HomeCelotehDitegur Pangdam, Drama Risma Bela Siapa?

Ditegur Pangdam, Drama Risma Bela Siapa?

Kecil Besar

“Saya minta untuk menyelesaikan masalah Covid-19 ini jangan cuma pakai data, fakta atau drama dan sebagainya. Mari kita real semuanya. Saya meminta kepala daerah mulai gubernur, bupati dan wali kota membuat pakta integritas agar bisa saling bersinergi menyelesaikan Covid-19 di Jatim”. – Pangdam V Brawijaya, Mayor Jenderal TNI Widodo Iryansyah


PinterPolitik.com

Surabaya emang tengah disorot oleh banyak pihak. Soalnya, ibu kota Provinsi Jawa Timur ini jadi salah satu penyumbang terbesar kasus positif Covid-19 di Indonesia. Jawa Timur sendiri telah jadi provinsi dengan angka kematian tertinggi di Indonesia, bahkan ngalahin Jakarta.

Wih, ngeri-ngeri sedap nggak tuh.

Tapi, bukannya menenangkan, beberapa waktu terakhir publik justru disuguhkan dengan aksi-aksi kepala daerahnya yang saling berseberangan. Contohnya yang terjadi antara Gubernur Khofifah Indar Parawansa dengan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang sempat ribut gara-gara mobil bantuan dari BNPB.

Nah, yang terbaru, tingginya kasus Covid-19 di Surabaya bukannya membuat Bu Risma meningkatkan pengawasan dan penerapan protokol kesehatan, eh doi malah mengusulkan agar pembatasan sosial berskala besar alias PSBB di wilayahnya dicabut aja sama gubernur. Alasannya karena ekonomi kian lesu dan orang makin susah cari makan.

Hmmm, iya sih, tapi bukannya pencabutan PSBB justru akan memperburuk keadaan Surabaya ya? Harusnya Bu Risma mencontoh Pak Anies Baswedan di Jakarta yang jadi salah satu pemimpin daerah yang cukup “keras kepala” menghadapi keinginan berbagai pihak yang ingin mencabut PSBB di ibu kota.

Walaupun akhirnya Jakarta masuk masa transisi, setidaknya publik melihat bagaimana Anies masih menghitung-hitung dampak kesehatan dan menempatkannya sebagai hal yang lebih utama.

Makanya, banyak pihak yang melayangkan kritik buat Bu Risma. Salah satu kritikan tidak langsung datang dari Pangdam V Brawijaya, Mayor Jenderal TNI Widodo Iryansyah. Dalam nada agak keras, doi meminta para kepala daerah di Jawa Timur, mulai dari Gubernur, Bupati hingga Wali Kota untuk mengambil kebijakan yang benar-benar bisa menyelesaikan masalah di wilayah tersebut.

Baca juga :  Khofifah dan Jebakan "Bebek Songkem"?

Bahkan, sang jenderal minta agar tidak ada “drama” dalam pembuatan dan pelaksanaan kebijakan. Wih, jleb banget ini, secara tidak langsung menyinggung apa yang terjadi antara Bu Risma sama Bu Khofifah beberapa waktu lalu.

Soal drama ini langsung memicu reaksi. Mantan Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai misalnya, menyebutkan bahwa PDIP – sebagai partainya Bu Risma – hanya mencetak kader pembuat drama. Hmm, keras banget tuh kritiknya.

Walaupun PDIP kemudian menanggapinya dengan cuek-cuek bae, tapi jadi kayak misteri tersendiri nih buat partai banteng itu. Bukannya gimana-gimana ya, drama tuh kan identik kayak sinetron-sinetron atau telenovela yang di dalamnya sering ada dialog-dialog dalam hati. Itu loh yang bangsanya “dia tidak tahu apa yang ada dalam pikiranku”, dan lain sebagainya. Uppps.

Hmm, jadinya malah makin tepat nih status itu diberikan oleh Kaks Natalius. Soalnya, PDIP kerap menampilkan hal yang kayak sinetron itu loh.

Tengok aja dalam konteks hubungan dengan Presiden Jokowi. Di depan media dan publik semuanya kelihatan kayak “aku sayang kamu” banget.

Tapi, sering kali juga menampilkan “dia tidak tahu apa yang ada dalam pikiranku”. Makanya, muncul tuh istilah petugas partai, dan lain sebagainya. Soal PDIP dan drama itu juga terlihat waktu pemilihan cawapresnya Pak Jokowi. Mahfud MD yang udah siap-siap banget, ditikung di belokan terakhir. Uwuwuwu.

Hmmm, semoga dramanya berkurang ya. Soalnya, makin lama masyarakat juga akan bisa menilai, mana partai yang jujur dan mana yang suka pakai “dia tidak tahu apa yang ada dalam pikiranku”. Uppps. (S13)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Baca juga :  Khofifah dan Jebakan "Bebek Songkem"?
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Jokowi Lempar Hadiah

Bagi kebanyakan orang, tentu saja apa yang dilakukan oleh Jokowi ini kurang etis. Dengan melempar-lemparkan bingkisan, Jokowi dianggap kurang menghormati masyarakat. PinterPolitik.com "If you have something...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

More Stories

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.