HomeCelotehDi Balik Gatot dan Poros Serpong

Di Balik Gatot dan Poros Serpong

Kecil Besar

“Kalau poros Serpong, dari sisi ketokohan dan pengalaman di Pemerintah, Bang RR dan Pak Gatot punya nilai jual yang tinggi dari isu-isu penyelesaian ekonomi dan ancaman-ancaman ideologi dan pertahanan keamanan yang hantam NKRI”. – Muslim Arbi, Pengamat Politik


PinterPolitik.com

Narasi menuju Pilpres 2024 memang makin menarik untuk diikuti. Ini terkait manuver yang mulai dilakukan oleh tokoh-tokoh politik nasional dan parpol-parpol untuk meraba-raba peluang siapa yang akan jadi lawan dan siapa yang akan jadi kawan.

Narasi yang muncul juga melibatkan pembentukan poros-poros kekuasaan. Beberapa hari terakhir, ada setidaknya dua poros yang wacananya dilemparkan ke masyarakat, yakni poros Jakarta dan poros Serpong.

Poros Jakarta diwakili oleh Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Sementara poros Serpong diwakili oleh Rizal Ramli (RR) dan Gatot Nurmantyo. Hmm, kalau dilihat dari nama-namanya ini, kayaknya mewakili kelompok-kelompok yang berseberangan dengan pemerintah saat ini. Uppps.

Baca Juga: Siasat Cak Imin Capres 2024?

Dari tokoh-tokoh yang ada, memang Anies Baswedan jadi kandidat terkuatnya. Gubernur DKI Jakarta ini menjadi salah satu yang terdepan dalam berbagai hasil survei elektabilitas yang ada. Ditambah dengan AHY yang punya kendaraan politik lewat Partai Demokrat yang elektabilitasnya juga sedang naik – demikian berkaca dari hasil survei LP3ES – pasangan ini emang dahsyat dan nggak kalah kuat.

Namun, yang bikin menarik sebetulnya ada di sisi poros Serpong. Rizal Ramli dan Gatot Nurmantyo juga tidak bisa dianggap remeh. Kemunculan narasi terkait poros ini juga terjadi pasca pertemuan yang dilakukan oleh beberapa tokoh nasional di Sekolah Insan Cendekia Serpong.

Tokoh-tokoh yang hadir selain Gatot dan Rizal Ramli adalah Ketua DPD RI La Nyalla Mattalitti, Adhie M. Massardi, Ahmad Yani, MS. Kaban, Bachtiar Chamsyah, M. Said Didu, Ubedilah Badrun dan Natalius Pigai.

Secara khusus, kalau pakai hitung-hitungan matematis, Pak Gatot Nurmantyo emang masih jadi salah satu tokoh yang diperhitungkan posisi politiknya. Namun, pertanyaan terbesar untuk mantan Panglima TNI ini adalah doi punya nggak sih semua “modal” untuk jadi capres atau cawapres?

Bukannya gimana-gimana ya, buat jadi capres di Indonesia itu kudu kuat secara finansial yang paling utama. Atau kalau nggak, minimal ada yang bekingin buat duitnya. Uppps.

Sedangkan syarat yang kedua adalah dukungan partai politik. Pak Gatot sejauh ini belum merapat ke mana-mana. Beda sama Pak Anies yang punya “channel” di Partai Gerindra, atau bahkan bisa lebih merapat ke PKS.

Hmm, berasa Pak Gatot ini ibarat The Lone Ranger alias si John Reid yang dengan kekuatannya sendiri berusaha untuk mengalahkan musuh-musuhnya di kisah berlatar tahun 1860-an. Buat yang belum tahu, ini film tahun 2013 lalu yang diperankan oleh Johnny Depp.

Sama seperti di film itu, Pak Gatot sepertinya butuh seorang Kemosabe atau faithful friend alias rekan yang bisa dipercaya berjuang bersama. Seperti tokoh Tonto di film itu.

Menarik untuk ditunggu nih apa manuver Pak Gatot untuk mewujudkan poros Serpong ini nanti. (S13)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ada Apa Anies dengan Politik Identitas?

Dalam wawancara ABC News Australia, Anies Baswedan ditanyai soal politik identitas. Apakah politik identitas memang tidak bisa dihindari?

PDIP, Lu Itu Gak Diajak?

PDIP langsung menanggapi pertemuan ketum lima parpol (Gerindra, PKB, PPP, PAN, dan Golkar) yang munculkan wacana koalisi di 2024.

Sandi Galau Jokowi Makin Sakti

“Berikan tubuhmu sebanyak mungkin nutrisi supaya kuat, sehat dan bertenaga. Jika tubuh sudah kuat, sehat dan bertenaga, maka silahkan lanjutkan perlawanannya.” PinterPolitk.com Sandiaga Salahuddin Uno menyambut...

Pemimpin Idaman Versi Jokowi-Sandi

"Cita-cita demokrasi kita lebih luas, tidak saja demokrasi politik, melainkan juga demokrasi ekonomi. ~Bung Hatta PinterPolitik.com Dalam acara deklarasi dukungan dari alumni sejumlah kampus beberapa waktu...

Masa Suram Budiman Sudjatmiko dkk.

“Orang tua, pandanglah kami sebagai manusia. Kami bertanya, tolong kau jawab dengan cinta,” – Iwan Fals, Bongkar Pinterpolitik.com Mahasiswa bergerak. Ribuan mahasiswa  di seluruh penjuru negeri...

Anas Urbaningrum Segera Tantang SBY?

Baliho Anas Urbaningrum tiba-tiba terpasang di dekat Cikeas. Apakah mungkin Anas segera tantang SBY selepas bebas dari penjara?

Soal Gaji, Jurus Kamehameha Sandi

“Kau tidak akan pernah menang jika bergantung pada teknik orang lain, dan itu sangat tidak berguna bagi musuhmu”. – Son Goku PinterPolitik.com Anak-anak era 1990-an pasti...

Hantu Itu Bernama Esemka

Ia muncul di jalanan kota Solo. Warnanya putih seperti hantu, dengan kaki-kaki yang kokoh nan digdaya seperti namanya. Tapi, kok kayak pernah lihat di...

More Stories

The One-Man Band

Lebih dari 19 jabatan selama era Jokowi — Luhut Pandjaitan kerap dikritik sebagai simbol konsentrasi kekuasaan yang tak sehat. Tapi kritik itu melewatkan satu pertanyaan kunci: bukan kenapa Luhut punya banyak jabatan, melainkan kenapa Jokowi terus memilihnya? Jawabannya bukan soal nepotisme — melainkan soal desain.

Komprador Gurita Batu Bara

Pemadaman listrik bergilir kembali menghantui sejumlah wilayah Indonesia. Di baliknya, PLN menghadapi defisit 20 juta ton batu bara yang belum dikontrak dari total kebutuhan 154 juta ton per tahun. Menteri Bahlil sempat membantah, namun tim koordinasi darurat sudah dibentuk — tanda masalah ini lebih serius dari yang diakui.

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...