yang lebih menyeluruh dan tepat sasaran – serta tidak dikorupsi (upss). Kalau semuanya bisa berjalan lancar, kesehatan aman, dan ekonomi jalan, bisa jadi justru Sang Saka Merah Putih sebagai simbol “kemerdekaan” kitalah yang merajalela tuh. Bukan begitu? (A43)

Baca Juga: Agnez Mo dan Identitas Keindonesiaan


- Advertisement -

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_img

#Trending Article

Jakarta-Shanghai, Apple to Apple?

“In the long run, your human capital is your main base of competition. Your leading indicator of where you're going to be 20 years...

Anies-AHY, Reuni Kuasa SBY-JK?

“Padahal saat itu SBY dan JK adalah menteri Megawati. Toh pertarungan keras antarkan SBY-JK sukses kalahkan Megawati yang adalah Presiden saat itu,” – Muslim...

Ridwan Kamil Penuhi Syarat Kaesang?

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (RK) komentari studi soal bubur diaduk vs tidak diaduk. Bagaimana dengan di Istana menurut Kaesang?

Gibran Kok Berani Lawan Jokowi?

Jokowi teken Inpres yang syaratkan penggunaan mobil listrik sebagai mobil dinas . Namun, Wali Kota Solo Gibran sebut Pemkot Solo belum ke sana.

Prabowo Siap Di-ospek?

“Pertanyaannya adalah, (kampanye) boleh dilakukan di mana saja? Di mana saja sepanjang ada pemilih, itu boleh kampanye pada prinsipnya, termasuk di dalam kampus, di...

Megawati Perlu ke Pesulap Merah?

Soal usulan nomor urut partai yang tetap di setiap Pemilu, Megawati dituding konsultasi ke dukun. Lebih baik ke Pesulap Merah saja sekalian?

Kasino, Alternatif Enembe Cuci Uang?

“Bukan itu persoalannya, itu (tambang) juga tidak pernah ada. Jadi sekarang ini kan Pak Gubernur dituduh hasil korupsinya disetor ke kasino, sekarang tugasnya itu...

SBY-JK-Paloh Adalah Nakama?

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Jusuf Kalla (JK), dan Surya Paloh disebut tengah bangun koalisi. Apakah ini sebuah koalisi "nakama"?

More Stories

Kasus Lesti-Billar, Begini Tanggapan Lesti

Lesti Kejora laporkan suaminya, Rizky Billar, atas kasus KDRT setelah diduga ketahuan selingkuh. Mengapa fenomena ini begitu marak?

G30S, Kok Gatot Diam Saja?

Peristiwa 30 September telah terjadi pada 57 tahun lalu, yakni 1965. Gatot Nurmantyo biasanya muncul ke publik peringatkan bahaya PKI.

Menanti Dansa Puan-Ganjar

Ganjar Pranowo sebut Megawati beri arahan agar kepala daerah tidak dansa politik. Padahal, Puan dan Ganjar perlu berdansa politik untuk PDIP.