Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Celoteh > Di Balik Gatot dan Poros Serpong

Di Balik Gatot dan Poros Serpong


S13 - Friday, May 14, 2021 20:00
Gatot, La Nyalla dan Rizal Ramli (Foto: istimewa)

0 min read

"Kalau poros Serpong, dari sisi ketokohan dan pengalaman di Pemerintah, Bang RR dan Pak Gatot punya nilai jual yang tinggi dari isu-isu penyelesaian ekonomi dan ancaman-ancaman ideologi dan pertahanan keamanan yang hantam NKRI”. – Muslim Arbi, Pengamat Politik


PinterPolitik.com

Narasi menuju Pilpres 2024 memang makin menarik untuk diikuti. Ini terkait manuver yang mulai dilakukan oleh tokoh-tokoh politik nasional dan parpol-parpol untuk meraba-raba peluang siapa yang akan jadi lawan dan siapa yang akan jadi kawan.

Narasi yang muncul juga melibatkan pembentukan poros-poros kekuasaan. Beberapa hari terakhir, ada setidaknya dua poros yang wacananya dilemparkan ke masyarakat, yakni poros Jakarta dan poros Serpong.

Poros Jakarta diwakili oleh Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Sementara poros Serpong diwakili oleh Rizal Ramli (RR) dan Gatot Nurmantyo. Hmm, kalau dilihat dari nama-namanya ini, kayaknya mewakili kelompok-kelompok yang berseberangan dengan pemerintah saat ini. Uppps.

Baca Juga: Siasat Cak Imin Capres 2024?

Dari tokoh-tokoh yang ada, memang Anies Baswedan jadi kandidat terkuatnya. Gubernur DKI Jakarta ini menjadi salah satu yang terdepan dalam berbagai hasil survei elektabilitas yang ada. Ditambah dengan AHY yang punya kendaraan politik lewat Partai Demokrat yang elektabilitasnya juga sedang naik – demikian berkaca dari hasil survei LP3ES – pasangan ini emang dahsyat dan nggak kalah kuat.

Namun, yang bikin menarik sebetulnya ada di sisi poros Serpong. Rizal Ramli dan Gatot Nurmantyo juga tidak bisa dianggap remeh. Kemunculan narasi terkait poros ini juga terjadi pasca pertemuan yang dilakukan oleh beberapa tokoh nasional di Sekolah Insan Cendekia Serpong.

Tokoh-tokoh yang hadir selain Gatot dan Rizal Ramli adalah Ketua DPD RI La Nyalla Mattalitti, Adhie M. Massardi, Ahmad Yani, MS. Kaban, Bachtiar Chamsyah, M. Said Didu, Ubedilah Badrun dan Natalius Pigai.

Secara khusus, kalau pakai hitung-hitungan matematis, Pak Gatot Nurmantyo emang masih jadi salah satu tokoh yang diperhitungkan posisi politiknya. Namun, pertanyaan terbesar untuk mantan Panglima TNI ini adalah doi punya nggak sih semua “modal” untuk jadi capres atau cawapres?

Bukannya gimana-gimana ya, buat jadi capres di Indonesia itu kudu kuat secara finansial yang paling utama. Atau kalau nggak, minimal ada yang bekingin buat duitnya. Uppps.

Sedangkan syarat yang kedua adalah dukungan partai politik. Pak Gatot sejauh ini belum merapat ke mana-mana. Beda sama Pak Anies yang punya “channel” di Partai Gerindra, atau bahkan bisa lebih merapat ke PKS.

Hmm, berasa Pak Gatot ini ibarat The Lone Ranger alias si John Reid yang dengan kekuatannya sendiri berusaha untuk mengalahkan musuh-musuhnya di kisah berlatar tahun 1860-an. Buat yang belum tahu, ini film tahun 2013 lalu yang diperankan oleh Johnny Depp.

Sama seperti di film itu, Pak Gatot sepertinya butuh seorang Kemosabe atau faithful friend alias rekan yang bisa dipercaya berjuang bersama. Seperti tokoh Tonto di film itu.

Menarik untuk ditunggu nih apa manuver Pak Gatot untuk mewujudkan poros Serpong ini nanti. (S13)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait