HomeCelotehBintang Tito-Idham Belum Redup?

Bintang Tito-Idham Belum Redup?

“Perang bintang itu menurut saya tidak ada, cuma sistem ini rusak” – Desmond J. Mahesa, Wakil Ketua Komisi III DPR RI


PinterPolitik.com

Baru-baru ini, muncul pernyataan yang menyita atensi publik terkait institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Wakil Ketua Komisi III DPR Desmond J. Mahesa mengatakan tidak ada perang bintang di tubuh Polri. Yang ada baginya hanyalah sistem yang telah rusak.

Komentar ini dianggap sebagai penolakan isu perang bintang yang sempat dilontarkan oleh Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD.

Mahfud menyebut bahwa para jenderal di Polri kekinian tengah saling buka boroknya. Hal ini yang kemudian bergulir dengan istilah “Perang Bintang”.

Desmond melihat persoalan sistemis ini dapat dilihat saat pertemuan mantan-mantan Kepala Polri (Kapolri) dengan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan itu, ada keganjilan menurutnya.

Desmond mempertanyakan ketidakhadiran dua mantan kapolri lainnya. Tentu, ini merujuk pada dua mantan Kapolri yang baru saja pensiun, yakni Tito Karnavian dan Idham Aziz.

Tidak hanya itu, Desmond juga mengaitkan jejak Ferdy Sambo yang merupakan mantan Ketua Satgassus Polri yang dibentuk pada era Kapolri sebelumnya. Mantan Kapolri yang dimaksud tidak lain adalah Tito dan Idham.

image 81
Semua Gara-gara Tito-Idham?
- Advertisement -

Anyway, pernyataan Desmond ini memperlihatkan bahwa persoalan fragmentasi internal yang disebabkan konflik rupanya melahirkan dampak sistemis yang sulit untuk disembuhkan.

Konflik internal dan perpecahan internal faksi-faksi dalam institusi merupakan persoalan pelik dalam manajemen konflik organisasi – yang mana hampir pernah dialami oleh semua instansi maupun organisasi.

Berbagai riset kualitatif menemukan ada beberapa hal yang menjadi penyebab konflik – di antaranya ideologi faksi yang bertentangan, serta melembaganya kepemimpinan yang melahirkan pemimpin baru dan tetap dalam kontrol pemimpin sebelumnya.

Hal ini mirip dengan penjelasan Sosiolog Ralf Dahrendorf dalam bukunya Konflik dan Konflik dalam Masyarakat Industri yang mengatakan bahwa konflik akan muncul melalui relasi-relasi sosial dalam sistem.

Baca juga :  Elon Bersinar Meski Mati Lampu?

Hal ini menegaskan kalau konflik tidak mungkin melibatkan individu ataupun kelompok yang tidak terhubung dalam sistem. Artinya, relasi-relasi di struktur sosial inilah yang melahirkan konflik akibat ingin mengendalikan kekuasaan sebuah sistem.

Hmm, jadi apa yang diperkirakan Desmond ini sejalan dong ya dengan pemikiran Dahrendorf bahwa konflik Polri bukan karena perang bintang di dalam institusi yang melibatkan pada jenderal yang aktif, melainkan persoalan sistem yang diakibatkan relasi kuasa antara personil yang aktif dan yang telah berada di luar kekuasaan tetapi masih melakukan orkestrasi dari luar.

Jika benar ada persoalan orkestrasi dari luar ini, tentu hal ini yang juga membuat Kapolri sulit untuk melakukan reformasi dalam tubuh Polri.

Fragmentasi dan faksi ini bukan hanya menghambat, tetapi juga bisa saja mencegah perubahan dengan cara saling menyandera kepentingan masing-masing. Tentu, ini pada akhirnya akan memperburuk citra Polri di masyarakat.

- Advertisement -

By the way, jika benar masih ada pengaruh mantan Kapolri, bisa jadi ini bukti kalau Tito dan Idham rupanya merupakan jenderal yang bintangnya belum redup. Atau jangan-jangan keduanya “gagal move on”?

Ngomongin “gagal move on”, jadi ingat lagunya “Glimpse of Us” (2022) milik Joji yang belakangan viral di media sosial. Makna lagu “Glimpse of Us” ialah tentang seseorang yang gagal move on walaupun telah memiliki kekasih baru.

Well, semoga saja benar kalau Tito dan Idham benar gagal move on karena masih mencintai Polri, bukan karena ikutan karena postpower syndrome. Uppsss. Hehehe. (I76)


Attila Sang Hun: Dewa Perang yang Hampir Kuasai Dunia
spot_img

#Trending Article

Jakarta-Shanghai, Apple to Apple?

“In the long run, your human capital is your main base of competition. Your leading indicator of where you're going to be 20 years...

Membaca Pengaruh Jokowi di 2024

Lontaran ciri-ciri pemimpin yang pikirkan rakyat seperti kerutan dan rambut putih dari Jokowi jadi perbincangan. Inikah cara Jokowi relevan di 2024?

Zulhas dan Bisnis Jastip Menjanjikan

Nama Mendag Zulkifli Hasan (Zulhas) disebutkan Prof. Karomani soal kasus penitipan mahasiswa baru di Universitas Lampung (Unila).

PDIP Bakal Gabung KIB?

“Jadi warnanya tidak jauh dari yang ada di bola ini (Al Rihla)” – Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Golkar PinterPolitik.com Demam Piala Dunia 2022 Qatar rupanya...

Saatnya Jokowi Tinggalkan Relawan “Toxic”?

“Kita gemes, Pak, ingin melawan mereka. Kalau mau tempur lapangan, kita lebih banyak” –  Benny Rhamdani, Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI)  PinterPolitik.com Si vis...

Saatnya Ganjar Balas Jasa Puan?

“Ganjar itu jadi Gubernur (Jateng) jangan lupa, baik yang pertama dan kedua itu, justru panglima perangnya Puan Maharani,” –   Said Abdullah, Ketua DPP...

PDIP vs Relawan Jokowi, Rebutan GBK?

Usai acara Gerakan Nusantara Bersatu di GBK, PDIP tampak tidak terima relawan Jokowi bisa pakai GBK. Mengapa GBK jadi semacam rebutan?

PDIP Takut Jokowi “Dijilat”?

“PDI Perjuangan mengimbau kepada ring satu Presiden Jokowi agar tidak bersikap asal bapak senang (ABS) dan benar-benar berjuang keras bahwa kepemimpinan Pak Jokowi yang kaya...

More Stories

Ada “Udang” di Balik Relawan Jokowi?

“Saya di dalam sana. Jadi saya tahu perilakunya satu-satu. Kalau Anda bilang ada dua faksi sih tidak, berfaksi-faksi. Ada kelompok yang tiga periode, ada kelompok...

PDIP Bakal Gabung KIB?

“Jadi warnanya tidak jauh dari yang ada di bola ini (Al Rihla)” – Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Golkar PinterPolitik.com Demam Piala Dunia 2022 Qatar rupanya...

Saatnya Ganjar Balas Jasa Puan?

“Ganjar itu jadi Gubernur (Jateng) jangan lupa, baik yang pertama dan kedua itu, justru panglima perangnya Puan Maharani,” –   Said Abdullah, Ketua DPP...