HomeCelotehHanura Bisa Gagal Lagi di 2024?

Hanura Bisa Gagal Lagi di 2024?

Ketua Umum (Ketum) Partai Hanura Oesman Sapta Odang (OSO) menantang siapa saja yang menolak gagasan Ibu Kota Negara (IKN) baru yang akan dibangun di Kalimantan, yakni Nusantara. Mungkinkah pernyataan ini memiliki konsekuensi politis terhadap Hanura?


PinterPolitik.com

“… and the rats are talking in the walls” – Dolores Madrigal, Encanto (2021)

Siapa sih yang nggak pengen punya kekuatan super (superpower)? Semua orang pasti punya ingin power – entah power dalam makna “kekuatan” atau power dalam makna “kekuasaan”. Anggapannya sih, dengan power, kita bisa melakukan lebih banyak hal yang kita mau.

Namun, selain sebagai blessing (anugerah), power juga bisa menjadi curse (kutukan). Pertanyaan inilah yang harus menjadi pertanyaan ketika seseorang akhirnya mendapatkan power? Untuk tujuan apa power itu akan digunakan?

Keluarga Madrigal dalam film Encanto (2021), misalnya, diberkahi kekuatan magis yang berasal dari sebuah lilin. Keluarga ini akhirnya hidup di sebuah wilayah bernama Encanto – di mana akhirnya banyak warga bergantung pada keajaiban yang dimiliki oleh keluarga ini.

Keajaiban yang dimiliki oleh sebuah lilin ini pun tersalurkan kepada keturunan-keturunan keluarga Madrigal. Setiap anggota keluarganya memiliki kekuatan super yang unik – membuat mereka semacam penjaga yang senantiasa mengatur harmoni di Encanto.

Salah satu anggota Madrigal yang memiliki kekuatan ajaib adalah Dolores Madrigal. Gadis satu ini memiliki kemampuan enhanced hearing – menjadikan dirinya mampu mendengarkan apapun dalam radius yang luas. Bahkan, bisa mendengarkan suara-suara kecil yang ada di dinding.

Selain itu, kemampuan ini juga membuat Dolores mampu mengetahui rahasia banyak orang. Ini akhirnya membuat Dolores menjadi pendengar yang super karena bisa mengetahui rahasia sampai persoalan yang dimiliki oleh orang-orang. 

Baca juga :  PDIP Masih Teratas
- Advertisement -

Nah, kemampuan Dolores ini bukan nggak mungkin membuat kita teringat akan pentingnya menjadi pendengar yang baik dalam banyak aspek kehidupan, khususnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang demokratis. 

Curhat Pak Jokowi

Gimana nggak? Makin ke sini, makin banyak saja masyarakat yang menilai bahwa para politisi, wakil rakyat, dan pemimpin semakin tidak mau mendengarkan apa yang menjadi aspirasi rakyat.

Ketua Umum (Ketum) Partai Hanura Oesman Sapta Odang (OSO), misalnya, beberapa waktu lalu malah mengeluarkan pernyataan bahwa dirinya menantang siapapun yang menolak gagasan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara yang akan dibangun di Kalimantan. Sontak saja, para pengamat politik seperti Hendri Satrio (Hensat) malah mengkritik pernyataan OSO.

Pertanyaannya nih, gimana caranya mau dipilih agar masuk kembali ke parlemen kalau mendengarkan aspirasi rakyat dengan baik saja adalah hal yang sulit? Kok ya malah mengajak debat? Kan, mereka yang mengkritik pun juga bagian dari rakyat? Hmm.

Padahal nih, mengacu pada tulisan Russell Muirhead dan Nancy L. Rosenblum yang berjudul The Political Theory of Parties and Partisanship: Catching Up, partai politik (parpol) memiliki peran fasilitatif dalam membangun hubungan antara individu warga dengan perwakilan resmi dalam lembaga legislatif.

Nah, kalau mendengarkan aspirasi yang ada di masyarakat aja sulit, gimana bisa menjalankan peran fasilitatif tersebut? Lha, wong, orang yang mengkritik Nusantara aja langsung diajak debat tanpa mendengarkan dan berdiskusi terlebih dahulu?

Inget loh, kemarin kan di Pemilu 2019 Hanura gagal lolos Senayan. Jangan sampai karena pernyataan Pak OSO, nasib pada 2019 kembali terulang pada Pemilu 2024 nanti.

Hmm, mungkin nih, biar Hanura bisa lebih mau mendengar, apa perlu ya menggandeng Dolores dari Encanto buat jadi kader sekalian? Barang kali, Dolores bisa membantu Pak OSO biar lebih memahami para calon pemilihnya, kan? Hehe

Baca juga :  Gus Yahya Main Tepi Jurang?
- Advertisement -

Atau nih, mungkin, saking hebatnya pendengaran yang dimiliki, Dolores bahkan bisa membantu pembicaraan-pembicaraan di balik layar tuh – misal bicara-bicara “transaksi-transaksi” tertentu yang bisa melukai hati rakyat. Makin keren nggak tuh Hanura? Hehe. (A43)


Previous article
Next article
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Jakarta-Shanghai, Apple to Apple?

“In the long run, your human capital is your main base of competition. Your leading indicator of where you're going to be 20 years...

Janji Anies untuk Prabowo Palsu?

Sandiaga Uno menyebutkan bahwa Anies Baswedan punya sebuah perjanjian dengan Prabowo Subianto. Apakah janji itu hanya janji palsu?

AHY Bukan Jodoh Anies di 2024?

Partai Demokrat telah umumkan dukung Anies Baswedan sebagai capres 2024 tetapi serahkan cawapres ke Anies. Apakah AHY bukan jodoh Anies?

Jabatan Kades Mirip One Piece?

Demonstrasi kepala desa (kades) tuntut perpanjangan masa jabatan hingga 9 tahun. Apakah para kades ingin bisa seperti anime One Piece?

Kapal Anies ‘Diserang’ Ular?

Mantan Gubernur Banten Wahidin Halim dikirimi ular ketika akan bertemu Anies Baswedan. Apakah kapal Anies tengah 'diserang' ular?

Sudah Saatnya Prabowo Contoh Megawati?

Partai Gerindra tetap kukuh usung Prabowo Subianto sebagai capres. Apakah seharusnya ini saatnya Prabowo contoh cara Megawati?

Ganjar Perlu Kalkulasi Lagi di 2024?

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berkunjung ke Rawon Kalkulator di Surabaya. Apa Ganjar perlu belajar 'kalkulasi' 2024 ke mereka?

Di Balik Usul Imin Hapus Gubernur

Ketum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) usul hapuskan jabatan gubernur karena melelahkan dan hanya jadi penghubung pusat-daerah. Mengapa?

More Stories

PBESI “Turtle Steal” MPL Indonesia?

Penggemar Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) dikagetkan dengan permintaan maaf MPL Indonesia pada PBESI. Mengapa bisa demikian?

Mungkinkah “The Last of Us” di Dunia Nyata?

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin angkat bicara soal The Last of Us (2023). Apakah Menkes ikut cemas soal wabah zombie?

Di Balik Usul Imin Hapus Gubernur

Ketum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) usul hapuskan jabatan gubernur karena melelahkan dan hanya jadi penghubung pusat-daerah. Mengapa?